
Pagi ini di rumah kedua orang tua Erna, semua sudah berkumpul di meja makan. Erna tak banyak bicara, hanya sesekali menjawab jika di tanya oleh papah dan mamahnya. Sedangkan sang papah berbincang masalah pekerjaan dengan menantunya.
Diamnya Erna membuat sang mamah cukup curiga, apa lagi wajah yang tak seceria dulu dan beberapa bekas lebam yang tertutup bedak masih sedikit ketara. Hingga mamah memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu kenapa nak? apa kurang sehat?" pertanyaan mamah membuat sang papah ikut memperhatikan.
Gio diam menyimak, dia meneruskan makannya tetapi tetap mendengarkan apa yang akan Erna katakan pada kedua orangtuanya.
"Sehat kok mah, makannya juga banyak kan." Erna memaksakan senyumannya, menatap sang mamah dengan tatapan yang sulit di artikan kemudian kembali menghabiskan makannya.
"Wajah kamu beda nak, apa salah make up?" tanya beliau lagi.
"Make up mana yang bisa buat wajah lebam dan membiru mah?" jawab Erna santai tetapi membuat kedua orangtuanya saling memandang, sang papah pun semakin di buat penasaran. Matanya memicing melihat wajah Erna serta tangan dan kakinya.
"Nak, kamu jatuh?" tanya Papah penasaran.
"Jatuh dari mana? Erna pulang pergi naik taksi, kamar pun sudah pindah di bawah semenjak perut Erna membesar."
"Terus kenapa wajah kamu ada sedikit lebam? apa ada yang menyakitimu?"
Gio mengepalkan tangan, bahkan kakinya sudah menendang kaki Erna di bawah sana. Tetapi itu membuat Erna tersenyum bukan rasa takut yang ia rasakan tetapi rasa muak akan sikap Gio yang masih sempat kasar padahal posisinya tidak aman.
"Jika ada, apa papah perduli? bahkan sekalipun aku di anggap hanya seorang j@lang papah tak perduli kan?"
"Apa maksud kamu Erna? nggak mungkin papah diem saja kamu di hina dan di rendahkan."
"Jika yang membuat aku rendah papaku sendiri apa papah juga akan menyesal?" tanyanya lagi.
Mendengar ucapan Erna justru membuat bapak Nugraha sedikit murka, hatinya tersentil tapi egonya mengalahkan itu. Dan itu membuat Gio tersenyum tipis.
"Bicara apa kamu Erna? mulai tidak sopan pada papah?"
"Sopanku nggak luntur Pah, bahkan aku menghargai papah dan bertahan dalam kenyataan pahit demi papah. Jika papah buka mata papah tentu papah tau apa yang membuatku seperti ini."
"Nak, ada apa sebenarnya? jangan membuat papamu marah!" ucap mamah lembut.
"Surga di telapak kaki ibu, tapi aku pun di wajibkan menghormati papah. Tapi jika orang yang aku hormati dan sayangi, orang yang aku anggap cinta pertama bagi anak gadisnya, justru menyeretku dalam kesulitan dan kesakitan. Apa kah masih bisa aku hormati mah?"
Mamah terdiam, beliau yakin ada yang tidak beres dengan anaknya. Melirik ke arah Gio yang sejak tadi diam menunduk. Kemudian menatap sang suami dengan perasaan yang entah.
"Mamah pun tak akan terima jika anak mamah di sakiti nak, tapi apa hubungannya dengan Papamu?" tanyanya lagi.
"Karena semua yang aku alami di hidupku tak luput dari campur tangan Papah Mah. Jadi jika suatu saat kalian tau aku menderita, bukan aku yang salah tapi orang yang selalu memberi arah."
Erna beranjak dari meja makan, dia segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Bahkan ia tak peduli pada Gio, dia menangis menyayangkan apa yang telah sang Papah perintahkan selama ini. Jika saja Papahnya tidak terlalu gelap akan dunia mungkin ia sudah bahagia.
Erna tak semata-mata menyalahkan Gio, walaupun memang ia juga salah. Salah kenapa sejak awal tidak menolak dan justru menyalahkan hingga menyiksa. Padahal Erna saja sudah berulangkali menolak. Entah apa yang terjadi pada Gio, apa begitu sayangnya pada orang tua hingga menurut walaupun tak sejalan.
Gio mengetuk pintu berulang kali, meminta Erna untuk membukakan hingga beberapa kali panggilan di ponsel Erna berdering keras. Tapi hal itu tak membuat Erna mau beranjak dan membuka. Mungkin jika ada di rumahnya sendiri Gio sudah mendobrak pintu itu.
