One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 88



Pagi ini setelah sarapan, Andini mulai di rias oleh pihak MUA yang sudah di siapkan oleh mertuanya. Menikmati sapuan kuas di wajah dengan kedua tangannya berselancar di layar ponsel membuka media sosial.


Ketukan pintu tak membuat Andini mengalihkan pandangan, ia tak sadar siapa yang datang. Hingga dia di kejutan dengan suara pekikan dari kedua sahabatnya yang ternyata sudah datang dengan membawa sebuah kado untuknya.


"Morning menjelang siang.....waaaaaahhhhhhb cakep banget istrinya kak Ray," seru Tia yang kini ada di belakang Andini.


Sudah lama mereka tak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing. Apa lagi Andini yang sekarang sudah berumah tangga, dia sudah tak sebebas dulu bermain dengan kedua sahabatnya.


"Kalian udah datang, gue kangen banget. Tapi ntar dulu ya pelukannya, gue belum kelar nich."


"Iyeee..." jawab Riri yang ikut duduk di pinggir ranjang bersama dengan Tia.


"Kayaknya semalam ada yang abis perang nich!" celetuk Tia membuat wajah Andini memerah.


"Perang, dimana ada perang?" tanya Riri polos.


"Perang ranjang lah, loe nggak liat ini kasur berantakan banget. Bunga mawar kemana-mana kayaknya ada yang habis honeymoon di malam resepsi."


"Nggak usah bawel dech loe Tia! ada mbak Mira nich malu tau!" ucap Andini kesal.


"Nggak apa-apa mbak, udah biasa. Namanya suami istri, nggak jauh dari urusan ranjang."


"OMG..... bener-bener, enak banget kan pastinya mbak?" lanjut Tia.


"Kalo nggak enak nggak mungkin para jomblo galau karena belum nikah-nikah mbak."


"Haduuuuhh udah dech Tia loe nggak usah kebanyakan nanya, kalo penasaran ya buru nikah!" sewot Andini yang malah malu sendiri dengan pembahasan sahabatnya dan mbak MUA.


Tia dan Riri menarik nafas berat, mereka bahkan belum punya pacar dan harus menikah dengan siapa. Hingga Andini yang sudah di rias pun merasa heran dengan kedua sahabatnya yang mendadak diam dan melamun berbarengan.


"Udah ya mbak?" tanyanya.


"Udah, tinggal rapiin gaunnya aja. Nah dah kelar. Beres semua ya, mbaknya cantik banget. Semoga lancar ya mbak, saya pamit dulu."


"Iya mbak, thanks ya."


Setelah penata rias keluar Andini kembali menatap kedua sahabatnya.


"Loe berdua kenapa tiba-tiba diem?"


"Nasib gue, pacar aja nggak punya mau nikah sama siapa. Ke kondangan aja berdua dia lagi dia lagi!" sahut Tia.


"Loe kata gue kagak, ketemunya loe lagi loe lagi! Nggak ada apa cowok yang mau ngelirik gue dikit aja."


Andini menarik nafas dalam, dia menggelengkan kepalanya mendengarkan keluhan para sahabat.


"Hey, kalian lupa. Gue juga nggak ada prediksi mau nikah secepat ini, kalo nggak karena one night with duda. Nggak mungkin gue udah nikah, lagian masih muda juga. Kuliah belum kelar, nggak usah di pusingin masalah nikah, ntar kalo udah kelihatan hilalnya juga datang itu pangeran berkuda hitam."


"Bener juga sih, abis ya kayaknya nikah enak banget gitu ya. Eh tapi ngapa pangeran berkuda hitam dah, yang ada tuh putih." Tia protes dan di benarkan oleh Riri.


"Udah nggak jaman yang putih, loe kata jaman Cinderella. Gantian yang hitam yang perkasa."


"Enak aja loe, punya laki gue bersih ya. Si Joni terawat dengan baik, sembarangan!"


Usai perdebatan antar sahabat, kini Andini di dampingi oleh kedua sahabatnya berjalan memasuki ballroom hotel yang sudah di sulap menjadi acara resepsi pernikahan yang megah dengan banyak tamu yang sudah datang memenuhi ruangan tersebut.


