
Setelah keduanya membersihkan diri kini Erna dan Andika duduk di atas ranjang dengan taburan bunga mawar merah menambah kesan romantis yang membuat suasana semakin hangat.
Dengan penerangan lilin-lilin yang telah tertata rapi dan aromaterapi yang menambah fantasi, kini Andika mulai menatap dalam wajah Erna, mengunci pandang, dengan tatapan mendamba dan hati bergemuruh bahagia.
Jarak keduanya mulai terkikis seraya jarum jam yang berdetak cepat mengiringi gerakan lambat namun berirama yang Andika lakukan. Hingga kedua bibir menyatu menyalurkan semua rasa. Saling berbagi rasa dengan belitan dan lumaaatan yang begitu dalam. Kehangatan semakin terasa, gejolak semakin besar, hingga posisi keduanya sudah berubah.
Entah siapa yang memulai kini mereka sudah polos, saling menempel dan siap menyatukan raga yang selama ini mereka impikan. Tatapan Andika semakin berkabut, melihat pemandangan di depan mata yang begitu indah membuat darahnya semakin mengalir deras.
"Sudah siap sayang?" tanyanya dengan suara berat, pertanyaan yang tak perlu di lontarkan sedangkan kedua kalau Erna sudah terbuka lebar.
"Eh neng Jeni, ketemu lagi kita. Kangen ya sama si Joni, nich Joni udah gagah. Abis fitnes sama ngegym. Jangan di tolak ya neng, cukup diam dan rasakan otot-ototnya yang semakin kekar."
Erna membuang muka, ia sudah tak ada niat menimpali ocehan Andika yang membuat wajahnya merona.
Sentuhan kembali ia rasakan di titik sensitifnya, kerakusan Andika mulai terlihat seraya masuknya si Joni setelah di persilahkan. Lebih tepatnya di paksa buka pintu karena jeni sempat syok dengan bentuk Joni yang jauh dari pertama mereka bertemu.
"Pelan-pelan! kok beda sich."
"Kan gue bilang abis fitnes, nikmatin aja. Loe pasti suka!"
Andika memulai pergerakan di atas tubuh Erna dengan tempo sedang mengarah ke cepat. Erangan dan lenguhan serta desahaaan mulai mengisi kamar pengantin yang kini mulai berantakan akibat ulah keduanya.
Bahkan Erna mulai merasakan titik dimana tubuhnya ingin bergetar hebat. Dan dapat di rasakan oleh Andika gelayar sensasi yang membuatnya mempercepat tempo hentakan.
Hingga hampir dua jam mereka menyatu tapi Andika masih panggah belum ada tanda-tanda ingin menyiram sawah yang siap di taburi benih unggul. Keduanya masih panas dan belum niat menyudahi.
"Emang janda nggak kaleng-kaleng, enak banget sich sayang. Nggak perlu di traning udah jago."
Erna terus bergerak tak perduli Andika yang meracu tak jelas. Hingga keduanya sama-sama mempercepat tempo merasa sudah di titik puncak yang siap di hempaskan.
"Siap neng? Abang mau siram ya..."
"Ayo Dika..."
"Nggak sabar banget bini gue, udah ngebet banget. Itungin dach biar seru!"
"Ayo bebh....itung!"
"Satu...mmmm....dua..ti_"
tok
tok
tok
Andika menghentikan pergerakannya sejenak, tapi kemudian memulainya lagi setelah di rasa aman.
"Ayo lagi sayang itungin!"
"Nggak usah diitung Dika, gue udah nggak tahan."
"Biar seru sayang, nggak ada yang kayak kita! ayolah...banyak nich si Joni muntahnya." Dengan nafas bergemuruh dan suara yang semakin berat masih sempat Andika memberi mandat.
"Satu...agh...dua...ti_"
tok
tok
tok
"Nggak usah di peduliin! ayo lagi sayang!"
"Tapi itu..."
"Udah biarin! kasian si Joni," Andika merasa kesal dengan siapa orang yang mengganggu dirinya yang sudah mau sampai di puncak yang ia nantikan.
"Siap ya sa_"
tok
tok
tok
"Monyet!"
"Woy siapa di luar? loe nggak tau gue kentang anjiiiiiir!"
