
Menginjakkan kakinya kembali di kantor suami menjadi rutinitas Andini sehari-hari. Wanita cantik dan imut dengan wajah baby face tak ada yang menyangka dia sudah bersuami, bahkan di nikahi oleh duda tampan kaya raya penerus kekayaan orang tuanya yang kini tengah menunggu kabar baik dari putranya.
Melangkah melewati lobby menuju ruangannya, mata Andin menyapu para karyawan yang memandangnya dengan tatapan beda. Tak biasanya ia menjadi pusat perhatian, tapi ini malah menjadi bahan gunjingan.
Dia yang berusaha cuek dan membangun pondasi di hati agar tak terusik tapi cukup nyeri saat dirinya di bilang jal@ng cilik. Andin menatap beberapa orang karyawan ex lambe julid yang menatapnya sinis dengan senyuman bengis dan mulut bak cabe rawit iris. Kata-katanya langsung menancap di dada, Andini seperti di lempar parang yang sigap menoreh luka.
Tapi ternyata tak hanya mereka, yang lain pun sama menatap dengan mata sengit dan wajah jijik. Andin yang tak tau apa-apa berusaha diam, karena dia sadar diri hanya anak magang yang baru kerja sebulan tak mau buat banyak ulah.
Hingga kakinya memasuki lift, suara-suara itu semakin jelas membuat tubuh Andini melemah, apa maksud dari ucapan mereka. Andini melirik ke semua orang yang ada di sana tampak sedang menghakiminya. Tanpa ia tau salahnya apa mulut mereka begitu lancar bergumam dengan kata kasar.
"Oh jadi ini, penggoda yang berkedok anak magang."
"Cantik sich, tapi kasian hobinya godain pria dewasa."
"Nyarinya yang mapan dan kaya ketauan banget matrenya!"
"Ini mah bukan kaleng-kaleng, pel@cur kelas kakap, liat aja penampilannya anggun banget tapi ternyata niatnya nggak bener."
"Mukanya doank imut tapi kelakuan minus, jangan-jangan emang dari kecil di didik menjadi pel@cur yang rela nyodorin tubuhnya di atas pria kaya, apa lagi jelas-jelas duda lagi butuh banget belaian gampang di goda. Baru beberapa hari di sini udah dapet akses VIP keluar masuk ruangan bos!"
deg
"Jadi ini alasannya," Andini memejamkan mata dengan hati yang terluka. Apa secepat ini kabar kedekatannya dengan sang suami tersebar? tapi siapa gerangan yang membuat berita hingga semua orang begitu menghakiminya?
Langkahnya lemah saat memasuki ruangan, rasanya ia seperti sedang di timpa batu besar di dada hingga begitu sesak dan bibir terasa kelu kebas. Air mata pun sudah menggenang di pelupuk mata, hingga ia tak sadar siapa orang yang dari belakang memeluknya dengan erat.
Andini hanya bisa meneteskan air mata dalam diam, hari ini ia begitu bersemangat untuk datang ke kantor. Tetapi baru beberapa langkah menginjakkan kakinya sudah di buat patah. Dekapan itu semakin erat, ia yang baru datang dengan mudahnya mendengar kabar angin hari ini.
"Jangan dengerin omongan meraka, gue kenal loe seperti apa. Loe nggak seperti yang mereka pikirkan."
Mendengar suara itu dan parfum yang selama dua tahun lalu selalu ia rindukan membuatnya segera mengatur jarak. Andini mundur dan melepaskan, dia tak ingin menjadi tambah masalah. Berusaha menguasai diri agar bisa terlihat kuat, dia menghapus air matanya dan pergi tanpa meninggalkan kata.
"Segitunya loe sama gue Din, padahal gue cuma khawatir sama loe. Gue tau loe lagi nggak baik-baik aja. Tapi apa salah kalau pelukan gue bisa buat loe tenang? apa memang benar loe sama si bos ada hubungan." Tara mengepalkan tangannya, ingatan akan tanda di leher Andin kemarin begitu nyata di kepalanya.
"Andini," sapa Erna yang sejak tadi sudah sampai di ruangan.
