One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 82



Raihan kembali ke meja kerjanya dengan perasaan campur aduk, kesal, marah, sedih, cemburu, dan gemas melihat Andini yang dengan santainya menerima suapan dari pria lain. Apa lagi yang sama-sama kita tau jika mantan nggak aman kalo di dekati.


Mantan, berakhir karena alasan dan munafik jika tak ada sisa rasa. Apa lagi sebelumnya saling cinta, tak menutup kemungkinan akan CLBK. Walaupun ia tau Andini tak mungkin seperti itu, tapi sesuatu yang biasa akan ada apa-apa saat selalu bersama.


Raihan membuang nafas kasar, ingatan akan kelakuan sang istri siang tadi cukup membuatnya berpikir ulang, apakah saat itu Andini memang butuh bermanja dan mengajak makan bersama. Tapi tak mendapatkan dan berakhir dengan Tara.


Pikiran yang berkecamuk membuatnya berulang kali mengusap kasar wajahnya. Ingin marah tapi sang istri sedang hamil muda, takut-takut terjadi hal yang tak diinginkan karena sikapnya. Tapi jika tak di luapkan membuat Rai pun uring-uringan.


Rasa Cinta yang terlalu dalam membuatnya takut kehilangan padahal dengan jelas Andini sedang mengandung anaknya. Tapi mengingat jaman sekarang yang banyak viral di media sosial semua bisa terjadi karena godaan semakin merajalela.


Hingga jam pulang kerja, Raihan tak kunjung meninggalkan ruangannya karena pekerjaan yang tak kunjung usai sebab memikirkan Andini dan Tara tadi.


Perlahan Andini masuk ke ruangan Rai dengan wajah lelah dan tubuh lunglai. Dia merebahkan tubuhnya di sofa kemudian memejamkan mata dan tak lama terlelap.


Raihan yang melihat pergerakan istrinya di buat heran dan segera beranjak dari meja kerjanya. Melangkah mendekat dan bersimpuh tepat di depan wajah Andin.


"Sayang...." tangan Rai mengusap lembut kepala Andin, hatinya yang tadi kesal dan ingin marah luntur saat melihat paras cantik dengan wajah payah.


Perubahan hormon dan tubuhnya yang sering mual membuat Andini tak nyaman, apa lagi ia harus menahan gejolak di perutnya dengan otak yang harus bekerja karena pekerjaan yang begitu banyak.


Raihan mengecup kening Andin, membiarkan Andini tertidur sedangkan ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar cepat pulang.


Hampir dua jam Raihan menyelesaikan pekerjaannya kemudian membereskan meja dan siap membangunkan sang istri untuk pulang.


"Sayang bangun, pulang yuk!" Raihan mengusap pipi Andini kemudian mengecupnya dengan sayang. Hingga membuat Andini merasa terganggu dan bangun dengan langsung memeluk Raihan.


"Mas....." lirih andini.


"Kenapa sayang? lagi pengen apa? kita beli sekarang ya."


Andini menggelengkan kepala, bukan itu yang dia inginkan. Ntah apa karena kemauannya atau karena bawaan bayi yang biasa di jadikan sasaran empuk ketika sang mamah menginginkan sesuatu.


"Terus mau apa?" tanyanya lembut. Sesekali mengecup kening Andini, rasa sayangnya melebihi rasa kecewa karena menyaksikan kedua pasang mantan itu begitu akrab. Hingga mulut ingin menyinggung pun tak kuasa.


"Gendong dulu sampe bawah, dan nanti aja di rumah nurutin kemauan akunya. Aku mau cepat pulang terus bersih-bersih." Manjanya Andini membuat Raihan gemas dan segera memasang badan agar sang istri naik ke punggungnya.


Andini memeluk pundak Rai dengan erat, tanpa malu ia justru menempelkan pipinya ke pipi Rai. Beruntung kantor sudah sepi, hanya ada Pak satpam yang melihat keduanya begitu harmonis.


"Malam pak Rai, Bu..." sapanya.


"Malam Pak, Pak tolong bukakan pintu mobil saya!"


"Baik pak Rai," satpam itu segera berlari menuju mobil Rai diikuti oleh Rai, dengan Andini yang hanya cuek menikmati tanpa ada rasa risih.


