
Mereka sudah berkumpul di meja makan untuk makan siang, setelah sebelumnya Andini membantu mamah memasukkan semua belanjaan di dalam kulkas dan ada juga yang di hidangkan di atas meja makan hingga begitu ramai dengan beraneka ragam makanan.
"Segini?" tanya Andini saat mengisi piring Rai dengan nasi dan lauk.
"Sudah cukup!"
"Pakai sayur kak?" tanyanya lagi.
"Pakai sayur yang ada kuahnya aja sayang!"
"Nggak usah sok perhatian! biasanya aja diem-dieman." celetuk Andika.
Andini merengut, kemudian kembali menyendok makanan mengisi piringnya.
"Nggak usah di dengerin, kakak kamu cuma iri pengen juga ada yang merhatiin. Salah sendiri nggak nikah-nikah, mamah jadi khawatir putra mamah ikut modelan yang lagi ngetrend sekarang ini."
Andika menganga mendengar ucapan sang mamah yang menuduhnya belok, mungkin jika itu bukan mamahnya sudah di bungkam pakai sendok. Sedangkan Rai dan Andini tertawa melihat ekspresi sang kakak yang begitu terkejut dan geram mendengarnya.
"Mah....jangan gitu, mungkin belum lagi otw jodohnya!"
"Otw nya jauh banget apa ya Pah sampe nggak nyampe-nyampe," lanjut mamah.
"Mah, yang mamah omongin tuh orangnya ada di mari mah, berasa lagi di gibahin di depan muka gue! lagian Dika nggak kayak yang mamah bilang ya!"
"Kak Dika emang di kantor nggak punya cewek mah, orang kerjaannya aja berduaan Mulu sama kak Rai!" sahut Andini. "Tapi Kak Rai normal ya, buktinya nikahin gue!" ucapnya sambil melotot ke arah Dika.
"Diem loe, laki sendiri loe bela. Giliran kakak loe kagak, emang loe kemarin-kemarin minta jajan sama siapa? mentang-mentang udah punya laki, padahal kemarin beli d@leman model baru aja loe masih minta duit gue!"
Wajah Andini merona, Andika benar-benar tak bisa menjaga. Hal seperti itu di umbar di meja makan sampai sang suami meliriknya.
"Diem loe kak! pake bahas gituan lagi!" Andika tak menimpali dia hanya tersenyum mengejek melihat wajah Andini yang sudah memerah.
Setelah makan, kini Andini mengajak Raihan beristirahat di kamarnya. Kamar yang sudah hampir sebulan dia tinggalkan, kamar yang begitu banyak kenangan. Bahkan Rai baru sekali masuk kesini.
"Istirahat dulu ya Kak, nanti sorean aja ke rumah mamah Sifa," Andini duduk di tepi ranjang menatap Rai yang sedang menutup pintu.
"Iya sayang, aku ke kamar mandi bentar ya." Raihan masuk kamar mandi setelah meletakkan handphonenya di nakas.
Andini merebahkan tubuhnya, efek kekenyangan hawanya pengen senderan. Sambil memainkan ponselnya dan bersenandung ria. Sesekali ia melirik ponsel Rai yang bergetar, tapi tak juga ingin tau detail. Rai yang entah sedang apa, sedangkan getaran di ponselnya membuat Andini bangun. Sudah berulang kali dia abaikan tapi sepertinya memang butuh perhatian.
"Siapa sich? pengen banget gue angkat. Tapi nanti nggak sopan, kalo penting bagaimana." Andini bingung sendiri sedangkan Rai tak kunjung keluar, hingga belasan panggilan tak terjawab terlihat saat panggilan tersebut berhenti.
"Biarin aja dech, udah mati juga." Andini rebahan lagi tapi belum sempurna getaran ponsel Rai lagi-lagi mengganggunya.
"Ikh, angkat aja kali ya, siapa tau penting lagian kenapa nomor doank begini."
