One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 56



Andini kembali keruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih tersisa. Masih ada waktu dua jam menuju jam pulang kerja, seenggaknya cukup untuk dirinya menyelesaikan.


Melangkah keluar ruangan sang suami langsung di sambut dengan baik oleh sekertaris yang sejak awal menatapnya malas. Tapi kali ini ia sedikit menundukkan kepala dan menyapa.


"Bu Andini..."


"Eh...i..iya, lain kali biasa aja ya mbak." Andini segera melangkah dengan cepat sebelum mendengarkan jawaban dari sekertaris Raihan.


"Ikh berasa uda tua gue, di panggil Bu. Pake nunduk-nunduk segala lagi itu kepalanya," gumam Andini yang kini berada di lift yang membawanya menuju divisi marketing.


Masuk kedalam ruangan kembali di sambut oleh Pak Heru yang juga menyapanya dengan sopan. Hingga Erna yang melihat ekspresi Andini yang tidak nyaman justru tertawa.


"Mbak, orang pada aneh dech liatin aku begitu banget. Nggak nyaman aku jadinya," keluh Andini. Tetapi di tanggapi kekehan dari Erna.


"Mereka pada menghormati kamu karena mereka sekarang tau kamu istri dari bos mereka."


Andini menarik nafas dalam, "ini yang aku hindari, aku nggak suka gitu mbak. Maunya biasa aja, mbak jangan gitu ya! awas kalo ikut-ikutan seperti mereka! nanti dedek bayi nggak aunty beliin cilok!" ancam Andini.


"Cilok?"


"Hmm..."


"Orang dedek bayi sukanya cimol!"


"Ikh kok sama kayak om Andika, suka banget sama cimol. Nanti kalo udah keluar aunty beliin semangkok biar makan berdua sama Pipih Andika ya," ledek Andini membuat Erna kemudian memfokuskan diri ke layar laptop.


Melihat sikap Erna membuat Andini tertawa puas karena sudah berhasil meledek bumil idaman kakaknya.


Andini melangkah menuju parkiran setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, sedikit telat dari jadwal pulang kantor karena Tara yang tak kembali setelah mengantar Cika ke rumah sakit.


Sampai di parkiran Andini segera membuka pintu mobil untuk masuk dan bergegas pulang. Tetapi urung ia lakukan saat tarikan tangan dari seseorang membawanya hingga ke sisi gedung kantor.


"Tara!" Tara melepas cekalan tangannya. Menatap Andini dengan tatapan elang yang membuat Andini sedikit bergidik ngeri.


"Mau apa?"


"Jelasin?" tegas Tara.


"Apa?" tanya Andin pura-pura tak mengerti.


Tara mendengus kesal, melihat Andin yang sengaja tak ingin menjelaskan. Hingga Tara kembali berusaha menanyakan maksud dari semuanya. Ia masih tak percaya jika Andini sudah menikah, sedangkan mereka belum lama berpisah.


"Bener loe udah nikah?" tanyanya lagi, yang mendapat anggukan dari Andini.


"Sejak kapan?"


"Satu bulan yang lalu."


Rahang Tara mengeras, jawaban Andin membuatnya semakin salah paham. Dia mengira jika Andini pun selingkuh, tidak mungkin tak terjalin hubungan apa-apa dan langsung menikah.


"Jadi selama ini loe juga main api di belakang gue?"


"Loe kenal gue lama Tara, loe tau bagaimana gue! pernah selama pacaran gue dekat dengan cowok lain?"


Tara terdiam mendapatkan pertanyaan yang membuatnya sadar jika Andini memang tak pernah berteman dengan pria lain di luar batas. Bahkan banyak yang menyukainya tapi tak seorang pun ia tanggapi.


"Terus kenapa bisa? nggak mungkin kalian bisa menikah jika nggak ada hubungan sebelumnya. Ada yang loe tutupi dari gue? Apa ini cara loe balas dendam sama gue?"


