
Teriakan Yin Feng membuat wanita itu kaget, namun sebelum ia sempat memahami maksud dari peringatan Yin Feng, kobaran api berwarna hitam telah mengarah padanya.
"Xiao Bing, menghindar!"
Elang es mengepakkan sayapnya dan berusaha untuk menjauh dari tempat tersebut, namun sayangnya serangan api hitam itu sudah tidak mungkin untuk dihindari lagi.
Sesaat sebelum kobaran api hitam itu mengenai mereka, Yin Feng tiba-tiba muncul dan menahan serangan api hitam itu menggunakan kekuatan api hijau miliknya.
Dhuaarrrrrr!
Benturan dari dua kekuatan api itu menyebabkan ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan itu membuat seisi hutan berguncang dan meratakan area seluas puluhan kilometer.
Sementara wanita dan elang es peliharaannya terlempar cukup jauh dari tempat itu, namun ledakan dahsyat itu tidak memberikan dampak apapun pada mereka berdua.
"Siapa orang itu?"
Setelah ledakan berlalu dan kepulan asap menghilang, pandangan wanita itu langsung tertuju pada Yin Feng, ia nampak kaget ketika melihat Yin Feng yang masih baik-baik saja.
Walaupun terlambat menyadari semuanya, namun ia yakin bahwa api hitam itu bukanlah api biasa, bahkan nyawanya bisa saja melayang karena api hitam itu.
Namun anehnya, pemuda yang menyelamatkan-nya justru terlihat baik-baik saja, padahal ia yakin pemuda itu sempat terkena kobaran api hitam misterius itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau di hutan ini ada kultivator hebat."
Suara yang terdengar mengerikan datang dari kabut asap tebal yang menutupi permukaan tanah, dari dalamnya nampak siluet seekor ular yang memiliki banyak kepala.
"Aura ini..." Wanita itu benar-benar kaget setelah mengetahui alasan kenapa Yin Feng memperingatinya.
Sosok ular berkepala tiga yang mereka hadapi ternyata bukan hewan spiritual tingkat raja, melainkan seekor hewan spiritual tingkat penguasa yang hampir mendekati tingkat legenda.
Tidak hanya itu saja, hewan spiritual yang mereka hadapi bukanlah ular berkepala tiga, melainkan ular berkepala sembilan yang sempat mengacau di benua Langit sepuluh tahun lalu.
"Tinggalkan tempat ini, dia bukan lawan yang bisa kita hadapi!" ujar wanita itu.
"Apa kalian pikir bisa pergi dari sini?!"
Mata salah satu kepala memancarkan cahaya kemerahan yang cukup terang, kemudian di langit muncul lingkaran formasi berwarna merah gelap yang sangat besar.
Tidak lama berselang, lingkaran formasi itu memancarkan cahaya dan membentuk lingkaran menyerupai kubah raksasa yang menyelimuti area hutan seluas puluhan kilometer.
Wanita itu terlihat panik, meski jaraknya dengan dinding cahaya itu sangat jauh, namun ia bisa mengetahui bahwa dinding cahaya itu tidak mudah untuk dihancurkan.
"Sepertinya kau memang tidak ingin melepaskan kami" ucap Yin Feng.
"Tepat sekali! Aku memang tidak berniat untuk melepaskan kalian!" ujar ular berkepala sembilan, lalu menyemburkan napas api hitam kearah Yin Feng.
Meskipun Yin Feng bisa menahan serangan itu dengan kekuatan api hijau, namun Yin Feng lebih memilih untuk menghindari-nya dan menjauh dari tempat tersebut.
"Menjauh sekarang juga!" ujar Yin Feng.
Wanita itu mengangguk, lalu ia memerintahkan elang es peliharaannya untuk terbang menjauhi ular berkepala sembilan yang sedang mengamuk.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya wanita itu.
"Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan ular itu" jawab Yin Feng.
"Apa kau sudah gila?! Bagaimana mungkin kita bisa mengalahkan ular itu!"
"Selama ingin berusaha maka tidak ada yang tidak mungkin" sahut Yin Feng, lalu menjelaskan rencananya.
