
"Sayang."
"Iya mas..." Andini sedang memasangkan dasi Raihan. "Agak nunduk mas, capek jinjitnya!"
"Iya sayang."
"Mas tadi mau bicara apa?"
"Kamu beralih profesi jadi Mak comblang?"
Andini mengernyit menatap sang suami hingga tangannya pun ikut berhenti, tapi tidak lama kemudian kembali memasangkan dasi Raihan.
"Aku kasian sama mbak Erna, kemarin aku lihat luka lebam di tangannya sama di ujung bibir Mbak Erna. Kasian mas, aku yakin itu ulah suaminya."
"Iya kamu benar, itu ulah suaminya."
"Kok mas tau?"
"Tau lah, Andika juga tau."
"Terus kenapa kalian diem aja? katanya sahabat? Kak Dika juga katanya cinta tapi lihat begitu kok di diemin aja." Andini kesal sedangkan dia yang baru melihat saja sudah cepet berubah pikiran dan mendukung langkah kakaknya.
"Bukan diem aja, Erna nya yang nggak mau masalahnya di perpanjang. Sahabat juga kan ada batasannya sayang, kita bakal bantu kalo dia nya mau. Kalo kita main nyelonong aja takut malah jadi nambah masalah, karena ini masalah rumah tangga. Erna yang berhak menentukan mau di masalahkan apa nggak."
"Ck, gimana sich mbak Erna. Enak banget jadi lakinya, gebuk iya jatah lancar. Keterlaluan! amit-amit aku punya suami kayak gitu!"
Raihan tertawa mendengar gumaman Andin, pria itu mencubit pipi sang istri dengan gemas. "Dan untungnya aku nggak gitu!"
"Aku sunatin lagi kalo kamu gitu mas!"
"Serem banget ancaman kamu sayang!" reflek Raihan memegang si Joni yang juga terkejut mendengarnya hingga meringkuk cari aman.
Setelah sarapan Andini meminta simbok menyiapkan bekal makan untuk mereka berdua. Hari ini Andini berniat untuk makan di kantin bersama Erna, tapi malas makan makanan kantin. Melihat ayam goreng kremes di atas meja dia lebih memilih membawa bekal sendiri dari pada beli.
"Makannya di ruangan aku kan?"
"Nggak mas, aku mau makan di kantin nemenin mbak Erna." Tolak Andini yang membuat Raihan cemberut. "Kamu kalo mau ikut nggak apa-apa mas."
"Erna kan udah ada Andika. Dia pasti nemenin Erna, jadi kamu makan bareng aku aja oke!" bujuk Raihan lagi.
" Hhmmmm......ya udah liat nanti aja dech! Mbok agak banyakan ya mas Raihan mau ikut makan."
"Iya, ini simbok udah siapin ,sayurannya simbok banyakin biar cepet jadi!"
"Jadi? jadi apa mbok?" tanya Andini dengan wajah polosnya.
"Jadi dedek bayi, usahanya biar nggak tanggung-tanggung. Jadi simbok bantuin masakin sayur dan makanan bergizi!" simbok tersenyum penuh makna. Membuat Andini berpikir keras hingga wajahnya tiba-tiba memerah karena teringat kejadian semalam.
"Mbok, pagi-pagi nemuin baju Andin?" lirih Andini.
"Udah simbok giling di mesin, tenang aja simbok ngerti kok!" Mendengar ucapan simbok, Andini segera beranjak dan meraih bekal kemudian buru-buru kabur. Ia serasa di telanjaangi dan sangat malu dengan simbok yang pasti tau adegan apa yang dia dan Raihan peragakan semalam.
"Sayang, tunggu! jangan buru-buru!" seru Raihan yang segera meraih jas dan tas kerjanya kemudian berlari mengejar Andini.
"Hey kok diem aja?" tanya Rai. Kini keduanya sudah dalam perjalanan ke kantor, tapi sejak tadi Andini hanya diam dengan mata menatap luar jendela.
Andini menggelengkan kepalanya membuat Raihan semakin gelisah. "Ada kata-kata aku yang salah?"
"Nggak ada mas."
"Terus kenapa? dari tadi diem aja. Marah karna semalam?"
"Nggak, cuma malu aja sama simbok."
"Maaf ya, nanti malam nggak lagi begitu." Raihan mengusap lembut kepala Andin. "Lagian simbok mendukung loe sayang."
"Iya tapi aku malu, pokoknya jangan ngajak aku di dapur atau di ruangan manapun selain kamar!"
"Iya sayang."
"Awas lupa, nanti malah nggak aku kasih jatah! aku buat si Joni merana, sampe ngiler-ngiler nahan pengen berduaan sama jeni."
