One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 37



Tepat pukul tiga Rai menghentikan aksinya, menatap sang istri yang saat ini tampak berantakan di atas ranjang dengan lipstik yang sudah pudar dan baju yang entah kemana. Bahkan benda keramatnya sudah lenyap karena lemparan Rai yang tak tentu arah. Sejak tadi Andini di buat kewalahan karena Rai seperti bayi yang kehausan.


Mengusap lembut bibir yang basah dengan ibu jarinya kemudian menutupi tubuh sang istri dengan selimut. Wajah Andini sudah memerah menahan malu, Rai membuatnya setengah polos hingga bagian atas tak tersisa.


Rai pun masih harus menahan diri karena hanya bisa di buat berdiri.


"Sebentar ya sayang aku carikan baju kamu dulu, tadi kemana ya...." Rai mencari baju Andini yang ntah tadi di buang kemana.


Andini hanya diam menutupi wajahnya dengan selimut, melirik Rai yang masih mencari hingga menemukan semua yang tadi menempel di tubuh Andini.


"Mantan duda nggak main-main, baru di kasih lampu hijau semalem langsung tancep gas. Untung aja taman mawar masih di portal. Kalo nggak udah trabas aja kali nich kak Rai. Kalem-kalem kalo di ranjang udah kayak kucing berantem. Nggak ada slow-slownya."


Raihan kembali merangkak di ranjang mendekati sang istri yang menutup diri, "sayang, ini baju kamu. Pakai dulu, apa mau aku pakein?" ledek Rai membuat Andini semakin ingin menyembunyikan wajahnya.


"Kak, br@ aku mana? ikh kakak nich nggak tanggung jawab!" kesal Andini, karena Rai hanya memberikan kemeja dan tantop putih miliknya tanpa ada kaca mata penutup barang berharga.


"Eh kok bilang aku nggak tanggung jawab, dari awal aja udah aku langsung nikahin. Mau di tanggung jawabin apa lagi sayang? kalo br@ sebentar aku cari dulu, tadi aku lempar di....oh ini sayang ada di kolong tempat tidur."


Andini segera meraih benda keramatnya yang harus ia pakai. "Kakak berbalik, jangan liatin aku kayak gitu!"


"Kenapa sich sayang, bahkan tadi udah kakak rasain loh. Manis, wangi, kayak lagi makan melon dari pohonnya sayang. Banyak tantangannya..."


"Kak Rai, kenapa jadi berubah mesum gini sich!" pekik Andini, dia heran dengan sikap Rai. Apa karena terlalu di buat mabuk kepayang oleh tubuhnya jadi semakin menggila.....


"Sayang jangan teriak-teriak, tadi diem aja malah suaranya begitu merdu sekarang kenapa malah semakin galak, apa masih mau lagi sayang?"


"Nggak ada begitu kak Rai, akh udah dech bodo! awas kak, aku mau pakai baju."


"Iya sayang, aku ke kamar mandi dulu ya. Nggak aman kalo meeting masih tegang begini, bakal jadi incaran klien nanti. Kamu tunggu sini, aku nggak lama kok. Cuma kasih pengertian si Joni sebentar biar cepet muntah terus tidur lagi."


"Joni... siapa Joni kak?"


"Temennya si Jeni, kamu kenal kok. Cuma belum akrab aja, nanti di akrabin lagi ya biar cepet saling membutuhkan." Raihan mengedipkan matanya kemudian melesat ke kamar mandi.


"Joni temannya Jeni, apa sich kak Rai nich? Aku nggak ngerti," Andini segera memakai kembali bajunya, sedikit lecek karena ulah Rai tadi yang begitu menggebu. Merapikan penampilan walaupun sedikit terlihat pucat karena lipstik yang sudah bersih dari bibirnya.


"OMG lipstik gue sampe nggak nyisa, dasar Kak Rai udah kayak mesin pompa, sedot terus bang ...." Gumam Andini di depan cermin.


Keluar dari kamar Andini duduk kembali di sofa menunggu Rai yang sedang menenangkan Joni. Hingga panggilan masuk di ponselnya membuat dia segera meraih benda pipih itu yang sejak tadi tergeletak di atas meja.


"Halo..."


"Udah kelar belum?"


"Kelar ngapain?"


"Nyetak ponakan gue?"


"Apa sich kak, yang bikin ponakan siapa lagi."


