
Gadis belia mulai membuka mata, menatap sekeliling ruangan yang ia yakin adalah kamar rumah sakit. Korden putih dan bau obat-obatan seketika membuatnya teringat akan ibunya yang meninggal di sana.
Rasa takut mulai menyerang, membuatnya berusaha untuk segera bangkit dari tempat tidur dan ingin segera kabur.
Tapi belum sempat ia berhasil bangun, Mamah Andika yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mendekati.
"Nak..."
Cantika terhenyak mendengar ada yang memanggilnya dengan lembut, wanita paruh baya seumuran ibu yang tidak ia kenal tapi wajahnya cukup terlihat familiar.
"Mau kemana? kamu masih sakit."
"Anda siapa?" tanyanya.
"Saya Mamahnya Andika, ayo rebahan lagi. Apa mau minum?"
Cantika tak menyangka bisa bertemu dengan mamah dari orang yang ia cinta. Secepat ini, apakah pertanda lampu hijau sudah di depan mata. Hingga Andika membiarkan orang tuanya tau dan menggantikan pria itu untuk mengurusnya.
"Iya Mah," jawabnya.
Pergerakan mamah Andika sempat terhenti saat mendengar Cantika memanggilnya mamah, tapi kemudian ia tersenyum tak keberatan. Toh setelah ini ia akan menganggap Cantika seperti anak sendiri.
Setelah minum, Cantika kembali merebahkan diri. Ia mulai tenang ternyata ia tak di tinggal sendirian. Mencoba mengingat dirinya yang menolak di bawa kerumah sakit hingga wajah kesal Andika kembali terbayang diingatan.
"Makan dulu ya nak, terus minum obat!"
"Mas Andika mana Mah?"
Mamah Andika kembali tertegun, mendengar panggilan yang tersemat untuk sang putra. Benar kata Andika gadis ini pembawaannya halus dan lembut. Beliau jadi seperti bercengkrama dengan anak menantu.
"Andika ke kantor, ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Kasian adik iparnya jika harus bekerja sendiri."
Cantika menganggukkan kepala, setelahnya kembali terheran dengan pria paruh baya yang masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah sadar Mah?"
"Sudah Pah, baru ingin mamah suapi makan."
Papah mendekat, menatap wajah cantik gadis belia yang juga melihatnya. Beliau iba melihat gadis semuda ini sudah menerima kenyataan jika ia yatim piatu. Dan tak memiliki siapapun.
"Ini Papahnya Andika," Mamah mengenalkan Papah pada Cantika, kemudian gadis itu segera menyalaminya.
"Cantika Pah.." ucapnya, papah cukup terkejut mendengarnya tetapi setelah itu beliau menatap istrinya yang menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaan kamu nak?"
"Masih sedikit pusing Pah, tapi lebih baik dari sebelumnya."
Papah diam, gadis ini cukup ekspresif tetapi tetap sopan. Tutur katanya lembut dan halus, pantas saja Andika tak tega dengannya. Di tambah lagi wajahnya yang ayu kalem dan memiliki daya tarik tersendiri.
Papah membiarkan sang istri menyuapi Cantika dengan telaten, dia sengaja menepi dan memberi waktu, setelahnya akan meminta kesempatan untuk berbicara lebih pada gadis itu.
Bukan dirinya yang tega, tapi ini untuk kepentingan bersama. Beliau pun akan memberi kasih sayang yang tulus pada Cantika seperti ia menyayangi Andika dan Andini.
Setelah menghabiskan makan dan minum obat, kini papah kembali mendekati. Sedikit ragu takut jika Cantika sulit untuk menerima, tapi sebagai Papah yang baik ia harus membantu masalah putranya yang memang sudah tak mampu menyelesaikan.
"Nak Cantika..."
"Iya Pah .." jawabnya dengan senyuman di wajah pucatnya.
"Saya senang kamu memanggil saya Papah, anak perempuan saya bertambah lagi."
Cantika tersenyum bahagia mendengar pengakuan dari Papah Andika. Dia merasa bersyukur di terima baik oleh keluarga Andika. Meskipun pria itu belum bisa membuka hati.
