
Makan siang dengan di selingi canda tawa, sikap Raihan berubah saat di dekat istrinya. Setelah semalam menyatakan cinta dan di sambut baik oleh sang istri, Raihan begitu manja bahkan berusaha membuat Andini nyaman. Sesekali menggoda dan menggombal, membuat Andini berkali-kali tesipu malu.
"Kak, aku balik ya. Udah selesai waktu istirahatnya." Andini membereskan tempat makan yang kini sudah bersih tak ada sisa nasi sedikitpun.
"Sini dulu sayang!"
"Ikh nanti kena peringatan gimana?"
"Kamu lupa jika aku bosnya?"
Raihan kembali mendekati Andini setelah tadi menerima panggilan yang mengabarkan jika ada meeting jam 3. Andika sengaja tak datang ke ruangannya karena Raihan yang sudah memperingatkan jika tak ingin di ganggu.
"Tapi kan kantor Kakak pasti punya aturan, aku nggak mau buat curiga. Apa lagi mbak Erna seperti sudah mencium gerak gerikku kak."
"Erna sahabatku, dia tidak reseh orangnya. Mungkin jika dia tau malah kamu akan aman keluar masuk sini dan membuat kamu dengan mudah tanpa banyak alasan."
Raihan beranjak kembali ke meja kerjanya, meraih gagang telpon tetapi dengan cepat Andini menyusul dan melarangnya.
"Jangan kak," cegah Andini.
"Sssttt nggak pa-pa sayang!" Raihan memencet tombol dengan nomor yang menyambungkan ke divisi marketing.
"Kak.." rengek Andini tetapi Rai malah menarik pinggul sang istri hingga tubuh mereka tak begitu rapat.
"Jangan!"
"Sssttt percaya sama aku sayang!"
"Selamat siang dengan divisi marketing saya Erna ada yang bisa di bantu?"
"Aku pinjem anak buahmu dulu, nanti aku kembalikan kalo urusanku sudah selesai!"
"Siapa ya maksud bapak?" tanya Erna heran pasalnya Tara juga belum kembali ke ruangan. Karena tadi di minta foto copy beberapa berkas oleh Pak Heru.
"Udah biasa aja sama gue, nggak usah formal gitu!"
"Kak, udah ikh matiin aja telponnya." Andini masih berusaha mencegah tanpa ia sadar suaranya terdengar oleh Erna.
"Eh, itu suara Andini?"
"Iya, gue pinjem dulu nanti jam-jam 3an gue balikin. Loe cari alasan apa kek sama Heru biar nggak banyak tanya."
"Tunggu, loe ada hubungan apa sama Andini?"
"Ntar juga loe tau, kalo nggak loe tanya sama kakaknya!"
"Main rahasia-rahasiaan loe sama gue, awas anak perawan orang jangan loe apa-apain. Mentang-mentang duda loe khilaf lagi!"
"Sayangnya udah gue apa-apain," Kemudian Raihan mengecup pipi Andini yang membuatnya merona. "Iya kan sayang?"
"Duuhh.....loe bikin kepo orang hamil, ya udah gue tutup dulu ada Pak Heru!"
"Oke, makasih!"
Andini menghentakkan sepatunya kemudian melangkah kembali menuju sofa. Tapi langkahnya kalah cepat dengan Rai yang kini memeluk dengan erat.
"Jangan ngambek sayang!"
"Kakak nggak bisa jaga rahasia," kesal Andini.
"Ini buat kebaikan kita, kamu nggak perlu repot nantinya. Erna bisa andalkan."
cup
Raihan kembali mengecup pipi Andini. Membuat istrinya begitu tersipu di buatnya. Sengaja menggoda Andini dengan menggigit telinga sang istri tapi malah dirinya yang mulai terpancing.
"Sini sayang.." Raihan membalikkan tubuh Andini agar menghadapnya. Mengunci pandang dengan mengeratkan lagi pelukan.
"Jam tiga aku ada meeting, kemungkinan pulang telat. Nanti kamu pulang hati-hati ya, jangan membuatku khawatir," ucapnya dengan mengusap lembut pipi sang istri dan membenarkan anak rambutnya yang sedikit tak beraturan.
Andini yang mulai nyaman kini mulai membalas perlakuan Rai yang manis. Tangannya ia kalungkan di leher Rai dengan senyum manis. Tanpa sadar tindakannya akan memancing Rai berbuat lebih.
Raihan tertawa mendengar celoteh istrinya. "Memangnya ada rencana mau kemana?"
"Kemana aja, yang penting bisa refreshing. Sebelum aku masuk kuliah lagi dan menghadapi skripsi."
"Kita honeymoon?" tanya Rai dengan menaik turunkan alisnya, membuat Andini kembali tersipu hingga wajahnya merona membayangkan adegan dewasa yang akan terulang kembali.
