
Andika tampak tertegun melihat siapa yang ada di hadapannya, lidahnya kelu untuk sekedar menyapa dan kakinya kaku saat ingin melangkah hingga tangannya menarik tubuh wanita yang sangat ia rindukan senyuman serta suaranya.
Andika memeluk dengan erat, tak menyangka ia akan datang. Padahal pagi tadi kondisinya tak memungkinkan tapi kini bisa sampai menghampiri dan menemaninya yang sejak tadi kesepian.
"Gue kangen banget sama loe Er!"
Ya wanita itu adalah Erna, Erna datang tak terduga. Tiba-tiba menyapa di lamunannya hingga Andika begitu bahagia. Ternyata doa dan harapannya menjadi nyata.
Erna membalas pelukan Andika, dia pun sangat merindukan Andika tapi belum mau mengatakan.
Tadi siang Erna tiba-tiba teringat akan ucapan Andika, jika pria itu menunggunya di acara resepsi Raihan dan Andini. Seketika ucapan Andika membuatnya sadar akan dunianya. Erna berusaha keluar dari keterpurukan yang beberapa hari ini membuat mentalnya down. Dia merenungi semua yang terjadi, hingga ikhlas mulai menghampiri.
Sang mamah pun berkali-kali berucap syukur, saat Erna kembali bersuara dan menyapa. Memanggil mamah yang kala itu sedang berdoa setelah sholat.
"Mah....."
Setelah mengaminkan doa nya sang mamah mendongakkan kepalanya menatap ke arah ranjang rumah sakit. Disana Erna tampak tersenyum menatapnya.
"Mamah...." panggilnya lagi.
Mamah segera bangkit dan melangkah mendekati. "Erna....sayang kamu sudah sembuh? Ya Allah Alhamdulillah."
Keduanya saling berpelukan, membuat Papah yang siang itu menyempatkan untuk datang di buat bingung dengan pemandangan yang tak biasa.
"Mah... " keduanya merenggangkan pelukannya menoleh ke arah papah yang diam dengan hati bertanya-tanya.
"Erna sudah kembali Pah, Erna sudah sembuh."
Mendengar itu, papah segera mendekat dan ikut memeluk keduanya. Bahagia juga di rasakan oleh sang Papah yang begitu menyesal akan semua yang ia perbuat pada anaknya. Hingga ia tak kuasa menahan air mata saat meminta maaf pada putrinya.
"Maafkan Papah nak, maaf....papah sungguh menyesal dengan apa yang sudah papah lakukan padamu. Ampun nak, jangan seperti kemarin lagi. Papah nggak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Erna menganggukkan kepala, ia sudah memaafkan semua kesalahan beliau. Dan Erna sudah menganggap semuanya bagian dari takdir yang harus Erna jalani.
"Nak, hampir setiap hari Andika datang kesini. Dia begitu sedih melihat keadaan kamu. Dan pagi tadi dia datang lagi, dia berharap kamu datang ke acara resepsi adiknya," ucap mamah menjelaskan.
"Datanglah nak, mamah dan papah akan menemani."
Erna menatap Pak Nugraha dengan tatapan yang sulit di artikan, tapi Pak Nugraha paham maksud Erna.
"Papah sudah menyetujui hubungan kalian, Papah akui salah menilai Andika. Papah terlalu gelap akan harta hingga membuat anak papah menderita. Tapi Andika begitu baik mau memaafkan papah."
Erna lega, akhirnya sang Papah mau menerima Andika. Semua yang ia alami ada hikmahnya.
...🍃🍃🍃...
Kini Erna naik ke pelaminan dengan di temani oleh Andika, memberikan selamat pada keduanya dan kembali meneteskan air mata saat Andini mengatakan jika ia akan memiliki keponakan.
"Alhamdulillah mbak sudah kembali sehat, Andini senang melihatnya. Akhirnya Kak Andika ada temannya lagi. Nggak galau setiap hari. Sampai mamah marah-marah gara-gara sabun di kamar mandi cepet banget abis."
