One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 107



Mendengar kabar jika Cantika sudah masuk sekolah merupakan angin segar untuk Andini, hingga ia merelakan bekal pagi ini demi mendapatkan pesanannya yang ia minta.


Andini membawa bekal itu menuju ruangan Andika, membuka pintu ruangannya dengan perlahan hingga menampakkan sosok pria yang sejak ia lahir mendapat panggilan kakak darinya.


"Ngapain loe tumbenan kesini!"


"Gue mau minta nomor hp adek gue!" ucap Andini setelah mendudukan diri di hadapan kakaknya.


"Siapa?" tanyanya lagi dengan wajah bingung.


"Loe lupa apa emang amnesia sich kak, baru kemarin Cantika jadi adik kita. Ngapa pagi ini loe jadi Lola dah!" celetuk Andini dengan menggelengkan kepalanya.


"Oh..." ucapan singkat yang mengundang emosi bagi pendengarnya. Kemudian Dika kembali mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk.


"Udah, oh doank?" Andini begitu geregetan hingga rasanya ingin menoyor sang kakak jika di legalkan.


"Terus loe mau pake apa lagi? nambah kuah?" Andika benar-benar menguji kesabaran, santai saja menanggapi bumil yang sudah berdiri bertolak pinggang.


"Gue kesini mau minta nomornya ya kak! bukan minta kuah soto sama loe! cepet kasih nomornya ke gue sekarang!" ketus Andini membuat Andika mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah adiknya dengan menopang wajah.


"Dapet apa gue kalo ngasih nomor hapenya ke loe? terus loe mau bawa pake apa itu soto? nggak usah ribet dan nggak usah bikin ulah! awas loe keluar kantor diem-diem cuma karena tuh semangkok soto SMA yang isinya kuah doank!"


Andika jelas tak ingin Andini ceroboh dan pergi meninggalkan kantor sendirian. Apa lagi sedang hamil muda dengan dua anak. Membuat jiwa-jiwa kekakakannya keluar begitu saja.


"Udah loe tenang aja! mana cepetan, keburu tuh soto abis. Bentar lagi jam istirahat kak!" ucapnya dengan tidak sabar. "Nich bayaran atas nomor hape yang loe kasih! gue bayar tunai!" Andini meletakkan bekal makannya di atas meja kerja Andika.


Andika tersenyum miring, menarik bekal makan yang Andini berikan. Kemudian menyodorkan ponsel ke arah Andini.


"Buka sendiri, cari sendiri!"


Andini membuang nafas kasar kemudian mengirimkan nomor Cantika ke nomor ponselnya. Tersenyum bahagia dan pergi dari sana setelah mengembalikan ponsel Andika kembali.


"Eh main kabur aja loe! nggak bilang makasih dulu."


"Gue udah bayar loe sama bekal makan siang gue, jadi udah impas oke!" Andini ngeloyor dan tak perduli dengan ocehan Andika yang membuat telinganya sakit.


"Bangk3, untung adik kalo bukan mah udah gue timpuk pake sepatu!"


Andini kembali ke ruangannya tanpa mampir ke ruangan Raihan. Ada yang lebih penting dari suaminya saat ini. Ia harus segera menghubungi Cantika karena jam makan siang soto yang ia inginkan harus sudah sampai.


"Halo adik ketemu gede, ini gue kakak Andini. Inget kan? inget donk masak nggak!"


"Oh i...iya kak! gimana kak?"


"Loe masih inget pesanan gue semalam?"


"Oh iya, kakak mau soto ya? nanti aku beliin ya kak, tapi aku pulang sore. Gimana kak?"


"Oh oke, gampang kalo masalah itu. Yang penting itu soto ada ya, nanti gue kirim nomornya yang ngambil itu soto yang penting loe sekarang racikin dulu dan tunggu di gerbang oke! kabarin gue via WhatsApp aja!"


"Oh iya kak!"


"Bye Cantika, makasih banyak ya."


"Sama-sama kak!"


Setelah menutup panggilan dari Andini, Cantika segera melangkah menuju kantin. Beruntung ia sedang jam kosong karena guru-guru ada rapat untuk persiapan ujian. Sehingga Cantika bisa segera membeli pesanan Andini sebelum semua murid menyerbu kantin untuk makan siang.


