
Setelah pertemuan antara dua indera perasa yang berujung pertempuran sengit di atas ranjang, kini Andini tertidur pulas di dalam kamar ruangan kerja Raihan.
Menyatu dengan cinta hingga lelah dan terlelap begitu nyenyak. Raihan keluar dari kamar mandi, melirik sang istri yang masih bergelung di bawah selimut dan segera keluar kamar setelah meninggalkan kecupan sayang.
Raihan menarik nafas dalam, masalah tadi di kantin kembali mengusiknya. Ia memanggil Andika untuk segera membahas tentang kejadian tadi. Beruntung hari ini jadwal meeting keluar kantor kosong. Sehingga jadwalnya tak membuat ia semakin pikiran.
"Gimana, udah loe urus semua?" tanya Raihan setelah sama-sama duduk di sofa bersama Andika.
"Udah, tuh mulut rasanya pengen gue tabok pake pantofel abis itu gue kasih lem tikus biar nggak asal ngecap aja jadi perempuan! Trio julid yang emang udah lama gue incer, udah gue suruh pulang. Dari dulu nggak berubah, bikin heboh aja bisanya. Seandainya loe senyumin salah satunya, udah pasti tuh kabar langsung tranding topik. Emang mulutnya pada minta di jahit!"
"Syukur dech, nggak apa-apa besok kita buka lowongan lagi. Atau nanti kita saring dari anak-anak magang, siapa yang berpotensi langsung kita kontrak."
"Hhmm...terus gimana dengan si sampah kecil itu? gue denger dia masuk rumah sakit, dia lagi bunting bro, apa nggak gila tuh orang. Seenaknya ngefitnah adik gue, eh dia sendiri yang bangk3. Enek gue jadinya....untung aja calon bini ngasih kabar, kalo nggak mah mana kita tau kalo si Andin di bikin malu!" sewot Andika. Dia sangat tidak terima adiknya di bully hingga menyedihkan. Jika kedua orangtuanya mendengar sudah pasti dia dan Raihan kena mental karena harus mendengar nyanyian dari ibu ratu.
"Iya Andini tadi bilang kalo mereka sempat ada masalah sebelumnya, makanya jadi berakhir begini. Si Cika nggak terima kalo bini gue ngehalangin si Tara buat tanggung jawab."
"Lagian ngapa adik gue ikut campur masalah mereka lagi sich, pengen di alem kali nich anak. Tapi ada yang bilang si Cika keguguran gara-gara tadi pada nyaksiin kalo dia ngeluarin darah. Terus si Tara buru-buru bawa dia kerumah sakit."
Raihan menyandarkan tubuhnya di sofa, " masalah itu biarin aja, bukan urusan kita. Mungkin itu ganjaran yang pas buat dia, gue juga udah hubungin pihak kampus, kalo gue tolak anak didiknya. Dan mungkin akan menyulitkan juga buat dia sebab nggak ada yang mau nerima karena atitudnya minus. Alamat nggak selesai tahun ini itu anak."
"Bagus lah, udah cukup setimpal sama apa yang udah dia buat. Ya gue tau kalo kita bukan Tuhan yang bisa menghakimi orang, tapi gue juga nggak bisa diem aja kalo liat adik gue di hina kayak tadi. Eh ngomong-ngomong kemana Adik gue?"
"Lagi tidur di kamar," jawab Raihan singkat.
Andika segera beranjak ingin menghampiri Andini karena dia sejak tadi belum bicara pada adiknya. Apa lagi dia lihat sang adik begitu tertekan. Tapi Raihan yang melihat pergerakan Andika segera beranjak dan menghentikan.
"Tunggu-tunggu, loe mau kemana?"
"Ck, gue mau lihat doank. Loe masih aja cemburu sama gue, ingat gue Abangnya. Buang jauh-jauh tuh rasa cemburu loe itu, gue cuma khawatir sama adik gue, dari tadi gue belum ngomong sama dia." Andika kembali ingin melangkah tetapi tak di perbolehkan lagi oleh Raihan.
"Loe ngapa sich bro?" kesal Andika menatap heran pada sahabatnya.
"Nanti aja tunggu orangnya bangun dulu. Jangan main masuk, gue nggak bakal bolehin loe masuk ke kamar!"
Andika memicingkan mata, menatap dengan seksama sahabatnya yang benar-benar melarang. Tak biasanya Raihan begitu kesal akan sesuatu yang tidak dia perbolehkan. Sedangkan di setiap sudut ruangan pun Andika leluasa singgah.
"Njiiir rambut loe basah, baru sadar gue! Bangs@t! Abis kuda-kudaan loe ya? astaga bisa-bisanya kalian berdua, gue yang puyeng loe yang pada seneng-seneng!" Andika kembali duduk di sofa, menatap jengah sang sahabat yang ketauan selesai asik-asik.
Raihan tak menggubris, baginya ini sensasi di kala hati sedih. Menyalurkan segala emosi dan rasa sayang hitung-hitung pacaran setelah menikah.
"Jangan berisik, ntar bini gue bangun. Kasian capek dia," oceh Raihan.
"Bodo! kelakuan loe berdua. Er... gue nggak kuat pengen kawin!" rengek Andika membuat Raihan sekarang yang menatapnya jengah.
"Udah mandi sayang?"
"Hmm....Laper mas," rengek Andini tiba-tiba duduk di pangkuan suaminya. Memeluk Raihan dengan manja.
"Adik luknut! loe nggak liat ada gue disini! main pangku-pangkuan aja loe!" sewot Andika, membuat Andini sontak turun dari pangkuan Raihan dan duduk di sampingnya.
"Pelan-pelan sayang, gercep bangat!"
"Sejak kapan kakak disini?" tanya Andini dengan tatapan tajam menyelidik seperti ingin menguliti Andika hidup-hidup. Tapi sang kakak tak merasa takut justru mendekat dan menoyor kepala adiknya.
"Sejak loe masih telanjaaang di bawah selimut!" lirih Andika tapi seperti ancaman untuk Andini.
"Diem loe kak! berisik!" kesal Andini padahal itu hanya alibinya untuk menutupi malu pada sang kakak. Raihan merangkul pundak Andini hingga sang istri menatapnya kemudian mengecup kening dengan mesra.
"Malu ada kakak!" Bisik Andini.
"Biarkan setelah ini ia akan keluar." Lirih Raihan kemudian memeluk sang istri begitu erat.
Andika yang melihat kemesraan keduanya di buat panas dingin tidur bangun tidur lagi, si Joni dibuat merana meratapi tak ada pasangan. Andika merutuki sikap keduanya yang terang-terangan mengumbar kemesraan di depan jomblo yang sedang proses memantapkan hati menjadi pebinor sejati.
"Gila loe berdua! woooyy kalian pikir nggak ada orang disini. Dasar adik kepaaraat!"
Andika segera beranjak dari duduknya kemudian melempar bantal sofa kearah keduanya sebelum pergi menuju ruangannya.
Raihan dan Andini yang melihat kekesalan Andika justru di buat tertawa. Raihan sengaja membuat Andika panas agar segera keluar dan tidak berdebat dengan sang istri.
"Jahat dech!"
"Kamu juga diem aja, nanti di kutuk loh sama kakak kamu!" sahut Raihan.
"Mana ada, yang ada dia malah doain aku cepet ngasih keponakan. Padahal kan aku masih belum lulus kuliah, masak udah hamil. Nanti kuliah aku gimana, ada-ada aja dech."
Mendengar penuturan sang istri, Raihan langsung berubah. Dia tak menanggapi tak juga marah. Berusaha mengerti karena Andini yang masih muda dan belum siap sejak awal. Walaupun di hati ia sangat menginginkan.
"Mas...." Andini memanggil Raihan saat melihat perubahan wajah Raihan yang membuatnya merasa bersalah.
"Apa mas Rai marah?"
"Nggak dek, aku nggak marah. Apa yang membuatku marah? Aku sedang bahagia." Raihan mengecup tangan Andini, berusaha tersenyum walau ada ganjalan di hati.
"Apa karena ucapanku tadi mas buat kamu berubah? aku tau senyuman itu bukan senyuman bahagia, aku kurang peka dalam bersikap ...."