One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 76



Sejak tadi Andini menghubungi Raihan yang tak kunjung di angkat. Wanita hamil itu mondar mandir di teras depan. Niat hati ingin menyambut suaminya pulang tetapi sudah lewat satu jam tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Simbok sejak tadi sudah mengingatkan dan memintanya untuk segera masuk kedalam. Tapi Andini tak kunjung masuk, hingga simbok menghampiri kembali untuk yang ke empat kalinya.


"Nduk, ayo masuk dulu. Mau magrib nggak boleh di luar. Pamali nduk, mana lagi hamil." Simbok menarik tangan Andin untuk di bawanya masuk kedalam dan menutup pintu rumah.


"Nunggu mas Rai mbok, lama banget nggak pulang-pulang. Di telponin juga nggak di angkat. Aku kok khawatir ada apa-apa ya mbok."


Andini duduk di sofa, ntah kenapa ia begitu cemas. Menghubungi nomor Andika juga tak ada jawaban, justru di panggilan ke tiga ponselnya tak dapat di hubungi lagi.


"Pada kemana sich, bikin khawatir dech."


"Mungkin masih pada sibuk atau masih ada di perjalanan nduk. Sabar aja bentar lagi Den Raihan pasti pulang. Mending makan buah ya, simbok kupasin apel mau?"


"Boleh dech mbok, sambil nungguin mas Rai pulang. Enek perutnya, kayaknya mereka merindukan papahnya."


Tanpa Andini tau jika Raihan kini masih menunggu Andika yang baru saja sadarkan diri. Pria itu lupa jika sang istri di rumah tak tau apa-apa. Menunggu dengan perasaan hampa.


"Bagaimana keadaan Erna Rai?"


"Terakhir gue kesana Erna lagi menjalani operasi. Tapi gue nggak tau kabarnya sekarang. Mamah sama Papah lagi keluar beli makan. Makanya gue nunggu loe di sini."


"Rai, gue mau lihat Erna." Andika berusaha beranjak dari ranjang untuk menemui Erna. Hatinya tak tenang ingin mengetahui bagaimana keadaan Erna saat ini. Apa lagi Raihan bilang jika Erna operasi. Andika tak bisa membayangkan perasaan Erna sekarang. Usia kandungan yang baru masuk delapan bulan. Belum cukup umur jika bayi itu di lahirkan.


"Dika tunggu loe baru aja sadar. Jangan banyak gerak dulu. Itu kepala loe nanti sakit lagi gimana?" Raihan mencoba menahan pergerakan Andika.


"Awas Rai, gue mau tau kondisi Erna saat ini. Nggak tenang gue kalo diem aja begini!" kesal Andika.


"Iya gue tau loe khawatir sama Erna tapi loe sendiri lagi sakit Dika!" Raihan menahan tubuh Andika hingga Andika berteriak.


"Gue mau lihat Erna njiiing!" seru Andika.


"Gue tau, tapi loe baru sadar. Tadi dokter minta loe buat istirahat dulu! benturan di kepala loe lumayan keras. Sabar dulu lah Dika, gue tau loe bener-bener takut terjadi apa-apa sama Erna. Tapi seenggaknya tunggu sampe dokter periksa kondisi loe lagi!"


Akhirnya Andika mendengarkan ucapan Raihan. Ia menunggu dokter datang memeriksanya. Setelah kondisinya dinyatakan sudah membaik, keinginan Andika sudah tak dapat di cegah lagi. Raihan menemani Andika dengan mendorong kursi rodanya menuju ruangan Erna.


Sempat bertanya pada perawat dimana ruangan Erna saat ini setelah menjalani operasi. Mencari hingga keduanya sampai di ruang VIP lantai 3. Saat keduanya ingin masuk, Pak Nugraha keluar dengan wajah sendu. Meraka melihat beliau mengusap kasar air matanya.


"Bagaimana keadaan Erna Om?" tanya Andika penasaran.


"Kalian." Pak Nugraha terkejut melihat keduanya, Andika dengan perban yang ada di kepalanya. Dan Raihan berdiri di belakang kursi roda.


"Iya, kami kesini mau tau bagaimana keadaan Erna saat ini." Dengan tegas Raihan meminta Pak Nugraha untuk memberitahu keadaan Erna. Karena dia sendiri merasa ada sesuatu yang terjadi setelah Erna operasi.


"Erna...... kondisinya masih lemah," lirih pak Nugraha.


