One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 99



Andika pulang kerumah setelah memeluk erat tubuh Erna yang semalam memberinya kehangatan, mengecup dalam kening wanita yang ia cinta di tengah badai hubungan keduanya.


Meninggalkan sesaapan dan lumaaatan yang membuat Erna kewalahan. Kemudian pamit pulang setelah memastikan Erna aman.


Sampai di rumah dirinya di sambut mamah yang sudah berdiri di ambang pintu setelah mendengar suara mobil putranya yang semalaman tak ada kabar. Hingga meminta putrinya dan menantunya pulang kerumah untuk di mintai keterangan.


"Ada apa ibu ratu? anaknya pulang bukan di kasih makan malah di pelototi begini. Aku pergi lagi aja dech, sepertinya tidur dengan calon istri lebih nyenyak dari pada di rumah aku diintimidasi." Andika membalikan tubuhnya berniat melangkah kembali ke mobil tapi mamah segera menggeret kerah Andika hingga mundur ke belakang.


"Enak aja.....balik kanan masuk ke dalam!" titah mamah.


"Siap ibu ratu!" Andika segera masuk ke dalam rumah bertepatan dengan jam makan malam. Di sana sudah ada Papah dan kedua pasutri yang sedang menikmati makanannya.


"Lahap banget loe berdua, abis di interogasi sama ibu ratu ya? makanya laper," ledek Andika kemudian duduk di samping Andini.


"Diem loe Kak, harusnya loe makasih sama gue dan mas Rai. Nggak usah kebanyakkan goyang lidah mamah udah tau semuanya," sewot Andini.


"Makan dan setelah ini kita bicarakan semuanya!" tegas papah membuat semua yang ada disana seketika terdiam dan segera melanjutkan makan.


Kalo sudah Papah yang turun tangan semua tau itu adalah hal penting yang harus di bahas. Andika pun sudah menyiapkan hati jika keduanya akan mengamuk setelah ini.


Kini mereka sudah duduk di ruang keluarga, tak ada yang berani membuka suara hingga papah mengawali dengan pertanyaan.


"Benar kamu semalam tidur di rumah Erna?"


Andika yang menundukkan kepala segera menatap Papah yang diam memandangnya. Dika menganggukkan kepala, ia menceritakan kembali semuanya hingga masalah dengan Cantika yang sedikit mengganggu pikiran dan hubungannya dengan Erna.


"Kamu tau kesalahanmu dimana?" tanya papah menatap tajam Andika yang kini menundukkan kepala. Sedangkan Mamah dan kedua pasutri yang ada di sana hanya diam memperhatikan Andika yang sedang di sidang oleh Papah.


"Tau Pah, maaf Dika nggak jujur sejak awal."


"Dan kamu tau konsekuensi dari ini semua?"


"Iya Pah, Dika salah. Erna yang menjadi korban dari apa yang Andika perbuat." Andika menyesal walaupun ia bersyukur tak sampai menyentuh Cantika semalam. Pasti akan banyak masalah jika hal itu sampai terjadi.


"Jika kamu tidak bisa tegas dalam masalah ini, Papah yang akan turun tangan. Dan asal kamu tau Dika, perbuatan kamu semalam selain mendapat dosa itu sangat di larang dalam agama. Erna masih masa Iddah, di haramkan menjalin hubungan apa lagi harus melakukan hal di luar batas. Dan jika ini terjadi, kamu sama saja menggiring Erna masuk ke dalam lubang kehancuran."


"Maaf Pah," lirih Dika.


"Dan malam itu Pak Nugraha menitipkan anaknya padamu karena mempercayakan keselamatan Erna sama kamu, tapi justru kamu menghancurkan kepercayaan yang mereka berikan. Bagaimana jika sampai beliau tau?" Papah membuang nafas kasar kemudian memijit pelipisnya merasakan kepalanya yang begitu pening.


"Sekarang hanya satu yang bisa kamu perbuat, mintalah pada yang kuasa agar benih yang kamu sebar semalam tidak tumbuh di dalam rahim Erna."


" Dan untuk masalah Cantika, kamu pun tidak bisa terus menjaganya. Biarkan perjanjian itu papah dan mamah yang melanjutkan. Karena akan menjadi masalah jika kamu terus bersinggungan dengannya. Antarkan mamah kamu ke rumah gadis itu, agar mamah bisa memberi pengertian!"


