One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 77



Raihan sampai rumah tepat pukul 9 malam, benar-benar ngaret dari waktu yang ia rencanakan. Tak ada yang tau juga akan ada insiden yang berujung kematian. Dia menarik nafas panjang saat kakinya ingin melangkah ke dalam rumah. Mempersiapkan diri untuk menjelaskan pada sang istri alasan ia pulang telat.


"Den, kok baru pulang?"


"Iya mbok, tadi ke rumah sakit dulu. Andini lagi apa mbok?" tanyanya kemudian meminum air putih yang simbok sediakan.


"Andini dari sore nungguin di teras Den, sampe magrib baru masuk. Terus nunggu Aden di depan TV, tuh orangnya sampe ketiduran." Raihan menoleh ke arah sofa, benar saja istrinya menunggu hingga terlelap.


"Mau makan kan mbok?"


"Alhamdulillah kembar nggak rewel den," jawabnya.


"Syukurlah, ya sudah saya mau mindahin Andini dulu. Makasih ya mbok hari ini sudah menjaga istri saya."


"Sama-sama den." Raihan berjalan menghampiri Andini.


"Maafin aku sayang, gara-gara nunggu aku kamu sampe ketiduran begini." Raihan mengecup kening Andini membuat istrinya menggeliat merasakan sesuatu menempel di keningnya.


"Mas..."


"Iya sayang, maaf ya mas baru pulang. Ayo pindah kamar!"


"Jam berapa sekarang? Mas dari mana baru pulang? berangkat nggak pamit aku, pulang telat juga nggak bilang aku. Mas nggak inget aku? atau sengaja biarin aku nggak kerja biar bisa bebas?" Andini mencecar pertanyaan hingga membuat Raihan gemas.


"Sayang, siapa yang mau bebas? Mas nggak aneh-aneh sayang, jangan terlalu banyak pikiran kasian kembar di dalam sana bingung mamahnya marah-marah nggak jelas."


"Ya kalo gitu apa alasannya Mas?" tanyanya lagi menatap tajam Raihan.


"Pindah kamar dulu yuk! aku capek loh sayang mau bersih-bersih dulu baru kita duduk ngobrol bareng di ranjang."


Andini berpikir sejenak, melihat wajah suaminya yang tampak lelah. Tadi setelah dari rumah sakit Raihan sempatkan diri kembali ke kantor untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum ia selesaikan, sedangkan besok pagi ada meeting dan Andika tidak ada. Terpaksa Rai harus merepotkan Sinta untuk membantunya besok atau ia akan pergi sendiri mengingat sang istri sedang sensitif.


"Ya udah, ayo!" Andini naik ke tubuh Raihan dan berpegangan erat. Raihan hanya tersenyum menggelengkan kepala, sekarang perutnya masih kecil dan tubuh sang istri masih ramping. Bagaimana 5 atau 6 bulan lagi. Jika kebiasaan Andini masih sama. Apakah dia mampu mengangkat 3 orang sekaligus.


Raihan tertawa sendiri membayangkannya hingga mukanya memerah. Andini yang melihat itu menjadi penasaran. Ia berusaha menoleh hingga wajah suaminya terlihat.


"Kok ketawa? aku berat?"


"Nggak sayang, bukan itu.."


"Lalu apa?" tanyanya lagi.


"Aku cuma membayangkan saat kamu mengandung 5 atau 6 bulan nanti. Apa aku masih kuat naik tangga begini?"


"Coba ulangin lagi mas?"


"Sayang..." Raihan tiba-tiba mengkerutkan dahinya.


"Kamu mau bilang aku gendut kan mas? iya kan mas? terus kalo udah nggak kuat angkat aku, kamu mau nyari yang ramping lagi? iya?Jawab mas!" Andini menjewer telinga Raihan dan menariknya hingga Raihan meringis kesakitan.


"Mati gue, hormon bumil bikin ngeri!"


"Ampun sayang!"


"Kamu nyebelin mas!" kesal Andini, ia merengut menatap Raihan yang menggaruk tengkuknya salah tingkah.


Raihan bersimpuh di samping ranjang menghadap ke Andini, ia menggenggam kedua tangan Andini yang sempat ditarik karena istrinya tak ingin di sentuh. Tapi Raihan menahannya dan mengecup begitu dalam.


