Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 74. Keanehan.



Setibanya di ibukota kekaisaran Tang, Yin Feng langsung disambut dengan pelukan hangat oleh Jia Ling, namun Yin Feng hanya diam dan tidak membalas pelukannya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Yin Feng mengangguk, "aku sangat lelah dan ingin istirahat" ucapnya, lalu meninggalkan Jia Ling begitu saja.


"Hahh..."


Jia Ling hanya bisa menghela napas panjang, kesedihan nampak terukir dengan jelas diwajahnya, namun Jia Ling berusaha menyembunyikannya dengan senyuman.


"Yin Feng, apa kau tidur?" tanya Jia Ling dari luar kamar Yin Feng.


"Tidak."


"Boleh aku masuk?"


"Kenapa harus bertanya? Bukankah istana ini milik ayahmu?"


"Baiklah, aku masuk."


Jia Ling kembali menghela napasnya, lalu masuk ke kamar Yin Feng, setelah menutup pintu, Jia Ling menghampiri Yin Feng yang sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ada apa?" tanya Yin Feng.


Jia Ling tidak menjawab pertanyaan Yin Feng, ia hanya diam dan langsung baring disebelah Yin Feng, kemudian Jia Ling memeluk dan mengecup pipi calon suaminya itu.


Yin Feng tersentak dan langsung melepaskan tangan Jia Ling yang sedang mendekap tubuhnya dengan erat, kemudian bangkit dan menjauh dari tempat tidur.


"Maaf..." ucap Jia Ling lirih.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Yin Feng dengan tatapan tajam.


"Apa maksudmu? Aku Jia Ling calon istrimu."


"Kau..." Yin Feng tidak melanjutkan ucapannya, kemudian menghilang dari pandangan Jia Ling.


Tidak lama berselang, Yin Feng muncul lagi di puncak bukit tempat ia dan Jia Ling bersama sebelumnya. Kemudian, pandangannya tertuju pada matahari yang hampir terbenam.


"Aneh, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?"


Meski belum terlalu lama mengenalnya, tapi Yin Feng sudah cukup memahami bagaimana watak Jia Ling sebenarnya, dan mustahil orang sepertinya bisa berubah secepat itu.


Selain itu, sikap Jia Ling padanya selama ini juga sangat dingin, tapi sekarang sikapnya tiba-tiba saja berubah seolah-olah dia bukanlah Jia Ling yang dikenalnya.


"Hahh" Yin Feng menghela napas panjang, kemudian melesat terbang meninggalkan ibukota kekaisaran Tang.


Awalnya, Yin Feng ingin pergi ke kota Perak untuk menemui Hui Mei, namun ia tiba-tiba saja mengubah tujuannya dan melesat terbang menuju gerbang perbatasan.


Dengan kecepatan yang dimilikinya, hanya butuh waktu dalam hitungan detik untuk sampai di sana, kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju ke medan peperangan.


Tujuan Yin Feng ke sana tidak lain adalah untuk mengambil cincin ruang milik Zhu Liang, karena sebelumnya ia sangat kelelahan hingga lupa mengambil cincin ruang milik lawannya itu.


"Tidak mungkin!"


Sesampainya ditempat itu, Yin Feng langsung disambut dengan pemandangan yang sangat mengejutkan, bahkan ia sampai berpikir bahwa dirinya sedang berhalusinasi.


Pasalnya, ratusan ribu mayat yang memenuhi padang rumput tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak, begitupun dengan darah yang menodai rerumputan di tempat itu.


Jika hanya mayat Zhu Liang, Yin Feng mungkin masih dapat memakluminya, karena dia adalah kultivator kuat dan banyak yang mengincar sumber daya dalam cincin ruangnya.


Tapi yang menghilang adalah semua mayat prajurit yang gugur peperangan, dan kalaupun ada yang mengambil mayat mereka, pastilah akan meninggalkan jejak.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini?"


Yin Feng yang masih merasa penasaran memutuskan untuk menyusuri padang rumput itu, karena ia berpikir jika ada seorang kultivator kuat yang memasang formasi ilusi di sana.


"Ini benar-benar aneh" gumam Yin Feng, kemudian melesat terbang kembali ke ibukota kekaisaran untuk melaporkan temuannya pada Jian Ren.


"Yin Feng!" Ditengah perjalanannya, Yin Feng tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggil namanya.


"Paman."


Meski terdengar samar-samar, namun Yin Feng langsung bisa mengenali suara itu sebagai suara Ying Huo. Ia kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari pamannya itu.


Karena tidak melihatnya dimanapun, Yin Feng kemudian melepaskan kesadaran spiritualnya, tapi sayangnya, ia masih tidak menemukan siapapun hingga dalam jarak lima kilometer.


"Apa aku hanya berhalusinasi? Tidak! Ini tidak mungkin hanya halusinasi!"


"Hui Mei, aku harus memintanya untuk menyelidiki semua ini."


Yin Feng mengurungkan niatnya untuk kembali ke ibukota kekaisaran, kemudian ia melesat terbang menuju ke kota perak untuk menemui Hui Mei dan meminta bantuannya.


Setibanya di restoran milik Hui Mei, Yin Feng langsung menuju ke ruangan khusus tempat Hui Mei berada, namun saat masuk ke sana ia malah tidak menemukan wanita itu.


"Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya pria paruh baya yang duduk di dalam ruangan itu.


"Dimana Hui Mei?!"


Pria itu mengerutkan dahinya, "maaf tuan, tapi ditempat ini tidak ada yang bernama Hui Mei."


"Jangan bercanda denganku!" ujar Yin Feng seraya melepaskan aura membunuhnya.


Seketika itu juga, belasan kultivator langsung muncul di dalam ruangan, namun tidak sama seperti sebelumnya, karena belasan kultivator itu semuanya laki-laki.


Yin Feng terdiam, ia baru menyadari jika restoran tempatnya berada saat ini juga terasa aneh, pasalnya para pelayan wanita yang ia lihat di setiap lantai hanyalah orang biasa.


"Tuan, aku tidak tahu apa masalahnya, tapi jika anda ingin mencari keributan, sebaiknya anda pikirkan lagi."


"Pak tua Li, apa yang terjadi disini?"


Yin Feng langsung mengarahkan pandangannya pada pemuda yang baru saja tiba di sana, dan lagi-lagi Yin Feng dibuat kebingungan dengan situasi aneh yang dialaminya saat ini.


Pemuda yang baru saja tiba itu tidak lain adalah putra salah seorang bangsawan di kota Perak, dan merupakan pemuda yang sebelumnya dihabisi oleh Yin Feng dengan tangannya sendiri.


"Bukan apa-apa, tuan muda. Ini hanya kesalahpahaman."


"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?!"


Semua keanehan yang menimpanya saat ini benar-benar membuat Yin Feng kebingungan, bahkan kepalanya terasa sangat sakit karena memikirkan rentetan peristiwa aneh itu.


"Teman, apa kau membutuhkan sesuatu?"


Yin Feng menepis tangan pemuda itu, kemudian menghilang dari pandangan mereka semua. Setelahnya, Yin Feng muncul lagi di luar kota Perak dan terbang menuju ibukota.


"Mungkin aku terlalu lelah" gumam Yin Feng yang masih berpikir jika dirinya sedang berhalusinasi.


Sesampainya di istana kekaisaran, Yin Feng kembali disambut dengan pelukan hangat dari Jia Ling, tapi lagi-lagi Yin Feng hanya berdiam diri dan tidak membalas pelukannya.


"Apa salahku? Kenapa sikapmu tiba-tiba saja berubah seperti ini?" tanya Jia Ling.


Yin Feng terdiam menatap gadis yang kini sedang menangis di hadapannya, pertanyaan Jia Ling barusan lagi-lagi membuatnya diselimuti oleh rasa bingung.


"Apa maksudmu? Sejak pertama kali kita bertemu, aku tidak pernah mengubah sikapku sedikitpun!"


"Kau tidak ingat atau memang sengaja tidak mau mengingatnya lagi?!" Jia Ling pergi setelah menyelesaikan perkataannya.


"Sial! Apa-apaan ini? Kenapa semuanya menjadi sangat aneh?!"