Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 82. Kemampuan Ling Xia.



Tubuh Ling Xia bergetar hebat ketika menatap sosok yang sedang dihadapi oleh kakeknya itu, ia bahkan tidak mampu berkata-kata karena rasa takut yang menyelimutinya.


"Xia'er, tenanglah. Kakek adalah kultivator hebat, aku yakin kakek bisa mengalahkannya" Ling Huang berusaha menenangkan adiknya.


Ling Xia hanya menanggapi perkataan kakaknya dengan gelengan kepala, mulutnya terasa kaku, tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar, wajahnya terlihat pucat dan berkeringat dingin.


Ling Huang semakin khawatir melihat kondisi adiknya itu, bahkan Ling Guan langsung turun dari singgasananya untuk menenangkan putri kesayangannya.


Akan tetapi, tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, gadis berusia 16 tahun itu tetap tidak bisa tenang dan terus meminta mereka untuk menghentikan pertarungan kakeknya.


"Ka-kalian tidak mengerti!"


"Si-siapapun, to-tolong hentikan pertarungan ini..." ucapnya lirih.


"Kakak, hentikan!" ujar Liu Hua.


Meski sudah dilarang untuk ikut campur oleh Yin Feng, namun Liu Hua tidak tahan melihat Ling Xia yang sangat ketakutan, dan akhirnya memutuskan untuk angkat bicara.


Benar saja, Yin Feng langsung terdiam setelah mendengar teriakan Liu Hua. Meski merasa kesal, namun ia lebih memilih untuk tidak melanjutkan pertarungan itu.


"Hua'er, apa kau lupa perkataan ku sebelumnya?!"


"Ma-maaf..."


"Hahh..." Yin Feng menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, "kali ini aku maafkan, tapi jangan harap ada lain kali!" tegasnya.


"Kak Yin..."


Yin Feng mengabaikan Liu Hua, bagaimanpun juga ia masih sangat kesal padanya, tapi entah kenapa ia tidak bisa melampiaskan amarahnya di depan putri klan Liu itu.


Disisi lain.


Setelah pertarungan usai, Ling Shen langsung menghampiri Ling Xia untuk menenangkannya, ia juga menanyakan penyebab dari rasa takut yang dirasakan cucunya itu.


"Di-dia... Dia bukan manusia" ucap Ling Xia.


Tatapan semua orang langsung tertuju pada Yin Feng, pada saat yang bersamaan, dalam benak mereka muncul berbagai macam pertanyaan mengenai identitas Yin Feng.


Sebagian dari mereka menganggap Yin Feng sebagai iblis yang menyamar menjadi manusia, sedangkan yang lainnya menganggap Yin Feng sebagai siluman yang menyamar.


Pernyataan Ling Xia bukan tanpa alasan, karena putri kekaisaran Zhong itu terlahir dengan anugerah dari para dewa, berupa sepasang mata yang memiliki kemampuan khusus.


Dengan kedua matanya, Ling Xia tidak hanya bisa membaca tingkat kultivasi seseorang, tapi juga bisa melihat kebenaran yang disembunyikan oleh orang-orang.


Manusia, siluman atau bahkan iblis sekalipun, tidak peduli seberapa hebat teknik penyamaran yang mereka gunakan, wujud aslinya akan tetap terlihat oleh mata Ling Xia.


Selain itu, melalui kedua matanya, Ling Xia juga bisa mengetahui siapa saja yang menyimpan niat jahat di hatinya. Dan kekuatannya itu membuat kekaisaran terhindar dari pemberontakan.


"Pengawal! Tangkap iblis itu!" ujar Ling Guan.


"Tidak! Di-dia bukan iblis ataupun siluman" sahut Ling Xia.


"Kalau bukan iblis dan siluman, lalu siapa dia sebenarnya?"


"Dia adalah..."


"Jika ingin hidup, sebaiknya kau tutup mulut!" ancam Yin Feng melalui telepati.


"A-ayah, aku sangat lelah dan ingin istirahat."


Ling Xia tidak benar-benar lelah ataupun membutuhkan istirahat, ia mengatakan hal itu untuk mengalihkan pembicaraan, karena tidak berani membongkar identitas Yin Feng.


Melihat kondisi putrinya, Ling Guan terpaksa melupakan identitas Yin Feng untuk sementara waktu, kemudian meminta Ling Huang untuk membawa adiknya ke kamar.


"Kak Yin, kau mau kemana?"