Masuk mobil dan segera melajukan sampai rumah. Itu pun tanpa permintaan apa-apa dari sang istri yang membuat mereka harus singgah. Sampai di rumah segera membersihkan diri dan makan malam.


"Mbok..."


Sementara menunggu Raihan mandi, Andini menyusul simbok ke dapur, dia ingin sekali makan mie instan buatan simbok tapi ala warkop yang kuah nya kental dan ada rasa bawang goreng yang menggugah selera.


"Iya nduk, tumben ke dapur. Lagi pengen opo to?"


"Simbok tau aja."


"Pengen makan mie tapi kayak di warkop rasanya mbok, simbok bisa nggak buatnya?"


Mata Andini berbinar, dengan senyum mengembang ia menganggukkan kepalanya. Tapi seketika pertanyaan simbok membuat ekspresinya berubah kaku.


"Tapi boleh nggak to nduk, makan mie instan sama den Raihan? soalnya setau simbok den Raihan jaga makanan tenan loe nduk. Di nggak pernah makan makanan instan."


Ya, selama pernikahan dan mengenal Raihan Andini pun tau jika Rai sangat menjaga makanan agar badannya tetap sehat. Tapi bagaimana jika dia begitu menginginkan. Andini tampak berpikir hingga meminta simbok segera membuatkan tanpa perlu ragu lagi


"Nggak apa-apa mbok, buatin aja buruan. Mas Rai masih di kamar mandi. Nanti aku makan di sini sambil duduk. Aku pengen banget mbok," ucapnya melas dengan mengusap lembut perutnya yang rata.


Mengerti Andini yang sedang mengidam simbok segera membuatkan, tak butuh waktu lama hanya sekitar sepuluh menit wanginya sudah menggugah selera hingga Andini begitu ingin segera melahapnya.


"Saosnya jangan banyak-banyak nduk!" ucapnya mengingatkan. Sedangkan saat ini Andini sedang bersila di lantai dengan bahagia.


"Iya mbok, simbok jangan berisik. Sana aja siapin makan malam di meja buat mas Rai. Kalo di tanya bilang aku lagi jalan ke depan nyari tukang nasi goreng lewat ya mbok."


"Iya nduk, ya udah simbok tinggal dulu ya."


Dan benar saja, tak lama Raihan turun dengan setelan kaos dan celana pendek rumahan, wajahnya sudah fresh kemudian duduk di kursi dengan tatapan heran.


"Mbok, loh Andininya mana? bukannya udah turun duluan ya? kok nggak ada...." Raihan tampak celingukan mencari sang istri, sedangkan simbok dengan wajah pura-pura tenang terpaksa berbohong karena kasian si kembar yang ingin sekali makan mie instan.


Andini pun tak perduli akan suaminya yang mencari, dia benar-benar menikmati hingga setiap kunyahannya membuat mata merem melek seperti model iklan makanan di medsos yang ekspresinya mengundang orang yang menonton ikut tergoda dengan makanan yang ia makan.


Tanpa ia sadar Raihan sejak tadi diam berdiri di belakangnya mengamati dari balik meja dapur.


"Enak ya?"


"Mmmm enek banget, delicious ullalalla perfecto!" jawabnya dengan lancar sambil terus menikmati mie yang tinggal setengah.


"Kok makan sendirian?"


"Karna suami bakal marah kalo makan ngajak dia, jadi diem-diem aja oke!"


Raihan menggelengkan kepala, dia benar-benar tak menyangka kelakuan gokil istrinya hingga membuatnya gemas ingin mencubit pipi yang tampak gembul mengunyah tanpa dosa.


"Kalo ketauan gimana?"


deg


Andini membolakan matanya, kemudian meraih air minum yang sudah ia sediakan dan meminumnya hingga tandas.


Dia menoleh ke arah Raihan dengan senyum yang ia paksakan, tak menyangka akan ketauan padahal tinggal setengah lagi mie pindah ke perut dengan sempurna.


"Mas...."


"Ayo bangun!" Raihan segera menggandeng tangan Andini dan membawanya ke meja makan.


"Tapi mienya mas," ucapnya dengan bibir mengerucut.


" Sudah cukup sekarang makan nasi!"


Simbok yang melihat adegan penggerebekan itu hanya diam menggaruk tengkuknya dan kembali ke dapur untuk mengeksekusi sisa mie yang Andini makan.