Dalam rencananya Yin Feng akan bertindak sebagai penyerang utama, sedangkan wanita dan elang es peliharaannya akan melindungi Yin Feng dari belakang.
Yin Feng juga menjelaskan bahwa mereka harus siap menerima kemungkinan terburuk, sebab musuh yang akan mereka hadapi bukanlah lawan sembarangan.
"Apa kau siap?" tanya Yin Feng, namun hanya dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
"Baiklah, mari kita mulai!"
Woshh!
Yin Feng melepaskan aura kekuatannya untuk menarik perhatian ular berkepala sembilan, lalu terbang mendekati ular berkepala sembilan dengan kecepatan tinggi.
Setelah jaraknya cukup dekat, Yin Feng kemudian melapisi pedangnya dengan energi spiritual, ia juga menambahkan sedikit kekuatan api hijau di dalamnya.
"Tebasan Phoenix!"
Bilah energi yang menyerupai burung Phoenix muncul dari tebasan pedang Yin Feng. Kemudian bilah energi itu melesat dengan kecepatan tinggi kearah ular berkepala sembilan.
Ular raksasa itu tidak tinggal diam, salah satu kepalanya membuka mulutnya lebar-lebar, lalu diantara mulutnya yang terbuka muncul bola energi yang cukup besar.
Kemudian bola energi berwarna merah kehitaman itu ditembakkan kearah Yin Feng.
Dhuaarrrrrr!
Ledakan dahsyat lainnya kembali terjadi saat kedua serangan mereka beradu di udara, namun serangan Yin Feng tidak mampu menandingi serangan ular berkepala sembilan.
Dampak dari ledakan dahsyat itu membuat Yin Feng terpukul mundur, namun ia masih berhasil bertahan dengan menciptakan sepasang sayap di punggung-nya.
Karena serangan pertamanya tidak berhasil, Yin Feng kemudian menyimpan pedang dan belati perak ke dalam cincin-nya, lalu melesat terbang ke langit.
Setelah berada cukup tinggi, Yin Feng kemudian membentuk segel dengan kedua tangannya. "Formasi Teratai Giok!"
Setelah itu, tubuh ular berkepala sembilan dikelilingi oleh kelopak bunga teratai yang terbentuk dari energi spiritual.
"Formasi lemah ini tidak akan bisa menahan-ku!"
Kemudian, ular berkepala sembilan mengibaskan ekornya dan seketika itu juga, semua kelopak bunga teratai yang mengelilingi tubuhnya hancur berkeping-keping.
Pada saat yang bersamaan, ular berkepala sembilan juga menyemburkan napas api hitamnya kearah Yin Feng, namun serangan itu ditahan oleh dinding es yang sangat tebal.
Benturan api hitam dan dinding es membuat tempat itu diselimuti oleh kabut asap. Kemudian, Yin Feng memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan serangan.
Yin Feng melakukan serangan jarak dekat, dengan mengandalkan kecepatannya, Yin Feng menebas ular berkepala sembilan menggunakan teknik andalan sekte Teratai Giok.
Namun sayangnya, sisik ular berkepala sembilan jauh lebih keras dari yang ia pikirkan, sehingga setiap tebasan yang ia lakukan hanya mampu meninggalkan luka goresan saja.
"Kau memiliki senjata yang hebat, tapi sayangnya teknik yang kau gunakan tidak sebanding dengan pedang-mu!"
"Cihh... Tidak usah mengajariku!" ujar Yin Feng.
Woshh!
Elang Es memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melancarkan serangan, dalam sekejap ular berkepala sembilan dihujani oleh puluhan tombak es berukuran besar.
Pada saat yang hampir bersamaan, sebilah pedang es berukuran raksasa juga melesat kearah ular berkepala sembilan. Tapi, serangan gabungan itu tidak membuahkan hasil apapun.
"Apakah berhasil?"
"Sepertinya tidak" jawab Yin Feng.
"Hahahaha!" suara tawa menggema dan mengguncang area hutan yang ditutupi oleh kubah cahaya.
"Lagi! Serang aku dengan kekuatan penuh kalian!" ujar ular berkepala sembilan.