Erna tersipu menatap Andika yang jengah dengan ucapan sang adik yang terlalu frontal di acaranya sendiri. Hingga ia serasa ingin membungkam dengan sepatu yang ia gunakan.
"Udah, nggak usah di dengerin. Walaupun emang bener apa yang di kata Andini. Si Joni merindukan pawangnya."
"Nikah dulu! jangan kebanyakan praktek terus di buang sia-sia!" ucap Raihan mengingatkan.
"Ck, masih nunggu masa Iddah. Kalo nggak mah udah tancep gas gue." Ucap Andika dan langsung mendapat tatapan tajam dari Erna.
"Ayo turun!"
"Tuh loe liat kan, baru sembuh aja udah ngebet banget sama gue. Ulalaulala endol pokoknya, tiga bulan cepat lah berlalu. Aku bosan menjomblo terus." Andika segera turun menyusul Erna yang sudah lebih dulu berlalu karena malu.
Pada saat pelemparan bunga, semua yang masih lajang berkumpul di depan pelaminan. Termasuk Tia dan Riri berdiri di garda terdepan. Sedangkan Erna duduk terdiam karena perutnya yang masih nyeri jika banyak gerak.
"Andini, gue ya!" seru Tia.
"Gue Din, biar gue kawin duluan!" lanjut Riri ngarep.
"Mas sudah siap?"
"Sudah sayang, ayo!"
"Satu, dua, tiga....."
Kedua pengantin melempar bunga ke belakang, begitu heboh mereka yang berdiri ingin meraih bunga itu. Tanpa mereka sadar jika ada pria yang mengendap dan segera lompat kala bunga mulai mengudara.
"Kak Andika!"
Andika memasang wajah tanpa dosa sedangkan semua yang berdiri berebut bunga adalah perempuan.
"Kak Andika parah ikh, buat gue aja!" sewot Tia.
"Iya ikh, nggak tau malu, laki sendiri loe kak!" sahur Riri.
"Ini buat cewek gue yang nggak bisa ikut rebutan sama kalian semua!"
"Pak Andika ngalah dikit donk!" seru karyawan Raihan.
"Nggak ada! pada beli sendiri loe sana...."
"Dasar kadal buntung!" geram Andini melihat kelakuan sang kakak yang membuatnya malu.
Andika berjalan mendekati Erna, dengan senyum sumringah ia memberikan buket bunga pada Erna.
"Nich!"
"Dika loe bikin gue malu tau!"
"Gue tau loe pengen ikutan rebutan sama ciwik-ciwik kan, tapi nggak bisa. Makanya gue wakilin, biar bulan depan bisa lanjut pelaminan."
Erna menggelengkan kepala, ia malu saat menjadi pusat perhatian. Sedangkan belum banyak yang tau jika Erna sudah tak bersuami.
"Nggak usah pedulikan orang, biar gue colok matanya satu-satu!"
"Ck..." akhirnya Erna mengambil buket bunga tersebut dengan terpaksa. Andika tersenyum melihatnya, akhirnya bisa kembali melihat wajah kesal Erna yang menggemaskan.
"Bulan depan kawin ya neng!"
"Apa sich Dika!"
"Iya atau iya?"
"Apa?" tanyanya polos.
"Loe pilih! ck....bulan depan kawin atau bulan depan bunting lagi?" tanyanya lagi.
"Dika!"
"Ssstt....jangan teriak-teriak, ntar aja kalo udah siap!" ucapnya ngelantur.
"Sekali lagi bikin gue naik darah, gue tinggal pulang!" ancam Erna.
"Gue bawa loe kabur!" ucapannya enteng.
"Dika loe ngeselin!" ucap Erna dengan mengerucutkan bibirnya. Kesal karena keisengan Andika yang tak kelar-kelar.
"Bibirnya harap di kondisikan, bukan cuma gue yang rindu. Si Joni jadi nyut-nyutan lihat bibir loe begitu."
"Andika!"
...****************...
Masih berlanjut ya readers, pantengin terus akunku biar tau kelanjutannya.....🤗