
Selama makan Andini hanya diam dengan mengamati tanpa ingin mencicipi, ia masih kepikiran dengan mie yang saat ini mungkin sudah di buang oleh simbok. Padahal masih tersisa separo dan ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri tak akan memakan lagi jika tak benar- benar ingin.
Tapi semua tak berjalan mulus kala sang suami datang dan membuat dirinya harus meninggalkan begitu saja. Andini melirik Rai yang begitu lahap hingga makanan di piringnya hampir habis tak tersisa.
Andini membuang nafas kasar, membuang muka ke sembarang arah. Raihan yang sadar hanya diam menghabiskan dan tak niat berucap. Setelah habis dia segera mengambil sedikit makanan lagi untuk menyuapi Andini yang kini sedang merajuk.
"Buka mulutnya! aku suapin makan dulu."
Andini masih diam tak mau menjawab dan menoleh pun tidak hingga membuat Raihan gemas dan sengaja mengingatkan kejadian tadi siang.
"Di suapin mantan lebih nikmat dari pada dengan suami ya, ya sudah makan sendiri aja kalo gitu!"
Mendengar itu Andini seketika menoleh dengan wajah tak percaya jika suaminya menyaksikan tanpa menegurnya.
"Mas liat?"
"Hhmmm...."
"Maaf..." ucapnya dengan wajah menyesal. "Aku juga nggak tau kenapa mau di suapi oleh Tara, tapi aku nggak ada apa-apa kok mas sama dia."
"Terlepas ada apa-apa atau nggak sebenarnya tak seharusnya begitu, ya sudah cepat makan aku mau ke ruang kerja dulu." Raihan mengusap lembut kepala Andin kemudian beranjak menuju ruang kerja. Andini terdiam semakin mengerucutkan bibirnya, tak menyangka sang suami melihat tapi sabar tak langsung salah paham. Walaupun saat ini dia jadi merasa sangat bersalah.
Andini segera makan, menghabiskan makanan yang tadi Raihan siapkan untuknya setelah itu segera naik dan berganti pakaian tidur. Andini keluar lagi dari kamar bertepatan dengan simbok yang ingin mengantarkan kopi untuk suaminya.
"Mbok, biar Andini aja yang memberikan pada mas Rai," ucapnya sambil mengikat tali kimono satin yang melekat di tubuhnya.
"Iki nduk, hati-hati panas."
"Iya mbok, makasih ya mbok."
"Iya sama-sama," jawabnya kemudian segera turun ke bawah.
Andini masuk ke dalam ruang kerja Rai, membuka perlahan dan menemukan suaminya yang sibuk di depan laptop.
"Mas, kopinya!"
Rai melirik sekilas kemudian kembali menatap laptop dengan serius. Andini meletakkan kopi di sebelah Rai kemudian berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Ia sengaja menunggu sang suami tanpa niat kembali ke kamar sendiri.
Sempat melirik Andin di sela-sela ia menyeruput kopi, tapi lagi-lagi tak niat untuk berbicara dan kembali menatap layar laptop. Sebenarnya tak tega melihat Andini yang hanya diam, tapi entah kenapa Rai enggan mendekat.
Hingga Andini mulai mengantuk dan menatap Raihan yang masih sibuk bekerja dengan tatapan jengah.
" Mas, nggak ada cita-cita pengen bobo ngelonin aku? atau bobo cepet, udah malam loe mas, kerjanya besok lagi. Aku udah ngantuk," keluh andini.
Mendengar itu, Rai melirik sang istri dengan wajah di tekuk bersandar sofa. Kemudian dia segera mematikan laptopnya dan beranjak mendekat.
"Ayo ke kamar!"
Andini tersenyum senang, ia segera merangkul lengan Raihan dan melangkah ke kamar berdua.
"Mas," Andini menahan tangan Rai saat ingin masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa?" tanyanya menatap sang istri dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mau pipis dulu sebentar, setelahnya aku tidur. Kamu tidur duluan aja."
