
Hari ini adalah hari dimana angkatan Andini wisuda. Hari yang sangat membahagiakan dan membanggakan baginya. Dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu di sela-sela kesibukannya menjadi seorang istri yang sedang mengandung.
Sejak pagi Andini sudah sibuk, Raihan membebaskan sang istri dan menitipkan kedua anaknya pada mama Sifa.
Andini yang sejak pagi sudah berada di salon bersama kedua sahabatnya, segera berangkat ke kampus setelah dandanan cetar dengan kebaya modern yang meraka kenakan.
"Gue rasanya pengen cepet kawin dech," celetuk Tia yang menatap Andini dari pantulan cermin.
"Nikah dulu baru kawin!" ucap Riri memperingati.
"Justru kawinnya yang penting karena bikin banyak perubahan, liat noh si Andini. Malah abis beranak auranya ngalahin gue yang masih perawan. Gimana gue nggak pengen kawin jadinya."
Andini menggelengkan kepala mendengar alasan yang di katakan Tia. Padahal dirinya sudah tak seramping dulu bahkan ukuran kebayanya sekarang menjadi M, mungkin jika ia tak ada kegiatan dan hanya menyerahkan semua pada simbok dan baby sitter, badannya tak akan kembali dan masih membengkak.
"Loe nggak pada liat apa, gue biasa pake kebaya ukuran S. Tapi sekarang gue pake M mengarah ke L. Coba bayangkan apa nggak gede ini badan gue."
"Bukan gede tapi semook bin montook dan loe semakin menarik. Kalo seandainya masih single mungkin gue sama Riri benar-benar nggak ada yang melirik. Udah kalah pasaran gue sama loe!"
"Udah kalo loe mau kayak gue, permak aja sana! apa kek loe gedein. Lagian kalo laki-laki tulus itu akan menerima apa adanya bukan ada apanya" Andini mencoba memberi pengertian kepada kedua sahabat somplaknya. Pemikiran yang dangkal saat fisik menjadi modal utama untuk mencari tambatan hati.
"Iye...iye.....mommy kembar, ngemeng-ngemeng kita di bayarin nggak nich nyalonnya," sahut Riri.
"Kalian nggak mendadak bangkrut kan. Duit bulanan kalian pada kemana? jangan bilang abis buat ngemall ya!" Oceh Andini kerena ia tau bagaimana kebiasaan kedua sahabatnnya.
Walaupun dia dulu juga begitu, tapi setelah menjadi istri yang benar dan tau pengeluaran perbulan dalam rumah tangga seperti apa. Andini mulai pandai mengatur keuangan dan sudah beberapa bulan ini menabung, menyisakan jatah bulanan yang Rai kasih untuk kepentingan urgent yang sewaktu-waktu datang.
"Iya...." sahut keduanya kompak dengan wajah meringis. "Loe bisa liat sendiri isi ATM gue, tinggal seratus ribu. Masak loe tega kosongin ATM gue. Lagian sebagai nyonya Raihan yang kekayaannya nggak kaleng-kaleng. Sudah sepantasnya membantu orang yang sedang kesusahan."
"Hhmmmm benar kata Tia! kalo udah kaya harus rajin berbagi. Biar amal ibadahnya di terima di sisi Allah."
"Loe lagi doain orang mati!" sewot Andini membuat kedua sahabatnya tertawa.
Banyak mata memandang penuh minat pada Andini yang datang bersama dengan kedua sahabatnya. Mereka jelas tau Andini sudah memiliki anak karena saat hamil besarpun Andini masih menyelesaikan tugasnya di kampus. Tapi aura ibu anak dua ini mampu menghipnotis semua mahasiswa yang juga akan merayakan wisuda sama sepertinya.
"Andini! kutunggu jandamu...." seruan dari mahasiswa yang melihatnya saat Andini mulai memasuki aula.
"Suit...suit.... mommy muda lebih menggoda dari pada perawan tua!"
"Andini, gue sich yes!"
"Kalo kerepotan ngurus anak, Abang bisa jadi baby sitter dadakan."
"Gue bersedia jadi cadangan Din!"
Andini hanya mampu menghela nafas panjang, mendapat pujian dari mana-mana hingga para dosen pun tak terlewatkan. Justru membuat Andini risih. Wajahnya memerah dan berharap sang suami segera datang walaupun tadi ia sudah bilang jika akan terlambat karna meeting yang tak bisa di tinggal.
"Kan pesona loe nggak main-main," celetuk Tia.
"Udah dech, nggak usah mulai!" ucapnya jengah.
Kedua orang tua Andin datang mendampingi. Menemani proses wisuda hingga haru menyelimuti mereka yang ada di aula karena semua pengorbanan selama 4 tahun tak sia-sia. Bukan hanya perjuangan dari para anak, tapi juga para orang tua yang berkorban untuk membiayai hingga tuntas.
