One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 67



Sampai di kantin Andika segera meminum minuman Erna hingga tandas, emosi membuatnya haus dan serasa gerah. Membuat Erna yang sedang menikmati makan siang begitu terkejut dengan Andika yang tiba-tiba datang dan menyambar minumannya.


"Kenapa?"


"Panas!"


"Emang AC nya nggak berasa?"


"Otak gue yang sepaneng bikin suhu AC kalah, belum lagi hati gue yang kesel bikin temperatur diri gue naik berkali-kali lipat!" ucap Andika asal.


"Loe ngomong apa sich? ngelantur aja, nggak ngerti gue!" Erna melanjutkan kembali makannya, bekal sehat yang ia masak sendiri.


"Gue abis ketemu sama bokap loe!"


uhuuuk uhuuuk


Melihat Erna yang tersedak membuat Andika segera menyambar botol tetangga yang masih penuh untuk di berikan pada Erna.


"Eeh, minum aku Pak Andika! main ambil aja!"


"Udah ambil lagi sana, kasian bumil keselek. Nanti kalo beranak disini loe gue jadiin bidan dadakan mau!"


"Emang tahu bulat dadakan!" sewot karyawati itu kemudian segera mengambil lagi minuman yang sama.


"Nanti bayarin ya pak Andika!"


"Iya, goceng doank bikin rame!"


Karyawan itu adalah sekretaris Rai yang baru saja mendudukkan dirinya di samping meja Erna setelah tadi memesan makanan.


"Pelan-pelan kalo makan, kasian itu baby-nya kaget kan. Sini di lap dulu bibirnya." Dengan perhatian Andika mengusap lembut bibir Erna dengan tisu.


"Papah ngomong apa?"


"Udah nggak usah tau, ntar keselek lagi."


Erna merengut mendengar ucapan Andika, matanya memicing menatap Andika penuh tanya.


"Jangan begitu lihatnya, untung cantik kalo nggak mah amit-amit ya dek ya!" ucap Andika santai tetapi mendapat pukulan oleh Erna.


"Auwh.....kok mukul sich, harusnya nyayang, udah lupa pesona si Joni ya? sampe galak gitu sama gue!"


"Diem Andika, kesel gue tau nggak. Gue serius Dika, tadi papah bilang apa? pasti ucapannya nyakitin hati loe ya?" Erna mengkhawatirkan Andika karena sikap papahnya yang tidak pernah baik pada Andika semenjak mereka memiliki hubungan.


"Nggak, udah nggak usah di pikirin. Gue aja nggak mikirin. Gue cuma pesan sama loe, seandainya bokap loe minta loe buat balik kerumahnya, loe pulang ya! gue nggak mau loe abis sama Gio." Andika menggenggam tangan Erna, dia kini dalam mode serius, keselamatan Erna bukan untuk main-main baginya.


"Ada pembahasan tentang gue sama Gio?"


"Hmm...."


"Kalo loe ikutin hati loe berarti loe masih cinta sama gue, tapi kalo loe masih kekeh bertahan sama manusia yang nggak punya perikemanusiaan itu. Gue mundur, mungkin dulu gue masih ada keinginan untuk kembali sampe sekarang gue pengen rebut loe dari dia. Tapi untuk kali ini gue bakal menjauh sejauh-jauhnya."


"Andika..."


"Gue serius! gue nggak main-main, gue bakal perjuangin loe sampai benar-benar terlepas dari dia, tapi kalo loe nggak bisa gue perjuangin dan malah memilih bertahan. Gue nyerah! Dan gue simpulkan kalo loe udah nggak ada cinta lagi sama gue."


Andika beranjak dari sana dan memilih kembali keruangannya untuk menenangkan diri. Sebelum nanti ada meeting lagi yang mengharuskannya untuk fokus kembali ke pekerjaannya.


Erna menatap nanar Andika yang pergi tanpa menoleh kembali, ada rasa bangga begitu di perjuangkan tapi ada rasa sesak melihat mata Andika yang penuh kepiluan. Dia takut kehilangan Andika tapi juga dia tidak tau bagaimana jika nanti semua tak sesuai rencana. Hingga panggilan di ponselnya membuyarkan lamunan.


"Mamah...."


"Halo assalamualaikum mah..."


"Wa'allaikumsalam nak, bagaimana kabar kamu Erna?"


"Alhamdulillah sehat mah."


"Bayinya?"


"Dia juga sehat." Erna mengusap lembut perutnya, memberi sedikit rangsangan hingga bayinya bergerak. "Mamah gimana?"


"Mamah sehat nak, tambah sehat lagi kalo kamu mau main ke rumah, mamah sama papah kangen sama kamu. Tadi papah telpon mamah minta kamu sama Gio buat datang kerumah, kita makan malam bersama ya."


"Nanti Erna tanyakan dulu sama Mas Gio ya mah, mudah-mudahan nggak ada halangan."