Banyak pasang mata melihat ke arah pintu masuk saat Andini melangkah masuk untuk mendekati sang suami yang berdiri menyambut nya dengan mata terpanah.


Kecantikan Andini bertambah berkali-kali lipat, aura bumil ini begitu terlihat. Hingga tak jarang banyak yang memuji dirinya. Senyuman tak luntur dari wajahnya, ia tak menyangka sang suami memberikan pesta pernikahan semewah ini.


Raihan pun berdiri gagah dengan mengulurkan tangannya saat Andini sudah mulai mendekat. Pasangan yang serasi hingga banyak yang iri melihat keduanya yang begitu tampan dan cantik.


"Kamu cantik sayang..." lirih Raihan saat keduanya melangkah menuju pelaminan.


"Kamu juga nggak kalah tampak mas, rasanya aku ingin mencolok mata para wanita yang hadir disini."


Raihan menahan tawa, mendengar kekesalan sang istri karena cemburu dengan mata para wanita yang tak berkedip menatap Raihan.


Para tamu yang datang silih berganti mengucapkan selamat. Mendoakan keduanya segera mendapatkan momongan dan di berikan kelancaran dalam rumah tangga mereka.


Teman-teman kampus Andini pun banyak yang hadir dan tak menyangka jika mempelai pria bukanlah Tara, melainkan pria yang pernah beberapa kali menjemput Andini ke kampus.


Mereka pun menyayangkan hubungan Andini dan Tara yang berakhir begitu saja, padahal di kampus keduanya termasuk pasangan romantis. Tapi setelah melihat Raihan yang begitu tampan justru mereka berubah haluan menjadi mendukung Andini dengan Raihan dari pada dengan Tara.


"Selamat ya, untuk yang kesekian kalinya. Gue seneng liat loe bahagia. Semoga langgeng terus." Tara datang sendiri, dia menjabat tangan Andini mengucapkan selamat.


"Makasih ya Tara, mudah-mudahan secepatnya loe nyusul," ucap Andini yang di angguki oleh Tara.


Kemudian pria itu beralih ke Raihan, "selamat ya bos, titip Andini. Jangan sakiti dia ya kak, maaf jika pernah membuat kalian salah paham, tapi saya udah ikhlas."


Raihan menepuk pundak Tara, mengiyakan ucapannya dan ikut mendoakan semoga Tara cepat mendapatkan pendamping.


Semakin sore tamu undangan semakin ramai, beruntung Andini tak merasa kepayahan, berdekatan dengan Rai tak membuat ia mual atau mengeluhkan kondisi badannya yang sedang berbadan tiga.


"Capek nggak sayang?"


"Lumayan mas, tapi aku bahagia. Jadi mengalahkan semuanya."


Raihan menarik pinggul Andini dan memeluknya. Keromantisan yang ia ciptakan tak jarang membuat para tamu merasa iri. Dan berandai-andai memiliki pasangan seperti Raihan. Kemudian Raihan merenggangkan pelukannya saat matanya menangkap Kakak iparnya yang diam melamun di kursi tamu.


"Andika sedih banget, kasian dia Erna belum bisa datang." Andini melihat ke arah kakaknya, ada rasa tak tega melihat wajah sendu kakaknya yang hanya diam menatap layar ponsel.


Sejak tadi Andika sendirian, sedangkan para orang tua menyambut tamu yang datang. Bayu pun belum datang karena tugas di rumah sakit dan mungkin malam baru bisa hadir ke sana.


"Semoga mbak Erna cepat sembuh ya mas,"


"Iya sayang, kita doakan yang terbaik buat mereka."


Andika menatap layar ponselnya yang menampakkan wajah ceria wanita pujaannya. Berkali-kali membuang nafas kasar mengingat Erna yang belum ada perkembangan. Tadi pagi pun ia menyempatkan diri untuk kerumah sakit tapi Erna masih dengan keadaan yang sama. Membuat Andika pasrah dan menyerahkan pada takdir berharap semua akan berakhir dengan indah.


Lamunan Andika buyar saat ada jemari yang menepuk pundaknya. Membuat Andika mendongakkan kepala menatap siapa yang datang menyapa.