One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 74



Seharian mengunci pintu kamar dan tak keluar hingga sore, Erna benar-benar membuat kedua orangtuanya khawatir. Sedangkan Gio memutuskan untuk pergi, ia beralasan ingin kerumah orang tuanya karena ada yang ingin di bicarakan. Hingga sore Ia kembali lagi dan ternyata dalam keadaan yang sama. Erna belum juga keluar dari kamar.


Ingin rasanya Gio mendobrak dan memaki Erna tetapi ia harus menjaga sikap di depan kedua mertuanya. Dia tak ingin ceroboh hingga mendapatkan masalah nantinya.


Gio menemui kedua mertuanya yang duduk di ruang keluarga. Menatap wajah keduanya yang begitu cemas, mamah sejak tadi hanya bisa menangis membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sedangkan Papah terus-menerus mencerna ucapan Erna hingga kepalanya berdenyut nyeri.


"Mah, Pah...."


"Gio...." ucap papah.


"Jangan terlalu di pikirkan Mah Pah. Erna akan baik-baik saja, sudah biasa Erna seperti ini. Hormon kehamilan yang membuat emosinya naik turun, jika sudah membaik ia akan keluar kamar Mah Pah."


"Benarkah Gio?"


"Iya Pah."


"Gio, apa kalian ada masalah?" tanya mamah yang merasa ada sesuatu terjadi dengan putrinya.


"Nggak ada Mah, Mamah Papah tenang saja ya." Gio mencoba meyakinkan keduanya, hingga kedua mertuanya percaya jika rumah tangganya baik-baik saja. Di tambah lagi, tak lama Erna keluar dari kamar.


"Sayang, ya Allah nak akhirnya kamu keluar kamar juga. Mamah sama Papah khawatir nak, sini duduk dulu yuk. Apa mau makan?" Mamah begitu lega saat melihat putrinya keluar kamar dengan keadaan baik-baik saja. Hanya mata yang sembab, tapi tidak terlalu ketara.


"Mah, Erna mau pulang," lirih Erna. Gio yang mendengarnya pun begitu senang, senyum tipis terukur di wajahnya. Dia pikir Erna akan sulit lagi di bawa pulang, tapi ternyata Erna begitu mudah mengantarkan nyawa.


"Ayo sayang, sudah enak kan hatinya? kita pulang ya, nanti istirahat lagi di rumah." Gio beranjak dan menghampiri Erna. Merangkul begitu mesra dengan membubuhi kecupan di keningnya.


Erna muak akan sikap Gio, jika tak ada kedua orangtuanya mungkin Gio akan ia dorong hingga terjungkal, walaupun setelahnya ia akan mengamuk memarahinya.


"Hhmm..."


"Erna, jika ada masalah di bicarakan baik-baik dengan suamimu nak, jangan seperti tadi. Mengunci diri di kamar dan berbicara dengan Papah yang tidak-tidak. Untung suamimu sayang dan pengertian, jika tidak kamu sudah di tinggalkan."


Erna tak habis pikir dengan pikiran Papahnya, ternyata yang tadi dia ucapkan kalah dengan kata-kata manis yang Gio lontarkan. Hingga Erna melirik tajam wajah Gio yang seperti memasang genderang perang hingga Erna mual melihatnya.


Tak ada kata yang keluar dari bibir Erna untuk menjawab ucapan Papah, hanya pelukan dan dekapan yang ia berikan ke mamah, "Maafin Erna mah." Kemudian Erna keluar rumah tanpa menyalami Papah.


Mamah yang ingin berucap pun ia urungkan karena Erna sudah lebih dulu pergi menghindar. Hingga mobil tak terlihat, tapi masih meninggalkan sesak di hati sang mamah.


Sampai di rumah, Erna segera masuk kedalam rumah. Gio yang sejak pagi sudah menahan emosi seakan ingin segera memuntahkan semuanya. Dia berlari menyusul Erna dan menarik lengannya hingga langkah Erna terganti.


"Sakit Gio!"


"Banyak ulah loe! di rumah orang tua loe, loe pikir bakal di bela? nggak! Bokap loe buta dengan itu semua. Dan loe beraninya menantang gue! loe mau ungkap semuanya? silahkan gue nggak takut!" bentak Gio.


"Dan sekarang loe ikut gue, semua yang loe lakuin tadi harus ada hukumannya!" Gio menarik tubuh Erna hingga masuk ke dalam kamar, tidak sampai di situ ia membawanya masuk kedalam kamar mandi dan di guyurnya tubuh sang istri, tanpa ia ingat jika di dalam perut istrinya ada darah daging yang juga merasakan kesedihan ibunya.