"Iya sayang, ya sudah kalo gitu mamah tutup ya."


"Iya mah," Erna menarik nafas dalam, "apa ini sudah waktunya? apa semua karena Andika yang sudah bertemu dengan papah?"


Sepulang kerja Andini segera melangkah menuju ruangan Rai, tadi sang suami sudah kembali mengingatkan jika tak boleh menunggu di lobby karena dia yang masih ada sedikit pekerjaan. Masih ada berkas yang harus di revisi setelah meeting sore tadi.


"Mas...." Andini melangkah masuk dan segera menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Capek?"


"Sama siapa sayang?" tanya Raihan yang masih berkutat di meja kerjanya.


"Sama Tara dan Pak Heru. Nggak cemburu kan?"


"Sedikit."


"Ck, sedikit juga cemburu namanya. Mas aku laper dech, kamu masih lama nggak?" Andini melepas heelsnya kemudian berselonjor di sofa, "maaf ya mas!"


"Kenapa?"


"Sofanya jadi bau sikil!" Andini tertawa membayangkan.


"Mana ada kaki kamu bau, biasanya kan aku ciumi. Laper banget? kerjaan aku sedikit lagi kelar. Kalo udah laper banget pesen makan aja di aplikasi hijau."


"Pengen makan di luar sama kamu mas."


"Tumben istri aku, ya udah kalo gitu aku selesaikan kerjaan aku dulu ya."


"Hhmm ......"


Yang katanya sebentar lagi ternyata menghabiskan waktu 2 jam untuk menyelesaikan. Bahkan Andini sampai tertidur di sofa. Tepat pukul 7 Rai membereskan meja kerjanya, kebetulan Andika juga lembur untuk membantu.


"Rai...."


"Eh nich bocah sampe tidur, capek banget kali." Langkah Andika terhenti di depan sofa.


"Capek katanya, biarin aja ini gue juga udah selesai."


"Ini berkasnya, udah kelar." Andika meletakkan berkas di meja Raihan. " Gue balik ya."


"Nggak mau ikut makan sama gue dan Andin?"


"Nggak lah, pusing pala gue mau rebahan aja di rumah." Andika cukup lesu malam ini, pekerjaan yang banyak di tambah lagi harus lembur karena ada revisi. Belum lagi masih memikirkan masalah Erna.


"Jangan terlalu di pikirin, gue dukung loe!" Raihan beranjak dan menepuk pundak Andika.


"Adik ipar yang baik, ya udah gue balik."


"Hhmm......"


Raihan mendekati sang istri, bersimpuh di depannya menatap penuh makna.


"Cantik istri aku, kasian nungguin sampai ketiduran." Raihan mengusap lembut pipi Andin.


"Sayang, bangun yuk!"


"Eugh ....mas udah selesai?" Lirih Andin.


"Sudah, ayo pulang. Katanya ngajak makan di luar?" Raihan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Andin.


Andini bangun dari tidurnya, merenggangkan otot tubuh kemudian berdiri dengan tegak.


"Ayo mas, kok masih diam saja begitu."


Raihan tersenyum dan menggelengkan kepala, pria itu mengambil tas kerjanya lalu merangkul sang istri mengajaknya pulang.


Sampai di restoran mereka segera memesan makanan. Restoran sesuai rekomendasi dari Andini, dia sedang ingin sekali makan masakan Sunda. Duduk lesehan dengan musik khas Jawa barat dan tidak lupa lalapan dan sambal.


"Ayamnya empuk banget loh mas, kamu mau coba?"


"Boleh." Raihan menerima suapan dari Andin, "enak, tempatnya bagus lagi buat tempat kumpul keluarga, kamu udah sering kesini?"


"Hmm...sama temen-temen aku. Di sini merakyat mas, harganya pas di kantong anak kuliahan makannya aku sering ke sini. Makanannya juga enak," ucap Andin begitu semangat.


Sepulangnya dari sana, Andini dan Raihan segera menuju kamar dan ingin segera membersihkan diri setelah seharian berada di luar rumah.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Andin saat langkahnya berhenti di ambang pintu kamar mandi.


"Mau mandi sayang, aku gerah banget," keluh Raihan.


"Ikh aku dulu lah mas, kalo nggak kamu mandi di kamar sebelah aja."


"Nggak mau, aku mau mandi disini."


Andini yang sudah mencium bau-bau kemesuman di mata Rai segera mengalah dan membiarkan sang suami masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu nggak mandi?" tanya Rai saat melihat Andini yang hanya diam di tepat tak kunjung masuk ke dalam.


"Mas duluan aja, aku ngalah. Aku mandi di kamar sebelah, kalo jadi satu yang ada bukan mandi malah main-main." Andini membalikkan tubuhnya tetapi hal itu tak di biarkan oleh Raihan, dengan sigap ia mengangkat tubuh Andin dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas aku nggak mau!"


"Tapi aku mau!"