"Halo Rai, kamu lama banget sich angkatnya. Aku kan udah bilang tadi mau ajak kamu ke cafe tempat biasa kita dulu. Walaupun aku tau kamu nolak tapi aku yakin kamu itu sebenarnya rindukan sama aku!"
deg
Belum sempat Andini berbicara tapi suara di seberang sana terus saja berucap tanpa jeda.
"Suara wanita, siapa? rindu? cafe?" pertanyaan yang memenuhi isi kepala Andini, akibat penghianatan sang mantan saja masih jelas di ingatan. Dan ini saat dirinya sudah menerima harus kembali kecewa karena suara perempuan.
"Halo Rai..."
"Rai.."
Andini tak menjawab, dia segera menutup ponselnya kemudian mengusap kasar air mata yang tanpa permisi menetes di pipi. Tak ingin berpikiran buruk dengan sang suami tapi hati yang dalam masa penyembuhan seperti tersentil kembali. Dia menelungkupkan wajahnya di bantal setelah meletakkan kembali ponsel Rai.
Raihan keluar dari kamar mandi kemudian mendekati Andini yang hanya diam, sempat heran karena tak mungkin istrinya tertidur begitu saja.
"Sayang..." panggilnya dengan menyentuh pundak Andini. Tapi Andini tak menghiraukan, mau bertanya dengan Rai pun masih malas. Dia memilih untuk bungkam sampai benar-benar terbuka semuanya.
"Sayang kamu tidur?" Raihan mengusap lembut kepala Andini dan mengecupnya. Kemudian dia ikut berbaring memeluk sang istri yang tanpa ia tau sedang merajuk kesal.
Hingga sore hari keduanya bersiap untuk ke rumah mamah Sifa. Andini yang sejak bangun hanya diam tak menyapa dan tak niat berbicara membuat Rai tak nyaman. Rai memperhatikan sang istri yang sedang pamit dengan kedua orangtuanya seraya menitikan air mata, tapi yang Rai lihat bukan karena sedih berpamitan.
"Kok nangis sich sayang, kan Minggu depan bisa kesini lagi. Kenapa anak mamah ini cengeng sekali? ada yang memberatkan pikiranmu?"
"Nggak ada mah, cuma masih kangen aja."
"Rai, tolong diamkan anak mamah ini ya. Sepertinya sedang ingin di perhatikan. Tak biasanya manja begini." Andini masih memeluk sang mamah. Rasanya ia tak ingin pergi dari rumah kedua orangtuanya. Sejak siang tadi hatinya tak karuan. Begitu sesak kala rasa percaya mulai terpangkas.
"Iya mah, ayo sayang.." Rai menarik tubuh Andin dan mengajaknya masuk ke mobil. Dengan langkah yang berat Andini menuruti, tanpa mengeluarkan kata sedikitpun dia masuk dan siap berangkat.
Sepanjang jalan tak ada perbincangan bahkan Rai yang sejak tadi menggenggam tangan Andini saja tak di hiraukan. Hingga Rai yang tidak tahan akhirnya bertanya.
"Kenapa?"
"Apa nya?"
"Kamu kenapa diam aja dari tadi, aku ada salah?" tanya lagi tapi Andini hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Jujur aja kalo memang aku ada salah atau ada tingkahku yang membuat kamu tak berkenan. Aku akan mencoba introspeksi diri, tapi jangan kamu diamkan aku seperti ini. Aku nggak tahan sayang," ucap Raihan lembut mampu meluluhkan hati Andini, tapi karena moodnya yang hancur membuatnya malas untuk akur.
Tak menanggapi ucapan Rai dan lebih memilih melihat keluar jendela. Cinta belum terucap tapi mendengar suara wanita yang begitu manja membuatnya kecewa.
Sampai dirumah mertuanya Andini segera turun tanpa menunggu Rai membuka pintu. Sifa yang mendengar suara mobil anaknya pun segera keluar menyambut dengan hangat.
