
Andika merengut kesal setelah mendengar ucapan sang mamah yang mengghibah di belakangnya. Membuatnya sewot hingga Erna berulangkali berdecak kesal karena Andika bak anak kecil yang mengadu meminta pembelaan.
"Stop! nggak malu sama mamah Papah ikh. Ngusel terus!" wajah Erna sudah merona, Andika sejak tadi tak mau lepas darinya. Hingga ia yang ingin mendekat pada camer saja tidak bisa.
"Dika! kamu itu belum punya sertifikat halal ya! inget itu!"
"Begini doank Pah, nerobos lampu merah aja udah pernah. Masak begini aja masih di komplain, salah terus hidup Dika!"
Ucapan Dika membuat Cantika tercengang, dia mengingat akan obat yang ia masukan ke dalam kopi Dika. Efeknya akan hilang jika terlampiaskan dan sekarang ia paham kemana Dika pergi malam itu.
"Makanya sanaan! ikh aku tuh mau ikut ngobrol sama mamah dan Cantika. Kamu ngambeknya jangan lama-lama, pamali!" Sewot Erna.
"Kamu Bumalinya!"
"Tau akh!" Erna meloloskan diri dari tubuh Andika yang sejak tadi menghimpitnya di sofa hingga tak bisa beranjak kemana-mana.
Sebenarnya Andika tidak sepenuhnya marah, ia hanya ingin Cantika terbiasa melihat kedekatannya dengan Erna dan paham jika dia hanya menganggap sebagai adik.
"Cantika gimana keadaannya? udah enakan?"
"Sudah mbak, ada mamah yang merawat Cantika."
Erna sempat terganggu dengan sebutan mamah sedangkan ia yang calon mantu masih memanggil dengan panggilan Tante dan Om.
"Iya Erna, Cantika sekarang sudah menjadi anak mamah. Setelah kalian menikah dan pindah dari rumah, Cantika akan tinggal sama kami."
Erna tersenyum, cukup lega setelah mendengar penjelasan dari calon mertua. Itu tandanya Cantika telah menyetujui jika dirinya akan menjadi anak angkat kedua orang tua Andika. Dan otomatis dengan Andika pun statusnya Kakak adik.
"Malam ini biar Dika sama Erna yang menunggu Cantika disini mah, mamah sama papah pulang aja!"
Erna menoleh ke arah Andika, karena ia tidak tau jika Andika merencanakan itu. Dia pun belum minta ijin pada kedua orangtuanya jika tidak pulang kerumah.
"Tenang sayang, aku sudah ijin sama papah kamu."
Erna bernafas lega, ijin sudah di dapat berarti tidak apa jika malam ini ia tidak pulang. Tak tenang juga jika harus meninggalkan Andika bersama dengan Cantika.
"Nggak perlu repot-repot kak, Kak Andika bisa pulang. Biar aku telpon bibi aja untuk menemani disini."
Andika mengernyitkan dahi begitupun dengan Erna, panggilan mas yang biasa Cantika ucapkan hilang tergantikan dengan kakak sama dengan panggilan dari Andini.
"Kakak?"
"Iya, Kak Andika kan sekarang kakak aku," lirihnya dengan menahan air mata yang sudah siap meluncur kembali. Mamah yang mengerti segera mengusap lembut lengan Cantika. Beliau paham semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Apa lagi perasaan, tidak akan mudah melupakan begitu saja.
Tapi Cantika yang sudah menyetujui, membuat kedua orang tua itu lega. Setidaknya masalah sudah mulai teratasi.
Andika tersenyum menatap wajah sayu gadis itu, ia bersyukur Cantika mau menerimanya sebagai kakak. Setidaknya ia tak lagi membuat luka di hati Erna, walaupun Erna diam tapi dia paham jika Erna tak nyaman akan kedekatannya dengan Cantika.
"Makasih ya dek, kamu mau ngertiin aku. Dan mau jadi adik aku. Jangan khawatir, mamah sama Papah bakal sayang sama kamu. Dan nggak akan membeda-bedakan anaknya."
Cantika menganggukkan kepala, sedikit lega karena sikap Andika yang kembali hangat seperti dulu.