"Papah sudah tau tentang kalian, hubungan apa yang terjalin antara kamu dan putra papah. Bagaimana di mulai dan hingga kini terjalin seperti apa. Papah pun tau perasaan Cantika pada putra papah, Cantika mencinta Andika?" pertanyaan yang membuat wajah Cantika bersemu dengan mengulum senyum. Ia menjawab dengan sekali anggukan lembut yang mampu membuat sepasang paruh baya di depannya menghela nafas berat.
"Cantika tau jika Andika juga menyayangi kamu nak?" Kali ini Cantika tersenyum lebar.
"Iya Pah."
"Papah tau bagaimana putra Papah, Papah tau betapa sulitnya hidup sendiri. Dan papah tau kamu butuh figur yang ada menemanimu setiap saat dan menyayangimu seperti orang tuamu."
Cantika kembali menganggukkan kepala dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Papah menarik nafas dalam, menatap Cantika dengan senyum hangat. Kemudian merapatkan tubuh mamah dengan merangkul pundak beliau.
"Kami akan menjadi orang tua seperti yang kamu inginkan dan kamu butuhkan, Papah dan mamah akan menyayangimu sama seperti menyayangi Andika dan Andini. Kami akan mengangkat kamu sebagai anak, meneruskan perjanjian yang Andika buat dengan almarhum ibumu. Jadi kamu tidak kesepian lagi. Bahkan kamu boleh tinggal di rumah kami."
Senyum Cantika perlahan pudar, bukan ini yang ia inginkan. Memiliki orang tua memang harapannya. Tapi kan bisa sebagai mertua bukan anak angkat. Jika ini terjadi sama saja tidak menyetujui jika ia menjadi istri dari Andika. Dan mematahkan harapannya selama ini.
"Nak, kamu bisa menjadi adik dari Andika dan Andini. Mereka akan menyayangimu tulus seperti saudara sendiri. Apa lagi Andika yang sebentar lagi akan menikahi Erna. Erna juga akan menyanyangimu. Dia wanita yang baik dan penuh kasih."
Pupus sudah harapan Cantika, memang sejak awal ia hanya bisa menjadi sebatas adik dan kakak dengan Andika. Dan harus segera menghapus semua rasa cinta yang tumbuh. Dipaksa pun tak bisa, karena dia hanya akan berjuang sendirian. Dan itu bukan perkara mudah.
Tuhan memang mampu membolak-balikan hati manusia, tapi tidak dengan Andika yang sudah memiliki cinta sejatinya. Dan jodoh yang sudah ada di depan mata.
"Cantik, mamah tau kamu mencintai putra mamah. Tapi alangkah baiknya jika kalian menjadi saudara, banyak perbedaan yang ada pada kalian. Dan mamah akan sangat senang jika Cantika menjadi anak mamah sendiri. Bukan sekedar anak mantu. Menjadi seperti akan kandung mamah. Karena Andini sudah ikut suaminya, mamah kesepian di rumah tidak ada anak perempuan."
"Nanti kita bisa masak bersama dan berbelanja bersama, menghabiskan waktu dengan keluarga tanpa beban dan penuh kasih sayang. Apa yang kita paksakan tak selamanya baik-baik saja nak, banyak yang menikah paksa berujung bahagia. Tapi tak jarang yang berakhir dengan kegagalan, seperti Erna dan mantan suaminya. Mamah nggak ingin kamu mengalami seperti itu."
Cantika tak mampu lagi membendung air matanya, ia memeluk mamah dengan Isak tangis yang di balas oleh mamah dengan kehangatan seorang ibu yang selama ini ia rindukan.
"Kami menyayangimu, baru bertemu saja mamah sudah jatuh cinta. Gadis cantik dan lembut. Kami tidak ingin kamu sulit nantinya. Jadi ikhlas kan Andika menjadi kakakmu ya nak, kelak kamu akan mendapatkan yang terbaik lebih dari putra mamah yang tak seberapa itu. Rugi nak, kalo kamu sama Andika. Tak ada apa-apanya putra mamah dibanding dengan kamu yang cantik ini."
"Andika itu wajah pas-pasan, kerjanya hanya sebatas karyawan dan tabungannya juga belum ada. Haiiissss mamah kalo jadi kamu sudah mamah buang jauh-jauh pria macam putra mamah. Bisanya hanya menggombal dan mengumbar janji pada wanita."
"Mah!"