One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 75



Gio berjalan mendekati Erna, ia menatap nyalang wanita yang kini sedang ketakutan. Dengan tubuhnya yang masih polos Erna berusaha mundur hingga punggung menempel di kepala ranjang.


"Mau apa loe Gio?" Erna mengusap kasar air matanya.


"Mau ngasih pelajaran sama loe lagi karena udah berani-beraninya menghubungi pacar loe itu!"


prang


Gio membuang ponsel Erna ke lantai hingga hancur tak tersisa. Kemudian naik ke atas ranjang dan membuka handuk kimononya hingga polos kembali.


"Jangan macam-macam Gio! mata loe buta? gue udah kesakitan dan mengeluarkan darah kayak gini. Loe udah nyakitin anak loe Gio!" bentak Erna.


"Ini bukan anak gue!" sentak Gio tak kalah kencang. "Ini anak loe sama pacar loe itu, loe pikir gue nggak tau kalo di belakang gue loe ada hubungan sama dia. Jangan sok suci Erna, gue yakin loe sering tidur sama dia, apa lagi kalian saling mencintai. Bulsyt jika ini anak gue!" ucap Gio dengan nada tinggi.


"Terserah loe mau percaya atau nggak, gue nggak minta pengakuan loe! bagus kalo emang loe nggak ngakuin, gue nggak akan sudi anak gue punya bapak gila kayak loe!"


"Akkkh......Gio loe brengs3k!" umpat Erna saat Gio kembali memasukinya. Gio seperti sudah kerasukan, padahal jelas darah masih terus mengalir hingga sprei berubah memerah.


"Gio, gue mohon hentikan Gio, loe nggak apa-apa nyakitin gue tapi jangan anak gue!" lirih Erna yang sudah semakin kesakitan. Ia tak menyangka jika Gio benar-benar biad@b.


Gio tak mempedulikan teriakan Erna, semakin Erna kesakitan semakin ia berhasrat untuk terus bergerak, memacu hingga Erna serasa ingin pingsan di buatnya.


BRAK


"Bajing@n!"


Andika begitu emosi saat melihat perlakuan Gio yang tidak manusiawi.


Gio dan Erna terkejut melihat Andika berdiri dengan wajah memerah. Gio melepaskan dirinya dan meraih handuk kimono, sedangkan Erna segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Andika menatap Erna dengan tatapan sulit diartikan, apa lagi melihat wanita yang ia cinta tampak berantakan dengan darah di kaki yang sudah memenuhi sprei. Air mata dan mata sendu itu membuat Andika semakin emosi. Ia berlari ke arah Gio dan menyerangnya.


Bugh


Bugh


Bugh


Melihat Andika yang memukul Gio dengan membabi buta membuat Erna cemas. Sekuat tenaga ia berteriak menghentikan pukulan yang Andika layangkan.


"Cukup Dika, cukup!"


Mendengar teriakan Erna dengan suara yang mengandung beban membuat Andika menghentikan pukulannya. Ia menatap Gio yang sudah babak belur dengan tatapan tajam seakan masih kurang balasan yang Gio terima.


Andika melangkah mendekati Erna, pria itu meraih tubuh Erna membawanya kedalam dekapan. Tangis Erna pecah saat Andika begitu erat memeluknya, hingga tanpa mereka sadari Gio sudah kembali bangun dan melempar vas bunga tepat di kepala Andika hingga membuat kepala bagian belakang Andika berdarah.


Prak


"Agh......"


"Andika!" seru Erna saat tangannya menyentuh kepala Andika yang sudah banyak mengeluarkan darah.


Andika tersenyum menatap Erna, tanpa di sangka ia kembali menghajar Gio hingga jatuh pingsan.


"Dika kepala loe!"


"Nggak usah di pikirin, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Andika mengangkat tubuh Erna yang berbalut selimut untuk segera pergi. Andika tak perduli dengan darah yang mengalir di kepalanya, yang ia pikirkan saat ini adalah Erna dan bayi yang ada di perutnya.


"Sakit Dik...." rintih Erna membuat Andika semakin menambah kecepatan. Hingga 30 menit kemudian mereka sampai dengan keadaan Erna yang sudah tak sadarkan diri.


Andika turun dari mobil, mengangkat tubuh Erna dan membawanya masuk kedalam rumah sakit. Langkahnya menuju ruang UGD dengan mulutnya yang sejak tadi meminta pertolongan.


