One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 40



Malam ini Andini tidur dengan nyenyak, Rai yang semalam sempat berulah dan meminta susu segar akhirnya tertidur pulas. Sempat terjadi perdebatan antara keduanya. Andini yang kekeh bertahan, sedangkan Rai yang sedikit memaksa. Lelah terus beradu argumen, Andini terpaksa membuka akses agar Raihan cepat tertidur dan tak lagi merusuh.


Dan benar saja, setelah menyedot dengan kuat hingga rasanya Andini merem melek ngilu pedas. Raihan tertidur dengan mulut yang masih singgah tapi frekuensi yang sudah melemah. Andini pun akhirnya terlelap setelah menutup kembali dua aset berharganya yang kini menjadi benda favorit Raihan. Mendekap tubuh Rai dan mengusak di dada bidang yang sekarang menjadi titik aman baginya.


Hari libur membuat Andini mager dan terus bergulung di dalam selimut. Tak terpikir akan bangun lebih awal sekedar bikin kopi untuk Rai, yang ada dia hanya butuh istirahat setelah seminggu lelah bekerja. Simbok yang melihat pintu kedua pasutri masih tertutup rapat mengurungkan niatnya untuk memberitahu jika sarapan sudah siap.


Raihan terbangun karena getaran ponselnya begitu menggangu, sedikit merenggangkan pelukannya kemudian menyambar ponsel tanpa tau siapa yang menghubungi.


"Halo.."


"Rai..."


"Siapa?"


"Aku_"


"Mau apa?" tanya Rai setelah sadar siapa si pemilik suara.


"Besok aku datang ke kantor karena di minta Bu Flo untuk menandatangani surat kerja sama. Aku modelnya kan? makasih ya masih inget sama aku."


"Datang dan lakukan sesuai pekerjaan, profesional dan tak usah membahas masalah lain."


"Masih saja dingin denganku, padahal aku merindukanmu. Sekedar ngopi apa salahnya sambil membahas pekerjaan. Hari ini pun aku santai, bisa janjian di tempat biasa jika kamu menginginkan."


"Kalo sudah tidak ada lagi yang penting aku tutup telponnya, jangan bersikap berlebihan karena sekarang sudah tak sama!" ucap Rai dengan nada dingin.


Andini yang merasa terganggu membuka mata dan menatap wajah datar Rai yang tak seperti semalam. "Siapa kak?"


Suara Andini membuat Rai seketika merubah sikapnya. Kembali tersenyum dengan sikap hangat mengecup kening penuh sayang.


"Itu siapa Rai?"


"Bukan urusanmu, disini kita patner kerja dan aku harap kamu bekerja dengan baik dan bersikap sesuai porsinya."


Tut


Raihan menutup panggilan secara sepihak, dia tak lagi ingin mendengar suara yang telah lama ia kubur rapat-rapat. Tak ingin juga merusak suasana yang tercipta dengan istrinya. Lebih fokus mengambil hati sang istri dan memperbaiki rumah tangga yang baru terjalin.


"Nyenyak tidurnya?"


"Hhmm....siapa?" tanyanya lagi merasa penasaran, sekelebatan suara wanita terdengar dari volume handphone yang cukup nyaring.


"Hanya patner kerja, nggak perlu di pusingkan. Peluk lagi sini!"


Andini bergeser memberi jarak, hendak ke kamar mandi karena sudah ada yang mendesak. "Mau kemana sayang?"


"Pipis kak, awas tangannya aku udah nggak tahan!" Andin segera turun dari ranjang dan masuk kamar mandi. Tak perduli Raihan yang dengan isengnya memanggil. Lanjut mandi agar lebih segar karena hari ini mau pergi ke rumah mamah.


Setelah sarapan, kini keduanya segera bergegas masuk mobil. Andini yang hari ini tampil cantik membuat Raihan betah mengamati. Dengan dress selutut dan rambut di kuncir satu membuat wajahnya tambah imut, apa lagi sepatu kets yang ia kenakan membuat Rai tersenyum melihatnya.


"Berasa lagi ngajak adik jalan-jalan!"


"Kenapa?"


"Penampilan kamu seperti anak SMA!"


"Kakak juga, nggak terlihat tua. Untung aja sich jadi pas di ajak kondangan."


"Sayang kamu mengejekku?"


Raihan yang penampilannya jauh dari umurnya juga tak kalah mempesona, apa lagi hari ini mengenakan celana jeans dan kaos warna putih, terlihat lebih santai mirip-mirip anak kuliahan.


"Langsung tempat mamah, apa mau mampir kemana dulu?"


"Mamah sudah pasti masak kak, makanan kalo lagi hari libur gini banyak. Aku nggak perlu repot-repot bawa makanan ke sana, nanti malah di komplain mamah, ribet."


"Setidaknya beli buah untuk buah tangan, masak iya tangan kosong. Atau mau mampir supermarket dulu?"


"Boleh, kakak mau buah apa biar nanti makan disana sekalian."