"Pakai baju dulu baru buka pintu! itu kemana-mana ntar orang bisa pingsan!"
"Biar tau gue lagi nanggung!" sewot Andika tapi dengan cepat ia memakai pakaiannya.
"Diem di situ sayang, jangan kemana-mana! ntar lanjut lagi, pusing nich pala gue!"
Andika segera melangkah menuju pintu, membukanya sedikit dengan hati dongkol ingin menghajar orang yang mengganggunya.
Andika menganga melihat siapa gerangan yang mengganggu dirinya. Rasa emosi hilang ketika menatap wajah sang adik yang penuh dengan keringat bercucuran.
"Loe ngapain? loe nggak tau ini malam pertama gue? ngapa jadi loe yang ngos-ngosan begini?"
"Perut gue mules kak!" keluhnya dengan wajah pucat.
Mendengar suara Andini di luar Erna seger membersihkan diri dan memakai pakaiannya.
"Mules tinggal ke WC Andini, loe mau ngapain ke kamar gue? WC di kamar loe mampet?"
"Gue nggak tahan kak!" keluh Andini membuat Andika tak tega.
"Nggak tahan? jangan boker di sini, udah ayo masuk!"
Andini menggelengkan kepala dengan berpegangan dinding merasakan nikmatnya kontraksi yang semakin kuat.
"Andini!" Erna terkejut melihat keadaan Andini yang tak baik-baik saja.
"Mbak tolong aku!"
"Raihannya mana? kenapa kamu sendirian?" tanyanya dengan melongok mencari keberadaan Raihan.
"Mas Rai pingsan di kamar mbak." Suara Andini begitu lemah dengan menahan sakit membuat Andika sadar dan segera mengangkat tubuh sang adik.
"Ayo kita kerumah sakit!"
"Tapi loe masih pakai kolor Dika!"
"Udah nggak ada waktu lagi, adik gue udah mau beranak! loe bangunin si Raihan ya, bilang sama papah mamah juga! Gue bawa Andini ke rumah sakit duluan!" titah Andika.
"Oke!"
Erna kembali masuk kedalam kamar, mengganti baju yang rapi dan mengambil tas juga ponselnya.
"Rai!"
"Rai!"
"Eeeuughh....." Raihan yang tergeletak di lantai segera sadar karena panggilan dari Erna dan aroma minyak angin yang Erna berikan.
"Loe ngapa di sini? Andini mana?" tanyanya heran, karena seingatnya ia sedang memadu kasih dengan istrinya.
"Loe yang ngapa pingsan? Andini udah di bawa laki gue ke rumah sakit!"
Raihan membolakan matanya dan segera bangkit kemudian mengambil dompet dan kunci mobil.
"Ke rumah sakit sekarang!"
"Raihan loe ganti baju dulu! ngapa cuma boxeran begitu!" kesal Erna, sejak tadi ia sudah mengumpat kesal melihat pemandangan yang membuatnya ingin memukul kepala Raihan.
"Bokap nyokap udah gue telpon, kita langsung aja kesana!" ucap Rai panik, keluar kamar setelah memakai pakaian lengkap.
Raihan dan Erna segera berlari menuju mobil, Raihan sudah tak membayangkan bagaimana keadaan sang istri saat ini. Bodohnya ia malah pingsan di saat genting. Beberapa bulan siaga tak berguna saat sang istri membutuhkan justru ia tak ada.
"Lagi loe ngapa pake pingsan sich? bini loe mau lahiran malah loe geletakkan di lantai!"
"Gue liat pala di mulut jeni, gila aja kalo gue nggak syok!"
Erna tercengang mendengar jawaban Raihan, dia sejak tadi merutuki kebodohan Raihan yang masih saja ingin menikmati sang istri di saat Andini sudah ingin melahirkan. Sekarang syok sendiri melihat si kembar mau keluar.
"Cepetan Rai! jangan sampe bini loe lahiran di jalan! itu anak loe udah pada mau keluar!"
Raihan semakin panik dan mempercepat laju mobilnya, menyusul Andika yang sudah entah sampai mana membawa sang istri sekarang.
🍀🍀🍀
Man teman....jangan lupa baca karyaku yang lain ya, "Menikahi Janda & ISTRI KEDUA DOSENKU"
Makasih🤗