Tak lama berselang panggilan dari Andika masuk, Erna mengusap kasar air matanya. Berusaha untuk tersenyum di depan Andika yang sudah pasti mengkhawatirkan dirinya.
"Hallo Dika,"
"Hey, loe baik-baik aja kan?"
"Baik, baik banget malahan. Kenapa pagi-pagi telpon?"
"Ck, loe nggak bisa bohong dari gue! di apain sama bokap loe?"
"Nggak di apa-apain. Tenang aja, gue lagi ngurung diri di kamar."
"Males diintrogasi."
"Gio?"
"Gio ada, capek kali abis ngedorin pintu nggak gue bukain. Males! Oh iya bentar lagi cuti, kandungan gue udah mau menginjak 8 bulan."
"Harusnya udah dari kemarin kan loe cuti?"
"Iya, tapi gue masih kuat. Makanya kerja aja terus. Lumayan duitnya kalo udah kumpul buat kabur."
"Ck, kalo ngomong jangan sembarangan! Tapi kok cepet ya, 7 bulanan aja belum."
Erna tertawa melihat Andika yang sewot menanggapinya. "Harusnya gue ngadain 7 bulanan Minggu kemarin, tapi saking nggak pedulinya mereka atau memang lupa sampe nggak diadain."
"Diadain di rumah gue aja mau?"
"Nggak lah, gue kan bukan siapa-siapa di rumah loe."
"Tapi kan loe calon istri gue!"
"Jangan ngarang, sekarang aja gue masih jadi istri orang."
"Gimana Papah loe? liat semaunya kan?"
"Hhmm ... tapi gue nggak mau buka suara sekarang Dika, gue rasa percuma. Papah dekat banget sama gio dan gue yakin gio bakal berkelit. Suatu saat mereka bakal tau apa yang terjadi, gue nggak bisa nyalahin Gio seutuhnya, karena pada dasarnya pernikahan ini bukan kemauan kita. Kita di paksa dan melakukannya hanya terpaksa. Imbasnya gue yang harus berkorban lebih."
"Terserah loe mau dengan cara apa, gue cuma mau endingnya loe jadi milik gue!"
"Pengen banget ya," ledek Erna, "gue nggak minta loe nunggu tapi kalo loe benar-benar ngelakuin itu, hal itu buat gue makin cinta sama loe."
Tut
Erna mematikan ponselnya, setelah menyatakan cinta pada Andika dia jelas malu. Sedangkan di sebrang sana Andika berulang kali mencoba untuk kembali menghubungi Erna tapi tak kunjung di angkat.
"Apa kata dia tadi, cinta sama gue!" Andika yang begitu senang, dia segera beranjak dari sofa dan bergoyang ria. Andika lupa jika ada dua sahabatnya yang melongo melihat aksinya. Mereka sedang menunggu Andini sadar, Raihan yang sudah spaneng karena merasa Andini yang tak kunjung bangun malah di buat pusing dengan aksi kakak iparnya yang absurd.
"Heh loe ngapa kunyuuk, kesambet setan reog loe!" celetuk Bayu.
"Diem loe, lagi seneng gue!"
"Ck, adik loe belum bangun-bangun, loe malah joget seneng-seneng. Dasar Kakak nggak waras!" kini Raihan yang mengumpat kesal.
"Fokus aja nggak usah ganggu gue, loe pada nggak boleh banget liat gue seneng."
"Loe ngapa? abis menang judi online?"
"Bangk3, nggak main gitu-gituan gue! gue lagi bahagia." Andika kembali duduk di tempatnya. "Loe tau?"
"Nggak tau!" jawab Raihan dan Bayu kompak.
"Ck, dengerin dulu, ini baru mau gue kasih tau soak! Gue bahagia karena abis di nyatakan cinta sama bini orang!"
"Hah!" Bayu melongo mendengar ucapan Andika. Sedangkan Raihan memijit pelipisnya dan beranjak mengusap lembut perut sang istri.
"Bobonya lama banget sich dek, capek banget apa. Mas pusing tau nggak ngeliat kelakuan Kaka ipar bikin malu dunia pernovelan." Kemudian pandangan Rai turun ke perut Andin , "anak ayah....kalo sudah besar jangan seperti paman ya, kita harus kerja sama memasukkan paman ke penangkaran."
"Monyet, anak masih segede biji udah loe ajarin nggak bener. Loe kata gue uler piton di masukin di penangkaran!"