Andini menganggukkan kepala, melepas genggamannya dan membiarkan Raihan masuk ke kamar mandi. Wanita itu segera merebahkan tubuhnya setelah melepas kimono yang tadi menutupi lingerie miliknya. Menunggu Rai yang sudah 5 menit di dalam tak kunjung keluar, hingga membuat Andini gelisah.
Andini membolak-balikan tubuhnya di ranjang tak bisa terlelap. Hingga Raihan keluar menarik perhatian Andini.
"Mas lama banget."
Raihan melirik sang istri dengan pakaian yang menggugah selera, membuat si Joni mulai terjaga sedangkan Rai mencoba menahan.
"Sebentar saja kok, kamu aja yang berasanya lama. Ayo tidur, tadi katanya minta di keloniin. Sini aku peluk."
Raihan menarik tubuh sang istri dan mendekapnya agar cepat terlelap, tapi bukan segera tertidur Andini justru membalikkan tubuhnya menyapa Raihan yang juga menatapnya dengan tatapan berkabut gairah. Tapi itu tak lama, ia segera merubah posisi menjadi terlentang menghindari tatapan Andini yang membuatnya tambah berhasrat.
Raihan ingin protes atas sikap Andini hari ini, tapi tubuhnya tak bisa berbohong ingin segera menindih dan tak ingin menyiakan sang istri begitu saja. Dia bersusah payah menahan dengan diam dan memejamkan mata.
"Mas, udah ngantuk ya?"
"Hhmm....katanya kamu tadi mau tidur. Udah malam besok kerja kan."
"Iya, dan lusa resepsi pernikahan kita kan mas, mas nggak ada niat berbaikan sama aku. Kalo marah nanti pas resepsi aura pengantinnya hilang loh mas. Nanti aku berasa nikah sama om duda anak 5."
Mendengar itu Raihan semakin gemas dengan sang istri, bisa-bisanya merayu dengan membully hingga rasanya ingin menggigit bibirnya.
"Siapa juga yang marah?"
"Mas Raihan, maaf aku hari ini menjengkelkan. Tapi aku tetap menggemaskan bukan?"
Pertanyaan macam apa yang istrinya lontarkan, Raihan di buat makin gemas hingga tak kuasa menahan untuk tak menatap wajah polos sang istri dengan tatapan menggoda dan bibir mungil yang mulai melontarkan kata-kata unfaedah.
"Kamu mau ngajak damai atau malah ngajak perang?"
"Damai dan perang, kamu inget nggak tadi pas di kantor. Kamu menanyakan aku mau apa?"
"Apa? bukannya sudah keturutan makan mie instan penuh saos mengendap-endap di balik meja dapur seperti tikus yang sedang mencuri makanan pemilik rumah?"
"Bukan itu!" lagi-lagi Andini mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Lalu apa?" tanyanya tak mengerti, Raihan yang tadi mengalihkan pandangan tampak penasaran, dan kembali menatap tubuh sintal sang istri dengan posisi yang membuat Joni di buat berdebar ingin keluar dan mulai merajalela menggoda si Jeni yang masih diam di dalam sarang.
Tanpa aba-aba Andini membuat Raihan melebarkan bola matanya, Andini yang biasanya hanya diam malu-malu kini bagai macan betina yang sedang menatap buruan. Merangkak naik memposisikan diri hingga Raihan tak percaya sang istri begitu nakal menggoda dan membuat si Joni siap untuk beraksi kembali.
"Berdamai karena si Joni akan kembali bertemu, berperang karena setelah ini kasur akan berantakan ulah kita berdua," bisik Andin di telinga Rai membuatnya menggila dan memulai peperangan hingga Andini di buat kewalahan karena ulah nakalnya.
"Pelan-pelan mas, salam dulu baru masuk!"
"Udah sayang bahkan joni sudah sopan mengetuk jeni dan membukakan pintu dengan ramah."
Keduanya menyatu untuk ke sekian kalinya, menguatkan rasa sayang dan cinta yang bersemayam. Saling memberi hingga sama-sama menikmati, tidak lupa jika ada kembar yang membatasi pergerakan agar si Joni tetap kalem dan melenakkan.