"Suster tolong saya!"


Perawat yang ada di sana segera membuka pintu UGD dan memberi akses masuk untuk Andika, ia merebahkan tubuh Erna di atas ranjang. Perasaan takut semakin menghinggapi dirinya saat ia melihat wajah sendu itu tampak sedih dengan air mata yang sudah mengering.


Melihat dokter yang datang, Andika segera menghampiri. "Tolong Dok, saya mohon tolong selamatkan keduanya," lirih Andika.


"Baik Pak, tapi sebaiknya bapak juga cepat di obati." Dokter melihat jelas kepala Andika yang sudah di penuhi darah.


"Selamatkan dia dulu Dok! tidak usah memikirkan saya." Andika melangkah keluar dari ruang UGD karena Erna akan segera di tangani. Tapi belum sampai di pintu keluar, penglihatannya buram dan tak lama Andika jatuh tak sadarkan diri.


Setelah meeting usai, Raihan berlari menuju mobil dan pergi ke rumah sakit. Petugas rumah sakit mengabarkan pihak keluarga, serta Raihan karena namanya yang ada dalam panggilan kedua setelah nomor Erna.


Raihan berlari mencari kamar rawat Andika, tanpa mengabari istrinya ia ingin memastikan dulu keadaan kakak iparnya yang tiba-tiba masuk rumah sakit.


Raihan melihat sudah ada kedua mertuanya saat memasuki kamar Andika, dia segera mendekat dan menyalami keduanya.


"Bagaimana keadaan Andika Mah? ada apa sebenarnya? kenapa Andika bisa masuk rumah sakit?" tanyanya dengan khawatir.


"Nak, kamu duduk dulu dan tenangkan pikiran kamu. Karena ada yang ingin Papah tanyakan juga sama kamu." Raihan segera duduk di sofa bersama kedua mertuanya.


"Kata petugas rumah sakit, Andika membawa seorang wanita hamil saat datang ke sini. Apa kamu tau nak, siapa dia? karena papah dan mamah belum datang mengunjungi. Wanita itu saat ini sedang operasi, karena janin yang harus segera di selamatkan."


deg


Raihan tercengang mendengar ucapan Papah mertuanya, jadi Andika masuk rumah sakit karena menyelamatkan Erna. Raihan memijat pelipisnya, ia tak nyangka jika sampai seperti ini jadinya.


"Terus bagaimana keadaan Andika saat ini Pah?"


"Andika belum sadar, tadi kepalanya sempat di jahit karena luka sobek yang lumayan lebar."


Sejak tadi Mamah mertuanya hanya diam sesekali air mata beliau jatuh menatap Andika yang belum sadarkan diri.


"Mah, Pah, yang Andika tolong adalah orang yang Andika cintai selama ini."


Mamah dan Papah jelas terkejut, karena mereka tau jika wanita itu sedang hamil. Banyak pertanyaan di kepala keduanya karena Andika yang tak pernah bercerita tentang hubungan mereka.


"Tapi wanita itu...."


"Iya Pah, wanita itu memang sedang hamil, ia bernama Erna sahabat sekaligus pacar Andika sejak masih kuliah. Erna menikah dengan pria yang di jodohkan oleh Papahnya. Hingga sekarang Andika masih dekat dengan Erna karena Erna yang tidak di perlakukan dengan baik oleh suaminya."


"Ya Allah Dika." Mamah dan Papah tak habis pikir jika Andika yang super ceria dan tak terlihat memiliki beban ternyata menyembunyikan rasa kecewa dan menutupinya dari kedua orang tua.


Raihan keluar ruangan Andika kemudian melangkah menuju ruang operasi, ia ingin memastikan bagaimana kabar Erna dan keluarganya dalam menanggapi masalah ini semua.


Dari kejauhan tampak kedua orang tua Erna saling berpelukan di depan ruangan operasi. Wajah sedih terlihat dari keduanya yang tak kuasa menahan air mata.


"Siang Om."


"Rai...."


"Bagaimana dengan kondisi Erna Om?"


"Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa bayinya Rai," lirih om Nugraha.


"Om tau penyebabnya?" tanyanya yang ingin tau bagaimana jawaban Papah Erna setelah tau kondisi anak dan cucunya yang begitu mengkhawatirkan.


"Gio akan menerima ganjarannya..."