"Aku udah punya buah, awet, nggak abis-abis. Bikin kenyang dan tidur nyenyak. Kayaknya nggak perlu dech sayang." Andini menganga mendengar ucapan Rai, apa maksudnya? buah apa yang ia punya?


"Kakak nich bicara apa, sangat tak masuk akal!"


"Jangan pura-pura nggak tau sayang, kamu bukan anak SD yang baru belajar pacaran!"


"Terserah kakak aja!" Andini memalingkan wajahnya ke arah jendela. Perdebatan yang tak akan ada habisnya jika di teruskan. Tapi ujungnya bukan berantem malah ucapan menjurus ke hal yang enak-enak bikin panas dingin mikirnya.


"Berisik loe! dateng-dateng bangunin orang!"


Andini duduk di sofa dengan senyum mengembang, "orang tuh salam di jawab bukan malah marah-marah! jam segini baru bangun!"


"Suka-suka gue, mata baru bangun tapi yang bawah udah bangun dari pagi!"


Andini menggelengkan kepala, bicara dengan yang satu frekuensi memang arahnya nggak jelas. Raihan dan Andika memang tak ada bedanya.


"Tumben Rai, minta dipulangin?" tanyanya sambil melirik Andin yang sibuk mencari sang mamah.


"Minta main, sorry gue nggak akan jadi duda lagi." Raihan duduk di dekat Andin.


"Kak mamah mana sich? kok nggak ada jam segini? arisan? apa lagi nyiram kembang? nggak tau apa anak gadisnya pulang!"


"Loe udah bukan gadis ya!" ucap Andika mengingatkan. "Mamah ke pasar, padahal di meja makanan udah kayak mau selametan, tapi masih aja kurang. Loe bilang kalo mau main kesini?"


"Nggak, mungkin mamah berasa. Secara gue kan anak kesayangan." Andini bersandar di dada Rai dengan santai sambil membuka ponselnya.


"Sekarang aja loe lendot-lendot kemarin nolak mulu, nggak malu!"


"Kenapa? situ keberatan? apa pengen juga?"


"Sayang jangan di goda terus, nanti ngamuk repot. Kasian pawangnya masih dalam penjagaan orang, belum bisa di lepaskan!" Raihan mengusap lembut kepala Andini.


"Memang siapa? jangan bilang bini orang! Kak loe mau jadi pebinor? cita-cita loe jelek amat sich kak!" tanya Andini sewot, "gue bilangan mamah, mampuuus loe!"


"Sayang bicaranya!" tegas Raihan.


"Loe yang mampuuus....makan tuh ngoceh mulu kayak beo! udah punya laki juga loe!"


Andini menoleh ke arah Rai, memasang puppy eyes hingga membuat wajahnya semakin imut dan tak tega melihatnya. "Maaf keceplosan..."


"Jangan gitu bicaranya, di jaga! ini bibir hanya untuk berbicara yang lembut dan tempatku memaaagut!" Raihan mengedipkan mata sebelah matanya. Andika yang melihat kemesraan keduanya di buat kesal.


"Terus aja loe berdua mesra-mesraan di depan gue! anggap aja gue nggak ada."


cup


Andini sengaja mengecup pipi Rai agar Andika semakin murka, tapi tidak dengan Rai. Hatinya berdebar dan matanya membola, karena serangan pertama dari sang istri.


"Njiiir masuk kamar loe sono! bikin mata gue kelilipan aja!" kesal Andika kemudian melempar bantal sofa ke arah Andini.


"Kak Rai...." rengek Andini begitu manja.


"Sayang ...anak mamah pulang!" mamah yang baru datang begitu bahagia melihat mobil Raihan terparkir rapi di halaman. Hingga tak menunggu sang suami beliau langsung ngacir masuk rumah.


"Mamah...." Andini beranjak dan segera memeluk sang mamah.


"Kangen mah...."


"Iya mamah juga kangen banget sama kamu, akhirnya pulang juga. Betah banget ya punya suami tampan sampe nggak inget sama mamah!"


Andini merenggangkan pelukannya, "mamah bicara apa sich, mana ada begitu. Andini tuh sibuk kerja mah, pulang ya langsung pulang udah capek mau kemana-mana."


"Mamah kira lagi program sampe nggak sempet kesini," ledek mamah.


"Mah .."


"Eh Rai!" Raihan meraih tangan sang mamah dan papah yang baru kembali dari dapur. Setelah meletakkan semua belanjaan di sana.


"Gimana Andin Rai? anak mamah ini merepotkan kah?"


"Mamah..." sewot Andin.


"Nggak kok mah, Andin nurut anaknya. Ya kan sayang?"


Wajah Andini memerah, Raihan memanggilnya dengan mesra di depan kedua orangtuanya. Tentu saja membuat Andini malu, sedikit mencubit perut Rai hingga Raihan meringis kesakitan.


"Auwh...sakit sayang!"


"Andini!"


"Begitu tuh mah kelakuan anak mamah, nggak tahanan, tadi aja abis nyium-nyium Rai di depan aku mah. Mamah dulu ngidam apa sich, soang? punya anak bibirnya nggak bisa diem!"


"Kak Andika!"