"Sayang, mau kamu nantinya gendut, mau kamu besar kayak apa. Cinta aku nggak akan belok kemana-mana sayang, cuma kamu. Kamu kan begini karena mengandung anak aku. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak ya. Ibu hamil harus positif thinking..." Ucapnya lembut.


"Iya sayang, udah mentok sama kamu. Nggak akan cari yang lain lagi. Lagian jarang-jarang kan duda dapet yang kinyis-kinyis begini, sayang banget donk kalo di sia-siakan. Istri muda secantik kamu bikin aku gemes." Raihan menatap nakal, Andini mulai paham jalan pembicaraannya. "Malam ini Joni mau nengokin kembar katanya, boleh nggak?"


"Mas....."


"Tunggu ya sayang, aku bersih-bersih dulu. Setelah ini kita awasi si Joni sama Jeni meeting, oke!"


"Mas..!


Raihan segera melesat ke kamar mandi, lelah hilang saat jatah Joni tak berkurang. Mandi cepat yang penting keringat hilang. Hanya 10 menit ia sudah keluar dengan handuk yang melingkar di pinggulnya. Dengan senyum yang merekah kemudian merangkak ke atas ranjang dan menerjang sang istri yang sudah siap di kunjungi.


Ternyata selama Raihan di kamar mandi tadi rasa kesal Andin tiba-tiba lenyap saat mengingat bentuk Joni yang menggemaskan. Entah pengaruh kembar atau memang dirinya yang merindukan, wanita itu turun dari ranjang dan mengganti baju dinas malam.


Warna merah singkron dengan sprei yang terpasang. Begitu menggoda kala posenya menantang.


Hingga Raihan keluar senyum nakal menggoda terpasang dengan jelas. Membuat Joni mendesak hingga handuk seketika terlepas ke lantai.


"Nakal kamu sayang!" bisik Rai di sela-sela aktifitasnya yang mengajak Joni memulai meeting dengan Jeni.


"Ayo mas, pertemukan mereka. Si Jeni sudah berkeringat hingga basah."


"Tunggu sayang, Joni masih ingin menggoda agar jeni makin geregetan."


"Tapi aku nya yang nggak tahan, aku yang akan memulai!" Andini mendorong tubuh Rai hingga tertidur di ranjang, mata Rai berbinar kala sang istri merangkak memulai pergulatan.


Hingga malam larut Andin seakan lupa menanyakan alasan yang membuat suaminya pulang terlambat.


"Makasih sayang...."


Raihan mengecup kening sang istri kemudian mendekap erat memberi kehangatan. Hingga mereka tertidur pulas sampai pagi menyapa.


"Mas awas tangannya!"


"Kenapa sich sayang?" Raihan terganggu dengan pergerakan Andini yang minta di lepaskan dari pelukannya.


"Aku mual mas," Andini segera turun dan berlari ke kamar mandi, rutinitas bumil hingga Raihan menyusul dan segera memeluk saat Andini mulai menegakkan kembali tubuhnya.


"Bagaimana?"


"Si kembar nggak mau jauh dari Papahnya, langsung hilang mualnya mas."


"Benarkah, kalo gitu mandi bareng bisa donk?" Raihan menaik turunkan alisnya menggoda sang istri hingga wajah Andini memerah.


"Mas semalam udah ya, kasian kembar mas, keganggu dari semalam."


"Tapi kembar anteng dekat papahnya sayang!"


"Dasar Papah mesum, pagi-pagi sudah meresahkan! minggir aku mau keluar, kamu mandi duluan aja!" Andini segera keluar kamar mandi dan segera kembali ke ranjang. Suaminya di kasih enak minta nambah. Ngajakin Joni berkunjung padahal dianya yang mesum.


Andini kembali memejamkan mata, masih ada waktu untuk bersantai sebelum kembali bekerja. Tapi saat matanya mulai terlelap dering di ponsel Raihan mengganggunya. Dengan mata terpejam Andini menerima tanpa melihat siapa gerangan penelpon di seberang sana.


"Halo Rai, loe ke rumah sakit jam berapa? Gue udah boleh pulang. Anterin gue ke pemakaman ya. Meeting pagi ini udah gue atur ulang jadwalnya, hari ini gue paksain masuk kerja buat dampingi loe meeting. Jangan sampe nggak datang loe ya, gue tunggu!"


Tut


Deg


"Pemakaman....rumah sakit.... siapa?"