One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 60



Sepanjang perjalanan pulang hanya hening yang tercipta, Andini tak menyangka jika pembicaraan dengan Erna tadi di dengar oleh suaminya yang berbuntut saling diam.


Hingga di rumah pun keduanya masih diam, walaupun Raihan tetap bersikap manis dengan membukakan pintu dan menggenggam tangan istrinya ketika masuk rumah. Jika di lihat orang lain pun tak ada yang tau jika keduanya sedang ada konflik batin.


Sampai di kamar Rai segera masuk kamar mandi, melepas genggamannya tanpa bicara. Andini yang melihat itu hanya bisa menarik nafas dalam. Tak menyangka ucapannya berpengaruh pada sang suami.


"Baru minta pendapat mau kabe, belum juga di lakuin tapi udah kena semprit. Jangan!" Andini merebahkan tubuhnya di ranjang, masih dengan berbalut baju kantor ia menatap langit-langit kamar.


"Sebenarnya nggak apa-apa juga hamil, tapi gue kan masih sibuk kuliah. Masih harus skripsi, sidang, bolak balik nyari bahan, pasti repot dan bikin kecapekan. Apa nggak kasian sama debay nya coba. Hhuuuuhhff ini kenapa gue nggak mau nikah selama masih kuliah. Gue nggak bayangin lagi repot-repotnya eh gue malah bunting."


"Ya Allah...emang harus banget ya Andin hamil secepatnya? Apa iya bikin suami makin sayang? Tapi Andin masih muda belum pengalaman..."Setelah bergelut dengan pikirannya, Andini terlelap hingga dengkuran halus terdengar.


Raihan yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak mengernyit saat melihat sang istri tertidur pulas. Memakai pakaian kemudian mendekati Andini dengan duduk di pinggir ranjang. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Andin yang sedikit cabi.


"Aku tau kekhawatiran kamu, tapi kamu nggak sendiri. Ada aku yang selalu mendampingi, aku juga tau kamu cemas karena masih muda. Tapi hidup nggak selalu hanya diam dengan logika, kita juga harus mencoba dan mempraktekkan. Aku yakin, kamu wanita yang hebat. Kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik."


Cup


Raihan mengecup kening dan bibir Andini. Dia tidak marah, hanya ingin berpikir lebih jernih lagi dalam menyikapi ucapan Andini yang ingin menunda anak. Sedangkan di usianya yang sudah dewasa ia sangat ingin.


Malam harinya Andini hanya diam berdiri di balkon kamar, sejak makan malam Raihan masuk ke dalam ruang kerja dan belum keluar. Andini yang bosan memutuskan untuk mencari angin segar dan menjernihkan pikiran.


Masalah tadi sudah tidak lagi di ungkit, tapi cukup buat Andini pusing. Karena Raihan masih diam dan tak banyak bicara. Angin berhembus semakin kencang, Andini yang menutupi pakaian tidurnya dengan baju kimono mulai mengeratkan pelukannya. Tangannya bersedekap dada hingga tangan kekar Rai melingkar di perutnya.


"Mas..."


"Kenapa malam-malam di luar, hmm?"


"Pengen nyari angin aja mas," jawab Andini dengan tubuh meremang karena Raihan mulai mencium tengkuknya.


"Nyari angin tapi kamu kedinginan sayang, pakaian kamu tipis nanti malah sakit. Kedalam yuk, biar aku peluk sambil tidur." Raihan semakin mengeratkan pelukannya, mendekap Andini dan semakin menelusupkan wajahnya di leher jenjang Andin.


"Mas udah nggak marah?" lirih Andini.


"Kapan aku marah?"


"Tapi mas diemin aku."


Raihan merenggangkan pelukannya, membelikan posisi Andini hingga berdiri berhadapan.