Melihat wajah istrinya yang merona merupakan kesenangan sendiri bagi Rai. Dulu dia tak pernah merasakan sedekat ini dengan mantan istrinya. Kesibukan keduanya membuat mereka berjarak. Hanya beberapa kali bersua di ranjang dengan melakukan aktivitas panas itu pun sangat jarang. Raihan yang haus akan kasih sayang tapi tak membuatnya mudah menebar benih dimana-mana dan memacari sembarang wanita.
Rai orang yang pandai menjaga diri dan tak mudah tergoda begitu saja, bahkan dia bisa menjaga keperjakaannya sampai menikah dengan mantan istrinya. Hingga dia menduda dan menemukan pelabuhan terakhir di lembah basah sang istri yang saat ini sangat ia rindukan.
"Gimana sayang?" tanyanya lagi.
"Terserah kakak aja." Andini masuk ke pelukan Rai dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Melihat sang istri dalam mode malu-malu manja membuat Rai semakin gemas, dia tak ingin menyiakan momen langka yang sejak sebulan menikah belum pernah ia rasakan.
"Sayang..."
"Iya kak..."
"Mau tau nggak ruangan di balik pintu itu?"
Andini menoleh melihat pintu yang tadi sempat Rai tunjukkan sebagai ruangannya besok. Ada rasa penasaran hingga tanpa menunggu Rai mengajak Andini sudah lebih dulu mendekat.
"Ini di kunci nggak kak?"
"Nggak, buka aja sayang!" Rai mengikuti sang istri dari belakang, sedangkan Andini mulai memegang handle pintu dan membukanya secara perlahan.
Matanya terbelalak melihat ruangan yang baru pertama kali ia kunjungi. Ruangan yang mirip dengan kamar hotel dengan di lengkapi fasilitas yang memadai. Jika ingin honeymoon pun mungkin tak perlu jauh-jauh, disini saja bisa. Apa lagi ruangan yang luas dan ranjang yang besar pas untuk mencetak anak.
"Ini .." Andini menoleh ke arah Rai.
"Iya sayang, ini kamar milikku. Kamu suka?" tanya Rai dengan senyum lebar, dia sangat berharap sang istri suka dan betah di sini.
"Sudah berapa wanita yang kakak bawa masuk kesini?" tanyanya bersedekap dada membuat Rai melongo mendengarnya. Ia pikir istrinya akan senang loncat-loncat kegirangan dan memeluknya tetapi ternyata malah mengajukan tatapan tajam seakan menguliti dirinya.
"Bahkan baru kamu yang aku tunjukkan!"
"Jangan merayu kak, sedangkan kamu bukan perjaka yang belum memiliki pasangan. Kakak tuh sebelumnya duda yang punya mantan istri, pasti dulu sering ya anget-angetan di sini, ngaku?"
Rai di buat pening sendiri dengan pertanyaan sang istri, dia memijat pelipisnya. Niat ingin mengajak pengenalan anggota tubuh, tapi malah berakhir di interogasi oleh Andin yang kini masih menatap menunggu jawaban.
"Sayang, aku baru ngajak kamu loh. Perdana, serius! kalo kamu nggak percaya tanyakan saja pada Andika. Dia aja yang dekat denganku nggak aku bolehkan masuk."
"Mantan istri?"
"Nggak ada sayang, dulu belum jadi. Ini ruangan baru, papah yang mengusulkan dan aku realisasikan. Jangan berpikir yang tidak-tidak, malah di tempat ini perdana aku akan mengajakmu anget-angetan, gimana sayang?"
Andini segera membuang muka, ruangan yang mewah ini memang pas buat berbagi kasih. Tapi bukan berarti Andini siap ACC. Rasa perih di malam pertama masih menyisakan ketakutan tersendiri baginya.
"Sayang," Rai menarik lembut tubuh andini dan mendorongnya perlahan hingga kini tubuhnya terbentur meja bundar yang di buat untuk sekedar minum dan bersantai.
"Kak...." Andini gugup mendapat serangan mendadak dari Rai.
"Masih ada waktu satu jam buat berduaan sayang," lirih Rai.
"Tapi ini kantor kak!" ucap Andini mengingatkan.
"Tak ada orang yang tau sayang, ini ruangan khusus milikku. Kita bisa bebas di sini, pengenalan dikit boleh lah sayang. Anggap reka adegan, berhubung kamu belum bisa di kunjungi. Kita tipis-tipis aja ya...."
Andini di buat meremang kala tangan Rai mulai nakal dan tubuhnya semakin merapat. Bahkan hembusan nafas Rai begitu terasa.
"Sungguh meresahkan mantan duda ini, terlalu lama puasa membuatnya tak tahan sepertinya. Gue mau di ajak kenalan yang mana dulu nich, aduuuhhh deg degan jantung gue."
"Kak, kenalannya besok-besok kan bisa. Aku sedang menerima tamu, nanti bentrok loh."
"Nggak akan, aku pakai undangan VIP buat membuka satu persatu pemandangan yang indah."
Tanpa menunggu lama Rai meraup bibir Andin yang sejak tadi sibuk beralasan. Mereguk manisnya dan menyapa setiap lekuk tubuh tanpa takut lagi Andini akan marah.