Pak Nugraha tampak menundukkan kepala, Ia begitu berat mengatakan bagaimana kondisi anaknya Erna saat ini. Hingga suara Raihan lagi-lagi membuat Pak Nugraha membuka suara.


"Pak, bayinya selamat kan?"


"Bayinya...." Pak Nugraha tak sanggup menjawab, ia hanya menggelengkan kepala membuat Raihan dan Andika semakin penasaran.


"Apa maksudnya om? bayi Erna kenapa?" Andika sudah tak sabar, ia betul-betul ingin tau kondisi bayi yang kini sudah Erna lahirkan. Apa lagi ia melihat jelas saat ia menemukan Erna dengan begitu banyak darah.


"Bayi Erna tidak bisa di selamatkan."


deg


Andika memejamkan mata, hatinya seperti di hujam ribuan paku hingga begitu perih terasa. Tangannya mengepal menahan emosi yang memuncak. Ia saksi dimana Erna di sakiti pagi tadi.


Raihan pun begitu menyayangkan semua terjadi begitu saja. Orang tua yang harusnya menjadi pelindung saat sang anak membutuhkan rangkulan hangat justru menutup mata padahal buktinya jelas terlihat.


"Om tidak pantas menangisinya Om, sebelumnya Om sudah saya peringatkan. Tapi Om gelap mata hanya karena menantu Om yang kaya raya. Erna juga sudah melakukan protes kan sama Om? tapi Om tak terima dan tak perduli padahal Om bisa liat sendiri kondisi Erna. Tak ada yang di tutupi dari dia, seandainya om teliti dan lebih perhatian seharusnya sebagai orang tua om lebih peka dengan perbedaan di tubuh Erna."


"Andika saya...."


"Sekarang Om menyesal? Ambisi Om mengalahkan akal sehat. Om melempar anak sendiri ke manusia biad@b hanya demi harta. Gio memang salah, tapi dia juga korban keegoisan orang tua. Perjodohan yang kalian lakukan hanya membuat mereka menderita. Saya tau Om, banyak nikah paksa yang berujung bahagia, mungkin Om juga dulunya sama. Bahkan adik saya dan Raihan juga membuktikan itu semua. Tapi nggak semuanya berujung manis Om, cinta yang di paksa hanya akan membuat menderita. Hingga berujung kekerasan, karena Gio nggak bisa menerima Erna sebagai istrinya."


"Maafkan saya Andika, jika Om dulu meragukanmu. Om tau kamu sangat mencintai Erna. Dan sekarang Om menyesal, Erna sakit karena Om, dia kehilangan anaknya karena saya." Pak Nugraha menangis membayangkan kondisi Erna saat ini.


Raihan membawa Andika masuk kedalam kamar Erna, di sana tampak sang mamah terus menangis karena Erna hanya diam dengan pandangan kosong ke depan. Erna depresi setelah mengetahui jika buah hatinya tak selamat. Hingga kini ia hanya diam menatap hampa dengan air mata yang terus terurai.


Andika meneteskan air mata melihat kondisinya saat ini, wanita yang ia cinta kini menderita. Dia tak sanggup mendekat hingga hanya mampu melihat dari ambang pintu. Andai dia tak terlambat bertindak mungkin semua tak akan terjadi seperti ini.


"Gue terlambat nolongin dia Rai..."


"Loe nggak salah Dika, loe udah berusaha semaksimal mungkin buat dia. Ini udah jalan hidup Erna, sekarang tugas kita mengembalikkan lagi kondisi Erna seperti dulu."


"Gue nggak kuat liatnya Rai, sakit dada gue liat kondisi dia sekarang."


"Sabar, mungkin Erna masih syok karena anaknya nggak bisa tertolong. Kita doakan dia cepat sembuh dan mampu mengikhlaskan semuanya."


"Loe kalo ngomong suka bijak Rai, gue enek lama-lama dengernya."


"Ck, nggak bisa lihat situasi loe! ayo balik ke kamar, biarin Erna istirahat dulu. Gue mau pulang, bini gue pasti nyariin di rumah. Besok gue kesini lagi ajak Andini."


"Pelan-pelan kalo ngasih tau dia. Jangan sampe loe buat dia syok, kasian nanti ponakan-ponakan gue, senam jantung nanti mereka di dalam sana."


"Nggak usah pake loe ajarin, gue lebih tau caranya!"