
Pagi ini Andika menyempatkan diri menjenguk Erna ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi Erna saat ini. Sebelum sampai ia menyempatkan diri singgah di toko bunga untuk membeli bunga mawar merah kesukaan Erna.
Dulu saat masih bersama hampir setiap weekend ia memberikan Erna mawar, apa lagi saat sudah bekerja dan memiliki gaji sendiri. Hampir tak pernah lupa dan kue brownis cokelat tempat favorit Erna pun sempat Andika singgahi. Berharap Erna sudah pulih dan bisa seperti dulu lagi.
Andika mengetuk pintu sebelum masuk kedalam, kemudian membuka dan melongok tak ada orang di sana selain Erna yang masih diam dengan kondisi yang sama.
Tarikan nafas begitu berat, Andika tak menyangka Erna akan semenderita ini. Pria itu meletakkan bunga di dekapan Erna, sedangkan brownies coklat ia letakkan di atas nakas.
"Selamat pagi cantik, kok pagi-pagi sendirian aja. Mamah mertua mana?" tanyanya lembut dengan merapikan rambut Erna yang sedikit berantakan.
"Ada bunga mawar buat lo, dari gue cowok terganteng yang paling loe cinta. Gue kangen sama loe, sorry ya gue kemarin nggak dateng. Biasa si bos kerjaannya banyak banget, loe cepet sembuh donk. Biar gue ada temennya lagi makan di kantin. Nggak ada loe gue di lalerin oleh para gadis cantik tapi tak perawan."
Erna hanya diam, tapi sudut matanya meneteskan air mata. Andika yang melihat itu segera mengusap lembut dan mengecupnya.
"Jangan nangis, liat gue. Gue ada buat loe. Ikhlasin yang udah pergi ya, gue bakal nikahin loe kalo loe cepet sembuh."
Lagi-lagi Erna tak minat berbicara, telinganya mendengar tapi bibir dan hati masih enggan. Andika hanya berharap ini tak akan lama, karena ia tak ingin Erna terus terpuruk hingga tubuhnya semakin kurus.
"Erna, loe nggak kasian apa sama gue. Besok Raihan dan Andini ngadain resepsi pernikahan. Kalo loe masih diem gini juga yang ada gue tambah di bully. Masak iya gue minta orang buat nemenin gue kondangan. Kan yang pantes loe doank."
Andika terus mengajak Erna bicara, hingga mamah Erna masuk setelah membeli sarapan untuknya karena Pak Nugraha sudah berangkat ke kantor.
"Eh ada nak Andika, sudah lama?"
"Lumayan Tante, dari mana Tan?" tanyanya setelah mencium punggung tangan beliau.
"Beli sarapan, nak Andika sudah sarapan?"
"Sudah tante, kalo nggak sarapan nggak bakal di bolehin berangkat sama ibu negara, bisa-bisa nyanyi lagu kebangsaan kalo nggak di makan masakannya."
Mamah Erna tertawa, cukup terhibur setiap kali Andika datang. Karena belakangan ini dia pun ikut terpuruk melihat kondisi anaknya yang tak kunjung bicara, dan hal itu membuat beliau terkadang menyerah.
"Bagaimana dengan kesehatan Erna Tante?"
"Untuk luka operasi semakin membaik, tapi untuk mentalnya dapat kamu liat sendiri. Dia masih seperti ini. Tante berharap Erna akan cepat sembuh dan kembali ceria lagi," jawabnya dengan wajah sendu.
"Saya terus mendoakan yang terbaik untuk Erna Tante, oh iya besok acara resepsi pernikahan adik saya dengan Raihan. Jika Tante sempat bisa hadir ke acara kami yang di laksanakan di hotel Om Vino. Dan saya juga berharap ada keajaiban yang membuat Erna besok bisa datang dan menemani saya di acara tersebut." Andika kembali menatap Erna dengan senyum getir di wajahnya. Suatu hal yang tak mungkin apa lagi saat ini Erna masih diam dengan lamunannya.
Setelah mengobrol sebentar dengan mamah Erna Andika segera pamit berangkat ke kantor. Meninggalkan jejak di kening Erna, kemudian membisikkan sesuatu yang membuat air mata Erna kembali menetes.
🍀🍀🍀
Andini menggeliat merasakan sentuhan di pipinya kemudian membuka mata menatap sang suami yang menyambut pagi dengan senyuman hangat.
