One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 108



Brugh


Tara mendudukkan tubuhnya dengan kasar.


"Eh loe ngapa? mana pesanan gue Tara?" tanya Andini merasa heran.


"Nich!" Tara meletakkan bungkusan soto di atas meja. Kemudian mendengus kesal dengan menggelengkan kepala.


Andini yang melihat wajah frustasi Tara kemudian mendekati hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi.


"Din, jangan kebablasan! itu muka jangan dekat-dekat, ada Pak bos repot urusannya!" ucap Erna mengingatkan karena jarak keduanya yang begitu dekat.


"Haissh ini loh mbak, di mintain tolong nggak ikhlas banget! kembar keluar di cakar loe ntar Ra!"


Tara membuang nafas kasar kemudian mengusap wajahnya terbayang wajah Cantika yang membuatnya kesal.


"Kenapa Tara?" tanya mbak erna yang ikut memperhatikan.


"Kesal gue mbak," kemudian menatap Andini, "Sanaan! gue nggak mau dapet nilai jelek dari Pak bos, ini hari terakhir kita. Jangan aja memberikan kesan buruk, padahal bininya yang udah kayak belatung." Tara menarik lembut tangan Andini dan mendudukkannya lagi di kursi kerja.


"Loe kesal sama gue!"


Tara kembali duduk kemudian menatap Andini dengan tatapan tajam. " Loe bilang ke cewek itu, kalo gue kurir?"


"Kurir? nggak...." jawab Andini menggelengkan kepala. Kemudian menunggu ucapan Tara selanjutnya begitupun dengan Erna yang masih menyimak.


"Gue di kira kurir sama dia, buta kali matanya nggak liat penampilan gue! dan parahnya lagi dia manggil gue bapak! mau gue sentil rasanya itu bibir! untung cewek, masih bocil lagi. Kalo laki mah udah gue ajak duel!" sewot Tara membuat Andini dan Erna seketika tertawa terbahak.


"Muka loe boros kali!"


"Enak aja loe! muka ganteng begini juga, sekarang aja loe nggak ngakuin gue ganteng. Dulu aja loe ngelus-ngelus pipi gue mulu!"


Andini yang membuka bungkusan soto kemudian mendongak dan tercengang mendengar ucapan Tara.


"Nggak usah ngarang, justru loe yang nempel terus sama gue. Tapi mata loe katarak, gue yang imut ini loe kibulin juga. Nggak bersyukur jadi manusia!"


Tara tidak menimpali jika Andini sudah membahas tentang perselingkuhannya, karena memang ia salah.


"Hei, udah lah nggak usah di bahas lagi. Itu cewek adik angkat Andini, namanya Cantika. Dia nggak tau loe Tara, jadi harap di maklumi."


"Tau! jangan benci-benci, ntar cinta loh!" ucap Andini mengingatkan.


"Tau lah! udah gue mau ke kantin lah nyari yang adem-adem!" Tara segera beranjak dari duduknya, tapi Andini segera menghentikan langkah Tara.


"Tara!" serunya. Dengan jengah Tara menoleh menatap wanita hamil yang ada di hadapannya saat ini.


"Ada apa lagi?"


"Santai Tara, jangan ngegas! gue mau loe makan ini soto sama gue!" ucap Andini membuat Tara dan Erna membolakan matanya.


"Ada lagi aja sich Din! loe kenapa nggak makan sama laki loe? kenapa harus sama gue! gue kan udah bilang, gue nggak mau bikin masalah di hari terakhir. Gue mau keluar dari sini dengan lancar tanpa hambatan dan masuk lagi kuliah dengan wajah ceria, biar cepet lulus terus nikahin anak gadis orang. Ya seenggaknya wisuda gue punya cewek lah. Nggak jomblo juga, ngenes amat gue."


Andini kembali memakan soto yang sudah ia kasih racikan sambel dan kecap yang ntah rasanya sedap atau malah tak enak. Dengan wajah merengut dan hentakan sendok membuat Tara pasrah dan kembali duduk di depannya.


