One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 91



Sudah tiga hari setelah acara resepsi pernikahan Raihan dan Andini keduanya tampak semakin lekat dan Andini pun semakin manja. Selama tiga hari itu juga mereka menghabiskan waktu di hotel tempat acara resepsi di lakukan.


Andini pun seperti terserang virus bucin akut hingga menyetujui permintaan Raihan yang tak ingin kemana-mana. Aktifitas yang menghangatkan setiap saat, bahkan Andini hampir tak berpakaian semenjak di sana. Hanya berbalut handuk kimono yang suatu waktu dengan mudah Raihan buka.


Begitupun dengan Raihan, dia hanya mengenakan bokser tanpa niat memakai baju lengkap jika tidak kebetulan ada pesanan makanan datang yang mewajibkannya untuk keluar, karena Raihan melarang Andini yang menerima apapun pesanan yang datang.


Seperti hari terakhir di hotel, ketika Andini begitu gemas dengan si Joni. Bermain dengan begitu senang karena si Joni yang lebih peka dari pada pemiliknya. Mencium menggelitik hingga Raihan di buat geregetan. Tapi terasa menyebalkan ketika bel kembali berbunyi.


"Kentang sayang," keluh Raihan dengan wajah memelas.


"Enak donk mas di goreng," jawabnya ngasal. "Bawa masuk dulu makanannya mas, jangan ngambek gitu. Joni ngerti kok, nanti lanjut lagi ya Jon. Aku padamu..." ucap Andini dengan gaya genit membuat Raihan semakin gemas.


"Kamu benar-benar meresahkan dek!" Raihan benar-benar geregetan, ingin kembali memeluk sang istri tapi lagi-lagi bel berbunyi.


Setelah kembali berpakaian dan di lihat si Joni bisa di kondisikan, Raihan keluar mengambil pesanan makanan yang tadi istrinya inginkan.


Meletakkan di atas meja sofa dan mengajak sang istri makan.


"Pakai handuk kimononya sayang! jangan polosan begitu, kamu membuatku gerah!" Raihan membuang nafas kasar, sang istri selalu saja membuatnya mati gaya. Seakan ingin menerkam terus dan tak ingin berhenti andai perutnya tak minta di isi.


"Kenapa sich mas, udah biasa juga liatnya!" Andini segera meraih handuk kimono yang tadi Raihan lempar ke sembarang arah.


"Jeni kau sungguh meresahkan, buat si Joni nyut-nyutan ha ha ha ha..." Andini tertawa puas melihat wajah Raihan yang memerah.


Raihan menunggu sekuat hati, membiarkan istrinya makan terlebih dahulu kemudian dia segera mengangkat tubuh Andini untuk kembali ke ranjang setelah menghabiskan makanannya.


"Mas mau ngapain? turunin ikh!"


"Sore kita sudah pulang sayang dan sekarang waktunya kamu menenangkanku sebelum kita pulang. Dan memberi kesan indah di hari terakhir kita di sini!" Raihan tak perduli Andini yang berteriak meminta di lepaskan, baginya sang istri sudah cukup membuatnya gemas dan harus tanggung jawab akan apa yang di perbuat.


"Dasar mesum!"


Berbeda dengan Raihan dan Andini yang sibuk memadu kasih. Kini di ruang kerja seorang pria tampak frustasi kala ingin pulang cepat tetapi tak bisa karena pekerjaan yang masih banyak.


Ditinggal Raihan cuti, Andika tak ada waktu untuk sekedar bersantai. Bahkan untuk makan siang bersama Erna saja ia tak bisa. Beberapa kali mengumpat kesal karena harus menahan rindu.


Sore ini ia meminta Erna untuk menunggu, karena sudah benar-benar tak bisa menahannya lagi. Memintanya menunggu di lobby. Dan segera meninggalkan pekerjaan yang menyita waktu.


"Sorry lama ya, gue beres-beres dulu tadi." Andika sudah sampai di lobby dan segera mengajak Erna masuk mobil.


"Emang udah kelar kerjaannya? besok Rai masuk loh!" ucap Erna mengingatkan.


Kini Erna tak canggung lagi berduaan dengan Andika, semua orang sudah mulai tau kabar Gio meninggal bunuh diri dengan masalah yang ia lakukan. Apa lagi para karyawan yang mengetahui jika bayinya meninggal justru begitu iba dan mendoakan yang terbaik untuk hidupnya.