"Pantas Cantika sampe suka sama pria model kayak kamu. Orang kalo di depan dia loe guenya ilang." Ucapan papah membuat mamah dan Erna tertawa, sedangkan Andika hanya menatap papah dengan perasaan jengah.
"Perusak suasana!"
"Eh ngomong-ngomong adik kamu mana?"
"Assalamualaikum....." Andini datang di waktu yang tepat. Mamah segera menyambut anak perempuannya yang sudah mulai membuncit.
"Wa'allaikumsalam...."
Mamah segera mendekat, mengusap perut Andini seraya menyapa kedua cucunya.
"Kenapa sayang kok manyun gitu? bukannya abis nengokin kembar?" tanya mamah yang heran dengan sikap anaknya.
"Sayang...."
"Mas nyebelin!" Andini segera melangkah menuju Andika dan memeluk sang kakak dengan erat.
Andika yang tak siap segera meraih tangan Erna agar tidak terjatuh. "Wooow santai bumil!nggak lucu kalo kita sampe ngejengkang berlima. Oke!"
Andini terisak di pelukan Andika membuat semua mata tertuju pada Raihan. Termasuk Andika yang sudah menatapnya tajam.
Sedangkan Raihan hanya bisa menarik nafas panjang kemudian menceritakan apa yang terjadi hingga membuat Andini merajuk dan nangis seperti ini.
"Minta mixue, emang tadi udah janji mau beli dari pagi. Tapi Rai bilang tengokin Cantika dulu karena mamah papah ada di sini. Tapi nggak ngerti malah merengut begini." Raihan mengusap kasar wajahnya, memang benar kata dokter yang menangani Andini tadi. Harus banyak bersabar menghadapi bumil apa lagi hamil kembar. Satu aja pusing apalagi dua.
"Udah Andika, kamu turuti apa maunya adik kamu itu. Raihan pasti capek sudah membujuk Andini sejak tadi, tau sendiri bagaimana adik kamu jika sedang ada keinginan, di tambah lagi kembar yang mulai memanfaatkan keadaan," ucap Papah yang memberi solusi terbaik tapi merugikan bagi Andika.
"Udah jangan nangis! bisa banget loe kalo ngidam larinya ke gue! awas aja tuh bocil dua kalo nggak sayang sama Uncle nya, gue kirim ke Pluto biar nggak bisa balik sekalian." Betapa kesalnya Andika menghadapi ngidamnya sang adik yang aneh-aneh.
"Andika! anak gue itu!" ucap Raihan tak terima.
"Gue tau ini anak loe! yang bilang anak setan siapa?"
"Andika itu cucu mamah kamu bilang anak setan, terus kamu apa?" celetuk mamah yang tak tau lagi harus bagaimana menghadapi kedua anaknya jika sudah bertemu.
"Disini tuh yang teraniaya Andika loh mah!" Ucap Andika memelas, kemudian menatap sang adik yang masih dalam dekapan. "Loe juga, udahan acara peluk-peluknya balik ke laki loe sana!"
"Bikin kesel gue loe bertiga! loe kata itu kagak ngantri belinya! beli tuh nggak usah yang kekinian. Susah dapetnya gue harus ngantri sama ciwik-ciwik!"
"Mah..." rengek Andini, kemudian melepas pelukannya dan beralih ke Cantika lalu memeluknya.
"Loh kok bukan ke mamah malah ke Cantika, itu GPS nya salah kali ya." Semua yang ada di sana terheran pasalnya mereka baru pertama kali bertemu.
"Kamu adik baru aku ya, jangan ikut julidin aku ya. Aku memang cantik dan menarik, kamu jangan iri ya. Dan kamu masih anak sekolah kan?"
"Iya kak," jawabnya canggung.
"Aku mau minta tolong boleh?" tanya Andini dengan mata berbinar dan tangis yang sudah reda.
"Apa kak?" tanyanya dengan wajah polos.
"Nanti kalo kamu sudah sekolah aku mau kamu beliin aku nasi soto yang ada di kantin kamu ya. Nanti pas jam makan siang di kantor, aku ambil, gimana?"
"Sungguh membangongkan keinginan bumil yang satu ini." Semua yang ada di sana menggelengkan kepala melihat kelakuan bar-bar Andini.
"Tapi harus kamu yang meraciknya!"