"Tidak ada lagi yang perlu di bahas, jadi aku ingin pergi" jawab Yin Feng, lalu menghilang dari pandangan semua orang.


Sementara itu.


"Xia'er, apa kau yakin mau sendirian?" tanya Ling Huang, namun hanya dijawab dengan anggukan oleh adiknya itu.


"Baiklah, kalau begitu kakak akan keluar untuk menemui ayah dan kakek."


"Ja-jangan bunuh aku..."


"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu."


Ling Xia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berlutut di hadapan Yin Feng, tubuhnya kembali gemetar menandakan rasa takut yang mulai menyelimuti dirinya lagi.


"Yang mulia, maafkan hamba..."


"Sudah kukatakan, aku tidak akan membunuhmu" sahut Yin Feng, namun gadis itu masih tetap bertahan pada posisinya.


"Baiklah, coba jelaskan diriku melalui sudut pandang matamu."


Ling Xia mengangguk, ia menjelaskan bahwa dirinya juga tidak mengetahui siapa Yin Feng sebenarnya, tapi yang ia lihat dalam diri Yin Feng adalah seekor burung Phoenix hijau.


Ling Xia juga menjelaskan bahwa wujud yang dilihatnya dalam diri Yin Feng bukanlah perwujudan energi spiritual ataupun beast spirit, melainkan wujud Yin Feng itu sendiri.


Selain itu, Ling Xia juga menjelaskan jika matanya melihat Yin Feng berdiri diantara kehidupan dan kematian, antara cahaya terang dan kegelapan, serta antara api dan es.


"Maksudmu?" tanya Yin Feng bingung.


"Entahlah, hamba juga tidak mengetahui maksud dari penglihatan ini" jawab Ling Xia.


"Baiklah, penjelasan mu cukup memuaskan, jadi aku akan mengampuni mu. Tapi ingat, jangan katakan pada siapapun!"


"Baik, yang mulia!"


Setelah mendapatkan penjelasan yang cukup memuaskan dari Ling Xia, Yin Feng kemudian meninggalkan kamar itu, lalu melesat terbang menuju ke kediaman keluarga Liu.


"Berdiri diantara kehidupan dan kematian, apa maksudnya?"


Dalam perjalanannya, Yin Feng masih memikirkan penjelasan terakhir Ling Xia, namun tidak peduli seberapa keras ia berusaha berpikir, Yin Feng tetap tidak menemukan jawabannya.


Setibanya di klan Liu, Yin Feng langsung disambut oleh Liu Hua, putri klan Liu itu masih menyimpan rasa bersalah dalam dirinya karena telah membuat saudara angkatnya itu marah.


"Kak Yin..."


"Tidak perlu dipikirkan, aku sudah tidak marah lagi padamu."


"Benarkah?"


Yin Feng mengangguk seraya menunjukkan senyuman terbaiknya, "entah apa alasannya, tapi aku tidak bisa marah padamu, Hua'er."


"Karena aku adalah adik kakak!" ujar Liu Hua, namun lagi-lagi hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Yin Feng.


"Yin Feng, kupikir kau tidak akan kembali lagi ke sini" ucap Liu Zhang.


"Awalnya memang tidak, tapi adik kecil ini akan marah kalau aku pergi tanpa berpamitan" sahut Yin Feng.


"Kakak mau pergi?"


"Iya, tujuan ku datang ke sini adalah untuk berpamitan denganmu" jawab Yin Feng.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Liu Bing.


"Benua Langit."


Setelah mendapatkan peninggalan terakhir ibunya, Yin Feng tidak memiliki urusan lain lagi di benua Xuanwu, karena itulah ia ingin segera berangkat menuju ke benua Langit.


"Orang kuat sepertimu memang sudah seharusnya pergi ke sana" sahut Liu Bing.


"Tapi kau harus berhati-hati, karena benua Langit adalah tempat yang sangat berbahaya."


Sebagai kultivator terkuat di kekaisaran Zhong sebelumnya, Liu Bing tentu sudah pernah menginjakkan kakinya di benua Langit, dan menurutnya tempat itu sangatlah berbahaya.


Alasannya, karena di benua Langit para kultivator aliran hitam bisa berkeliaran dengan bebas, bahkan keberadaan mereka tidak pernah diusik oleh pemimpin benua Langit.


"Pemimpin benua Langit? Apa kau mengetahuinya?"


Liu Bing menggeleng pelan, "aku tidak tahu namanya, tapi mereka menyebutkan sebagai kaisar langit dari klan Naga Azur."


"Baiklah, aku akan mengingat hal ini!"