
Setelah dua hari di rumah sakit, kini Andini sudah di perbolehkan untuk pulang. Dengan telaten Raihan membantu Andini untuk naik dan turun mobil serta menggandengnya saat berjalan.
Kedua anaknya di gendong oleh kedua nenek yang sedang berbahagia. Terasa begitu adil mendapatkan cucu pertama tidak membuat beliau berebutan.
Raihan membuka pintu rumah untuk Andini, baru saja langkahnya memasuki pintu utama. Sambutan dari para sahabat dan kerabat serta Andika, Erna dan dua pasangan tukang ribut tapi saling butuh, Tara dan Cantika juga sudah hadir dengan membawa kado masing-masing untuk si kembar yang menjadi primadona.
Dua nama serta foto kembar sudah terpampang di bingkai. Serta balon dan pernak pernik lucu bernuansa biru dan pink menghiasi ruang tamu.
Dan tidak ketinggalan kue ulang tahun yang ada di atas meja. Serta hiasan yang bertuliskan Happy Birthday Andini menggantung di sekeliling meja.
Kemudian ada juga hiasan bertuliskan welcome at home Baby R&A
Rafka Jhon Putra Baratajaya & Aara Jhen Putri Baratajaya
Kini kedua bayi itu melengkapi kehidupan sepasang suami istri yang menikah karena ketidaksengajaan. Hingga saling jatuh cinta dan berbahagia.
Andini terharu melihat sambutan yang mereka persiapkan untuknya. Yang ternyata bertepatan dengan hari ulang tahun Andini.
Air mata mengiringi doa yang terucap, hingga kecupan hangat Rayhan menambah bahagia.
"Makasih mas...." lirih Andini memeluk Raihan dengan erat.
"Sama-sama sayang, sehat terus mommy Andini, semoga makin sayang keluarga dan selalu dalam perlindungan."
"Aamiin...."
Setelah memberi baby R dan baby A di beri asi, kini Andini dan Raihan berkumpul di meja makan bersama semuanya. Hingga di pertengahan makan Rayhan yang melihat para muda mudi kurang nyaman dengan posisi mereka, meminta simbok menyiapkan karpet besar untuk mereka lesehan.
Tertawa bersama hingga obrolan ngalor ngidul mengisi kebersamaan mereka semua. Sedangkan para orang tua pun menikmati makan di meja makan dengan khidmat dan kekeluargaan. Membahas kedua cucu mereka hingga beberapa saham yang akan Opa Vino berikan kepada keduanya.
"Gimana Dika? udah gol belum tuh?" tanya Bayu di sela-sela makannya.
"Udah dong, lihai gue mah. Lancar jaya langsung tepat sasaran, hingga semburan Joni bersemayam di tempat semestinya."
"Siap-siap dech nich, abis anak gue lahir anak loe launcing. Gimana kalo kita buatin group ciwik-ciwik manja?" pertanyaan yang mengandung solusi tetapi dengan cepat sendok Andika nyasar ke piring Bayu hingga menimbulkan dentuman keras.
"Monyet!"
"Apa amang? Ngadi-ngadi usulan loe, ponakan gue yang satu laki ya!" sewot Andika sedangkan Raihan hanya menggelengkan kepala mendengar usulan tak waras dari Bayu.
"Sewot banget loe, bapaknya aja diem Bae."
"Bukan diem, loe kayak kagak tau si Raihan aja . Dia punya jeroan serba panjang makanya sabar ngadepin mulut loe!"
"Mulut loe juga!" celetuk Bayu tak terima.
"Berisik loe pada! abisin makanannya terus pulang!" tegas Raihan membuat kedua sahabatnya tercengang.
"Apa loe kata? loe ngusir gue? loe lupa siapa gue?" tanya Andika tak menyangka.
"Anjir ini anak kalo udah ngomong ngeselin ya, pengen gue tabok itu mulut pake centong. Lagian kalo loe ngusir kita berarti loe ngusir bokap nyokap juga Raihan!" Andika benar-benar kesal, adik luknut batinnya.
"Nak....semuanya mamah papah pulang dulu ya!" dengan tiba-tiba semua para orang tua pamit pulang tanpa aba-aba. Andika dan yang lainnya tercengang kemudian menatap Raihan yang hanya tersenyum miring.
"Asli, berasa di usir di keluarga sendiri gue. Udah bubar! bubar! ada yang mau bikin adeknya kembar lagi!" seru Andika pada semuanya. Tapi memang jika di lihat-lihat ini sudah malam dan waktunya untuk beristirahat. Apa lagi Andini sejak pulang dari rumah sakit hingga malam ini belum rebahan.
Sedangkan sebagai ibu muda yang baru pulang dari rumah sakit membutuhkan istirahat yang cukup untuk merawat kedua baby-nya. Walaupun Raihan sudah menyediakan jasa baby sister tapi tak membuat Andini bersantai begitu saja.
"Mbak pamit ya Ndin, nanti kalo ada apa-apa hubungin mbak aja. Takutnya kamu kewalahan atau butuh sesuatu."
"Iya mbak, makasih ya mbak... sabar-sabar ngadepin kak Andika."
Mendengar ucapan adiknya seketika mata Andika membola. Apa maksudnya harus sabar menghadapinya...
"Ehem.....nggak usah lama-lama pamitnya, nanti jadi ghibah!"
Andini dan Erna hanya memutar bola matanya kemudian Erna segera undur diri.
"Balik dek," ucap Andika kemudian mengusak lembut kepala Andin.
"Iya kak, makasih ya kak buat semuanya."
"Sama-sama, ya udah kakak balik ya." Andini menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan pada yang lain juga. Tak ketinggalan Cantika dan Tara yang juga pamit pulang.
"Kak Andini, Cantika pulang ya. Nanti kalo weekend Cantika main kesini lagi nengokin baby R dan A."
"Iya cantik, Tara hati-hati ya bawa pulang adik gue. Awas loe ampirin kemana dulu!" Andini sengaja memperingati, takut-takut mereka khilaf.
"Iya, emang ada apa gue tampang mupeng, kecuali kalo di goda. Ya hajar lah!" Tara tersenyum miring tapi seketika mengaduh kesakitan akibat pukulan di lengannya yang cukup keras ia dapat dari ibu beranak dua itu.
"Auwwhhh iya ikh sakit tau! loe abis lahiran ngapa jadi galak banget sich!" Tara menggelengkan kepalanya, kemudian segera menggandeng tangan Cantika dan pamit dari sana.
"Selamat berpuasa bro, gue pamit dulu!" Bayu menepuk pundak Rai dan di balas dengan rangkulan.
"Masih banyak cara menuju Roma bro! yang penting nggak harus solo lagi. Ada yang bertugas menjalankan aksinya dengan mengeksplor berbagai macam keahlian untuk tetap memanjakan di Joni."
"Boleh boleh boleh, udah mulai pintar loe ya! ya udah gue balik. Sekali lagi selamat ya, bapak anak dua!"
"Hhmm..."
Semua sudah pulang dengan menyisakan Raihan dan Andini yang saling memandang dengan mengembangkan senyuman.
"Aggh..... turunin mas, aku berat loe!" Raihan mengangkat tubuh Andini dan membawanya masuk menuju kamar.
Sedangkan simbok yang sedang membereskan meja makan tercengang melihat Raihan yang begitu gerak cepat.
"Owalah anak muda, nggak sabaran to yo.... mudah-mudahan Den Raihan puasanya berhasil."