One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 38



Andini kembali keruangannya, melanjutkan pekerjaan yang sudah hampir selesai. Selama Andini tinggal ternyata Tara juga ikut mengerjakan pekerjaannya. Rasa tidak enak menghinggapinya hingga Andini beranjak setelah menyelesaikan pekerjaan dan mendekati meja Tara.


"Tara, makasih ya loe udah ikut ngerjain kerjaan gue."


Tara menoleh ke arah Andini, menatapnya dalam dengan tatapan yang sulit Andini tebak. Dia tau jika ada yang ingin Tara utarakan. Tapi Andini berharap Tara tidak terlalu berpikiran lebih tentangnya.


"Sama-sama, gue nggak tega aja kalo loe harus lembur sendirian. Lain kali jangan lama-lama kalo di ruangan bos," ucap Tara kemudian kembali membereskan mejanya sebelum meninggalkan kantor.


Andini yang mengerti segera berbalik, tak ingin menimpali karena dia memang salah kali ini. Melirik Erna yang juga sedang rapih-rapih, tapi senyuman Erna yang berbeda membuatnya sedikit canggung.


"Udah jadian?" bisik Erna saat Andini melewatinya.


Andini hanya tersenyum, tak membenarkan dan tak juga membantah. Dia bingung harus berkata apa. Ikut merapikan meja dan bergegas untuk pulang.


"Ayo mbak bareng turunnya, sini aku bawain tasnya satu. Duuuh riweh banget bumil ini, berangkat bawa jajanan pulang jajanan bisa nambah. Salut sama mbak, lagi hamil aja penggemarnya masih setia.


"Lumayan buat ngemil di rumah. Habis di kerjain ya sama Rai tadi? pucet banget penampilannya, masuk-masuk make up luntur semua." Erna tersenyum melihat Andin, dia memang sejak awal sudah sedikit curiga tapi kali ini malah makin penasaran.


"Oh ini...."


"Nyantai aja, Rai sahabat aku juga sejak kuliah dulu. Tapi karena aku perempuan, jadi agak jaga jarak nggak terlalu dekat kayak kakak kamu sama dia. Apa lagi setelah menikah, harus bisa menjaga hati pasangan, sekalipun kita nggak mendapatkan hak yang sama."


Andini tertegun mendengar ucapan Erna, ada rasa ingin tau di dirinya tentang kehidupan rumah tangga Erna yang memang sejak awal bekerja Erna terlihat begitu mandiri dan tidak pernah Andini lihat suaminya mengantar atau sekedar menanyakan kabar. Tapi Andini tidak mau bersikap tidak sopan karena menghargai privasi orang lain.


"Sejak kapan jadian sama Rai?"


"Sejak sebulan yang lalu mbak," lirih Andini yang saat ini mereka sedang berjalan beriringan.


"Berarti sebelum magang?"


"Iya, beberapa hari sebelum magang."


"Aku dengar kamu mantannya Tara dan putus sebulan yang lalu juga, Tara cerita sama aku dia menyesal karena udah menyakiti hati kamu. Dan dia juga bilang masih sayang sama kamu. Berarti kalian jadian setelah kamu dan Tara....."


Andini segera memotong pembicaraan Erna, dia tidak ingin Erna salah paham. Padahal Andini pikir Erna tidak tau tentang hubungannya dengan Tara.


"Aku sama kak Rai karena hal yang nggak di sengaja mbak, bukan karena aku mengkhianati Tara juga. Justru karena sakit hati dengan Tara menyebabkan aku sama kak Rai sampai sekarang. Aku belum bisa menceritakan lebih detail tapi aku yakin nanti mbak Erna akan tau sendiri."


"Ya udah nggak apa-apa, aku doakan semoga kalian langgeng. Raihan orang baik, bahkan sangat baik. Sama seperti kakak kamu, mereka orang-orang baik. Makanya aku nyaman bersahabat dengan mereka."


"Iya mbak, mereka memang orang baik. Eh iya mbak, udah pesan taksi belum? kalo belum biar pulang aku antar mbak, gimana?" Andini berharap Erna mau menerima tawarannya karena kasian melihat Erna yang tiap hari di antar jemput taksi.


"Nggak usah Andin, aku udah pesen kok. Lihat!" Erna menunjukkan aplikasi taksi di ponselnya.


