One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 61



..."Mas aku makan siang di luar ya. Aku ingin menemani mbak Erna dan makan bersama kedua sahabatku. Boleh ya, udah lama aku nggak makan dengan mereka."...


Di sela pekerjaannya Andini mengirimkan pesan pada Raihan. Dia ingin menemani Erna yang sejak tadi tampak sendu menatap layar laptop. Mungkin tubuhnya di sini tapi pikirannya ntah ada dimana. Andini tau ada hal yang membuat bumil itu terlihat begitu sedih. Tapi ia pun mengerti jika Erna belum mau berbagi.


..."Iya sayang, aku ada meeting siang ini, kemungkinan makan siang di luar. Jam pulang segera ke ruanganku saja ya, jangan menunggu di lobby. I love u"...


Senyum tipis menghiasi wajah ayu Andini, melihat pesan balasan dari Raihan yang memperbolehkan dirinya untuk makan bersama Erna.


..."Love u too..."...


"Mbak nanti kita makan siang diluar ya. Debay lagi mau makan apa? aunty kan habis gajian, nanti aunty traktir," lirih Andini yang membuat Erna tersenyum geli.


"Lagi mau makanan Jepang," jawab Erna tak kalah lirih tapi masih bisa di dengar oleh Andin.


Keduanya cekikikan, hingga suara deheman dari pak Heru membuat mereka terdiam seketika. Andini dan Erna kembali fokus bekerja sedangkan Tara tertawa dalam hati melihat tingkah Andini dan Erna yang seperti anak kecil.


"Rai, meeting 30 menit lagi. Ayo kita keruang meeting sekarang!"


"Bentar," Raihan memakai jasnya yang tadi sempat ia buka. "Bu Agnes udah datang?"


"Udah, semenjak menjanda makin cantik plus s3mok!" Andika menggelengkan kepalanya.


"Mata loe! katanya Erna seorang, lihat janda bening udah kayak liat duit segepok!" keduanya keluar ruangan dan melangkah menuju ruang meeting.


"Mata boleh kemana-mana tapi hati tetap Erna seorang. Emang mata gue kalo liat janda bening rada melek. Parah sich damagenya janda makin di depan dan pasti pinter goyang."


"Gue bilangin Erna loe ntar!"


"Bilang aja paling di cuekin sama Erna, dia masih mode menjaga. Kadal buntung aja di jaga, kalo nggak lagi bunting udah gue culik tuh orang!" celetuk Andika.


"Istri Solehah berarti!"


Keduanya sudah masuk ke dalam ruang meeting, Raihan mendekati wanita cantik yang begitu anggun dengan pakaian kantor yang begitu pas di tubuhnya. Apa lagi rok span sebatas paha yang kini ia pakai menambah daya tarik tersendiri.


Sejak tadi Andika berusaha mengalihkan pandangan dari pakaian yang di pakai oleh wanita itu, tapi lagi-lagi dia galfok.


"Siang Bu Agnes," Rai mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Agnes, tak lupa senyum menggoda yang ia perlihatkan pada Rai. Tatapan penuh damba dari Agnes membuat Raihan segera melepas jabatannya.


"Silahkan duduk kembali Bu," Raihan mempersilakan untuknya duduk yang bertepatan di depan Andika, membuat pandangan Andika kembali mengarah ke Agnes.


"Shiit kelas kakap! itu kancing minta di rogoh."


Raihan yang sudah fokus dengan berkas dan mulai membahas pekerjaan sedikit terganggu dengan sikap Andika yang sejak tadi hanya menunduk dengan mengarahkan proyektor tanpa mau melihatnya.


"Loe kenapa?" lirih Raihan.


"Modelan begini bikin adem panas, secintanya gue sama Erna, tetap aja klo di adepin beginian mata gue gagal fokus. Makanya ambil amannya aja, gue madep layar loe yang ngadepin dia buat jelasin!"


"Ck, makanya punya otak pagi-pagi di keramasin. Si Joni semalem nggak loe sabunin?"


"Bangk3, fokus sana loe!"


"Ada apa pak Rai, kok bisik-bisik? saya juga mau di bisikin sama bapak?" ucap Agnes dengan tangannya yang menyentuh lengan Raihan.


Raihan yang tak nyaman apa lagi tatapan Bu Agnes begitu menantang, ia menurunkan tangan agnes hingga terlepas.


"Maaf Bu, bisa kita lanjutkan presentasinya."


Agnes tak suka dengan sikap datar Rai dan penolakan Raihan.


Setelah hampir satu jam membahas pekerjaan mereka memutuskan untuk makan siang bersama karena waktu sudah pukul 12 siang. Raihan beserta Andika dan Bu Agnes melangkah keluar kantor. Ketiganya mencari tempat yang tak jauh dari area kantor agar tak membuang waktu. Karena setelah makan siang mereka harus melanjutkan kembali meeting yang tertunda.


"Pak Rai, saya kan janda jadi tak akan ada yang salah paham. Hanya memegang lengan Pak Rai saja, yang penting nggak megang yang lain kan?"


Andika yang mendengar ucapan Bu Agnes seketika bergidik. Wanita itu begitu ketara jika menginginkan Raihan, ntah karena perasaannya atau memang suka.


"Anda mungkin tidak, tapi bagaimana dengan saya? jadi lebih baik berjalan selayaknya saja Bu." Raihan kembali menurunkan tangan agnes yang bertengger di lengannya. Ia tak ingin ada karyawan yang salah paham jika melihatnya berjalan begitu dekat dengan kliennya.


"Dik, tuker posisi. Nich orang nggak kena di bilangin. Loe duduk samping dia!" Ucap Raihan saat sudah sampai di restoran.


"Ogah, loe aja lah!"


"Ck, kalo adik loe liat bisa nggak dapet jatah gue ntar malem!"


"Derita loe!" Andika tak menggubris ucapan Raihan, dia duduk sedikit berjarak dengan klien kecentilan itu. Tak peduli dengan tatapan tajam Rai yang kesal akan dirinya karna tak ingin membantu. Tapi dia pun tak ingin mengotori matanya walaupun sayang jika di lewatkan.


"Pak Rai sinian, liat daftar menu sama saya sini!"


"Bergantian saja Bu," Raihan menolak secara halus. Hingga Bu Agnes yang tak sabar dengan sikap Rai malah sengaja mendekat dan menggeser buku menu agar bisa melihat berdua.


Melihat perlakuan itu membuat Rai memijit pelipisnya, ia menatap kesal Andika yang sedang tersenyum miring. Hingga tatapannya jail mengundang tanya. Andika membiarkan Bu Agnes semakin gencar mendekati Rai, wanita itu tak tau jika Rai sudah menikah. Dia berpikir sama-sama sendiri jadi tak ada salahnya bersama. Hingga Raihan curiga dengan senyum penuh misteri yang Andika perlihatkan.


"Din, makan disini juga? sama Erna lagi.."


Deg


Raihan yang sedang memilih menu di buat terkejut dengan panggilan yang Andika serukan. Matanya mendelik saat melihat siapa wanita yang duduk di pojok ruangan.


Begitupun dengan Andini, dia menatap tajam Raihan yang begitu menempel dengan seorang wanita. Sempat meradang tapi ia biarkan karena ingin tau bagaimana sikap Rai setelah ia melihatnya.


"Dik, loe bikin masalah!" geram Raihan. Dia segera menggeser kursinya. Tapi lengannya segera di tahan oleh Bu Agnes.


"Pak, belum juga milih menu. Mau yang mana?" tanyanya dengan suara lembut mendayu.


"Maaf Bu, saya bisa memesan tanpa harus berdekatan. Silahkan ibu pilih, saya juga sudah menjatuhkan pilihan." Tegas Raihan, tatapannya terus menatap sang istri yang cuek menghabiskan makannya.


"Gue makan sama mereka ya."


"Sampe loe tinggalin meja ini, gaji gue potong 50 %!" ancam Raihan menatap jengah kakak ipar yang super jail.


"Ck, bisa nya ngancem loe!" celetuk Andika.


"Loe yang buat gue terancam!" sewot Rai.


Mereka makan bersama dengan khidmat, mata Rai tak lepas dari istrinya. Jika bukan karena menghargai kliennya mungkin ia sudah mendekati Andin atau dia akan meminta Andini untuk makan bersamanya.


Sedangkan di meja Andini, Erna menatap Andin yang makan dengan santai tapi sedikit menghentakkan sendiri dan garpu seperti menahan rasa kesal. Hal itu juga tak luput dari penglihatan kedua sahabatnya.


"Kalo cemburu samperin!" celetuk Tia.


"Buat apa?"


"Biar loe tau kalo itu si bos yang deketin apa ceweknya yang manfaatin?"


"Mungkin ceweknya manfaatin tapi tinggal lakinya lah nanggepin apa nggak," jawab Andini tanpa mau menoleh ke arah Rai. "Bentar ya!"


"Loe mau kemana Din?"


"Bentar!" seru Andini. Dengan anggun ia melangkah mengarah ke meja Raihan dan kliennya.


Raihan yang melihat Andini melangkah ke arahnya tersenyum senang. Dia berharap Andini tak marah dan salah paham. Tapi seketika senyum Rai luntur kala Andin melewatinya dan mendekati seorang pemuda hingga membuat Raihan mengepalkan tangannya.