One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 72



"Cepet sekali sudah mau pulang, padahal mamah masih kangen banget loh sama kalian." Sifa dan Vino mengantar anak dan menantunya ke teras depan.


"Aku juga mau menyampaikan acara resepsi buat pernikahan kita ke mamah mertua mah. Kapan-kapan kita kesini lagi. Mamah kalo mau menginap di rumah juga nggak apa-apa," jawab Raihan merangkul sang istri.


"Iya mah, pasti seru kalo mamah nginap di rumah. Bawa si Jarot juga boleh Mah, biar Papah mau ikut."


"Usulan yang bagus, kalo Papah kamu nggak mau Mamah bisa culik si Jarot ya Ndin." Sifa tersenyum tipis membayangkan suaminya yang heboh kehilangan burung kesayangannya.


Vino yang melihat tatapan sang istri begitu mengancam seketika di buat tak bisa bicara. Beliau tau jika Sifa sedang merajuk dan minta di perhatikan.


"Ya udah aku sama Andin pulang ya mah." Raihan dan Andini mencium punggung tangan keduanya kemudian berlalu dengan mobil yang Raihan kendarai menuju rumah orang tua Andini.


"Ayo..."


"Apa?" tanya mamah Sifa.


"Ayo ke kamar!"


"Mau ngapain?"


"Aku tau kamu butuh perhatian dan belaian kan.Dari tadi iri aja sama si Jarot, baru sehari nggak di kasih udah takut kalah saing sama Jarot. Mumpung masih sore, ayo lah...." ajak Papah dengan tatapan menggoda.


"Apa sich Pah, suka ngarang dech!" ucap mamah Sifa dengan wajah malu-malu.


"Ya udah kalo nggak mau, Papah mau ke belakang aja sama Jarot..."


Vino melangkah lebih dulu melewati Sifa, melihat itu sang istri tak terima kemudian segera mengejar papah Vino dan Hap.....


"Mah, kalo mau manjat aba-aba donk! untung Papah masih kuat!" seru papah saat mamah Sifa tiba-tiba sudah naik ke punggungnya.


"Ayo Pah kita ngamar," seru mamah Sifa.


Sebelum sampai di rumah orangtuanya, tiba-tiba Andin memijat pelipisnya. Raihan yang melihat itu segera menepikan mobil, dia khawatir sang istri sakit lagi.


"Sayang kamu kenapa?" tanyanya mendekati Andin yang diam menunduk.


"Mas,....."


"Iya, kenapa sayang? kepalanya sakit? atau mau pingsan? bilang sama aku sayang. Biar aku tolongin sebelum semua itu terjadi," ucap Raihan panik.


"Apa sich mas, mana ada pingsan ijin dulu!"


"Terus kamu mau apa, jangan buat aku khawatir sayang."


"Aku tiba-tiba pengen sesuatu mas, berasa mual mas pengen makan yang seger-seger," keluar Andin.


"Seger-seger apa sayang? bilang aja nanti kita beli."


"Buah enak dech kayaknya mas," jawab Andin dengan mata berbinar.


"Kita ke supermarket?"


"Beli buah di toko pinggir jalan aja mas, nggak perlu ke supermarket. Kalo kesana nanti yang ada kita kemalaman sampai rumah mamah."


"Ya sudah di depan sepertinya ada."


Raihan kembali melajukan mobilnya seraya menatap pinggir jalan mencari keberadaan toko buah. Keinginan pertama dari Andini saat hamil, sebagai suami Raihan begitu bahagia. Apa lagi jika bisa menuruti istrinya mengidam.


"Itu ada mas!" Andini menunjuk toko buah yang begitu ramai pembeli.


Raihan kembali menepikan mobil, turun dan mengajak Andin untuk segera membeli buah yang ia inginkan.


"Mau buah apa sayang?"


"Apa ya mas....." Andini mengedarkan pandangannya, menatap banyaknya buah di rak dengan berbagai macam warna.


"Mas, kayaknya salak enak dech."


"Yakin mau beli salak?" tanyanya tak percaya.


"Iya kayaknya enak dech mas, itu lagi di obral murah banget. Mau ya mas, beli dua kilo bolehlah ya," bujuk Andin. Raihan ragu untuk membeli, apa lagi buah itu akan ia bawa kerumah mertuanya. Tapi karena andini yang begitu ingin, sampai meminta pedagangnya untuk bisa mencicipi, alhasil ia membelinya demi istri.


Di perjalanan Andini memakan salak dengan begitu senang. Hingga Raihan merasa lucu melihatnya, semurah itu ngidam pertama sang istri. Membahagiakan tanpa harus mahal-mahal.


"Sayang, mas sampai lupa membelikan kamu susu hamil."


"Besok aja pulang dari kantor kita belanja mas," Andini kembali memakan salak hingga habis 3 buah.


Sampai di rumah mamah, Andini segera keluar dari mobil tanpa menunggu Raihan membukakan pintunya. Raihan melihat itu segera turun dan berlari mengejar.


"Mas, geli banget ikh!"


