
Andini bersiap untuk makan siang, mematikan laptopnya dan membereskan berkas-berkas di meja. Buru-buru karena sang suami pasti sudah menunggu. Tak mau banyak masalah dan berujung diem-dieman seperti semalam.
"Din, mau ngantin?"
"Oh gue...mau ke ruangan Kak Dika, tadi mamah masakin suruh buat makan berdua."
Mendengar alasan Andini Erna yang masih merapikan bekal yang akan di bawa ke kantin tertawa sendiri. Dia yang sudah tau tujuan Andini sekarang setiap jam makan siang sudah tak banyak bertanya. Apa lagi melihat bekal Andin yang lumayan banyak.
"Oh ... ya udah, gue pikir mau ke kantin sama kedua sahabat loe!"
"Eh titip salam aja ya kalo ketemu, gue nggak ngantin soalnya di tunggu kakak gue!"
"Oke!" Tara segera beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar, niat hati ingin makan di kantin dengan Andini kandas karena Andini menolak. Ntah benar atau tidak, yang ia tau Andini tidak seakur itu dengan kakaknya, sepintas terbayang wajah Rai setiap dekat dengan Andin, membuat Tara bertambah curiga dengan hubungan keduanya.
"Kakak? kakak ketemu gede?" ledek Erna.
Andini tersipu, malu-malu melihat Erna menggodanya. "Ikh mbak benar banget! aku mau ke atas dulu mbak keburu teriak orangnya."
"Ya udah baik-baik jangan sampe ada yang liat. Kalo perlu naik lift khusus CEO biar nggak di curigai staf yang lain melihat kamu bawa bekal ke ruangan bos."
"Oh oke mbak!" Andini segera meluncur ke ruangan Rai sesuai saran Erna. Lebih aman memang naik lift CEO, tak akan mungkin berbarengan dengan karyawan yang lain apa lagi lift karyawan sudah pasti penuh.
Berjalan perlahan dengan mengintip keberadaan sekertaris Rai masih di tempat atau sudah istirahat.
"Nggak ada, aman...." Andini kembali melangkah melewati meja sekertaris. "Gini amat bini bos, mau nemuin lakinya aja nyelinap kayak maling."
Andini melangkah hingga sampai di depan pintu ruangan Rai, hendak mengetuk pintu tapi telinganya menangkap suara wanita yang seperti tak asing di telinga. Tanpa mengetuk Andini membuka perlahan pintu yang memang tidak tertutup rapat.
Matanya melebar saat melihat pandangan yang membuatnya emosi jiwa. Posisi yang begitu dekat bahkan hampir tak berjarak. Dengan wanita yang ia lihat tadi pagi dan sempat menyemprotnya, kini begitu nyaman mencengkeram jas sang suami yang memang sedang meminta di lepaskan.
Sesak di dada Andini tak membuatnya untuk mundur dan lari menyek-menyek seperti adegan di FTV, Andin ingin sekali menoyor kepala wanita itu walaupun setelahnya mungkin akan memberi hukuman pada Rai karena kurang tegas dan tak cepat menghindar.
Andini menarik nafas dalam, merapikan rambutnya dan siap melangkah mendekati keduanya.
"Apa yang kamu lakukan pada suami saya?"
Mendengar suara lembut tapi terkesan tak terima membuat keduanya menoleh ke arah Andin. Sarah mengernyitkan dahinya melihat Andini yang jalan dengan santai dan mengaku jika Rai sebagai suami.
Sedangkan Rai terdiam kaku merasa tak aman dengan menatap wajah sang istri yang berusaha untuk tenang tapi menjadi ancaman baginya. Raihan segera menepis tangan Sarah dan mundur beberapa langkah memberi jarak.
"Sayang...."
Sarah tambah terkejut dengan sapaan Raihan yang memanggil Andin dengan sebutan sayang. Tapi dia masih tak percaya, dia masih mengira jika wanita yang baru datang itu adalah pacar Rai bukan istrinya. Sehingga dia masih merasa ada peluang dan masih bisa ia rebut kapan saja.