Andika manarik nafas berat, tak terpikirkan olehnya jika semua masalah harus Papahnya yang memutuskan. Andika hanya menganggukkan kepala. Ia sudah tak mampu lagi berucap, hanya bisa diam dan memeluk sang mamah meminta maaf.


"Jadikan ini semua pelajaran untukmu nak, semua harus di landasi dengan kejujuran. Jangan kamu ulangi kesalahan yang sama. Tapi benar kamu nggak ada rasa dengan Cantika?"


"Beneran Mah, kalo cinta mah udah Andika greepe-grerpe semalem. Ngapain Dika susah payah kerumah Erna, mana si Joni udah blingsatan. Dika cuma anggap dia seperti adik mah, nggak lebih. Udah kayak sama Andini, cuma bedanya dia kan lembut dari awal, makanya Andika nggak tega buat kasar sama dia. Beda sama Andini mah, baru di ajak ngomong aja udah nyolot!"


"Ngomong apa loe kak, belum pernah gue tabok pake salak loe ye...." Sewot Andini.


"Tuh mamah liat sendiri kan? anak perempuan mamah ini tuh nggak ada halus-halusnya mah, ngajak ribut terus bisanya."


"Dianya aja mah, punya mulut nggak ada rambu-rambu nya!"


"Sudah cukup! kalian ini, kalo sudah bertemu ribut terus! Sudah sekarang masuk kamar masing-masing! Raihan bawa Andini masuk kamar dan Andika juga masuk kamar terus istirahat! awas bikin ulah!" titah mamah membuat semua segera beranjak dan menuju kamar.


"Iya ibu ratu!" sahut Andini dan Andika berbarengan.


Andini dan Raihan memutuskan untuk menginap, masuk ke kamar Andini dan segera membersihkan diri.


"Sayang..."


Andini di buat terjingkat saat memilih baju tidur kemudian merasakan kedua tangan Rai melingkar di perutnya.


"Ngagetin dech mas, kamu sudah selesai mandinya mas?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari isi lemarinya.


"Udah sayang, kenapa lama sekali pakai bajunya? kamu ingin menggodaku, hhmm?" Raihan menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Andini yang menggoda.


"Bingung dech mas, ini baju tidur aku udah mulai sesak begini. Aku gemuk ya mas?" Andini menjadi tak percaya diri karena sejak tadi tak menemukan baju tidur yang nyaman, kebanyakan yang ia punya sudah pas bahkan kekecilan.


"Siapa bilang, malah kamu terlihat meresahkan. Kamu lebih terlihat montoook sayang. Membuat aku semakin hari semakin gemes sama kamu!"


Ucapan Raihan membuat Andini tersipu, walaupun ia sudah mulai terbiasa dengan Raihan tetapi ada kalanya ia begitu malu akan rayuan Rai yang membuat dirinya tak berdaya menahan rasa.


Raihan membalikkan tubuh Andini, senyuman yang hanya di perlihatkan pada sang istri terukir indah di wajah tampannya.


"Mau buat aku makin jatuh cinta ya mas?"


Raihan mengernyitkan dahi menatap sang istri dengan penuh tanda tanya. Andini mengalungkan tangannya di leher Rai dengan tatapan dalam dan membuang rasa malunya.


"Pesona suamiku buat aku mati gaya, nggak bisa kalo nggak makin cinta. Untung nggak di bagi-bagi sama yang lain. Kalo nggak pasti sainganku banyak. Dan aku yakin nggak akan kuat menahan cemburu."


Sikap manis Raihan memang hanya di tunjukkan pada sang istri dan keluarganya. Tak seorangpun di luar sana merasakannya, hanya sopan dan ramah tapi tetap menjaga batasan. Itu lah sikap Rai yang sampai saat ini membuat Andini tenang. Walaupun ada saja kumbang yang menggoda, tapi bagi Rai Andini yang paling di cinta.


"Dan beruntungnya kamu, aku tak ada niat untuk tebar pesona dengan wanita di luaran sana!" Raihan mencolek hidung Andini kemudian mengecup dalam bibir sang istri yang membuatnya tak tahan. Hingga handuk yang Andini gunakan kini sudah teronggok pasrah di lantai.