Senyum mengembang, tamu yang di nantikan datang. Beliau sangat merindukan menantunya. Apa lagi terakhir hubungan mereka yang masih tak sejalan. Sebagai orang tua tentu khawatir dan tak ingin rumah tangga anaknya berakhir lagi.
"Sayang, menantu mamah tambah cantik aja. Semenjak kerja makin dewasa, pantas Rai tergila-gila."
Andini tersipu, sedikit melirik Rai yang menyambutnya dengan senyum. Tapi menjadi kikuk karena Andini yang tadi cuek tak mau bicara.
"Ayo masuk sayang, papah di dalam sayang." Mereka masuk kedalam, mengucap salam dan mencium punggung tangan sang Papah.
"Sehat Pah.."
"Alhamdulillah...Gimana?" tanya papah yang sebelumya melirik Andini.
"Masih proses Pah, doakan ya..sulit memang mendapatkan hati wanita yang betul-betul berharga. Beda dengan yang menebar manja dimana-mana."
Vino menepuk pundak Rai, sedikitnya dia tau tentang rumah tangga anaknya. Tanpa Rai tau kedua orangtuanya mengawasi dengan baik. Tanpa ikut campur mereka hanya ingin tau, setidaknya melegakan hati mengingat rumah tangga sang anak pernah berakhir.
"Usaha, pria sejati tak akan menyerah. Perjuangkan karena istrimu wanita yang baik dan dari keluarga yang baik-baik. Jangan kecewakan orang tuanya yang sejak kecil membesarkan. Jaga hatinya karena marahnya istri bencana bagi suami."
Raihan mengangguk paham, melihat Andini yang begitu akrab dengan sang mamah. Masih ada ganjalan di hatinya dengan perubahan dari Andin yang belum ia tau penyebabnya.
"Bagaimana sayang, sudah ada tanda-tanda?" tanya Sifa dengan mata berbinar.
"Oh itu.." Andin melirik Raihan, suaminya yang mengerti segera menggenggam tangan Andin.
"Masih mau pacaran dulu mah, biarin nanti sekasihnya aja. Mudah-mudahan secepatnya, mamah doakan ya agar usaha kita nggak sia-sia." Bukan Andini yang menjawab melainkan Raihan, tersenyum menatap sang istri dengan mata teduh membuat Andini membalas senyuman itu.
"Maklum mah pengantin baru, masih ingin berduaan," sahut papah.
"Iya Pah, mamah lupa saking antusiasnya ingin menggendong cucu. Mamah kesepian sayang di rumah, kalo papah kerja nggak ada yang mamah ajak ngobrol jadi gini dech."
"Nggak apa-apa mah, doakan saja Andin bisa cepat kasih mamah cucu." Mendengar itu Raihan segera mencium kening Andini, ada rasa lega setelah tadi sempat khawatir dengan diamnya sang istri.
"Dek..." panggil Rai setelah masuk kamar, mereka memutuskan untuk menginap karna sang mamah yang tak mengijinkan mereka pulang malam-malam.
"Marah ya sama kakak?"
"Nggak." Andini segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian yang tadi di siapkan oleh Sifa.
"Eh mau ngapain kak?" tanyanya yang terkejut melihat Raihan ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Katanya nggak marah ya udah ikut."
"Ya nggak gitu juga, keluar sana aku mau bersih-bersih." Andini menatap tajam Raihan yang belum mau beranjak.
"Ya udah biar aku bersihin ya," ucapnya lembut.
"Nggak ada kayak gitu Kak, keluar atau aku marah?" ancaman yang membuat Raihan mundur.
Brak
Pintu di tutup oleh Andini dengan sedikit kencang hingga Raihan terjingkat.
"Benar kata papah, marahnya istri adalah bencana."
...****************...
Ayo jangan lupa like, coment dan vote untuk dukung Abang Rai dapetin hati neng Andin.
Yang mau tau cerita kedua orang tua Raihan, bisa baca karyaku yang berjudul "Cinta Berawal Luka" di sana ada ceritanya Sifa dan Vino.