"Katanya ngajak gue makan. Mbak Erna jadi saksi ya, gue nggak ngerayu, justru ini bumil yang kebanyakan mau." Tara lupa jika ada Erna, jadi jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan ada saksi yang akan di mintai keterangan.


"Udah turutin aja itu bumil, kapan lagi bisa makan berdua sama mantan ya kan? satu mangkok bersama lagi. Asal jangan baper aja loe, inget wanita cantik di depan loe udah punya laki!"


Tara menatap Andini yang cuek menyeruput kuah soto tanpa mau melihatnya. Hingga membuat pria itu gemas dengan acara ngambek ala bocah.


"Mau gue turuti atau makan sendiri?"


Andini menghentikan pergerakannya kemudian menatap Tara dengan kesal. Tapi tak lama ia melempar senyum manis dan memberikan sendok yang lain untuk Tara.


"Nah gitu donk Om, kan kembar mau makan sama Om!" ucapnya dengan mata berbinar, kemudian beralih menatap Erna yang hanya tertawa melihat kelakuan calon adik iparnya.


"Mbak kalo mau ayo! bareng-bareng biar seru!" ajaknya tapi di tolak oleh Erna, karena ia sudah janjian makan siang dengan Andika dan menunggunya selesai mengerjakan pekerjaannya.


"Enak." Komentar pertama dari Tara membuat Andini tersenyum senang.


"Enak lah, yang ngeracik tuh adik gue!"


Uhuuuk uhuuuk uhuuuk


Andini segera meraih botol minum yang sudah terbuka dan ia berikan pada Tara.


"Kalo makan pelan-pelan! saking enaknya sampe keselek. Besok gue suruh Cantika buatin soto khusus buat mas Tara! gimana?" ledek Andini. Sedangkan Erna sudah mengulum senyum melihat wajah Tara yang sudah memerah akibat keselek kuah soto.


"Biasanya Tara, cinta itu dari mulut turun ke hati!" sahut Erna.


"Ada juga dari mata turun ke hati mbak!" ucap Tara membenarkan.


"Mata loe kan kotok Tara, makanya nggak bisa liat gadis cantik! eh giliran makan racikan sotonya langsung jatuh cinta."


Tara menatap sengit wajah sang mantan, bukan karena ia tak tau jika Cantika itu cantik. Tara mengakui itu, tapi masih ada nama wanita yang belum juga hilang dari hatinya. Wanita bersuami yang kini di hadapannya. Dia pun tak menutup hati, hanya saja tak ingin tergesa memilih yang nantinya akan menyisakan perih.


"Kalian ini," Erna menggelengkan kepala, ia tau perasaan Tara meskipun Andini tak peka. Tapi lebih baik begitu agar tidak timbul kecanggungan hingga membuat hubungan keduanya renggang.


"Tapi besok bakal sepi nggak ada kalian lagi, hhmmm.....aku harus kerja sendiri, karena Pak Heru. juga sedang mengurus istrinya yang sakit. Jadi nggak bisa full masuknya."


"Jangan sedih mbak, mbak kan bisa video call sama kita. Terus kalo Andin lagi luang waktu ya Andin main kesini." Kini Andini dan Tara sudah beralih merangkul Erna, tak bisa di pungkiri mereka seperti saudara.


Setiap hari bertemu, bercanda dan bercengkrama membuat mereka akrab dan saling terikat. Apa lagi Andini yang memang sudah menganggapnya seperti kakak sendiri.


"Beeeehhhh udah kayak Teletubbies kalian!" seru Dika yang datang bersama Rai. "Minggir! calon bini gue itu, ngapa jadi di peluk-peluk! kurang emang gue pelukan semaleman Er?"


Andika menarik tubuh Tara dan juga Andini agar menjauh lalu di gantikan olehnya yang kini merangkul Erna.


"Rusuh!" ketus Andini.


"Sayang....."Andini menoleh ke arah Rai yang berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke kantong celana.


"Eh ada misua, maaaassss kangen...." rengek Andini membuat yang lainnya menatap jengah.