"Pagi sayang.." Raihan mengecup bahu polos Andini membuat wajahnya memerah.
"Kenapa sayang? kok merah gitu wajahnya, hmm?"
"Jangan melihatku seperti itu mas," rengek Andini malu. Pagi ini Andin kembali ke mode putri malu. Di sentuh dikit langsung menunduk. Berbeda dengan semalam yang begitu liar hingga Raihan di buat semakin menggila.
"Semalam biasa saja, bahkan kamu yang memulai. Kenapa pagi ini malu-malu kucing?"
" Hey...bangun, nanti kita telat sayang."
Raihan menarik selimutnya hingga wajah Andin terlihat jelas. Mengangkat tubuh sang istri dan memasukkannya ke dalam bathtub.
"Kamu berendam air hangat dulu biar pegalnya hilang, mas mandi pake shower ya," ucapnya dengan berjalan santai memamerkan si Joni yang setengah loyo, mau bangun lelah, tidurpun tak nyenyak karena tontonan bening di depannya. Dan itu membuat Andini teringat lagi pergulatan semalam.
Setelah rapi dan sarapan pagi kini keduanya berangkat ke kantor bersama. Untuk hari ini Raihan meminta Andini dan Andika juga dirinya bekerja hanya sampai siang. Apa lagi Andini, Rai tak ingin istrinya kelelahan mengingat besok acara resepsi pernikahan mereka.
Masuk ke dalam dengan bergandengan tangan. Semua karyawan sudah di undang, Andika selaku kakak dengan sigap menyelesaikan semuanya. Sedangkan gedung dan gaun pengantin sudah siap sedia. Ukuran Andini di samakan dengan kebaya pernikahan saat ijab jadi dia tak perlu fitting kembali hanya di beri lebihan satu centi kanan kiri sesuai permintaan Andin. Dan setelah pulang kerja akan di fitting kembali agar esok hari pas tanpa celah.
Sampai di kantor berbarengan dengan Andika yang juga baru ingin masuk. Raihan dan Andini segera mendekati untuk menanyakan kabar Erna karena mereka berdua tau jika Andika dari rumah sakit.
"Kak, gimana mbak Erna?" tanyanya sambil mengalungkan tangannya di lengan Andika.
"Masih sama, belum banyak perkembangan. Cuma bekas operasinya sudah mulai membaik, luka lebam yang ada di sekitar kaki dan tangan juga udah hilang. Tinggal mentalnya aja yang masih down." Andika menjelaskan dengan serius.
"Berarti besok nggak bisa hadir ya kak?" tanyanya dengan tatapan sendu dan itu sukses menyita perhatian Andika.
"Yang harusnya sedih itu gue, karna lagi-lagi gue datang ke acara tanpa wanita, nasib gue gini amat ya," keluh Andika.
Melihat kakaknya yang sedih, Andini seketika memeluk dengan erat, tapi tak lama karena Raihan segera melerainya dan menarik Andini ke pelukannya.
"Ck, adik gue itu! cemburu nggak tau tempat!" celetuk Andika menggelengkan kepalanya menatap jengah Raihan yang tak membebaskan Andini dengannya terlalu dekat.
"Adik loe bini gue!" tegas Raihan.
"Suka-suka loe dah, loe kekepin tiap hari Ampe beranak pinak tiap tahun juga gue bodo amat!"
"Kak Andika loe kata gue mau ternak!"
"Kesel gue sama laki loe! medit banget mentang-mentang udah punya bini cakep, kalo bukan adik udah gue rebut loe dari dia!" celetuk Andika, kini ketiganya sudah masuk ke dalam lift.
"Kak Andika loe gue bilangin Mamah ya!" sewot Andini.
"Ngaduan loe! udah mau jadi emak-emak juga," celetuk Andika tak kalah sewot.
"Mas....." rengek Andini pada suaminya. Dan segera di peluk oleh Rai.
"Dika!"
"Erna sembuh gue bales loe berdua! dasar pasangan gila!" ucap Andika kemudian segera keluar dari lift, di susul mereka berdua yang juga segera keluar.
"Loh mas, kok aku ke ruangan kamu?" tanyanya heran.
"Hari ini kamu bekerja di ruangan aku, oke!"
"Tapi mas...." Andini sudah tak bisa berkata-kata lagi jika Rai sudah menentukan. Hari ini ia pasrah, bekerja satu ruangan dengan pak suami yang saat ini dalam mode tegas.