Erna tersenyum, dia memang sudah tau kabar itu. Kabar yang tiba-tiba melejit di kawasan kantor dan grup what's up karyawan. Berita itu sebenarnya sudah ada sejak semalam, entah siapa yang menyebar tiba-tiba ada foto kedekatan Andini dan Raihan. Apa lagi ada foto yang jelas menampakkan kedekatan keduanya keluar dari ruangan dengan rambut Rai yang tak serapi biasanya. Foto yang menampakkan Andini masuk ke lift CEO karena tarikan tangan seseorang. Semua jelas terlihat.
Pandangan rendah langsung tertuju pada dirinya yang memang anak magang yang baru dalam hitungan minggu. Sudah mampu menggoda atasan yang begitu menjaga jarak dengan wanita. Tapi yang mereka salut Andini dengan lihai mampu menggoda. Hingga duda dingin itu mampu luluh olehnya.
"Kita mulai kerja ya," Erna yang tau hubungan sebenarnya tentu tak ikut memandang rendah Andini, apa lagi statusnya yang jelas di ucapkan oleh Andika beberapa hari lalu.
Andini berusaha fokus bekerja, walaupun dia tau Tara sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dan ia pun berharap Tara tak membuat ulah. Hingga pesan dari sahabatnya datang membuat Andini segera mengecek ponsel yang ada di tas.
..."Din, gila kabar loe sama kak Rai udah kemana-mana. Loe nggak mau speak up? itu nggak bener dan loe harus ngomong. Gue tau hati loe sakit banget kan, gue aja nggak nyangka mulut karyawan sini udah kayak mulut tetangga kurang berita. Ada berita yang nggak tau kebenarannya udah kayak di kasih umpan. Pokonya istirahat kita ketemu!"...
"Tia...." lirih Andini.
..."Bagaimana mau speak up, mulut gue cuma satu nggak akan bisa membungkam mulut semua karyawan yang ada disini!"...
Andini menarik nafas dalam, ia menelungkupkan kepalanya ke meja. Hampir semua yang ada di kantor mencemoohnya, karena hanya beberapa yang tau dia adiknya Andika. itu pun tak menjamin mereka bisa berpikiran positif.
Permintaan Rai tempo hari untuk go publik dia abaikan, karena belum siap dengan pemikiran orang lain padanya. Tapi kali ini justru ia menyesal, kenapa tak sekalian saja merayakan pernikahan di kantor agar mulut semua karyawan bungkam dengan status yang ia punya.
"Penggoda...pel@cur..jal@ng...enak banget mulutnya asal berkoar, gue kan punya surat kepemilikan. Punya BPKB kak Raihan nggak sembarangan asal dekat. Ya Tuhan, sakit banget rasanya."
Sikap Andini membuat Erna tak tega, ia tau begitu berat bagi Andini apa lagi dia yang sudah tau kronologi sebenarnya dari Andika. Berawal terpaksa karena kecelakaan, hingga harus menerima dan itu nggak mudah. Anggap saja seperti di jodohkan, tak beda jauh dengannya. Hanya beruntungnya Andini mendapatkan Raihan yang memang baik dan bertanggung jawab apa lagi sebelumnya memang sudah kenal.
Jam istirahat, Andini segera melesat menemui sahabatnya yang sudah menunggu di kantin. Seperti tadi pagi, mata-mata sengit dan marah terus mengiringi langkahnya, hingga sampai di kantin pun para karyawan tak ada yang ia temui dengan wajah ramah menatap.
Beberapa langkah sampai di meja yang telah di duduki oleh Riri dan Tia membuat kedua sahabatnya melempar senyum penguat tapi naas, seseorang datang dengan arah berlawanan membawa nampan berisi makanan yang tumpah mengenai pakaian Andini. Kuah kari yang sekarang sudah berpindah tempat, hingga Andini syok dan teruduk di lantai.
"Andin!" seru kedua sahabatnya.
Tanpa pikir panjang Tia berlari mendorong wanita yang dengan tega melakukan hal kekanakan seperti itu, ini bukan tertabrak karena tak lihat tapi sengaja karena memang sudah ada niat.
"Auww....." Wanita itu meringis kesakitan, bangun dan menatap tajam Tia yang telah mendorongnya.