"Diam ku untuk berpikir, bukan karena marah. Aku nggak mau ketika aku emosi justru akan mengeluarkan kalimat yang menyakitkan hati kamu. Sayang, untuk masalah yang tadi kita serahkan saja sama Allah. Jika sudah rejeki dan nanti ada buah cinta kita di sini, berarti rejeki kita di kasih cepat. Tapi kalo belum berarti memang belum waktunya. Jangan di cegah atau kabe, jujur aku berharap. Tapi aku pasrah dan jangan khawatir jika nantinya kamu belum siap. Kamu nggak sendiri sayang, ada aku yang selalu mendampingi kamu."


Andini memeluk erat tubuh Raihan setelah mendengar penuturan suaminya tadi. Ada rasa tenang di jiwa, dirinya yang merasa ragu kini mulai memantapkan hati.


Raihan pun membalas pelukan istri dengan dekapan hangat. Dia paham, Andini hanya butuh pengertian dan ketenangan bukan emosi dan marah-marah.


"Kenapa mas?"


"Nggak apa-apa sayang, malam ini nggak ada cita-cita mau puasin aku?" Raihan mulai naik ke ranjang dan memeluk Andin.


"Mas..... kamu nggak capek apa, aku lelah banget loh mas. Si Jeni juga udah tidur," keluh Andini. Dia memang sangat lelah hari ini. Rasanya tidak sanggup jika harus meladeni.


"Yang capek otak aku, si Joni kan seharian tidur. Makanya dia mau bangunin si Jeni. Gimana sayang? sebentar aja ..." bujuk Raihan.


"Mas....." Andini menatap Rai dengan tatapan tajam.


"Oke-oke ya udah tidur, aku nggak akan ganggu sayang. Tapi aku meluk kamu boleh ya."


"Hhmm....tapi awas kalo merusuh!"


"Iya sayang ..." Malam ini benar-benar istirahat dan Rai pun berusaha untuk segera tidur dan memejamkan mata sebelum otaknya kembali bekerja dengan khayalan yang melalang buana.


"Mbak Erna kenapa? kok mukanya sembab gitu, terus ini....tangan mbak kenapa?" Andini sudah datang pagi-pagi karena sebelum subuh di kerjain oleh Rai yang merusuh hingga terbangun. Dan saat sampai di ruangannya, ia melihat Erna dengan wajah sendu diam di kursinya sedang mengelus perut. Di tambah lagi ada bekas biru di pergelangan tangan dan beberapa di lengan kirinya.


"Nggak apa-apa kok Din, tadi terbentur pagar rumah jadi gini."


Andini tak percaya begitu saja, dia berpikir tak mungkin hanya karena terbentur pagar hingga membuat kedua lengannya membiru. Matanya menelisik hingga kembali di buat tercengang saat melihat ujung bibir Erna pun menyisakan bekas luka yang sudah mengering.


"Mbak nggak pengen cerita sama Andin? Andin janji nggak akan cerita ke kak Andika."


Erna menatap Andini dengan tatapan yang sulit di artikan. Ntah kenapa hatinya ragu untuk mengumbar aib suami. Dia juga tak yakin jika Andika nanti tak akan mencecar adiknya. Tangan Erna menggenggam tangan Andin dengan senyum. yang ia paksakan.


"Mbak baik-baik aja dek, makasih ya udah perhatian sama mbak," ucap Erna. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


"Mbak, jika berat jangan sungkan buat cerita sama aku ya, walaupun aku nggak bisa bantu mbak. Tapi aku akan jadi pendengar yang baik. Aku udah anggap mbak seperti kakak aku sendiri," ucap Andin tulus.


"Iya dek, udah lah pagi-pagi kok mellow gini. Ayo mulai kerja!"


"Iya mbak..." Andini yang tadi sempat meneteskan air mata segera mengusapnya. Apa lagi ia lihat Tara dan Pak Heru sudah datang.


"Itu muka kenapa pada sendu begitu?" tanya Tara melihat Erna dan Andini secara bergantian.


"Urusan perempuan!" jawab keduanya serentak.


...****************...


Aku mau buat cerita Andika dan Erna di tetangga sebelah. Kira-kira bagaimana ya menurut kalian, lanjut disini setelah Raihan dan Andini happy ending atau di sebelah?