Phoenix Emperor

Phoenix Emperor
Chap 85. Pertarungan di hutan.



Para kultivator itu mengeluarkan senjata mereka dari cincin ruang, kemudian melepaskan aura membunuh seraya bergerak maju dan melancarkan serangan bersama-sama.


Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh mereka, tapi setiap serangan yang mereka lancarkan berhasil ditepis dan juga dihindari dengan mudah oleh Yin Feng.


Selain itu, Yin Feng juga tidak terlihat kesulitan sedikitpun menghindari serangan mereka, bahkan ia masih bisa tersenyum remeh seolah serangan mereka tidak berbahaya.


"Apa hanya ini kemampuan yang kalian miliki?" Yin Feng memprovokasi.


"Cihh... Jangan terlalu sombong kau, bocah!"


"Cakar harimau angin!"


Salah seorang dari mereka mengayunkan tangannya kearah Yin Feng, seketika itu juga muncul tiga bilah energi yang langsung melesat kearah Yin Feng dengan kecepatan tinggi.


Pada saat yang bersamaan, Yin Feng mengalirkan energi spiritualnya pada pedang bulu Phoenix, lalu mengayunkan pedangnya untuk menahan tiga bilah energi tersebut.


Dhuaarrrrrr!


Ledakan terjadi ketika pedang Yin Feng menghantam ketiga bilah energi tersebut. Gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan itu membuat para kultivator terpukul mundur.


Sementara Yin Feng, ia masih berdiri diam dan tidak beranjak dari tempatnya. Meski terkena ledakan secara langsung namun Yin Feng tidak mengalami luka sedikitpun.


"Lumayan juga" ucap Yin Feng pelan.


"Ini... Tidak mungkin!"


Para kultivator itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, pasalnya ledakan yang bisa melukai mereka itu malah tidak berdampak sedikitpun pada Yin Feng.


Yin Feng tersenyum remeh. "Tidak ada yang tidak mungkin!" ujarnya.


Setelah itu, Yin Feng melesat dengan kecepatan tinggi mendekati salah seorang dari mereka. Sesaat kemudian suara tebasan mengisi keheningan di kedalaman hutan.


Detik berikutnya, salah seorang dari mereka ambruk ke tanah dengan kondisi kepala yang telah terlepas dari tubuhnya, lalu diikuti oleh rekan mereka satu lagi.


Kejadian itu benar-benar mengejutkan dan membuat mereka bingung, pasalnya mereka hanya melihat Yin Feng bergerak maju dan tidak melihatnya mengayunkan pedang sama sekali.


Tapi anehnya dua orang dari mereka telah terkapar tak bernyawa di waktu yang hampir bersamaan, yang artinya tanpa mereka sadari Yin Feng telah melancarkan serangannya.


"Tidak usah kaget, karena setelah ini kalian semua akan menyusul mereka!"


Yin Feng tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka semua, di saat yang hampir bersamaan, satu-persatu dari mereka mulai tumbang dengan kondisi yang sama.


Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, Yin Feng berhasil membunuh enam kultivator dan hanya menyisakan dua orang dari mereka yang sedang gemetar ketakutan.


"Beritahu aku, siapa yang mengirim kalian?" tanya Yin Feng.


"Ja-jangan harap!"


"Hahh..." Yin Feng menghela napas panjang, lalu menebas tangan salah seorang dari mereka hingga putus.


"Arkhhhh!"


Jeritan menyakitkan menggema di dalam hutan, kedua kultivator itu terlihat panik dan berkeringat dingin. Sementara Yin Feng malah menunjukkan senyuman di bibirnya.


"Jangan buat aku mengulangi pertanyaan yang sama, kalau tidak..."


"Kalau tidak apa? Apa kau pikir kami takut mati?!"


"Silahkan bunuh kami, karena jika kami mati anggota klan kami akan memburu-mu!"


"Anggota klan? Ah... sepertinya aku bisa menebak darimana asal kalian" ucap Yin Feng, lalu setelah itu ia membunuh dua kultivator yang tersisa.


Setelah merenggut nyawa mereka, Yin Feng kemudian memeriksa mayat mereka satu-persatu, kemudian ia menemukan sebuah lencana berbentuk kepala harimau.


Yin Feng menggenggam erat lencana tersebut, api dendam yang sudah ada dalam dadanya langsung membesar ketika mengetahui siapa yang mengincar nyawanya.


"Klan Harimau Angin, suatu saat nanti aku pasti akan menghancurkan kalian!"


Setelah mengambil cincin penyimpanan mereka, Yin Feng kemudian membakar tubuh para kultivator tersebut, setelahnya Yin Feng melanjutkan perjalanannya.


Yin Feng sedang beristirahat di pinggir sungai sembari menikmati ikan bakar, meski tidak menambahkan bumbu apapun, namun ikan bakar itu tetap terasa lezat baginya.


"Entah ikan ini yang memang lezat atau diriku yang sudah sangat kelaparan..."


Yin Feng memang belum makan apapun dalam beberapa hari terakhir ini, bahkan belum beristirahat walah hanya sejenak, karena itulah sekarang ia sangat kelaparan dan kelelahan.


"Kenapa suhunya tiba-tiba menjadi dingin?"


Ketika sedang menikmati ikan bakarnya, udara di sekitar Yin Feng tiba-tiba saja berubah menjadi sangat dingin, Yin Feng juga merasakan aura kekuatan yang tidak biasa dari kejauhan.


Aura tidak biasa dan suhu yang tiba-tiba menjadi dingin membuat Yin Feng teringat dengan sesuatu, yaitu ingatan tentang mimpi buruk yang dialaminya karena ulah para Dewa.


"Apa ini ulah mereka lagi?!" gumam Yin Feng.


Karena penasaran Yin Feng kemudian melesat terbang menuju ke arah sumber aura tidak biasa itu, ia ingin memastikan apakah dirinya dipermainkan oleh para dewa lagi atau tidak.


Tidak lama berselang, Yin Feng akhirnya menemukan penyebab dari perubahan suhu udara, suhu dingin itu berasal dari seekor burung elang yang memiliki kekuatan elemen es.


Namun, yang menjadi pusat perhatian Yin Feng bukanlah elang berwarna biru tersebut, melainkan seorang wanita yang sedang berdiri di punggung elang biru raksasa tersebut.


"Siapa dia?"


***


Disisi lain.


Seekor elang yang memiliki bulu berwarna biru nampak sedang berhadapan dengan seekor ulat berkepala tiga, keduanya merupakan hewan spiritual tingkat raja.


Mulanya, ular berkepala tiga-lah yang memimpin jalannya pertarungan, namun arus dari pertarungan itu berubah ketika wanita yang berada di punggung elang es ikut membantu.


Sama dengan hewan peliharaannya, wanita yang menutupi sebagian wajahnya dengan kain itu juga memiliki kekuatan es, namun jauh lebih besar dibanding peliharaannya.


"Penjara es abadi!" ujar wanita itu.


Lingkaran formasi raksasa berwarna biru muncul di bawah ular berkepala tiga, lalu dari dalam formasi itu muncul puluhan rantai es dan langsung membelenggu tubuh ular tersebut.


Kemudian, tubuh ular berkepala tiga mulai diselimuti oleh es secara perlahan. Namun, sebelum tubuhnya membeku, ular itu menyemburkan api dari salah satu kepalanya.


Seketika itu juga, puluhan rantai es yang membelenggu tubuhnya langsung hancur berkeping-keping, lalu ular berkepala tiga melancarkan serangan dengan menggunakan ekornya.


"Xiao Bing, menghindar!" ujar wanita itu.


Elang es raksasa memekik keras, kemudian ia mengepakkan kedua sayapnya dan melesat terbang untuk menghindari serangan ular berkepala tiga tersebut.


Setelah berada diketinggian, elang es mengepakkan kedua sayapnya lagi, seketika itu juga, puluhan tombak es langsung menghujani tubuh ular berkepala tiga.


Ular berkepala tiga tidak tinggal diam, ia membalas serangan elang es dengan cara menyemburkan api yang sangat panas dari ketiga kepalanya.


Boom!


Dhuaarrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terjadi ketika ke-dua kekuatan yang berlawanan itu beradu di udara, seketika itu juga langit hutan tersebut diselimuti oleh kabut asap yang sangat tebal.


Sementara itu.


Yin Feng yang masih mengawasi jalannya pertarungan dari kejauhan tiba-tiba merasakan bahaya, walaupun pandangannya terhalangi namun tidak dengan instingnya.


"Gawat mereka dalam bahaya!" Yin Feng mengeluarkan pedang dan belatinya, lalu melesat kearah pertarungan.


Awalnya Yin Feng tidak ingin ikut campur dan hanya ingin menyaksikan jalannya pertarungan, namun ia berubah pikiran setelah merasakan kehadiran bahaya besar.


Selain itu, wanita yang menghadapi ular berkepala tiga adalah wanita yang dimaksud oleh leluhurnya, yaitu wanita yang memiliki energi Yin murni dalam dirinya.


Tingkat kultivasi wanita itu memang cukup tinggi, begitupun dengan elang es peliharaannya, namun mereka tidak akan bisa menghadapi bahaya yang akan segera datang.


"Menjauh dari sana!" ujar Yin Feng.