
Setelah pujian dari Tara terlontar, Raihan tak melepas Andini barang sejengkal. Bahkan tangan Rai sejak tadi tak terlepas dari pinggang istrinya. Beruntung kedua mamah mengerti kemudian mengambil alih cucu mereka. Karena mode cemburu tak tau aturan.
Mereka sudah berada di restoran yang telah Raihan pesan sebelumya. Banyak menu tersaji rapi di meja. Ucapan syukur tak terlupakan oleh Andini. Hari ini seluruh keluarga bisa kembali berkumpul dalam momennya setelah beberapa bulan lalu berkumpul di kediamannya merayakan kepulangan baby RA kerumah.
Kehangatan begitu terasa, saling bercakap dengan suka cita. Raihan pun sesekali memberi suapan pada Andin dan kecupan yang tak lupa tersemat hingga wajah Andini merona.
"Berasa kayak pengantin baru ya, tuh gawang balik rapet lagi ya Rai. Sampe sayang banget sama bini!"
"Andika!" Erna mendelik menatap sang suami yang ucapannya tak bisa terkendali. Jika tak ada para orang tua ia tak perduli tapi ini bahkan sepasang orang tua di sana mengulum senyum mendengar ucapan frontal Andika.
"Sorry sayang, keceplosan. Tadi lupa portal di tinggal di rumah. Jadi ini mulut lancar jaya nggak ada pagernya."
"Udah nggak apa-apa Er, sudah biasa. Kamu yang sabar ya," ucap papah mertua yang paham akan sifat anaknya yang terbiasa asal bicara tak tau tempat.
Sedangkan Raihan dan Andini mengulum senyum melihat wajah pucat Andika. Rasanya keduanya ingin tertawa terbahak tapi masih ingat disana ada orang tua.
Raihan cukup lega Tara kembali tak membuat ulah, karena ia sendiri kelimpungan menghadapi Cantika yang tiba-tiba bungkam. Hingga sore hari semua pulang ke kediaman masing-masing.
Erna dan Andika telah memiliki rumah sendiri dan Cantika sudah pindah kerumah orang tua Andika. Tara pun mulai mencicil rumah hasil bekerja di perusahaan Raihan. Karena kinerjanya bagus ia kembali di panggil dan di tempatkan di posisi yang sama saat ia magang.
Erna pun sedang hamil muda, hingga Andika cukup tenang karena Tara kembali bekerja jadi pekerjaan Erna tak terlalu banyak.
"Mbak Er sehat-sehat ya, ponakan aku juga baik-baik di sana. Sampai berjumpa nanti sama kembar oke!" ucap Andini saat semua berpamitan dan dirinya yang mengusap lembut perut Erna yang masih rata.
"Kak, jangan sampe buat ponakan gue ileran loh!"
"Gue bapak siaga, lagian anak gue nggak bar-bar kayak anak loe. Dan Erna cukup kalem hamilnya nggak kayak loe yang apa aja di pengenin!"sahut Andika membuat Andini mendengus kesal.
"Sudah! Kalian ini bikin mamah pusing. Untung sekarang gadis mamah diem kalem mingkem nggak banyak tingkah, setidaknya rumah nyaman nggak banyak suara toa."
Andini dan Andika terdiam sejenak, kemudian beralih menatap mamah dengan tatapan jengah. Kemudian pamit setelah meninggalkan pesan.
"Jangan kangen kalo Andini nggak pulang!"
"Sama, jangan nyariin Andika kalo nggak suka dengar suara pecah belah!"
Akhirnya mereka melangkah bersama melupakan pasangannya yang masih tertinggal di belakang.
"Sudah kalian kejar sana suami dan istri kalian. Memang begitu jika mereka sedang merajuk, Mamah sich B aja. Justru mereka yang akan nyari ketiak mamah jika rindu."
Merasa aman keduanya menyusul pasangan mereka masing-masing. Raihan ingin membantu Erna karena berjalan terburu tetapi baru saja akan mencekal tangannya, suara Andika mengurungkan niat.
"Jangan pegang-pegang bini gue! bukan muhrim."
"Makanya punya bini jangan main tinggal aja, udah tau lagi bunting malah di tinggal kabur!" sewot Raihan segera menyusul sang istri yang sudah masuk ke dalam mobil. Tapi belum sempat masuk langkahnya terhenti saat melihat Andini kembali keluar dan berlari menghampiri.
"Jangan lari-lari! kamu kenapa?" tanya Raihan heran.
