
Sudah tiga bulan ini Andini di sibukkan dengan kegiatannya mengurus suami dan anak. Ia yang tinggal menunggu hari wisuda memiliki waktu penuh di rumah sebagai ibu rumah tangga.
Waktu tiga bulan tak mudah untuknya belajar merawat kedua buah hatinya. Ada saja keriwehan yang ia lalui. Hingga terkadang Andini harus di buat pusing, karena walaupun ada baby sitter Andini tetap ingin terjun langsung dalam mengurus kedua anaknya. Dia tidak ingin kedua anaknya nanti lebih dekat dengan pengasuh dari pada mommynya.
Sesekali kedua orang tua serta mertuanya datang untuk membantu dan bermain bersama kedua cucu mereka. Andin pun banyak di ajarkan bagaimana cara mengurus dengan benar.
Raihan setiap malam juga ikut membantu, terkadang ia tak membangunkan Andin dan menggantikan popok sendiri karena kasian pada istrinya yang seharian sibuk mengurus anak.
Memberikan bantuan apapun yang sekiranya ia bisa agar Andin tetap nyaman dan tidak stress dengan aktivitas barunya. Sesekali Raihan pun mengajak Andini untuk makan malam di luar, shoping, nongkrong di cafe hanya untuk sekedar merefresh otak.
Seperti hari ini, sejak tadi Raihan menemani Andini memilih baju kebaya untuk acara wisuda esok hari. Andini juga memilihkan suaminya kemeja yang selaras dengan warna kebaya yang ia pilih.
"Mau kemana lagi sayang?"
"Makan dulu mas, aku lagi pengen makan bakso."
"Emang yang semalam masih kurang sayang?"
"Itu bakso nggak bisa di gigit, kalo ini bisa bikin kenyang beneran." Jawab Andini asal membuat Raihan gemas.
Setelah sampai di kedai bakso favorit Andini,ia segera memesan dan duduk lesehan. Raihan pun tak merasa keberatan di ajak ke tempat yang sederhana walaupun bukan restoran, tapi cukup nyaman.
Hingga sore hari mereka baru pulang ke rumah, sebelum bertemu dengan kembar Andini dan Raihan membersihkan diri terlebih dahulu.
Seperti biasa setelah Raihan mandi pakaian ganti sudah siap di atas ranjang. Sedangkan Andini sudah lebih dulu melesat menemui kembar di kamar sebelah. Wanita itu sudah sangat merindukan putra dan putrinya.
"Kembar sayang, mommy pulang......"
Andini masuk ke dalam kamar yang di penuhi dengan mainan dan pernak pernik lucu. Kamar khusus untuk kembar bermain dan tidur siang karena pada malam hari Andini lebih sering mengajak kedua buah hatinya tidur di kamarnya.
"Anak-anak mommy lagi apa ini?" tanyanya gemas melihat kedua buah hatinya yang gemuk berpipi chubby.
Keduanya sedang rebahan di karpet bulu di awasi mbak. Saat di panggil Andini, mereka menoleh dengan tersenyum dan menggoyangkan tangan.
"Aara mau mommy gendong ya, Abang aja nggak tuh. Abang lagi latihan miring-miring ya sayang?" Andini segera meraih Aara dan memberikan asi untuknya. Baby A memang lebih manja sedangkan Baby R sedikit cuek dan tidak rewel. Bahkan Baby R jika haus hanya terlihat gelisah dan jarang menangis jika masih dalam jangka waktu tak terlalu lama.
Setelah memberi asi pada Aara kini Andini meraih Rafkha dan memangkunya untuk di beri asi juga. Andini memberikan asi eksklusif untuk kedua buah hatinya. Dengan itu untuk sementara Daddynya mengalah.
"Assalamualaikum.... anak-anak Daddy lagi apa ini?" Raihan memasuki kamar kembar setelah rapi dan bersih.
"Mbak di tinggal aja nggak apa-apa, istirahat dulu makan sama simbok di bawah. Biar anak-anak sama Daddy dan mommynya."
"Baik Tuan, saya permisi...."
Andini berdiri menatap buah hati dengan rasa syukur, Raihan merangkul pundak sang istri lalu mengecup keningnya.
"Kamu bahagia?"
"Tentu mas, aku bahagia memiliki kamu dan kedua buah cinta kita. Nggak nyangka bisa sampai di titik ini. Makasih ya mas sudah memberikan yang terbaik untukku," ucap Andini menatap Raihan dengan tatapan penuh cinta.
"Sama-sama sayang, mommy kembar sehat-sehat ya. Aku juga sangat-sangat bersyukur memilikimu dan anak-anak. Kalian hidup dan matiku. Adanya kalian membuat hidupku lebih berwarna. Makasih sayang, sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku."
"Aku mencintaimu...."
"Aku juga mencintaimu mas..."
Keduanya menyatukan Indra perasa dengan hati mendamba. Selama tiga bulan ini Rai benar-benar bersabar dan tak minta jatah. Ia ingin Andini betul-betul merasa siap dan menjaga kesehatannya.
Raihan tak membantah jika dirinya pun merindukan kehangatan penyatuan. Tetapi demi sang istri ia mampu menahan, yang terpenting masih bisa melegakan walaupun belum dapat di ajak berduel di ranjang.
Raihan melirik kedua buah hatinya yang tampak pulas, kemudian mengajak Andini untuk kembali ke kamar dengan mengangkat tubuhnya tanpa melepas paguutan.
"Kita ke kamar!"
Sampai di kamar, Raihan segera mengunci pintu dan merebahkan Andini di atas ranjang. Mengukung tubuh sang istri yang tampak pasrah tanpa perlawanan. Menatap dengan kabut gairah dan mulai menjamah dengan penuh hasrat.
"Mas boleh minta sekarang sayang?"
"Pelan-pelan mas .."
Raihan tersenyum, "pelan-pelan" berarti di acc tanpa pikir panjang ia segera melancarkan aksinya membuat Andini sedikit meringis kesakitan.
"Kok sakit lagi ya mas, pelan-pelan jangan buru-buru mas!"
"Iya sayang, ini sudah lembut. Apa rasanya akan seperti perawan lagi?" tanyanya masih terus berusaha tapi sungguh ia tergoda.
"Mungkin ia mas, karna ini sakitnya hampir sama. Auuwhh......." Andini tak mampu menahan sakit akibat ulah Rai yang sudah tak dapat menahan. Hingga pipinya basah karena merasakan kembali perih seperti dulu. Bedanya dulu ia mabuk dan tak terlalu seperih ini walaupun setelahnya berjalan pun sakit. Sekarang perih sekali tapi setelahnya Andini dengan mudah mengeluarkan suara-suara indah membuah Raihan bersemangat.
"Kamu sudah KB sayang? atau mau buat adik untuk kembar? hhmm?"
"Sudah mas tenang saja, aku sudah memagari diri."
Raihan tersenyum samar, ia memang tak mengapa jika istrinya ingin hamil lagi. Seandainya KB pun tak keberatan karena mengerti sang istri masih ingin menikmati masa menjadi ibu untuk kembar tanpa kerepotan hamil lagi.
Yang terpenting saat ini, ia berbuka dengan tenang dan memberi Andini kenyamanan. Bukan hanya semata keinginan tapi mampu melenakkan itu yang utama.