One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 109



Hari ini Andini sudah mulai masuk kuliah lagi, meninggalkan pakaian kantor yang beberapa bulan ini selalu melekat di tubuhnya. Andini kembali ke gayanya dahulu. Memakai celana jeans dengan kemeja yang pas di tubuh dan rambut di gerai. Jangan lupa tas kerjanya yang sangat feminim ia ganti dengan tas ransel wanita yang membuat tampilannya kembali seperti anak baru lulus SMA.


Raihan cukup terpukau dengan penampilan sang istri, tapi dia cukup khawatir karena penampilan Andini yang makin terlihat jauh dengannya.


Mata Rai memicing saat sadar celana yang Andini gunakan adalah celana pas body dan juga pas di bagian perut. Lalu bagaimana dengan nasib kedua anaknya yang sedang tumbuh disana. Bagaimana kedua anaknya bisa bebas bergerak jika pakaian yang mommy nya pakai begitu pas di badan.


"Sayang..."


Andini yang sedang menggunakan lipstik tipis segera menoleh ke arah sang suami.


"Iya mas, bajunya udah aku siapin tinggal pakai aja." Andini kembali fokus menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di depannya.


"Celananya ganti mom!" ucapnya lembut seraya memakai pakaian kantor yang telah di siapkan.


"Kenapa mas? ini masih muat kok!"


"Mommy nggak kasian sama kembar? sulit gerak loh sayang, aku ngeliatnya aja ngeri sendiri. Bisa di ganti nggak mom, pakai rok aja, cocok kok sama kemeja yang kamu pakai. Santai gitu kemejanya."


Setelah memakai pakaiannya Rai segera mendekati sang istri yang masih berdiri di depan cermin, menelisik penampilannya yang membuat sang suami protes pagi-pagi.


"Tapi nggak nyesek mas, hhmmmm ya udah dech aku ganti." Kemudian berjalan menuju lemari memilih rok yang pas untuk ia pakai ke kampus.


"Jangan pendek-pendek roknya sayang!" Raihan mengingatkan agar Andini tak memakai pakaian yang mengundang birahi mahasiswa lain.


"Tenang Daddy!" Andini paham dengan sikap sang suami yang mendadak perhatian sekali pagi ini.


Setelah rapi dengan setelan rok selutut yang di padukan dengan kemeja santai ala anak kuliah , kini Andini sudah duduk dengan sang suami di ruang makan.


Sejak tadi Rai hanya diam mengamati Andini dengan pikiran yang menggangu konsentrasinya. Setelah berganti dengan rok, sang istri justru semakin menarik. Sulit memang memiliki istri muda yang penampilan bak gadis belia. Bawaannya hati tak tenang.


Raihan menggenggam tangan Andini menatapnya sang istri dengan tatapan teduh membuat jantung Andin tiba-tiba berdendang merdu.


"Kenapa mas?"


"Bisa nggak kuliahnya di kantor aku aja?"


"Hah!"


Andini tercengang mendengar ucapan Rai yang tak masuk akal baginya, cemburu boleh tapi bisa kah waras. Sedangkan semua teman kampus sudah tau jika dirinya sudah menikah. Dan jangan lupakan tubuhnya yang mulai berisi, pasti yang peka pun tau jika di berbadan dua, eh berbadan tiga malahan.


"Mas, mana bisa gitu? ntar yang jadi dosen siapa? mas Rai? ngajarin apa? biologi?"


Andini menarik tangan Rai lalu meletakkan di atas perut, " ini kan udah ada hasilnya, badan aku aja gemuk begini. Jangan curiga dan cemburu keterlaluan. Bahkan kemana-mana aku membawa anakmu mas!"


Raihan membuang nafas kasar, akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengantar sang istri ke kampus. Karena ia ingin memastikan sendiri Andini sampai di kampus dengan selamat dan tak membuat pikiran.


"Aku masuk ya mas!" Andini meraih tangan Rai kemudian menciumnya dan Rai mengecup kening sang istri yang berakhir lumaaatan nakal di bibir hingga lipstik yang hanya sekedarnya itu luntur akibat sapuan lidah Raihan.


"Maassss.....pucat lagi nanti bibir aku! tuh kan!" kesalnya saat melihat penampilan yang sudah rapi menjadi sedikit berantakan ulang sang suami.


Raihan hanya tersenyum melihat wajah kesal Andini yang seharian ini pasti ia rindukan. Selama berbulan-bulan menikah selalu dalam lingkungan yang sama mulai hari ini harus terpisah.