"Gio stop Gio! ini sudah malam Gio, dingin!"


"Gue nggak perduli, loe harus gue hukum! gue tau niat loe mau bongkar semua perlakuan gue dengan memperlihatkan semua bekas lebam di tubuh loe kan? Gue nggak bodoh Erna, jangan loe pikir gue nggak bisa lakuin hal lain buat nyakitin loe!" Gio semakin menghujani wajah Erna dengan shower hingga ia gelagapan sulit bernafas.


Erna berpegangan di tiang pembatas, menahan tubuhnya yang begitu lemas. Apa lagi aksinya tadi membuat dia hanya makan sarapan pagi saja.


Satu jam Gio mengguyur Erna hingga tubuhnya memucat, kemudian meninggalkannya begitu saja. Erna menangis merasakan dingin hingga ia lemas dan terduduk di lantai. Pernikahan yang tak ia inginkan dan berujung hanya menyakitkan.


Gio pergi entah kemana, Erna sudah tebak jika sepulangnya nanti pria itu akan mabuk dan kembali bersikap kasar padanya. Hingga pagi menjelang Erna terjaga dengan kepala yang begitu pusing dan bersin-bersin.


Wanita itu turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan kembali ke kamar. Erna mengirim pesan pada Andika, jika hari ini ia ijin tidak masuk kerja. Erna ingin segera ke dokter untuk berobat dan memeriksa kandungan yang sudah masuk bulan ke delapan.


"Halo..."


"Sakit apa?" tanya Andika panik, setelah mendapatkan pesan dari Erna, Andika segera menghubungi untuk memastikan.


"Hanya demam, mau flu aja. Sekalian mau cek kandungan."


"Ya udah, apa mau gue antar?"


"Nggak perlu Dika, gue bisa sendiri."


"Oke, nanti kabarin gue lagi ya."


"Iya."


Erna menutup panggilan tersebut bertepatan dengan Gio yang masuk dengan tatapan tajam menghunus. Pria itu berjalan menghampiri, mengapit dagu Erna hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Sakit Gio!"


"Udah bisa ngelawan lagi? udah kuat tubuh loe?" tanyanya dengan sedikit mabuk.


"Lepas Gio! loe nggak bisa kayak gini terus sama gue, kalo loe nggak suka, lepasin gue!"


"Gue nggak akan lepasin loe, sekarang layanin gue!" Gio melepas cengkeraman di kedua pipi Erna dengan kasar kemudian ia membuka bajunya hingga polos.


"Nggak akan, gue jijik sama loe!"


"Berani loe lawan gue!"


Plak


Gio menampar pipi Erna kemudian membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh Erna, ia tak perduli dengan Erna yang berusaha untuk menolak. Hasratnya pagi ini sudah memuncak dan tak bisa di tahan. Sebejat- bejatnya Gio ia akan meminta pada Erna bukan pada wanita yang menemaninya minum, walaupun dia menikmati tubuh wanita lain tapi untuk menyatu ia tau sarang mana yang aman.


Gio melakukan tanpa ada pemanasan membuat Erna begitu kesakitan saat miliknya di masuki begitu kasar. Air mata menetes merasakan perih. Di tambah lagi Gio menghujam begitu kasar hingga menimbulkan dorongan yang keras di perutnya.


"Pelan-pelan Gio, ingin anak kita!"


"Diam dan nikmati!" sentak gio membungkam mulut Erna dengan kasar.


Kondisi hamil besar, gio tega melajukan berbagai gaya, jambakan di rambut tak lepas saat tubuhnya bergerak mencari kepuasaan.


Hingga Erna lemas saat ia melihat darah segar turun mengalir di kakinya. Dan berbarengan dengan hentakan kuat dari Gio saat ia mendapati pelepasan.


Tubuh Erna lunglai, perutnya begitu sakit tapi gio tak perduli. "Gio, loe nyakitin anak loe. Perut gue sakit banget Gio, tolong bawa gue ke rumah sakit," lirih Erna.


Erna meringkuk di kasur, Gio hanya menoleh sekilas kemudian masuk ke kamar mandi. Melihat Gio yang sudah masuk kesana dan tak ada harapan untuknya mendapatkan pertolongan dari Gio. Erna segera meraih ponselnya, dia mendial nomor Andika dan menghubunginya dengan meringis kesakitan.


"Dika, tolong gue!" tanpa ia sadar Gio sudah keluar dari kamar mandi dan merampas ponsel Erna.