One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 96



Erna diam mendengarkan cerita dari Andika, ada rasa syukur di mana Andika mengingat dirinya di tengah desakan nafsu yang bisa membuat keduanya benar-benar tak bisa lagi bersama. Walaupun Erna tidak tau setelah ini harus bagaimana. Masa Iddahnya masih dua bulan lagi tapi Dika sudah menyolong star lebih dulu.


"Sayang....kok diem aja? marah ya sama gue?" Andika merenggangkan pelukannya, ia menatap Erna dengan dalam. Tatapan mata yang teduh membuatnya merasa bersalah jika selama ini menutupi dan tidak jujur.


"Memang bertemu dia di mana?"


Andika kembali menarik nafas panjang, ia harus benar-benar menceritakan semuanya dan setelah itu mengajak Erna untuk menemui Cantika.


"Telat ngantor ngga apa-apa?"


Erna menggelengkan kepala, " bos kita baik, tenang aja!" ucapnya dan di angguki oleh Andika.


"Waktu itu gue nggak sengaja hampir nabrak dia, dia masih pake seragam SMA keluar dari apotik buru-buru membawa plastik obat yang akhirnya pecah karena kaget mobil gue hampir nyentuh body nya."


"Gue buru-buru turun dari mobil, lihat wajah polos gadis belia menangis jelas gue nggak tega. Apa lagi obat yang baru dia beli jatuh gara-gara gue. Gue tanggung jawab beliin obat lagi dan mengantar dia pulang."


"Dia orang berada, anak yatim yang hanya memiliki seorang ibu yang sudah penyakitan. Gue iba, gue lihat betapa dia sangat mengasihi ibunya. Sampai akhirnya gue dekat sama keduanya. Gue mau cerita sama loe, tapi saat itu hubungan kita lagi renggang. Loe di lamar sama Gio dan gue anggap bertemunya gue sama Cantika adalah pelipur lara di saat hati gue sakit menerima kenyataan kalo loe bakal nikah sama pria lain."


"Dia gadis baik, ceria, lembut, dan cantik. Hampir setiap pulang kerja gue mampir, gue anggep dia seperti adik gue sendiri. Jujur gue sayang sama dia, tapi hanya sebatas sayang, nggak lebih." Erna menggeliat melepaskan pelukan setelah mendengar Andika mengucapkan sayang pada gadis belia tersebut. Tapi Andika yang sadar akan perubahan Erna kembali mengeratkan pelukannya.


"Jangan marah, gue kan jujur. Lagian cinta gue cuma buat loe!" kemudian Andika mengecup pipi Erna dengan sayang.


"Dia cuma dedek gemes gue kala itu, tapi setelah gue tau dia menganggap lebih dan mencintai gue. Gue berusaha menjaga jarak. Gue jadi jarang ke rumahnya walaupun dia nggak terima akan sikap gue. Bahkan dia tau kalo gue cuma cinta sama loe!"


"Tentang janji itu?"


"Janji sama ibunya, iya.....janji yang buat gue harus terikat sampai kapanpun. Gue janji sama beliau akan terus menjaga anak gadisnya. Karena dia nggak punya siapa-siapa lagi, dan gue menyanggupi itu. Gue nggak mungkin tega, di saat ibunya sakit keras dan hanya ada gue di sana. Makanya harapan ibunya hanya ada di gue."


"Tapi kan hanya menjaga bukan untuk berumah tangga." Andika merenggangkan pelukannya menatap wajah Erna dengan dalam. Merapikan anak rambut yang berantakan dan mengusap lembut pipi Erna.


"Bantu gue ya, kita temui dia. Dan gue minta loe mau nerima dia seperti adik sendiri. Karena janji itu nggak mungkin gue ingkari. Sayang, gue minta tolong pengertiannya." Andika sadar, dia tak mungkin menyelesaikan ini semua sendiri. Jika perlu ia akan meminta pertolongan mamahnya dan mengenalkan Cantika pada beliau. Berharap beliau bisa menerima Cantika dan menganggap seperti anak sendiri.