"Mas gimana sich! kembarnya ketinggalan!"
Raihan menarik nafas sepenuh dada, sebenarnya disini yang salah siapa. Akhirnya mereka berbalik dan kembali ke tempat dimana kedua pasang paruh baya masih asyik bercengkrama di penghujung pamit yang tak kelar-kelar.
"Mah..."
"Apa sich mah, maaf dech." Andini akui salah dan meminta maaf. Semua yang di sana tampak tersenyum melihat kelakuan Andini yang marah dan meminta maaf dengan sendirinya.
"Terus?" tanya mamah lagi.
"Anak-anak ketinggalan makanya Andini balik lagi."
Raihan memijit pelipisnya, malu akan tingkah sang istri tapi ini lah yang menjadi warna dalam hidupnya. Memiliki istri bar-bar dengan kecantikan di atas rata-rata, hingga ia terkadang di buat kerepotan.
"Kalian ini!" Kedua mamah menyerahkan cucu mereka pada keduanya, sedangkan para papah hanya menghela nafas panjang.
Sesampainya di rumah, Andini dan Raihan segera membersihkan diri. Meminta simbok dan mbak untuk memandikan kembar karena Raihan sejak di mobil sudah meminta sesuatu yang membuat tubuh Andini meremang.
"Saya mau mandi dulu ya mbok, mbak! titip mereka habis itu langsung kasih susu aja. Stok asi masih ada kan?"
"Masih non," jawab mbak yang mulai melepaskan pakaian Rafkha.
"Ya udah aku masuk kamar dulu ya," Andini segera beranjak ke kamar dan masuk dengan Raihan yang telah menyambut. Wajahnya merona melihat wajah Raihan yang sangat menggoda.
Ntah mengapa setelah kembali di kunjungi oleh Raihan beberapa minggu lalu kini Andini seperti macan kelaparan saat sang jantan mulai memercikan sengatan yang membuatnya menginginkan.
Andini menarik tangan Raihan masuk ke dalam kamar mandi dan memulai semua dengan lihai sesuai naluri. Hingga desaaahan panjang terdengar dari mulut keduanya setelah hampir satu jam mereka menyatu meraih puncak yang melenakkan hingga Andini terkulai di tubuh Raihan yang merebah di bathtub.
"Bersih-bersih dulu baru istirahat sayang." Raihan membantu Andini untuk membersihkan diri. Setelahnya membawa tubuh sang istri ke atas ranjang dengan handuk yang melilit di dada.
Andini benar-benar di ratukan oleh Rai, bahkan mengerti istrinya yang kelelahan ia mengambilkan makan kebawah dan menyuapinya dengan telaten. Setelah itu membiarkan Andini tertidur dan ia menggantikan perannya dengan mengurusi kedua anaknya saat terjaga di tengah malam.
Hampir seminggu ini Raihan pulang telat, protect baru membuatnya harus lembur. Semangatnya pun bertambah saat mengingat anak dan istri di rumah. Kerjasama keluar kota ia terima demi masa depan keluarga. Tentu saja atas persetujuan dari sang istri.
Tapi selelahnya seorang Raihan ia masih mampu menuruti keinginan sang istri, kini bukan ia yang aktif meminta tapi Andini yang setiap malam sengaja menyambutnya dengan pakaian dinas.
Hingga malam selalu di isi dengan kegiatan panas menjadikan ranjang berantakan. Hingga ia pun harus kembali membantu menjaga kembar saat Andini kelelahan akibat kegiatan yang menguras tenaga.
Huwek
Huwek
Huwek
Raihan terjaga saat mendengar suara Andini di dalam kamar mandi. Ia menyusul sang istri dan memijit tengkuknya yang pagi ini cukup menghebohkan padahal ia merasa baru saja terlelap.
"Enek mas, lemes banget badan aku..."Keluh Andini kemudian segera di angkat tubuhnya oleh Rai dan membawanya ke ranjang.
"Tumbenan sayang muntah pagi-pagi gini?" Raihan bertanya dengan tatapan penuh selidik. Melihat itu Andini segera memukul dada Raihan agar suaminya sadar akan ketidaknyamanannya.
"Ngeliatnya begitu banget sich mas!"
"Sepertinya stok pembalut utuh ya dek, apa kamu justru butuh stok testpack bulan ini?"
Mata Andini membola mendapat pertanyaan yang tiba-tiba membuat kepalanya berdenyut dan tak sadarkan diri.