"Mas, aku bawain bekal makan buat kamu. Tapi kok baru masuk langsung di suguhkan makanan pembuka yang begitu panas ya mas. Dia siapa? kenapa nempel-nempel sama suami aku?" tanya Andini yang sengaja menekan kata suami dan merubah panggilannya pada Rai agar lebih terlihat mesra. Apa lagi Andini yang langsung masuk ke dalam pelukan Rai.
Raihan menyambut pelukan Andini, mengecup hangat kening sang istri membuat Sarah mengepalkan kedua tangannya.
"Ini model yang akan membintangi produkku sayang," jawab Raihan.
"Oh....model yang punya kuasa untuk memberi nilai minus jika mendapati anak magang yang telat."
"Kenalkan aku Sarah mantan istri Raihan," Sarah mengarahkan tangannya pada Andini dengan senyum tipis.
"Mantan ya, aku Andini istri dari mas Raihan." ucap Andini dengan senyum manja, kemudian beralih menatap sang suami. "Aku laper banget mas, makan yuk! udah aku bawain bekalnya." Andini mengalungkan kedua tangannya di leher Raihan.
"Iya sayang, ayo kita makan. Sarah aku mau makan siang dengan istriku, kamu bisa keluar dan setelah makan siang jangan lupa pemotretan."
Andini sudah meninggalkan keduanya menuju sofa untuk menyiapkan makan dan membiarkan Raihan menyelesaikan urusannya dengan mantan istri. Diam-diam Andini memasang telinga tak ingin lengah. Sudah cukup sekali kena tikung, dia tak ingin lagi kena tikung untuk kesekian kalinya.
"Ini semua rencana kamu untuk membuat aku mundur kan Rai, nggak mungkin kamu sudah menikah. Apa lagi dengan anak magang yang terlihat masih manja seperti anak sekolah begitu. Lagi pula seandainya kamu sudah menikah pasti ada pesta yang kabar beritanya kemana-mana. Tapi ini tidak ada, aku tidak mudah kamu tipu Rai!"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas hubungan kita sudah selesai, aku sudah memiliki istri dan nggak akan ada celah lagi! aku harap kamu mengerti!" Raihan melangkah mendekati Andini kemudian mencium pipi sang istri.
"Sudah siap sayang?"
"Sudah mas, ayo di makan!" jawab Andini manja.
"Enek banget gue pura-pura begini, kalo nggak gara-gara itu ulet bulu. Udah gue tinggal Kak Rai makan di kantin! biarin aja makan sendiri, dari pada gue kesel begini!"
Melihat kemesraan keduanya, Sarah begitu marah dengan muka memerah. Mau tak percaya tapi melihat cincin yang ada di jemari Rai jelas itu bukan cincin biasa. Menghembuskan nafas kasar kemudian melangkah menuju meja mengambil tas dan pergi dari sana.
Melihat Sarah sudah keluar ruangan, Andini segera beranjak. Tak perduli dengan Rai yang menatapnya dengan wajah heran.
"Loh sayang mau kemana?" Raihan pun ikut beranjak dan mengejar Andini yang sudah melangkah menuju pintu.
"Sayang...." Raihan menarik tangan Andin membuatnya berbalik menghadap Raihan.
"Makan dulu, kamu mau kemana?"
"Makan sendiri aja kak! aku mau ke kantin, nggak nafsu aku makan sama kakak." Andini kembali melepas cekalan tangan Rai kemudian kembali melangkah.
"Hey....Kamu marah? sayang aku kan sudah mengusirnya, lagian dia hanya masa lalu. Kamu masa depan aku. Aku juga nggak ada niat buat berduaan aja sama dia."
"Iya, aku masa depan kakak. Tapi kalo seandainya aku tadi nggak datang apa dia akan tetap jadi masa lalu kakak? sedangkan tadi aku liat kakak nggak bisa menghindar saat dia berusaha mencium kakak! lepasin aku, aku males berdebat sama kakak."
Raihan mengusap kasar wajahnya, menatap sang istri yang pergi tanpa ingin menoleh kebelakang.