Andini segera menutup ponselnya, kemudian menuju pintu dan membuka kuncinya. Tampak Andika yang sedang bersidekap dada menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Enak Din?"


"Apa sich kak, nggak jelas banget!"


Andin segera duduk kembali di sofa, males menimpali ocehan kakaknya. Kalo tidak karena Rai yang menyuruh menunggu mungkin dia sudah kembali bekerja.


"Rai mana?" tanya Andika yang ikut menyusul Andini.


"Lagi nidurin Joni."


Mendengar ucapan Andini seketika Andika tertawa terbahak-bahak. Dia yang mengerti maksud dari Andin sudah tentu tak mampu menahan gelak tawa. Andini yang melihat kakaknya tertawa jelas heran, apalagi menurutnya tak ada yang lucu sejak tadi.


Hingga Rai keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih fresh dan pakaian yang sudah rapi. "Ngapa loe berisik!"


"Ha ha ha ha loe belum di kasih akses masuk sampe harus main solo?"


"Ck, diem loe!" Raihan kesal mendengar ledekan dari Andika. Kemudian duduk di sebelah Andini dan mengecup pipi istrinya.


"Ikh kak Rai, ada kak Dika juga main nyosor aja. Malu kak! liat tuh dia kesambet ketawa dari tadi nggak berhenti-henti. Kenapa sich kak? aku ada salah ngomong apa ya..."


"Loe nggak kasian sama Rai Din, parah sich laki sendiri suruh mainan si Joni Mulu di kamar mandi. Terus loe jadi bini ngapain? bikin pusing kepala doank?" celetuk Andika.


Andini yang kena di semprot oleh kakaknya seakan tak terima, sedangkan dia merasa tak ada yang salah dengan sikapnya.


"Gue emang belum bisa ngapa-ngapain jadi bini kak, tapi kan gue nggak berulah. Kak Rai juga nggak pernah ngeluh pusing, kak Rai aku nggak bikin pusing kan? Aku nurut loh!"


"Iya sayang! udah nggak usah di dengerin ocehan kakak kamu. Biarin dia mah emang begitu, nanti kalo udah ketemu pawangnya juga anteng."


"Loe ngomongin gue di depan orangnya nyeet! terserah loe sich Din, kalo loe nggak bisa nidurin si Joni terus jangan salahin Rai kalo jajan di luar dan mencari jeni yang lebih legit."


Andini mencerna kata-kata dari kakaknya, dia yakin ada maksud yang dia masih tak mengerti. Hingga otaknya mulai berfungsi dengan benar kemudian menoleh ke arah Rai yang sejak tadi sudah mulai malas menanggapi ledekan Andika dan memilih untuk diam melihat berkas yang sudah di persiapkan Andika.


"Kak Rai, jadi kakak tadi abis...."Andini melihat kebawah tepat di bagian pangkal paha Rai dan kemudian kembali lagi menatap wajah Rai. "Bukan salah aku ya, Kakak sendiri yang bikin panas dingin, bilang tuh sama si Joni kalo mau main-main lihat situasi dan kondisi jangan asal bangun aja jadi aku yang kena ocehan. Udah lah aku mau balik, kalo sampe si Joni berani nyari jeni yang legit dan empuk. Liat aja bakal aku plintir pake tang!"


Reflek Raihan dan Andika meringis menutupi pangkal paha mereka masing-masing, ngeri sendiri mendengar ocehan Andini dengan ancamannya yang membahayakan masa depan.


"Sayang jangan ngambek donk, nggak usah dengerin Andika. Kan aku nggak ada niat apa-apa, Joni cuma punya kamu dan nggak akan nakal kemana-mana. Makanya nanti malam eksekusi biar nggak solo di kamar mandi. Oke!" lirih Rai yang sudah menyusul Andini dan menahannya pergi.


"Apa sich kak!" Andini memukul dada Rai, menahan malu sendiri dengan otaknya yang mulai terkontaminasi.


"Serius sayang, sambil kenalan kemarin kan belum sempet kenalan. Nanti kalo kenal di jamin makin sayang, nggak bisa tidur kalo sehari nggak ngelus-ngelus. Pokoknya iya, biar aku semangat kerjanya." Raihan mengedipkan sebelah mata melihat Andini yang semakin merona.


"Nggak janji, aku mau balik. Punya suami meresahkan tau gitu kemarin nyarinya yang masih pemula bukan duda seperti kakak!"


"Sayang ...."