"Jangan donk sayang, kasian nanti nangis Joninya. Kalo nggak tiap weekend kita quality time di hotel gimana? aku semenjak sama kamu bawaannya pengen eksperimen terus sayang, rasanya luar biasa."
Andini membuang muka ke jendela, wajahnya tampak merah mendengar ucapan Raihan.
"Sayang..."
Raihan menatap Andini sekilas kemudian mengusap lembut kepalanya dengan gemas.
"Mas nanti ikut makan di kantin ya..."
"Di ruangan aku aja dek, aku meeting sampai jam makan siang. Berarti Andika bakal nemuin Erna, kamu jangan jadi autan di antara mereka."
"Ya udah deh, aku masuk keruanganku dulu ya.." Andini mengecup punggung tangan Rai dan tidak lupa Rai meninggalkan jejak sayang di keningnya.
Raihan menutup kembali pintu lift setelah memastikan sang istri masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi Pak,"
"Pagi."
"Pak meeting jam 9 dengan Bapak Nugraha dari PT Kinora. Berkas sudah saya siapkan di meja bapak."
"Hmm...Pak Andika sudah datang?"
"Pak Andika ada di ruangannya Pak," jawab sekertaris Rai.
"Suruh ke ruangan saya segera ya!"
"Baik Pak."
Raihan masuk ke dalam ruangannya, mengecek berkas yang sudah di siapkan oleh sekretarisnya untuk meeting hari ini.
Andika yang mendapat panggilan dari sekretaris Rai segera masuk ke dalam ruangan adik iparnya.
"Napa?" Andika mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Kita meeting sama Pak Nugraha?"
"Iya, males gue sebenernya tapi tuntutan kerjaan oke lah." Andika bersandar di badan sofa.
"Gimana Erna?"
"Gue bakal bongkar kelakuan lakinya, nggak terima gue si Erna di bikin babak belur begitu."
"Dia udah mau?"
"Nggak mau gue ceburin ke kali!" kesal Andika, baru sampai lobby kantor dia kembali melihat sudut bibir Erna terdapat luka yang masih basah. Hal itu membuat Andika kesal bahkan emosi. Hingga ia membawa Erna masuk ke dalam toilet.
"Andika!"
"Lihat kaca!"
Erna menatap wajahnya di kaca besar dalam toilet, beruntung kantor masih sepi dan belum banyak yang menggunakan toilet. Jadi tidak ada yang melihat perdebatan keduanya.
"Gimana? masih mau bertahan?"
"Gue udah minta cerai sama dia tapi dia nggak mau! sekalipun gue yang ngajuin berkas ke pengadilan seenggaknya sampai anak yang ada di dalam perut gue lahir."
"Kalo gitu loe keluar dari rumah itu! pulang ke rumah orang tua loe! loe ceritain semuanya, kalo loe nggak berani gue yang bakal anter loe pulang dan jelasin semuanya sama kedua orang tua loe!"
Erna diam menundukkan kepalanya, hingga tangan Andika menarik tubuhnya dan mendekap erat. "Gue tau ini sulit, tapi gue mohon usaha lepas dari predator kayak dia. Gue nggak ikhlas loe di sakitin kayak gini Erna, gue sayang banget sama loe! Pulang kerja gue anterin loe pulang ya, please jangan bahayain diri loe sendiri, mungkin saat ini baru loe yang dia sakitin tapi nggak tau nanti kalo bayi yang loe kandung juga bakal dia sakitin."
"Dia nggak mau lepas dari gue Dika, sebelum loe pergi ninggalin gue seperti pacarnya dulu yang memilih menikah dengan pria lain setelah tau dia di jodohkan sama gue."
"Salah kalo dia berpikir kayak gitu, gue nggak bakal ninggalin loe! Erna....foto semua bekas lebam kalo perlu Vidioin sebagai bukti kalo dia udah nyakitin loe! Itu juga bisa sebagai bukti saat di pengadilan nanti."
Erna menganggukan kepalanya menatap Andika dengan wajah sendu dan air mata.
"Jangan nangis lagi ya, loe jelek kalo sedih!"
"Andika!" Erna memukul dada Andika.
"Dia masih suka maksa?"
"Udah mulai berkurang semenjak perut gue makin membesar," jawab Erna dengan membuang muka.
"Kalo bisa sich udah jangan di kasih, makanya pulang ya jangan di rumah itu terus. Gue nggak ikhlas juga dia make loe walaupun loe bininya. Tapi caranya yang gue nggak suka, loe terlalu berharga buat di sakitin. Bilang sama dia kalo mau bikin enak nggak usah pake mukul dulu."
"Mulut nya!"