One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 53



Tia terkejut melihat siapa yang telah sengaja menabrak Andini hingga membuat pakaiannya kotor. Tak menyangka sempat bersahabat harus berakhir dengan perdebatan. Tia yang begitu emosi serasa ingin mencakar dan menjambak rambut Cika agar otaknya kembali di kondisikan.


"Maksud loe apa Cika? nggak waras loe ya? Loe sengaja kan buat numpahin kuah makanan di bajunya Andini?" sentak Tia hingga menjadi tontonan karyawan yang lain.


"Dia pantas dapatin itu! sok lugu sok polos tapi ternyata suhu! kalian aja yang udah di butain sama dia, kelakuan dia nggak lebih dari seorang pecundang!"


Mendengar itu Andini segera berdiri, dia benar-benar tak menyangka Cika setega ini. Melangkah mendekati Cika dan Tia, menatap tak percaya dengan apa yang Cika ucapkan.


"Mau loe sebenernya apa? kenapa loe usik hidup gue? kurang puas dengan apa yang udah loe ambil dari gue? loe masih nggak terima Tara nggak mau tanggung jawab? loe masih nyalahin gue?"


"Buka mata loe Cika, kalo emang gue mau sama Tara udah dari kemarin gue balikan. Seharusnya loe mikir, siapa pecundang di sini? gue atau loe?"


Cika tak gentar, menatap jijik Andini dengan wajah emosi. Dia mengedarkan pandangannya keseluruhan penghuni kantin yang kini menatapnya.


"Sekarang kalian lihat, pantas nggak sich orang macam dia masih di kantor ini? kakak-kakak senior, memang kalian ikhlas lihat bos di kantor ini di goda sama wanita semacam dia?"


"Ya jelas nggak lah, kurang itu kalo cuma di tumpahin pakai kuah kari. Harusnya j@lang seperti dia angkat kaki dari kantor ini. Cuma jadi toxic!"


"Iya, muka doank polos kayak bocah kelakuan bin@l!"


"Sekalian aja nich guyur pake air cuacian piring. Dasar kotor!"


Cika mantap sinis Andini dengan tersenyum miring, melihat kondisi Andini yang mengenaskan dan masih di hujat sana sini membuatnya semakin senang. Padahal dia menahan sakit di perutnya karena dorongan Tia tadi. Tapi karena belum puas memberi pelajaran pada Andini yang ia rasa sudah ikut campur urusannya membuat dia bertahan hingga benar-benar puas melihat Andini hari ini lemah dan menderita.


"Itu semua pantas loe dapetin! loe salah udah nganggep gue enteng Andini, loe mau tau kenapa gue ngegoda tara?" lirih Cika, "karena gue yang lebih dulu suka sama dia, tapi dengan mudah loe jadian sama Tara. Dan setelah gue menjalin hubungan sama Leo, dia pun mulai tertarik sama loe! gue nggak terima Andin! loe yang buat gue jadi pengkhianat, loe yang buat gue jadi jahat dan kemarin loe juga mau ikut campur urusan gue sama Tara. Gue nggak akan tinggal diam!"


"Seharusnya loe ngaca Cika, kenapa semua cowok lebih memihak ke Andini. Apa yang salah sama diri loe, mereka juga tau mana wanita baik dan mana yang mudah melempar tubuhnya!" Tia tidak terima, dia berusaha membalas Cika karena Andin memang tidak salah.


"Diem loe Tia! kelakuan gue nggak sebanding sama dia, dia udah ngegoda si bos yang kita tau sulit di dekati. Dengan cara apa kalo tidak menggoda dan membuat puas? kelakuan dia lebih rendah dari gue!"


"Bener banget!"


"Dasar rendahan!"


"Nggak tau malu!"


"Murahan!"


Andini tertunduk mendengar tudingan yang terlontar dari orang-orang yang menganggapnya buruk. Dia memilih diam karena akan percuma membela diri. Riri yang sejak tadi di samping Andini hanya diam menenangkan, dia memang tak seberani Tia. Jadi lebih memilih bersama Andini dari pada adu mulut dengan Cika. Hingga suara seseorang menggema di ruangan yang begitu ramai dengan ucapan kasar. Membuat Andini pun mendongakkan kepalanya.


"Siapa yang kalian anggap murah? siapa jal@ng di kantor kita? Apa benar ada pel@cur disini? tunjukkan pada saya siapa orangnya!"


Raihan datang bersama dengan Erna dan Andika, melihat sang istri yang sangat memprihatinkan membuat merasa gagal dan tak terima. Dia yang sedang menunggu Andini untuk makan siang mendapat pesan dari Erna tentang kabar yang sedang tranding saat ini di kantornya. Hingga ia memutuskan untuk ikut dengan Andika dan Erna ke kantin.


Andika yang melihat sang adik dengan keadaan seperti itu pun tak tega, dirinya ingin sekali membungkam semua karyawan tapi dia ingin lihat bagaimana sahabatnya membela sang adik. Hingga Erna pun ia larang untuk mendekati Andini.


"Kenapa semua diam? jawab pertanyaan saya!" sentak Raihan yang emosinya sudah ingin meledak.


Semua karyawan saling tatap, tak berani menjawab, melihat mata tajam si bos yang membuat mereka tak berani berucap.


"Kamu! siapa yang udah numpahin kuah makanan di baju dia!" tunjuk Rai dengan menatap Andini yang kini kembali menunduk. Entah apa yang ada di kepala Cika, entah seberapa lama ia mengenal Andin hingga tak tau apa-apa tentang Andini. Dan dengan lantang ia maju karena merasa itu pantas di dapat oleh Andini.


"Jangan jadi bodoh gara-gara sikap nggak peduli loe! loe nggak tau apa-apa tentang Andini, tapi loe sengaja bunuh diri!" bisik Tia saat Cika maju mendekati bosnya.


"Saya pak, saya yang sengaja mengotori pakainnya."


"Apa alasan kamu berbuat seperti itu?" tanya Rai dengan rahang mengeras dan tangan mengepal kuat.


"Karena dia pantas mendapatkan itu, dia telah menggoda bapak!" jawab Cika lantang kemudian meminta bantuan ketiga ex lambe julid untuk membantunya.


"Iya bener pak, kami nggak terima. Dia pel@cur yang bapak cari tadi."


"Iya bener bangat pak, dia j@langnya!"


"Kalian ada buktinya?"


"Tentu saja pak, banyak foto yang memperlihatkan kedekatan dia dengan bapak. Keluar masuk ruangan bapak sesuka hati. Saya tak percaya jika bapak semudah itu tergoda kalau memang dia tidak handal!" ucap salah satu dari karyawan di sana yang sudah mulai berani berbicara.


"Kalian tau siapa dia? kalian kenal dengan orang yang kalian anggap pel@cur ini?" tanya Rai dengan mata yang berapi.


"Dia hanya anak magang yang baru beberapa Minggu masuk ke kantor kita pak, keluarkan saja pak! kami tidak ikhlas melihat dia terus menggoda bapak!"


Raihan menarik nafas dalam, melirik Andini sekilas kemudian melempar pandangan keseluruh karyawannya. Bertepatan dengan itu Tara yang melihat kondisi Andini yang tidak baik-baik saja segera mendekati.


"Ya dia memang hanya anak magang, anak magang yang kalian hina, anak magang yang kalian bilang seorang pel@cur, anak magang yang kalian anggap jal@ng, dia adalah istri saya! ANDINI ISTRI SAYA!" tegas Raihan.


Semua orang yang ada disana tampak tertegun, tapi tidak dengan Andika, Erna dan kedua sahabat Andini. Mereka yang sudah tau hanya diam dengan senyuman tipis menatap semua karyawan yang terduduk lemas menyadari akan kesalahan mereka.


Sedangkan Tara, langkahnya terhenti sebelum sampai di tempat Andini berdiri. Dan Cika jelas lemas hingga kakinya mundur beberapa langkah.


"Dia adik dari Pak Andika! sekali lagi saya tegaskan pada kalian semua, dia adalah istri saya! Kalian yang tadi menghina istri saya, siap-siap menghadap keruangan Pak Andika!" tegas Rai kemudian beralih menatap Cika. "Dan kamu, angkat kaki dari kantor saya!"