"Yach mbak, sekali-kali biar aku aja yang antar. Sekalian mau main ke rumah mbak erna. Aku berasa punya kakak perempuan kalo sama mbak." Andini tersenyum kemudian menggandeng tangan Erna menuju taksi yang ternyata sudah sampai.


"Anggap aja begitu, nanti juga kan pasti punya. Nggak mungkin juga Andika bakal lajang terus, ada saatnya dia mengenalkan kamu dengan calon istrinya."


"Moga aja dech, biar nggak julidin aku terus. Biar ada kerjaan gitu mbak, nggak ngerjain orang terus jadinya. Kasian jomblo akut, kalah saing sama kak Rai yang udah nikah dua ka_" Andini menghentikan ucapannya, memejamkan mata karena takut Erna yang sadar akan ucapannya.


"Rai udah nikah dua kali? sama siapa? kamu? kok aku nggak tau?"


"Andin..."


"Iya mbak, mending mbak tanya langsung sama yang bersangkutan ya. Aku takut salah ngasih informasi. Ya udah aku duluan ya mbak, mendung mau hujan nanti keburu kena marah. Bye mbak Erna...." Andini ngacir masuk ke dalam mobilnya. Erna yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.


"Pantes itu mobil kayak kenal, ternyata yang punya Raihan. Dan mereka.....masak iya sich, kenapa aku nggak tau apa-apa."


Sampai di rumah Andini segera membersihkan diri, setelahnya menyibukkan diri dengan menonton film lewat laptopnya. Hingga panggilan Vidio dari sahabatnya sedikit menggangu.


"Hay......."


"Kenapa?"


"Sibuk banget sich loe, nggak pengen healing-healing gitu? Apa hangout bareng. Semenjak magang berasa seperti bercerai kita blay...."


"Lebay dech loe, udah capek kerja gue. Makanya langsung pulang kerumah, lagian loe nggak ngajak juga. Itu si Riri kemana?"


"Lagi sibuk dia sama pacar barunya, tinggal kita doank yang jomblo. Eh tapi loe belum jelasin ke gue ya, mau jujur apa mau nunggu gue berkoar?"


"Ck, pengen banget apa loe gue jujirin. Lagian kapan sich gue bohong sama kalian, ya walaupun awalnya gue tutupin dulu tapi kan ujungnya loe pada tau. Kalo gue belum cerita berarti gue belum siap blay."


"Sekalipun sama gue? loe sama gue sahabatan udah dari bocah ya, bahkan cangcuut aja sering tukeran kalo abis beli gambar kartun lucu. Sekarang loe mau main rahasia-rahasiaan sama gue? loe mau gue pecat jadi saudara?"


"Ck, emang loe mau tau apa sich? apa yang mau loe kulitin dari gue?"


"Nggak usah pake sok begooo Andin, loe tau maksud gue! ada hubungan apa loe sama kak Rai? Eh gue baru ngeh nich, itu loe di kamar siapa? sejak kapan kamar loe catnya jadi ganti abu begitu? bukannya loe pecinta pink ya. Jelasin Andini?"


"Hhmm....gue sama kan Rai emang dekat, puas loe!"


"Mana ada jawab begitu doank bikin puas, jelasin Andini!"


"Ya udah, gitu aja emang loe mau dengar gue ngomong apa lagi. Gue kan udah ngaku kalo dekat sama kak Rai."


"Sedekat apa? pacar? selingkuhan? apa malah loe udah nikah? dan ini loe di kamar siapa?"


"Loe udah kayak emak gue nanyanya banyak banget tiap gue pulang telat."


"Alaaaah... nggak usah mengalihkan pembicara Andin. Loe gue lempar sepatu dari sini!" sewot Tia.


Tanpa Andini tau jika Rai sudah pulang dan tiba-tiba masuk kamar, Andini yang saat ini sedang tengkurap di ranjang dan mendengar ocehan Tia tak tau jika Raihan sudah berjalan mendekat.


"Sayang, lagi apa hhmm?"


deg


"Mampuuus gue..." Batin Andini.


Raihan sudah merangkak naik ke ranjang memeluk Andini dan mencium pipinya. Tia yang melihat jelas kemesraan keduanya apa lagi sikap romantis Rai yang membuat matanya mendelik dan mulutnya menganga. Sedangkan Andini mati gaya di buatnya, dia segera menutup laptop setelah mendengar suara Tia berteriak.


"OMG ANDINI LOE NGERUSAK MATA GUE! KALIAN ADA HUBUNGAN APA?"