"Gemes banget aku sama mamahnya kembar. Nggak bisa diem, nggak inget anaknya masih kecil-kecil."


Raihan berdiri mengecup kening sang istri dan menatap kedua mata yang meneduhkan. "Hati-hati sayang, di jaga kedua buah hati kita. Mas mencintai kalian bertiga."


Andini menatap Rai kemudian mengecup bibirnya dan tersenyum dengan hati bersyukur. Tak menyangka begini rasanya di cintai dengan tulus oleh suami yang dulu hanya ia anggap sebagai kakak.


"Ayo masuk ..."


"Iya mas."


Keduanya berjalan masuk kedalam rumah dengan Raihan yang merangkul pundak Andini. Andin pun tak lupa membawa sekantong plastik salak yang ia beli tadi.


"Assalamualaikum Mah Pah.... Andini pulang! Wah......banyak banget makanan di meja, ada pesta apa."


"Wa'allaikumsalam anak mamah, selamat ya nak. Akhirnya kamu hamil, udah periksa ke dokter?" mamah menyambut kedatangan Andini dengan perasaan haru. Beliau segera memeluk putrinya.


Tadi setelah pulang dari rumah Raihan, Andika mengabari kedua orang tuanya jika Andini hamil. Di tambah lagi Raihan mengabari jika hari ini keduanya akan berkunjung. Mamah yang begitu antusias segera memasak banyak makanan kesukaan Andin.


"Sudah mah, cucu-cucu mamah sehat."


Mereka melangkah mendekati meja makan. Mamah masak banyak banget, ada apa mah?"


"Ini kesukaan kamu semua sayang, tentu saja untuk anak mamah, acara penyambutan cucu pertama mamah. Eh tadi kamu bilang apa? cucu-cucu mamah?"


"Iya mah, ada dua cucu mamah di perut Andin," jawab Raihan.


"Alhamdulillah, kalian jaga betul-betul ya kedua cucu mamah." Mamah yang begitu terharu hingga meneteskan air mata.


"Iya mah, minta doanya agar Andin dan anak-anak sehat terus ya mah."


"Iya Rai, mamah akan selalu doakan kalian."


Andini, Raihan dan Mamah sudah duduk disana. Plastik yang berisikan salak tadi pun tak ketinggalan Andini letakkan di atas meja. Kemudian mencicipi makanan yang mamah buat, hingga papah dan Andika datang ikut bergabung bersama.


"Wah ...tamu kehormatan udah sampai, akhirnya gue makan juga," ucap Andika yang sudah duduk di samping adiknya.


"Pah...." Raihan dan Andini menyalami papah bergantian.


"Lah, ngapain loe nungguin gue, tinggal makan aja nggak usah banyak drama dech kak!"


"Emak loe yang nggak bolehin gue makan, tanya noh Papah. Nggak ada yang boleh makan kalo loe berdua belum sampe rumah," sewot Andika kemudian mencomot bakwan jagung buatan mamah yang sejak tadi melambai ke arahnya. Sedangkan mamah hanya tersenyum tak perduli.


"Mamah sayang berarti kak sama gue, makanya loe bunting biar di sayang mamah!" ucap Andini ngasal.


"Mulut loe belum pernah megang buku ya, itu mulut nggak punya aturan. Kalo gue bunting ngeluarinnya dari mana gue tanya? Ya kali tuh si Joni berubah gondongan ngelahirin anak gue!"


"Sayang, udah jangan ngeledekin kakak kamu terus. Kasian anak kita dengerin ucapan absurd Omnya," ucap Raihan mengingatkan.


"Biarin aja mas, jarang-jarang bisa gini."


"Suka-suka loe!" celetuk Andika.


Saat ingin mengambil nasi untuk makan, Andika melihat plastik merah di sebelahnya. Dengan rasa penasaran ia membuka plastik tersebut. Tak lama kemudian dia berteriak dan loncat dari kursi hingga terjatuh ke lantai.


"Huuuuuuuuuaaaaaaaaaaa uleeeeeeerrrrr!"


Bruk


"Ough SSHHIIIT..."


Semua yang ada di sana di buat terkejut, apa lagi Andini segera mengusap perutnya.


"Loe ngapa sich kak?"


"Iya Andika kamu tuh kenapa? mana ada uler di meja makan?" lanjut mamah.


Raihan yang sadar segera menutup plastik sang istri, ini yang membuatnya ragu sejak tadi untuk membeli. Apa lagi akan di bawa ke rumah mamah mertuanya. Andika takut dengan salak.


"Monyet! itu siapa yang bawa sisik uler di plastik merah?" tanyanya dengan wajah merah, Andika memijat lututnya yang terasa begitu sakit.


"Ini salak, bukan uler. Lagian loe ngapa kepo, udah gue tutup pake di buka segala! ini mulut loe kata suruh megang buku biar tau aturan tapi mata loe nggak bisa bedain mana salak mana uler, lagian sesama uler jangan saling unfollow!"


"Uler gue halus ya, jangan loe samain sama punya laki loe! Sekarang buang tuh plastik dari atas meja, gue mau makan!"


"Ogah, loe aja yang makan di lantai!"