One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 90



Malam hari acara semakin ramai diisi oleh anak-anak muda, seperti teman-teman Rai saat kuliah dulu dan teman sekolah Andini pun datang. Ada yang mengisi live music dan tak jarang juga berjoget ala tok-tok.


Pengantin pun sudah mulai santai dan turun dari pelaminan bergabung dengan para undangan. Para orang tua memilih melipir ke kamar untuk beristirahat karena tamu undangan mereka sudah habis di sore hari.


Raihan dan Andini berkumpul dengan Erna dan Andika. Di tambah lagi satu personil yang di tunggu-tunggu telah tiba. Bayu yang datang tak sendiri, dia mengajak orang yang tak asing bagi Andini. Sempat terkejut dan tak percaya . Tapi kini mereka sudah di depan mata.


"Din, selamat ya..akhirnya go publik. Dan gue minta maaf atas perilaku gue dulu." Andini menyambut tangan wanita yang ada di depannya. Ada rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, perubahan yang nyata dan sikap yang berbeda.


Raihan, Andika dan Erna pun tampak bertanya-tanya tentang kedekatan keduanya sedangkan sebelumnya sempat bermasalah.


"Loe yakin?" tanya Andika.


"Sejak kapan?" lanjut Raihan.


"Dia dulu pasien gue, gue tau loe pada kaget, tapi tuh muka harap di kondisikan. Loe pada udah kayak liat demit. Gue colok lobang hidung loe satu-satu!"


"Kaget aja men, dia sempet ada masalah sama_"


Belum sempat Andika menjelaskan Bayu dengan cepat memotong ucapannya.


" Gue tau kalian sempat ada masalah, dia juga udah cerita." Tangan Bayu mengusap lembut kepala yang berbalut hijab. Wanita yang ia kenal di rumah sakit. Wanita yang kala itu sedang terpuruk dan butuh bahu untuk mengeluh.


Bermula curhat berujung cinta, saling menerima kekurangan masing-masing dan mau berdamai dengan hati yang sempat sakit. Tak masalah masa lalu membuat kalut tapi mereka berjanji ingin menata masa depan dengan benar.


Bayu pun bukan pria alim seperti yang terlihat, dokter yang ramah dan bersahaja ini ternyata mantan Casanova. Dan menemukan cinta sejati di rumah sakit, pasiennya sendiri yang memiliki pengalaman pahit.


"Andini, maaf....." lirihnya. Dan Bayu sejak tadi mengusap pundaknya untuk menguatkan.


"Dia udah nyesel dan mau berubah. Doi yang bakal gue ajak ke pelaminan tahun ini, loe pada nggak mau maafin. Gue jaminannya..." Bayu menatap kesal sahabat-sahabatnya yang masih tercengang tak percaya.


"Si Joni udah insaf?"


"Udah, loe tanyain sendiri kalo nggak percaya. Kita lakukan konferensi perjonian biar pada curhat. Punya gue udah tobat, cuma mau punya neng Cika seorang."


Ya, wanita yang saat ini ada di depan Andini adalah mantan sahabatnnya. Orang yang pernah mengkhianati dan menyakiti. Sekarang ia sudah banyak berubah, setelah hampir dua bulan tak terlihat setelah insiden di kantin. Kini ia menyesali dan tak akan mengulangi. Dan dibalik itu semua ia mendapatkan seseorang yang mau menerima dengan tulus dan ikhlas semua masa lalunya.


Andini menarik tubuh Ceri dan memeluknya, ia sudah memaafkan dan tak ingin membenci. Semua yang terjadi mungkin kehendakNya dan Raihan adalah jodohnya walaupun berawal dari pengkhianatan tapi semua hanya lantaran.


"Makasih ya Din, loe orang baik. Semoga kalian langgeng terus dan cepet dapat momongan."


"Udah dapet tinggal nunggu launching. Eh tapi ..." Andini menatap perut rata Cika, seharusnya sudah membesar tapi saat ini justru kecil dan ramping.


