
Mata Andini membola melihat tangan siapa yang kini bertengger di pinggulnya. Panik juga jika pertemuan dengan Tara menjadi masalah. Setelah otaknya kembali connect Andini segera berdiri dengan benar melepas sepatu yang tadi tersangkut dan meraihnya.
"Ngapain loe disini?" tanya Andika dengan tatapan menyelidik.
Samping gedung kantornya adalah tempat yang sepi bahkan tak terjamah, hanya orang-orang yang memanfaatkan situasi saja yang akan singgah di sana. Jalan di sana juga buntu, hingga membuat orang enggan untuk melewatinya, padahal jika terbuka itu akan sangat ramai karena akses pejalan kaki yang menghubungkan dengan rentetan rumah kos dan kontrakan yang penghuninya kebanyakan bekerja di area perkantoran di sekitar situ.
"Oh i...itu gue_"
"Sayang ngapain di sini?" tanya Raihan yang baru saja keluar dari dalam kantor dan mencari keberadaan Andika untuk menyerahkan beberapa berkas yang akan di bawa meeting besok pagi.
"Mas aku tadi cu_"
"Din kok belum balik?" tanya Tara yang tiba-tiba datang dari belakang Andini. Dia tidak tau jika di sana sudah ada Andika dan Raihan.
"Kalian..." Andika menatap keduanya secara bergantian, sedangkan Andini panik sendiri takut Raihan salah paham, apa lagi melihat sorot mata kekecewaan dari sang suami dan pergi begitu saja.
Andini tak menggubris tatapan curiga dari sang kakak, dia juga tak berniat menjawabnya. Segera memakai sepatu yang tadi sempat terlepas dan melangkah menyusul Raihan.
"Mas...."
Raihan hanya diam, dia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Andini yang memanggilnya. Melihat mobil Raihan yang sudah pergi, wanita itu segera masuk kedalam mobilnya dan segera pulang.
"Mas! Mas Rai marah sama aku?" Andini mengejar Raihan menuju kamar saat mereka sudah sampai di rumah. Raihan tak menjawab, dia segera masuk ke dalam kamar mandi setelah melepas jas dan juga kemejanya.
"Mas, ini nggak seperti yang mas pikirkan! aku dan Tara hanya bicara sebentar mas! nggak melakukan apa-apa!" seru Andini di balik pintu.
Raihan mencuci wajah dan mengusapnya dengan kasar. Cemburu membutakan dirinya, baru saja di buat melambung tinggi hingga begitu bahagia, tapi dia harus melihat sang istri berdua dengan mantannya. Ntah apa yang di bicarakan di tempat yang sepi. Pikir Raihan jika ingin bicara mereka bisa mencari tempat yang ramai, di cafe atau parkiran. Andini pun bisa meminta ijin dulu jika ingin bicara berdua. Bukan secara diam-diam dan membuatnya salah paham.
Selesai mandi Raihan keluar dengan tubuh yang sudah segar, melirik sang istri yang sedang terduduk di pinggir ranjang dan menatapnya dengan wajah sendu. Berjalan melewati kemudian keluar kamar memilih pergi keruang kerja.
"Ck, marah beneran kamu mas! gue kan nggak ngapa-ngapain, tapi kenapa di curigain! Tara nich lagian ngapain sich pake ngajak ngomong di tempat sepi begitu, bikin orang curiga aja!"
Malam harinya di meja makan keduanya saling diam, sesekali Andini melirik sang suami yang cuek dan sibuk menghabiskan makanan. Tanpa mau menatap dan membuka suara.
Setelah menyelesaikan makannya, Raihan segera beranjak dan kembali ke ruang kerja. Andini hanya diam melihat sang suami berjalan melenggang tanpa menghiraukan dirinya yang belum selesai makan.
"Loh, nduk kok nggak di habisin to makannya?"
"Udah kenyang mbok, makasih ya mbok untuk makan malamnya. Andini ke kamar dulu." Andini segera beranjak pergi. Simbok melihat kedua majikannya yang tak bersuara di meja makan hanya bisa menarik nafas dalam.
"Ge' opo to meneng-menengan kayak gitu, mudah-mudahan nggak lama."
Masuk ke kamar dengan hati kesal, Andini bingung bagaimana ingin menjelaskan sedangkan Rai diam menghindar.
