Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 13. Ibukota kekaisaran.



"Senior, terima kasih karena sudah membantu kami" ucap tetua ketiga setelah rombongan Shan Zhe Ming tidak terlihat lagi.


"Senior, maaf jika aku lancang, tapi bolehkah kami mengetahui siapa senior sebenarnya?" Xu Jiang yang sudah penasaran sejak awal akhirnya angkat bicara.


Sejak awal kemunculan suara sosok misterius itu, Xu Jiang juga sudah melakukan hal yang sama seperti Shan Zhe Ming, namun ia juga tidak menemukan keberadaan sosok misterius tersebut.


Karena itulah, Xu Jiang berusaha untuk bersikap hormat, karena ia mengetahui bahwa sosok misterius yang mampu menyembunyikan aura keberadaannya dengan sangat baik, pastilah jauh lebih kuat darinya.


"Patriark, ini aku" ucap Yin Feng berbicara melalui telepati.


"Apa?! Jadi kau..." karena kaget, Xu Jiang hampir saja menyebut nama sosok misterius itu, namun ia langsung tersadar dan tidak melanjutkan perkataannya.


"Patriark, apa anda mengetahui siapa senior yang telah membantu kita?" tanya tetua kedua.


"Dia... hanya kenalan lama" jawab Xu Jiang.


Meskipun sangat penasaran dan ingin mengetahui apa saja yang telah terjadi, namun Xu Jiang hanya bisa menahan diri, karena ia yakin ada alasan khusus yang membuat Yin Feng enggan menunjukkan dirinya.


"Bocah nakal! Kau harus menceritakan semuanya padaku nanti" ucap Xu Jiang.


"Tentu saja, patriark" sahut Yin Feng, keduanya masih berkomunikasi melalui telepati.


"Patriark, apa orang ini benar-benar kenalan anda? Maksudku, kenapa anda tidak mengatakan apapun pada kami sebelumnya?"


"Itu bukan urusanmu! Lagipula, siapa kau sehingga ingin mengetahui tentang diriku?"


Tubuh tetua kedua gemetar ketika mendengar suara Yin Feng yang kembali menggema di hutan. Kemudian ia membungkuk dan meminta maaf karena telah bersikap lancang.


Sedangkan Xu Jiang, ia hanya bisa menghela napas panjang, namun di dalam hatinya, Xu Jiang justru sedang tertawa melihat rasa takut yang ditunjukkan oleh tetua kedua.


"Andaikan saja kau tahu siapa sosok misterius itu, aku yakin kau akan kehilangan harga dirimu" ucap Xu Jiang dalam hatinya.


Setelah itu, Xu Jiang dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke ibukota kekaisaran, begitupun dengan Yin Feng yang mengikuti dan mengawasi mereka dari kejauhan.


Di sepanjang perjalanan, Xu Jiang nampak lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja, itu karena ia sedang asyik mengobrol bersama Yin Feng melalui telepati.


"Jadi, sosok misterius seperti apa yang mengajarimu berkultivasi?"


"Sayangnya aku tidak mengetahui siapa sosok misterius itu" jawab Yin Feng.


"Yah, siapapun dia, yang jelas kau harus menghormatinya sebagai gurumu, karena dialah yang telah menjadikanmu sebagai seorang kultivator."


"Aku tahu itu, patriark. Tapi, anda akan tetap menjadi guru pertamaku sampai kapanpun."


"Oh, jadi sekarang kau sudah menganggap-ku sebagai guru?"


"Bukankah itu sudah pasti, guru?"


Xu Jiang tersenyum senang, karena setelah sekian lama, Yin Feng akhirnya mau menjadi muridnya dan sejujurnya, Xu Jiang juga berharap agar Yin Feng mau menganggapnya sebagai ayah.


"Yin Feng, karena kau sudah kembali dan ada di sini, bagaimana jika kau ikut dalam turnamen ini?"


"Aku sangat tertarik dengan turnamen ini, tapi aku masih belum mau menunjukkan diri di hadapan mereka" jawab Yin Feng.


"Bukankah kau bisa memakai topeng untuk menutupi wajah mu? Dan untuk identitas, aku sudah memikirkan semuanya, begitupun dengan nama samaran-mu."


Yin Feng berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan keinginan gurunya itu. "Baiklah, aku akan ikut dalam turnamen kali ini."