"Dia udah nggak ada, Allah lebih sayang. Dan semua karena mamahnya yang jahat."


"Ssstt......" Bayu menghentikan ucapan, ia tak suka Cika selalu merendahkan dirinya. Andika seakan muak melihat adegan di depannya yang begitu manis tanpa perduli tatapan sekitarnya dengan tatapan tak yakin


"Komodo! gue tau loe turunan anaconda, liat yang bening dikit langsung kelojotan. Nggak percaya gue kalo loe udah nemu pawang, apa lagi gue tau siapa dia."


"Kak!" Andini memperingati jika ucapan Andika membuat Cika terluka. Walau bagaimanapun Cika wanita, dia sudah meminta maaf di depan mereka semua. Itu sudah cukup bagi Andin, apa lagi melihat wajah penyesalan yang tercetak jelas. Andini tak tega melihatnya terus merasa rendah diri.


"Heeeehhh! Bae-Bae itu bumil kalo ngomong. Jangan-jangan udah pernah dateng juga ya?" Bayu menaik turunkan alisnya tetapi tangan memeluk pinggul Cika dengan posesif.


"Iuuuwwwwhhhhh sorry ya gue bukan cabe-cabean yang gampang keluar masuk apartemen pria!"


"Sayang... "


"Itu mas, kak Bayu minta di selepet," rengek Andin pada suaminya.


Raihan menarik tubuh Andin ke dalam pelukannya, memberi kehangatan untuk melembutkan hatinya.


"Sekarang intinya gimana? kalian jadian? jadi kita udah pada nemuin pawangnya?" tanya Andika lagi membuat kedua wanita yang kini statusnya merasa belum jelas menoleh ke pria nya masing-masing.


Bayu yang sadar akan tatapan Cika, mendaratkan kecupan di kening. "Aku akan secepatnya melamar kamu ..."


"Tapi kak, aku_"


"Cukup iya atau aku bilang sekarang juga."


Dengan wajah merona, Cika menundukkan kepala. Iya sudah pasrah dengan kemana takdirnya akan membawa. Tak ingin memaksakan apa yang bukan miliknya dan meneriman apa yang telah digariskan.


Sedangkan Erna hanya mantap sinis Andika yang justru menatapnya dengan wajah tengil.


"Udah nggak usah nunggu gue jelasin lagi, kita bukan bocah ABG yang lagi kasmaran sampe bucin nggak jelas. Loe tau gue dan Joni sepakat menunggu loe dan jeni balik lagi. Mau gue lamar modelan gimana? nyewa dangdutan apa campur sarian?"


"Dika!"


"Tau loe kak, nggak ada romantis-romantisnya! Kak Erna juga butuh di perlakukan manis."


"Ntar kalo udah di kamar pengantin baru gue perlakukan manis, lagian kurang manis apa sich gue. Kurang buktinya gue cinta banget sama loe sampe nunggu janda loe!"


Erna memijat pelipisnya, ia pusing mendengarkan ucapan Andika yang tak bisa serius. Hingga Erna memilih ingin segera pulang dan beristirahat.


"Gue balik ya."


"Nah, mampuuus ngambek kan!" celetuk Bayu membuat Andika segera menoleh ke arah Erna yang hanya cuek padanya.


"Beneran mau balik?"


" Hhm, capek gue."


"Er, loe ngambek? ngeraguin gue?" tanyanya panik. "Jangan buat gue nunggu loe jadi jandanya siapa lagi. Gue nggak sanggup!"


"Ck....." Erna tak tau harus gimana lagi menghadapi Andika yang ketika sikap konyol nya keluar membuat geram.


"Terserah loe dech!" Tanpa menunggu ucapan yang lain Erna segera pergi dan meninggalkan semuanya. Sedangkan Andika dengan cepat mengejar.


"Sayang tunggu dulu baby....duh manisnya calon istri Abang, pake ngambek-ngambek gemes!" seru Andika tak perduli tatapan para tamu yang melihatnya.