"Otak loe picik Tara! asal loe tau, semua ini bermula dari loe! semua ini gara-gara gue sakit hati sama loe! semua ini gara-gara perbuatan jijik loe itu! andai itu nggak terjadi mungkin gue belum menjadi istri saat ini! Dan sekarang loe nuduh gue main api? loe nuduh gue selingkuh? loe nuduh gue balas dendam? dangkal pikiran loe Tara!"


"Loe nggak perlu tau apa alasan gue menikah dan loe bebas berpikir apapun tentang gue, gue nggak perduli! Tapi satu hal yang perlu loe tau, gue bersyukur dengan adanya kejadian itu, gue jadi tau siapa pria yang selama ini gue sayang! gue jadi tau siapa pria yang bilang cinta tapi ternyata dusta! Dan dengan adanya perselingkuhan kalian, sekarang gue jatuh ke tangan pria yang tepat. Orang yang tulus sayang sama gue tanpa menuntut apapun."


"Andini....." lirih Tara.


"Gue tau Tara, Cika memang berniat ingin merebut loe dari gue karena dia sakit hati dengan hubungan kita. Tapi asal loe tau, sekeras apapun usahanya dia menggoda loe andai loe memang setia dan benar cinta. Semua nggak akan terjadi!"


Andin segera meninggalkan Tara tetapi secepat mungkin Tara mencegahnya. Ia menarik Andini hingga jatuh kepelukannya.


"Lepas!" sentak Andini. "Jangan loe melebihi batas Tara! status gue udah jelas sekarang!"


"Gue bakal lepasin loe, tapi please jangan pergi dulu." Tara melepaskan pelukannya, ia sadar jika Andini tidak nyaman dan mungkin tak ingin menyakiti hati pasangan. "Gue sayang sama loe, gue cinta sama loe, gue sadar gue salah. Gue tau apa yang gue lakukan fatal. Tapi rasa gue bukan dusta, itu nyata. Hanya saja nafsu yang buat gue tega nyakitin loe!"


Tara mengusap lembut kepala Andin dengan senyum yang ia paksakan. " Gue bodoh udah nyia-nyiain kepercayaan dari loe, maaf. Dan gue menyesal." Tara menundukkan kepalanya, matanya basah tapi tak bisa membuat semua kembali sepeti dulu lagi.


Tara mendongakkan kembali kepalanya, tangannya terulur ingin menggenggam tangan Andini tetapi Andini segera menghindar.


"Maaf...."


Tara menarik nafas dalam, menatap mata Andin yang terbalut luka. "Loe bahagia?" tanyanya lagi dan Andini menganggukkan kepalanya.


Tara tersenyum getir, sungguh ia menyesal. " Bahagia ya...."


"Tapi kelak jika dia nyakitin loe, datanglah ke gue. Gue janji, seandainya kesempatan kedua itu datang. Nggak akan gue ngelepas loe lagi," lirih Tara dengan wajah sendu.


Andini menatap Tara tak tega, tapi ingin mendekat dan mendekappun ia tidak bisa. Dia tak mungkin melangkah dan berakhir salah paham.


"Gue doain loe mendapatkan jodoh yang lebih baik dari gue, jangan terus menyesal. Loe juga harus bangkit, ikhlasin gue biar loe bisa buka hati lagi buat wanita lain."


"Gue nggak tau Ndin bagaimana nanti, tapi lihat loe bahagia gue tenang. Makasih ya buat semuanya, kita masih tetap berteman kan?" tanyanya lagi dengan penuh harap. Tara tak ingin semua berakhir begitu saja, setidaknya ia masih bisa berteman dan bisa membantu Andini jika dalam kesulitan. Bukan putus dan saling dendam.


Andini tersenyum, "iya, kita berteman."


"Makasih ya, sorry sempet buat emosi. Dan selamat atas pernikahan kalian."


"Iya makasih, ya udah gue balik dulu ya...."


"Hhmm.."


Andini memutuskan untuk segera pulang, hari sudah gelap sudah pasti suaminya menunggu di rumah. Melangkah dengan tergesa hingga tak melihat ada lubang yang membuat heels nya tersangkut dan sempat akan terjatuh andai saja tak ada yang sigap menolongnya.