"Bu, Cantika mau beli soto." Cantika menemui ibu kantin yang sudah mengenalnya karena diam-diam Cantika pecinta soto buatannya.


"Oh neng Cantika, soto ya? bentar ibu buatkan dulu ya!" Ibu kantin itu segera mengambil mangkok untuk meracik sotonya tetapi pergerakannya segera di hentikan oleh Cantika.


"Tunggu Bu, Cantika racik sendiri aja ya. Soalnya bukan buat aku, ini pesanan ibu hamil bu. Saudara aku minta di beliin tapi aku sendiri yang meraciknya. Boleh nggak Bu?"


Ibu kantin sempat terheran tapi kemudian ia segera menganggukkan kepala.


"Oh boleh, silahkan ayo masuk nak!"


Dengan perasaan bahagia Cantika segera masuk ke dalam kedai soto dan meracik soto untuk Andini.


"Iya Bu, makasih ya Bu. Hamilnya kembar Bu, beli dua atau satu aja ya Bu?" tanyanya lagi.


"Waahhh banyakin porsinya neng, nanti takut kurang. Yang makan bertiga soalnya."


"Oh oke Bu, nanti Cantika tambahin Bu uangnya."


"Eehhh....nggak usah, neng Cantika mah udah sering ngasih kembalian ke ibu. Nggak tanggung-tanggung lagi kalo ngasih, jadi nggak usah!"


Cantika tertawa ringan, "Ibu baik banget, oke dech."


Setelah membuat soto, Cantika segera melangkah menuju gerbang sekolah karena kurir yang akan mengambil sotonya itu sebentar lagi akan sampai.


"Neng mau kemana? bolos ya?" tanya scurity yang bertugas.


"Mana pernah Cantika bolos Pak, ini loh Cantika mau ngasih sotonya Bu Karti ke Abang kurir." Cantika menunjukkan bungkusan merah kehadapan scurity.


"Bapak mah cuma bercanda neng, ya kali ketua OSIS bolos sekolah!"


"Mantan Pak," ucapnya mengingatkan.


"Eh ia mantan ya...."


Pak scurity membuka gerbang untuk Cantika keluar dari sana.


"Makasih ya Pak!"


"Iya neng."


Cantika keluar gerbang kemudian berjalan menuju halte depan sekolah, menunggu di sana agar lebih mudah untuk kurir itu mencarinya.


Tak lama ponsel Cantika berdering dan menampilkan nama Andini di sana. Gadis itu segera menerimanya.


"Halo Cantika, udah mau sampe ya orangnya!"


"Iya kak, Cantika sudah ada di halte ya kak."


"Oh oke, tungguin ya. Nanti juga orangnya telpon kamu kalo udah mau sampe sana."


"Iya kak."


Setelah panggilan dari Andini di tutup, ponsel Cantika kembali berdering dan menampilkan nomor tak di kenal.


"Ini kali ya kurirnya." Cantika segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Pak."


"Ada dimana ya?"


"Aku ada di halte ya Pak, bapak pake jaket hijau apa orange ya?"


"Ngomong apa sich, loe dimana ya?"


"Eh kok gitu sich" batin Cantika seraya melihat layar ponselnya. Tapi tak lama klakson motor membuatnya melirik siapa yang menghampirinya. Cantika segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menghampiri kurir tersebut.


"Bapak kurir atas nama orderan Andini ya?" Cantika cukup heran dengan motor yang di pakai kurir tersebut. "Ini kurir sok keren banget," batin Cantika.


"Pak ini paketnya, tolong antar segera ya. Keburu dingin, kasian kakak saya nunggu lama." Cantika kembali berucap karena kurir tersebut tak kunjung membuka helmnya. Hingga Cantika yang sedikit kesal mengetuk helm full face yang pria itu kenakan.


"Pak!"


Dengan cepat pria itu segera membuka helmnya, menahan kesal karena sejak tadi di kira kurir. Di tambah lagi panggilan Pak yang gadis itu gunakan. Membuatnya malas untuk sekedar menatapnya.


"Bisa sopan nggak?" tanyanya setelah membuka helm yang ia pakai. Membuat Cantika melebarkan mata melihat siapa yang ada di hadapannya. Dengan cepat Cantika menyodorkan kembali plastik tersebut.


"Ini Pak!"


"Gue bukan bapak loe!"