"Mas Rai kok belum datang ya mah, sampe acara udah mau kelar begini," keluh Andini.
"Mungkin pekerjaannya belum bisa di tinggal, Kaka kamu juga belum ngabarin mamah. Katanya mau gantiin Rai, tapi mana Raihannya aja belum sampai sini."
"Sudah, tunggu saja. Kalo nggak datang juga ya tunggu dirumah. Namanya orang kerja, bos juga, udah pasti tanggung jawanya besar. Yang penting kan mamah papah hadir di sini. Lihat teman kalian tuh, semua di temani para orang tua. Hanya beberapa saja dengan suami atau saudara." Padahal memang jarang yang sudah menikah, benar saja jika mereka hanya di dampingi kedua orang tuanya.
"Banyak-banyak bersyukur, jangan banyak mengeluh, sudah menjadi ibu harus banyak bersabar."
"Papah abis main kemana?"
"Main?" tanyanya heran, "main kemana? bukannya semalam hanya di kamar saja?"
"Ish....ish...ish....kalian." Andini menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang entah. Dia paham kemana arah pembahasan.
"Jangan dengerin Papah kamu!" ucap mamah memperingati Andini, kemudian kembali menatap ke arah suaminya. "Papah dapet wangsit dari mana? tumbenan nasihatin Andini dari A sampai Z nggak ada yang terlewatkan."
Papah membuang nafas kasar benar-benar kelakuan anak dan istri tak ada yang menenangkan.
Acara wisuda pun sudah berakhir, Andini menghela nafas berat, ucapan untuk sang suami di atas podium tak terdengar ke telinga Raihan karena ketidakhadirannya.
Andini mengajak kedua orangtuanya untuk segera pulang dan melupakan makan bersama seluruh keluarga setelah acara. Yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari oleh dia dan Raihan.
"Udah ayo Mah Pah kita pulang!"
"Tia, Riri, gue balik ya!" serunya dan di jawab dengan acungan jempol, mereka sedang bersama dengan orang tua mereka masing-masing.
Ketiganya berjalan menuju parkiran, Andini merangkul lengan kedua orang tuanya dengan berjalan di tengah.
"Ayo mah, aku udah rindu sama kembar." Dengan semangat dan senyuman menutupi hatinya yang sedang tak karuan karena sosok pria yang ia nantikan tak datang. Tapi saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil, dari kejauhan Andini melihat rombongan dengan kedua bayi memakai outfit senada dengan dirinya dan jangan lupakan pria tampan yang berjalan paling depan.
Andini menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak menyangka kedatangan mereka membuat kesedihan dan kekecewaan beberapa waktu lalu sirna. Kini Andini terharu hingga meneteskan air mata.
"Mas....."
"Selamat atas kelulusannya mommy..."
Andini menatap Raihan dengan mata berbinar, suaminya tampak beda. Rambut di cukur dan bulu halus di wajah sudah tiada menambah kesan lebih muda.
"Makasih mas, aku pikir nggak datang. Tapi ternyata membawa rombongan. Udah kayak mau kondangan."
Bagaimana tidak, Raihan membawa Andika dan Erna. Kedua orang tuanya dan Cantika juga ada Tara, kerena tadi Tara sudah akan pulang bersama kedua orangtuanya tetapi bertemu Cantika yang baru saja datang. Jadilah dia ikut rombongan bucin lainnya.
"Selamat ya dek, adek gue T-O-P-B-G-T." Andika mengacungkan dua jempol ke arah Andini yabg kini dalam pelukan Raihan.
"Makasih kak, perasaan gue nggak mesenin batik buat loe tapi kok bisa seragaman begini!"
"Emang kan loe adik luknut, punya kakak sama adik nggak di beliin. Cuma para orang tua doank. Kalo nggak sayang mah udah gue balikin loe ke perut mamah!"
"Dika!"
Yang lain hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Andika dan Erna pun hanya mengelus dada karena sudah terbiasa.
"Makanya punya mulut di jaga, liat ada ponakan. Jangan ngajarin ponakan yang nggak-nggak! Ya sayang ya ...anak mommy, makasih ya udah datang. Siapa ini yang dandanin anak mommy, ganteng dan cantik gini bikin tambah gumush...." Andini mencolek pipi kedua anak kembarnya dengan gemas.
"Oma Sifa dan Opa Vino, lucu ya sayang."
Andini tersenyum dan membenarkan ucapan suaminya. "Makasih ya Mah, Pah...."
"Sama-sama sayang...." Andini memeluk mamah Sifa dan papah Vino pun tak lupa mengucapkan selamat pada menantunya.
"Tapi asli sich, loe cantik Din....."
Semua yang ada disana menatap ke arah pria yang berucap tanpa memikirkan resikonya.