"Hati-hati ya, jaga anak-anak! Daddy kerja dulu!"


"Hhmm..."


Andini segera keluar dari mobil dan melambaikan tangannya ketika mobil yang di tumpangi Raihan sudah mulai meninggalkan area kampus.


Wanita itu bernafas lega, setidaknya drama pagi hari yang di buat sang suami berakhir dengan baik di kampus tercinta. Andini melangkah masuk kedalam dengan semangat, ia memiliki target yang beberapa bulan ke depan harus terlaksana agar tak mengganggu kehamilannya.


"Andini!"


"Hai...." Andini menoleh ke samping, dengan mata berbinar ia berlari mendekati kedua sahabatnya yang datang dengan menyambutnya.


"Eeehhh.....jangan lari-lari, apa kali nich bumil pecicilan begini!"


Ketiganya saling berpelukan, selama berbulan-bulan magang dan jarang ada waktu bersama, kini mereka sudah kembali menggemparkan jagad perkampusan akan penampilan ketiganya yang menarik di pandang oleh para mahasiswa disana.


Bahkan sepanjang jalan Andini melangkah menuju kelas, masih saja ada yang meledeknya. Walaupun jelas statusnya, tapi aura Andini mampu membuat jiwa nakal pria meronta.


"Bumil ini makin hari makin bersinar cuy....mana body nya makin nampol! gila-gila gue pikir setelah melakukan resepsi daya pikat loe udah luntur. Tapi malah makin jadi, loe nggak lihat tadi anak akutansi, si ganteng yang jadi rebutan kaum hawa. Ngeliatin Ampe matanya mau melintir."


"Riri loe jangan ngarang oke!"


"Beeeehhhh.....mereka loe suruh nunggu janda loe juga mau!" celetuk Tia.


"Bu ....itu mulut minta gue comot pake martil ye...loe doain gue jadi janda!" sewot Andini. "Udah lah, ayo masuk kelas. Gue mau belajar bener nich biar skripsi lancar!"


Seharian ini Raihan tampak tak tenang, suasana serasa hambar bahkan berulang kali melihat jam di tangannya berharap cepat pulang.


"Loe ngapa?"


"Kangen bini!" sahutnya.


"Beeehhhhhh baru sehari aja belum ada udah kangen, ikut gue yuk! kerjaan udah kelar, meeting juga udah nggak ada lagi."


"Mau kemana? mending gue balik lah!"


"Ck, Bayu nunggu di cafe katanya mau ngasih apaan, gue nggak tau dach. Penting gitu, udah ayo! adek gue belum pulang jam segini, dia mah kalo kuliah pulang sore!"


Mau tak mau Raihan mengikuti Andika dan pergi menuju cafe langganan mereka. Karena belum jam pulang kantor, Andika tak mengajak Erna. Mereka hanya berangkat berdua dan berniat ingin nongkrong di sana sebelum jam pulang kerja.


"Bro!"


"Woy.... kangen gue sama loe berdua!" Andika dan Rai saling berjabat tangan dengan Bayu.


"Gue udah mesen minum buat kalian, ngomong-ngomong doi nggak pada di bawa?"


"Belum jam pulang kantor."


"Bini gue juga belum pulang kuliah kali!" lanjut Raihan. " Ada apa? tumbenan ngajakin kita kesini?"


"Gue mau nyusul loe Rai, gue mau ngadain acara lamaran, makanya gue ngundang kalian buat datang!"


"Waaahhhhh selamat bro, akhirnya sold out juga si kadal," celetuk Raihan.


"Njiirrrr terus gue loe tikung bro, nggak setia kawin loe. Katanya mau bareng, tapi malah lamaran duluan!"


"Nunggu loe lama bro, si Joni udah minta di asah. Capek gue senam jari mulu, lama-lama item si Joni! Sawah dah siap, tinggal akad lanjut digarap!"


"Udah lanjut aja, jangan kayak dia noh udah nyolong start duluan!" sahut Raihan kemudian menyeruput kopi yang sudah tersedia.


"SHIIITT itu bukannya bini loe Rai!"


uhuuuk uhuuuk uhuuuk


"Adik gue emang primadona, nggak ada yang ngalahin pesona adek gue. Liat aja abangnya kualitas unggul!" ucap Andika menatap sang adik yang duduk dengan kedua sahabatnya dan diikuti oleh dua pria tampan yang ia tak kenal. Sedangkan Raihan menatap sang istri dengan tangan mengepal di bawah meja.