
Raihan menatap nyalang dua orang yang datang tepat di jam makan siang. Menarik nafas begitu berat dengan kelakuan keduanya yang tak dapat di hubungi kala benar-benar di butuhkan. Sedangkan pagi ini ada meeting bulanan dan peran keduanya begitu penting. Di tambah lagi Pak Heru ijin tidak masuk karena istrinya sakit. Dan semua harus di wakilkan oleh Tara dan Andini yang kebetulan sedang payah pagi ini.
"Udah sich, tegang bener udah kayak nonton film horor. Kan udah gue jelasin, capek berdiri mulu. Kaki gue abis gue ajak macul nich!" keluh Andika yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Erna. Dan itu membuat Raihan semakin curiga.
"Abis ngapain kalian semalam? mamah telpon nanyain loe nggak pulang. Tidur sama Erna loe?" tanyanya dengan tatapan selidik.
"Ck, biasa anak muda, DP dulu baru di bayar tunai." Andika menjawab santai sedangkan sejak tadi Erna mendelik mendengar ucapan absurd yang keluar dari bibir Andika.
"Apa sich sayang, matanya biasa aja. Raihan paham kok nggak usah di jelasin juga." Andika menatap Erna dengan wajah tengilnya yang kembali sejak permainan pagi tadi.
"Rai, kasian Erna biarin duduk. Udah kayak bolos sekolah di setrap sama guru. Kasian dia pegel kakinya, apa lagi belum istirahat langsung meluncur kesini."
"Andika!"
"Apa sayang? jangan galak-galak donk, di ranjang aja galaknya," lirih Andika yang masih dapat di dengar oleh Raihan.
Melihat tingkah keduanya Raihan yakin jika ada yang terjadi semalam dan yang jelas Andika mulai bertindak di luar batas.
"Loe berdua.....astaga!" Raihan memijit pelipisnya, kelakuan kakak ipar benar-benar tak dapat di anggap enteng. Dengan santainya mengecup bibir Erna yang merengut karena kesal akan ucapan Andika.
"Keluar loe berdua! pusing gue....."
"Jangan marah-marah terus, inget bini loe lagi bunting. Ntar bukannya mirip bapaknya malah jadi mirip gue!"
Raihan menggelengkan kepala, kini keduanya sudah duduk di kursi depan meja kerja Raihan. "Loe abis ngelakuin pelanggaran malah seneng banget. Gimana kalo tuh benih tumbuh di perut Erna, loe nggak mikir dia belum kelar masa Iddah?" akhirnya Raihan bertanya juga, hal yang serius tapi justru di anggap santai oleh Andika.
"Biarin aja, biar cepet di suruh ijab. Ya nggak neng?" Andika meminta persetujuan dari Erna dengan menaik turunkan alisnya.
Erna tak menggubris ucapan Andika, dia segera menoleh ke arah Raihan. "Bukan mau gue Rai, ini semua di luar kehendak kita berdua. Ada masalah yang mengharuskan gue menyerahkan diri ke singa kelaparan semalam. Sorry kalo pagi ini gue telat dan merepotkan loe dan Andini. Gue terpaksa dan lupa kalo pagi ini ada meeting." Erna meminta maaf dengan sangat menyesal membuat Raihan hanya bisa membuang nafas kasar.
"Seenggaknya tuh ngabarin, bukan main ngilang aja berdua. Terlepas dari masalah yang ada, kalian pasti bisa nyelesain semuanya."
"Hhmm.... makasih Rai." Erna menoleh ke arah Andika yang hanya diam memperhatikan. Kemudian menatap Erna dengan senyum hangat.
"Nggak usah terlalu di pikirkan. Kita cari solusinya sama-sama," ucapannya kemudian mengecup kening Erna.
"Ck, keluar kalian! mesra-mesraan di depan gue!" kesal Raihan seakan perbuatannya dulu dengan Andini mendapat balasan setimpal dengan begitu jelas di depan mata.
"Baru gini Rai, belum cipook-cipook elah loe udah kayak anak baru, kalo mau tinggal geret Andin aja bawa kesini. Kamar ada, eh...... ngomong-ngomong gue nyewa kamar boleh kali Rai. Minjem dech nggak usah nyewa, lumayan gratis!"
"Jangan aneh-aneh loe berdua, belum ada kode halalnya juga loe! gue bilangan Pak Nugraha mapuuuus loe."