"Sudah ku duga. Dan nama samaranmu adalah Feng Huang."


"Baik, guru!"


Setelah menempuh perjalanan panjang, Xu Jiang dan rombongannya kini telah sampai di ibukota, mereka kemudian diarahkan menuju ke kediaman khusus yang telah disiapkan oleh kaisar.


Sedangkan untuk Yin Feng, ia lebih memilih untuk menginap di penginapan, karena Yin Feng tidak ingin keberadaannya diketahui oleh orang lain selain Xu Jiang.


Memang benar bahwa Xu Jiang sudah memintanya untuk memakai topeng dan nama samaran, namun Yin Feng masih khawatir para tetua dan murid sekte bisa mengenali dirinya.


Karena itulah, Yin Feng memutuskan untuk tidak tinggal di tempat yang sama dengan mereka. Selain itu, Yin Feng juga ingin bergerak dengan bebas tanpa mengkhawatirkan apapun.


Setelah menemukan salah satu penginapan yang ada di ibukota, Yin Feng kemudian memesan sebuah kamar untuk satu Minggu, ia juga memesan beberapa makanan untuknya.


"Aku cukup beruntung karena di dalam cincin ini terdapat banyak uang, jika tidak aku pasti akan kesulitan." Yin Feng menatap cincin perak di jari kanannya.


"Hei, jangan diam saja, masih banyak orang yang harus memesan kamar!" ujar seseorang yang berada di belakang Yin Feng.


"Maafkan aku" sahut Yin Feng, kemudian pergi ke kamarnya yang berada di lantai tiga.


Di sisi lain.


Tidak lama setelah tiba di kediaman khusus yang disiapkan oleh kaisar, seorang utusan dari istana datang menemui Xu Jiang untuk mengajaknya ke istana kekaisaran.


"Setelah beristirahat, kalian boleh berkeliling, aku ingin menemui kaisar terlebih dahulu" ucap Xu Jiang.


"Baik, patriark!"


"Satu lagi, muridku juga sudah tiba di kota ini, namun ia belum bisa datang untuk menemui kalian."


Dalam beberapa waktu terakhir, Xu Jiang memang sering membahas tentang muridnya, namun siapa dan seperti apa muridnya itu, belum ada seorangpun yang mengetahuinya.


Selain itu, para tetua juga sulit untuk mempercayai ucapan Xu Jiang, karena selama ini mereka tidak pernah mendengar atau melihat Xu Jiang mengangkat seorang murid.


Para tetua juga pernah menanyakan identitas dan keberadaan murid Xu Jiang itu, namun Xu Jiang hanya menjelaskan bahwa muridnya sedang melakukan latihan tertutup.


"Patriark, sebenarnya siapa murid yang anda maksud?" tanya tetua ketiga.


"Kalian akan tahu saat waktunya tiba" jawab Xu Jiang.


"Baiklah, tapi aku harap murid yang anda maksud itu bukanlah seorang sampah seperti Yin Feng" sahut tetua kedua.


Xu Jiang hanya menanggapi perkataan tetua kedua dengan senyuman, namun dalam hatinya ia merasa geram dan marah pada tetua kedua yang selalu saja merendahkan Yin Feng.


"Tuan, sebaiknya kita berangkat sekarang karena yang mulia sudah menunggu kedatangan anda."


"Kau benar, tidak baik membiarkan kaisar menunggu terlalu lama" sahut Xu Jiang, kemudian keduanya pergi menuju istana kekaisaran.


"Bagaimana pendapatmu tentang murid patriark?" tetua keempat akhirnya angkat suara setelah Xu Jiang pergi.


"Aku tidak peduli, karena yang terpenting bagiku hanyalah muridku seorang" jawab tetua kedua.


"Begitupun dengan-ku, dan akan lebih bagus jika muridnya itu sama sampahnya dengan Yin Feng." sahut tetua ketiga.


"Kenapa?"


"Karena dengan begitu, kita memiliki alasan kuat untuk menggulingkan Xu Jiang dari posisinya."


"Kau benar, aku juga sudah muak diperintah oleh tua bangka itu!"


Sosok Xu Jiang memang sangat dihormati oleh para tetua sekte, namun rasa hormat itu hanya mereka tunjukkan saat di depannya saja, dan ketika di belakangnya, mereka terus mencari cara untuk menyingkirkan Xu Jiang dari posisinya sebagai pemimpin sekte.