"Biarin dech, gue kangen sama loe!" ucapnya santai.


Cup


Andika mengecup pipi Erna kemudian melajukan mobilnya. Sore ini ia berniat mengajak Erna jalan. Hanya sekedar makan yang penting bisa berdua.


"Makan dulu ya, laper. Kita ke tempat favorit dulu. Udah lama kan semenjak loe nikah kita nggak ke sana. Hitung-hitung nostalgia." Andika ingin kembali mengingatkan Erna akan masa indah mereka dulu, sedikit menyembuhkan hati Erna yang masih terluka. Dan menghibur Erna karena sejatinya ia masih sedih setiap kali mengingat akan bayinya.


Sampai di depan restoran, Andika segera menggenggam tangan Erna dan membawanya masuk ke dalam. Tak banyak berubah dengan suasana restoran sekarang setelah satu tahun lamanya tak pernah lagi datang, sebenarnya lebih terlihat seperti cafe. Cafe anak muda yang menyuguhkan live music dan WiFi gratis. Dengan suasana santai dan pengunjung muda mudi dengan pasangannya masing-masing. Apa lagi lagu romantis yang di suguhkan membuat pengunjung semakin terkesan.


"Mau nyumbang lagu?"


"Nggak dech, kita bukan anak kuliahan seperti dulu Andika! malu udah tua!" tolak Erna.


"Bukan tua tapi dewasa! ya udah kalo nggak mau nyanyi, kita pesan makan ya. Duduk mojok aja biar bisa grepee-grepeee kayak pasangan alay lainnya."


Mendengar itu Erna segera memasang tatapan tajam yang membuat Andika tertawa.


"Galak banget, belum juga di sentuh. Kalo nggak gas oyyo aja mau?" tawar Andika dan segera mendapat pukulan dari Erna.


"Bisa di jaga nggak sich itu mulut! nggak aneh-aneh ya!"


"Iya ikh pake mukul segala, tangan gue yang di pukul tapi badan gue yang berasa merinding disko! Udah nggak tahan nich na, nggak bisa di pangkas itu massa Iddahnya. Satu bulan aja lah." Andika memasang wajah memelas membuat Erna justru memutar bola matanya jengah.


"Loe nego, perkara Joni nggak tahan kan? bilang sama itu bocah, suruh getok pala yang punya kalo malem ngajakin nonton film ew-ew," ucap Erna seraya mencubit paha Andika.


"Auwh.....enak, lagi donk tapi nengah dikit."


"Andika!" wajah Erna sudah memerah, sebenarnya ia malu berucap demikian. Tapi Andika terus saja mendesak, ntah bercanda atau serius memang sudah tidak tahan. Yang jelas Erna kesal saat Andika otaknya bekerja dengan tingkat kemesuman yang membuat mulutnya tak dapat di kendalikan.


"Iya-iya gue sabar kok, ayo makan dulu!" akhirnya Andika mengalah, memilih segera makan dari pada melihat Erna merajuk.


Makan dengan khidmat dan bercengkrama dengan santai. Kemudian Dika mengantarkan Erna pulang, ada rasa ingin terus bersama tapi Andika mencoba untuk lebih bersabar dan tak ingin melampaui batas.


"Mau mampir dulu nggak?"


"Kalo mampir boleh langsung nikahin nggak?" tanyanya balik.


"Ck, ngobrol dulu lah sama Papah, emang nya nikah kayak beli cabe!" kesal Erna.


"Mau nya kan gitu, besok main ke rumah ya. Biar dekat sama mamah, mamah bilang pengen ngajak calon mantu makan malam, gimana? mau kan? mau dong masak nolak!"


"Emang di acc?" tanyanya hati-hati.


"Makanya bawa lamaran dulu besok kerumah, biar cepat di acc!"


"Nggak pernah serius dech kalo di ajak ngomong!" sewot Erna. Andika dengan santai tertawa, dia senang melihat wajah cemberut Erna.


"Mamah sama Papah kan udah tau masalah kita, dia dukung kok. Nggak ribet, malah salut sama anaknya. Bisa kuat nunggu loe sampe jadi janda."


Erna menarik nafas dalam, kemudian menoleh ke arah Dika dengan tatapan serius.


"Doain gue ya nggak ngecewain mereka."