Erna menganggukkan kepala, ia tau ini tanggung jawab Andika yang tak mungkin Andika lepaskan. Hanya saja menyesali sikap Andika yang tak jujur dari awal.


"Bener?" tanyanya lagi dan di angguki oleh Erna.


"Loe emang yang terbaik, makin cinta jadinya. Maaf ya akhir-akhir ini gue buat loe berpikiran buruk sama gue. Gue banyak diem, karena emang gue pusing mikirin ini. Gue nggak mau loe tau dan ninggalin gue."


"Gue nggak sedangkal itu mikirnya Dika, loe orang baik. Jadi nggak heran loe di sukai cewek lain. Mungkin Cantika juga nyaman sama loe makanya dia cinta sama loe!" Erna mencoba untuk mengerti, berpikir dewasa dan menerima keadaan.


"Makasih sayang, makasih buat pengertiannya. Makasih buat semuanya, i love you....." Andika mengecup pundak polos Erna, matanya kembali berkabut karena posisi keduanya yang membuat Joni sejak tadi gundah gulana.


"Mau lagi boleh nggak?" lirih Andika.


"Yang semalam," jawabnya dengan nafas mulai tak santai. "Sekali lagi boleh sebelum berangkat ngantor."


"Tapi ini salah Dik!"


"Dari semalam kan emang udah salah, sekalian aja nyebur! Habis itu kita pikirin gimana baiknya." Andika kembali mengecup pundak polos Erna membuat wanita itu meremang.


"Tapi...."


"Gue nggak kasar kan, bahkan loe menikmatinya. Semalam merem melek sambil bilang lagi sayang, terus sayang, enak Dika...." Andika terkekeh membuat Erna merona dan memukul lengan kekarnya.


"Pesona Joni buat loe gila, nggak nyangka gue Erna sekalem itu tapi kalo di ranjang auwwhhh.....bikin gemes, udah kayak macan ngamuk."


"Andika!" Andika tertawa melihat erna semakin malu dan kesal akan ucapannya.


"Lagi yuk!"


"Nggak mau!"


"Mau donk masak nggak, Joni udah ngetuk pintu lagi tuh! ada tamu masak nggak di bukain, apa mau gue buka paksa?"


"Andika, jangan gitu donk. Ayo mandi kita udah siang!"


"Nanggung tadi kan loe bilang bos kita baik, sekalian telat ntar gue yang mintain ijin. Ayo buka! si Jeni udah ngiler liat Joni gagah berdiri begini. Kasian ntar ileran seharian. Buka ya!" bujuk Andika.


"Jangan lama!"


"Iya sayang.....buat semangat pagi aja!"


"Janji!" Erna benar-benar ingin memastikan karena semalam saja Andika sudah tiga kali meminta. Dan pagi ini mereka akan benar-benar masuk siang jika Andika tak lebih dulu di ingatkan.


"Janji gue bakal tanggung jawab," jawabnya ngelantur.


"Bukan itu, janji sekali aja!" ucap Erna gemas.


"Si Joni belum ngerti bahasa manusia, jadi belum bisa di ajak janji. Biarin aja kita nikmatin maunya apa, jangan di ganggu kasian 28 tahun baru kenal akrab sama Jeni."


"Ta_" belum sempat Erna membuka suara Andika sudah kembali membungkamnya dengan hisapan yang membuat Erna kembali mengerang. Pagi ini keduanya kembali menyatu, membiarkan si Joni beraksi di bawah sana.


Mendeesah, mengerang hingga melenguh dengan suara berat. Kesalahan yang melenakan, pelanggaran yang berujung pelepasan. Hingga panggilan dari Raihan tak dipedulikan, Andika lupa jika pagi ini ada meeting dan membiarkan Raihan mengumpat kesal menyiapkan semua sendiri. Dan terpaksa berangkat bersama sekretarisnya.


"Gila nich orang, mamah nyariin semalaman nggak pulang dan sekarang nggak ada kabar, di telpon nggak di angkat. Jangan aja lagi bikin perkara!"