
Di dalam ruangan 2x2 meter, dengan dinding tebal dan pintu jeruji besi serta lantai yang dingin. Keadaan yang menyiksa batin jauh dari kemewahan yang biasa di dapatkan. Seorang pria dengan muka memar kini sedang meringkuk kesakitan.
bugh
"Tidur lagi loe, enak banget hidup loe!"
"Ampun bang, nanti gue lanjutin lagi. Gue capek banget bang."
"Gini ngeluh loe! loe masuk penjara gara-gara aniaya istri loe kan! beraninya sama perempuan, tapi baru di suruh begini aja udah bilang capek!"
"Tau loe, anak baru tuh nurut bukannya banyak alasan begitu!"
"Bangun loe!"
Gio beranjak bangun tapi hantaman tangan pria berotot kembali menghajar wajahnya hingga hidungnya kembali berdarah.
Bugh
Bugh
"Ampun Bang," lirih Gio.
"Banci loe! gue penjahat bahkan gue masuk penjara karena bunuh orang, tapi gue nggak pernah nyakitin perempuan apa lagi istri!"
Gio terkapar di lantai, sudah sejak pertama masuk penjara dia mendapatkan tindakan kasar bahkan tubuhnya kini sakit semua.
Gio teringat perlakuan kasarnya pada Erna, dia begitu menyesal telah bertindak buruk pada Erna. Dia juga tak menyangka jika berujung penjara. Ingin rasanya bertemu Erna dan menanyakan keadaan bayinya. Tapi dia tidak bisa. Tempatnya saat ini bukan lagi di rumah mewah, tapi di dalam jeruji besi bergabung dengan orang-orang Nara pidana.
Kabar meninggal anaknya belum sampai di telinga Gio, bahkan dia tak tau jika Erna masih berada di rumah sakit. Setelah berita tertangkapnya Gio hingga harus memakai baju orange. Kedua orangtuanya tak perduli lagi pada Gio, dia dianggap sudah mencoreng nama baik keluarga. Bahkan sang Papah telah memutuskan untuk tidak membantunya sama sekali.
Gio benar-benar sudah lemah, dia tak sanggup lagi berdiri. Tapi temannya satu sel tak perduli, mereka terus menghajar hingga tubuhnya terpental ke dinding saat tendangan dari bos yang ada di dalam sel itu.
"Ugh...."
"Ini belum setimpal sama kelakuan loe nyakitin istri loe! dasar anak nggak tau diri!" sentaknya.
Bayangan wajah Erna semakin terlihat, air matanya menetes membayangkan sakitnya Erna saat ia menghujam nya tanpa ampun hingga pendarahan. Bahkan ia sampai hati mengulanginya padahal Erna sudah merintih tak kuat.
"Maafin aku Erna...maafin aku!" gumamnya di sela tangisnya.
"Jangan nangis! air mata loe aja jijik banjirin wajah bejaat loe! seorang laki-laki yang nggak punya hati! pembunuh kayak gue aja masih punya pengecualian. Tapi loe, loe pikir loe lahir dari mana hah? batu?"
Selain fisik, mentalnya pun ikut sakit. Bukan karena kata-kata kasar yang terlontar melainkan dari ingatannya sendiri yang kembali mengingat semua yang terjadi pada hidupnya. Perlakuan yang tak pantas bahkan sejak menikah tak pernah ada kata-kata manis yang keluar untuk Erna.
Dia merasa ini lah balasannya, apa yang ia tanam itu yang ia tuai. Dan ia sedang merasakan buah dari apa yang ia lakukan selama ini pada istrinya. Hukuman setimpal dengan apa yang ia perbuat.
"Saudara Gio!" seru Pak polisi.
"Bangun loe! di panggil noh."
Gio berusaha untuk bangkit, menahan sakit di seluruh tubuhnya. Melangkah perlahan menuju pintu jeruji besi.
"Iya pak."
"Baik Pak."
Gio melangkah ke ruang khusus untuk tamu yang ingin bertemu. Dia tampak terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Selamat siang Pak Gio," ucapnya, orang itu sedikit terkejut dengan keadaan Gio yang sangat memprihatinkan.
"Siang Pak," jawabnya kemudian Gio duduk. "Ada apa Pak?"
"Saya ingin mengantarkan surat ini pada Bapak dan setelahnya harap membubuhi tanda tangan di tempat yang tertera." Gio meraih surat yang ada di dalam amplop putih di atas meja. Ia mencoba tenang saat amplop itu tertulis Pengadilan agama Jakarta Pusat.
deg
Tangannya bergetar mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Air mata menetes saat apa yang ia bayangkan di awal melihat amplop bertuliskan Pengadilan Agama, ternyata benar berisi gugatan cerai yang Erna ajukan.
Dulu hal ini yang paling ia nantikan, bahkan dia berusaha membuat Erna tersiksa hingga benar-benar menyerah. Tapi saat semua hal yang ia inginkan terwujud, hanya tinggal menandatangani semua lancar terjadi. Justru hatinya hancur hingga dadanya begitu sesak.
Tetapi seketika ia ingat akan kandungan Erna, bulan depan Erna melahirkan dan dia mencoba bertahan dengan itu.
"Tapi istri saya tengah mengandung anak saya, tidak bisa dia meminta bercerai Pak."
"Maaf Pak Gio, sepertinya anda belum tau tentang kabar anak anda yang sudah meninggal dunia, bahkan pagi ini anak anda baru di kubur."
deg
Gio memejamkan mata, ia tak menyangka dengan adanya kelakuan dirinya yang begitu kejam pada istrinya membuat anaknya meninggal dunia. Runtuh dunianya, penyesalan semakin menggerogoti dirinya.
"Pak Gio, waktu anda tak lama. Saya minta tolong anda tanda tangani segera!" perintah pengacara dari keluarga Gio yang kini justru membantu Pak Nugraha menyelesaikan masalah Gio tersebut.
Orang tua Gio pun memberi jasa pengacara secara cuma-cuma pada Pak Nugraha sebagai bentuk tanggung jawab dari pihak keluarga pria. Tanpa mereka peduli lagi pada anaknya. Karena menurut kedua orangtuanya Gio pantas mendapatkan itu semua.
Gio menandatangani kertas tersebut dengan hati ragu, entah apa yang ia rasakan sekarang. Ketika perpisahan di depan mata justru Gio seakan tak rela.
Gio kembali masuk ke dalam Sell, dia meringkuk di pojok ruangan membelakangi orang-orang yang tadi menghajarnya. Ia meratapi semua yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Rasa tak bersyukurnya dia memiliki istri yang baik hingga kini hanya tinggal kenangan sebelum ia mampu memperbaiki rumah tangganya.
Hingga keesokan harinya kabar Gio kembali menggegerkan semua orang dan media hari ini. Gio di temukan meninggal di dalam jeruji besi dengan keadaan mulut berbusa. Teman satu Sell dengannya begitu terganggu saat mencium obat serangga yang begitu menyengat. Mereka terbangun dan terkejut melihat Gio sudah terkapar dilantai dengan tubuh membiru dan mulut berbusa.
Kabar ini pun sampai di telinga kedua orangtuanya yang segera mendatangi lapas dan keluarga Pak Nugraha yang tak kalah terkejut dengan berita pagi ini. Begitupun dengan Andika dan Raihan yang tak menyangka Gio akan memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Raihan dan Andika turut hadir dalam prosesi pemakaman. Terlihat kedua orang tua Gio begitu sedih, mereka memang turut menghukum Gio. Tapi tidak terpikir akan berujung seperti ini.
"Gila sich, sadis ya matinya."
"Gue juga nggak nyangka Gio bakal berpikir sedangkal ini."
"Tapi gue rasa kurang kreatif dia."
"Maksud loe?" tanya Rai menoleh sekilas kemudian kembali menatap jalanan.
"Udah banyak kasus yang mati minum Baygon, coba dia kreatif lagi. Mati ke gencet jeruji besi kek. Kan lebih viral jadinya."
"Ngomong aja loe sama tangan gue, nich!"