"Harus gimana caranya buat mas Rai ngerti kalo gue beneran cinta dan nggak aneh-aneh tadi. Hhuuuuhhff......begini amat ya rumah tangga, kalo kata mamah dua kepala jadi satu, harus ngerti, harus saling mengalah. Kenapa nggak sekalian aja dibenturin nich kepala gue!"
Andini mengambil ponselnya, mencari artikel-artikel untuknya belajar dalam berumah tangga. Bukannya nyari bahan buat skripsi malah nyari bahan nyenengin suami.
"Ngapain sich nich orang di dalam ruang kerjanya, nggak capek apa kerja terus!"
Tak ada cara lain, Andini harus segera menghampiri. Setelah memantapkan hati, Andini keluar kamar dengan meraih baju kimononya untuk menutupi tubuh agar lebih sopan. Kerena Rai sangat marah jika Andini keluar kamar dengan penampilan sexy.
Melangkah perlahan, sedikit mengintip pintu yang tak tertutup sempurna. Melihat sang suami yang masih diam di depan laptopnya.
Andini menarik nafas dalam, hal yang tak pernah ia lakukan kini harus ia praktekan pada Raihan. Mengatur degup jantung yang begitu cepat berdetak tangannya mendorong pintu hingga terbuka dan melihat Raihan yang terganggu dan menatapnya.
"Mas, belum mau tidur? nggak capek?" tanya Andini yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Sebentar lagi, duluan saja!" jawabnya tegas. Kemudian kembali menatap layar laptop.
Andini melangkah lebih dalam, menutup pintu kamar yang membuat atensi Raihan kembali terusik dan menatap sang istri yang masih berdiri disana.
Mata Raihan membola, melihat gerakan sang istri yang perlahan membuka baju kimono dan memperlihatkan pundak polos dengan baju tidur yang sangat tipis, tak seperti biasanya membuat pakaian d@lam Andini tampak terlihat jelas, apa lagi dua bukit yang menyembul minta di bebaskan membuat Joni mendesak keluar.
Andini melangkah perlahan, mendekat dengan tatapan menggoda. Biarkan malam ini ia menggoda sang suami yang tengah merajuk, dari pada tidur tak tenang lebih baik mendatangi walaupun hati ketar-ketir dengan tanggapan apa yang akan ia dapati.
Raihan mulai gelisah, sesaat ia menormalkan dirinya. Mengingat kembali masalah yang membuatnya kesal dan berujung mendiamkan sang istri begitu saja. Kembali menatap layar laptop mencoba untuk fokus dengan apa yang sejak tadi ia kerjakan.
"Ikh, kok malah diem aja sich! kurang sexy apa gue ya, apa udah nggak menarik. Harus tambah lenjeh lagi nich kayaknya."
Andini semakin melangkah dengan sedikit menarik baju tidurnya yang sebatas paha tambah naik hingga sepangkal paha. Tak tanggung-tanggung rambut yang tadi ia gerai sekarang ia ikat asal hingga menampilkan leher jenjang agar semakin menarik hati sang suami untuk segera melepaskan benteng pertahanannya yang masih kokoh.
"Sampai mana loe kuat Mas Rai, liat bini body aduhai gini masak iya di anggurin bae. Ini kalo Kak Andika liat auto di bully gue!"
Andini berdiri di samping sang suami, tangannya menutup laptop dengan gaya slow motion, penuh penghayatan, walaupun masih amatiran. Ini cara ampuh melumpuhkan hati sang suami yang sedang merajuk, menggoda dan memuaskan.
Raihan masih diam dan membuang muka, Joni yang mendesak tak ia pedulikan. Ide jail di otaknya mulai bekerja, dia ingin melihat sampai mana sang istri mampu menggoda. Padahal dalam hati sejak Andini masuk dan membuka baju kimononya dia sudah menahan tawa sedangkan si Joni bersorak riang.
"Mas...." Andini duduk di pangkuan Rai, sedikit membusungkan dada untuk terus menggoda. Sang pria memang minta di beri pelayanan ekstra hingga lumpuh dan menyerah.
Melihat Raihan yang masih dengan sikap datar membuat Andini jengkel sendiri, jurus apa lagi yang ia harus keluarkan. Sedangkan sejak tadi dia sudah hampir telanjaang.
"Kalo masih ngambek nggak aku kasih jatah."
"Tidur saja sana!"
"Yakin?"
"Hhmmm...."
"Tiga ronde malam ini plus pagi di kamar mandi," bisik Andini.
Mendengar itu tanpa pikir panjang Raihan segera mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar.