One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 64



Andini terjingkat saat ada tangan kekar yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Tapi senyumnya merekah saat merasakan hembusan orang yang ia sayang, begitu terasa hangat menerpa tengkuknya hingga tubuh Andin meremang.


"Ngapain sayang?"


"Lagi buatin kopi suami aku," jawabnya santai seraya mengaduk kopi.


"Kamar yuk!" ucap Raihan yang semakin menelusupkan kepalanya disela-sela leher Andin.


"Eh, nggak jadi lanjut kerja? biasanya habis makan malam lanjut kerja makanya aku buatin kopi biar nggak ngantuk."


"Lagi pengen ngerjain kamu, sini kopinya aku minum." Raihan mengambil cangkir kopi yang masih berasap. Menghirup hingga memejamkan mata, kemudian menyeruput dengan mata berbinar. "Enak sayang."


"Lagi ada maunya aja makanya ngerayu, iya kan?"


"Nggak gitu, nich aku minum lagi." Raihan kembali menyeruput kopi buatan Andin hingga tersisa setengah. "Sekarang giliran aku nyeruput kamu." Raihan menyambar bibir mungil Andin dengan kilat dan frekuensi yang dalam.


"Meresahkan sekali kamu mas, tapi jangan disini juga mas, nanti kalo simbok liat gimana?" Wajah Andini sudah memerah, sang suami tak tau tempat. Main nyerobot tanpa melihat situasi.


"Simbok udah aku suruh tidur," ucap Raihan ngasal. Walaupun tadi dia sempat melirik kamar simbok yang tertutup.


"Yang bener mas?" tanyanya dengan wajah polos.


Raihan tersenyum dan tanpa aba-aba ia membekap mulut Andini dengan bibirnya, malam ini ia begitu bersemangat. Apa lagi sejak tadi siang sang istri membuatnya gemas.


Menekan tengkuk Andini hingga semakin dalam dan bergairah. Tangannya mulai mengusap punggung Andini membuat gelayar hangat di tubuhnya. Hingga suara manja Andin mulai terdengar dengan tangan yang sudah melingkar di leher Raihan.


"Astaghfirullah....." simbok begitu terkejut, beliau segera membalikkan badan dan pergi dari sana. Simbok yang berniat membersihkan dapur setelah tadi melipat pakaian di kamarnya begitu terkejut saat langkahnya sudah sampai di samping meja makan.


"Owalah pengantin baru, kamarnya apa bocor sampe nyasar di dapur," gumam simbok, kebetulan malam ini memang cuaca di luar sedang hujan deras.


"Mas..."


"Nggak apa-apa sayang, rileks aja!"


Andini di buat kewalahan hingga tak dapat berkutik saat Raihan sudah membuka pakaiannya hingga polos tak tersisa. Ia tadi sudah mengunci seluruh pintu agar Pak Mugi tidak tiba-tiba masuk kedalam.


Raihan tak pernah seperti ini, bahkan Andini turun dengan pakaian terbuka saja ia tidak perbolehkan. Kini justru berfantasi liar hingga terealisasikan.


Andini pun tak menyangka jika Raihan tiba-tiba mengajaknya tanpa tau tempat, hingga berakhir di sofa ruang keluarga dengan keadaan yang berantakan akibat pergulatan panas.


"Makasih sayang..."


Raihan mengecup pundak polos Andini. Posisi nya kini berada di pangkuan Raihan dengan mendekap tubuh kekar sang suami. Si Jeni juga masih mencengkeram Joni dengan kuat dan belum mau melepaskan.


"Capek sayang?"


"Lumayan, tapi kamu keterlaluan. Kalo simbok tau gimana?"


"Tidak usah di pikirkan, bersamamu aku merasa nyaman. Nggak pernah aku seperti ini sebelumnya," lirih Raihan. Bahkan ia tak peduli dengan pakaiannya yang ntah sudah kemana.


"Ayo ke kamar!"


"Ngapain lagi?"


"Lanjutkan yang ini, si Jeni belum mau melepaskan jadi siap ronde berikutnya!" Raihan segera mengangkat tubuh Andini dan membawanya menuju kamar. Dengan polos, keduanya berjalan menaiki tangga hingga masuk ke dalam kamar dan terjadi lagi pergulatan yang semakin panas.


...****************...


"Bukan urusan kamu, bukannya kita di larang ikut campur. Kenapa bertanya di saat aku juga mulai tak peduli sama kamu?" jawab Erna santai dengan berselonjor kaki di atas ranjang. Gio, suami Erna yang baru pulang kerja tiba-tiba bertanya, entah ia tau dari mana jika Erna di antar pulang oleh Dika.


Gio tersenyum miring mendengar ucapan dari sang istri, dia melangkah mendekati dan mencengkeram dagu Erna hingga Erna meringis dengan mata mulai berair.


"Kamu mulai ngelawan sekarang! oke, bagus kalo kamu udah mulai cuek. Jangan besar kepala aku nanya kamu pulang sama siapa. Aku nggak perduli sekalipun kamu mau ngejal@ng di luar sana. Tapi kamu harus inget, status kamu istri aku jadi jaga nama baik aku. Ngerti!" Gio melepaskan cengkramannya hingga tubuh Erna terhempas kesamping.


Erna menatap Gio yang mulai menjauh, pria itu berganti baju dan siap pergi lagi. Kebiasaan yang Erna hafal hingga sekarang, suaminya akan pulang dengan keadaan setengah mabuk dan memaksanya untuk melayani.


"Kalo gitu kita bercerai saja!"


Langkah Gio terhenti mendengar ucapan Erna, ia tersenyum miring kemudian berbalik dan menatap Erna.


"Jangan harap! Siapa yang ngajarin loe sampai berani kayak gini, hah?"


"Ini murni keinginan aku, setelah anak ini lahir kita bercerai. Aku nggak mau mati konyol dengan pria psikopat seperti kamu, maniak!" sentak Erna yang sudah tak mampu menahan emosinya.


"Berani kamu sama aku?" Gio kembali mendekat, ia jambak rambut Erna hingga wanita itu begitu kesakitan. "Jangan pernah macam-macam sama aku, kita nggak akan bercerai!" bentak Gio dengan menarik rambut Erna.


"Apa mau kamu Gio? kamu selalu nyakitin aku dan nggak mau menerima aku sebagai istri kamu tapi kamu juga nggak mau melepaskan aku! Jangan gila Gio, lepaskan aku atau aku tuntut kamu karena sudah melakukan tindak kekerasan!"


"Aku ingin kamu menderita hingga pria yang selama ini menunggu kamu bosan dan pergi, karena akibat perjodohan ini aku di tinggal menikah dengan pacar aku. Dan kamu harus merasakan itu!" Gio melepas cengkeraman di rambut Erna dengan mendorongnya hingga Erna meringis kesakitan.


,


,


,


"Sayang.."


"Eugh..." Andini yang masih terlelap nyenyak terpaksa harus terjaga saat kecupan menghujani wajahnya. Raihan yang sudah sejak tadi membangunkan tak juga membuat Andini membuka mata. Hingga pria itu gemas dan mengecup seluruh wajah Andin.


"Bangun sayang, udah siang nanti kita telat loh!"


"Mas kayaknya aku baru aja tidur udah di suruh bangun lagi. Badan aku masih lemes banget, kamu mainnya heboh banget sich," keluh Andin. Semalam Raihan menghentikan aksinya saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Andini di gempur habis-habisan sampai tak kuat membuka mata. Setelah permainan selesai Andini segera terlelap.


"Tapi enak kan sayang? kamu aja ketagihan, nanti malam lagi ya. Aku suka kamu makin nakal!"


"Maasss....." rengek Andini dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Raihan tertawa, istrinya selalu malu-malu jika di bahas kembali padahal saat di praktekan dia sangat menikmati bahkan lupa akan rasa malunya.


"Mau aku mandikan atau mandi sendiri, hhmm? Aku sich udah mandi tapi rela kok kalo harus mandi lagi bareng kamu."


Andini membuka selimutnya menatap sang suami dengan wajah yang di tekuk. "Stop ya mas, jangan sampe aku suruh kamu puasa tiga malam!"


"Iya sayang ampun, makanya ayo cepat bangun. Ini udah jam setengah tujuh loh!"


"Haahh!" Andini segera menyingkap selimutnya kemudian menabrak badan Raihan.


"Eeh....katanya nggak mau aku mandiin? kok nemplok gini?"


"Gendong..." rengek Andini membuat Raihan gemas dan mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam kamar mandi.