Erna pun seakan ingin mencelupkan kepala Dika kedalam bak mandi agar diam dan tak bicara macam-macam.
"Udah jam makan siang, ayo makan dulu ntar lagi tegang-tegangannya. Laper gue, si Joni butuh nutrisi sarinya abis di peres dari semalam," ucapnya membuat wajah Erna merona dan segera beranjak dari duduknya.
"Eh sayang mau kemana?" Andika segera menahan Erna.
"Makan tuh anak orang ngambek! kebanyakan tingkah loe!"
"Biasa intermezo.....buat pengalihan aja. Rai, gimana?"
"Apanya?" tanya Rai bingung.
"Masalah gue!
"Pikirin sendiri, loe yang bikin ulah! Makanya jangan suka main api. Nggak jujur sich loe dari awal! untung ada Erna kalo nggak ada mau lari kemana loe!" Raihan sudah tau masalah Andika dengan Cantika walaupun ia tak cerita masalah semalam tapi akhirnya Raihan bisa menebak. Selama menunggu Erna selesai mandi Andika menelpon Raihan dan menceritakannya.
"Mana ada gue main api, gila aja loe bocah aja tau kalo api tuh panas. Gue cuma nolongin, mana tau jadi begini. Yang terpenting tuh Erna, nggak ada yang lain. Gue ngomong sama Pak Nugrahanya gimana ya? mudah-mudahan kalo bunting jangan gede-gede dah tuh perut, biar nggak keliatan sampe gue nikahin dia." Andika menyandarkan badannya, mengingat apa yang di lakukan semalam hingga pagi tadi. Awal yang sangat melenakkan, tak terbayang ia akan mendapatkan Erna seutuhnya secepat itu.
Raihan pun tak tau harus membantu apa, itu di luar ekspektasinya. Menatap iba sahabat yang merangkap Kakak ipar.
"Gue yakin sich tuh cebong pada hidup, gue muntahin berkali-kali dari semalam, gimana donk?" tanyanya lagi.
"Tanggungjawab!"
"Gue tau Rai, ya kali gue lepas tanggung jawab. Akh udah lah ayo makan siang, laper gue sampe pusing kepala atas bawah. Ayo!"
Raihan jengah melihat tingkah Andika yang membuatnya geregetan, untung sahabat jika bukan mungkin Raihan sudah di tendang.
Kini Erna dan Andini sudah berada di cafe depan kantor, menikmati makan siang berdua tanpa gangguan dari para pria.
Sepintas Andini merasa heran, Erna yang sudah menjanda tapi di lehernya terdapat bekas merah yang nyata. Hingga membuat Andini menghentikan kunyahannya.
"Mbak, semalam kak Andika kerumah mbak?" tanyanya to the point' membuat Erna salah tingkah, tapi ia jujur dengan menganggukkan kepalanya.
Andini kemudian paham siapa yang membuat tato alami di leher Erna. "Nginep ya mbak?" tanyanya lagi dan sukses membuat pipi Erna merona.
Melihat itu Andini kemudian paham apa yang telah terjadi antara keduanya yang membuat mamah pagi-pagi menghubungi, kebingungan mencari anak lakinya yang tak pulang kerumah.
"Berarti tadi telat juga karena Kak Andika ya mbak?" tanyanya lirih.
Erna sudah tak bisa bohong, Raihan pun tau. Dan pasti akan memberi tau pada Andini seandainya ia tak menjawab.
"Iya Din, maaf ya buat kamu kerepotan wakili divisi kita buat presentasi." Erna tak enak hati karena harus merepotkan Andini sedangkan Andin sedang mual-mual nya pasca trisemester pertama.
"Nggak apa-apa mbak, ada Tara dan mas Rai."
"Pagi tadi mamah nyariin kak Andika, udah kayak orang kehilangan anak bocah. Padahal udah setua itu, tapi mamah kalang kabut nyarinya. Tapi aku lega kalo kak Andika ternyata tidur di rumah mbak, walaupun ngeri juga bayanginnya. Sedangkan kalian masih belum boleh menikah..."
Erna menganggukkan kepala, "Mbak juga nggak tau ke depannya gimana, tapi semalam bukan kesengajaan. Andika butuh mbak dan mbak nggak bisa biarin dia nahan Din. Aku takut kalo sampe dia kenapa-napa." Kemudian Erna tersenyum. "Tapi aku bangga sama dia, Dika bisa menjaganya buat aku."
"Makin cinta donk sama gue!"