One Night With Duda

One Night With Duda
Bab 71



Raihan membawa Andini ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan sesuai saran Bayu. Menggenggam tangan sang istri Rai mendaftarkan Andini untuk menunggu antrian di depan ruangan spesialis kandungan.


Andini mengedarkan pandangannya, menatap ke sekeliling ibu hamil yang duduk bersama suami dengan wajah bahagia. Sedangkan ia masih ada rasa cemas. Hingga dia melihat pasangan muda mudi di bawahnya, saling berbincang dengan mata berbinar. Sesekali sang suami mengusap lembut perut istrinya membuat sang istri bahagia.


Perut yang sudah membesar tapi si istri tampak tak ada beban, hal itu membuat hati Andini tersentil. Sesuatu yang ia takutkan karena pikiran negatifnya sendiri. Merasa insecure sama diri sendiri. Merasa dia tidak mampu, pikiran negatif yang membuat dirinya rendah diri.


"Sayang..."


Andini terkesiap mendengar panggilan dari suaminya, ia menatap sang suami dengan wajah polosnya.


"Ngelamunin apa?"


"Nggak ada mas, cuma lihat bumil-bumil di sini aja. Mereka semua bahagia ya mas."


"Iya, aku pun sama. Apa kamu juga bahagia?" tanya Rai hati-hati.


"Aku?" Andini tersenyum, kemudian tangan satunya menyentuh genggaman tangan Rai. "Aku bahagia." Setelah melihat pemandangan yang membuat hatinya tersentil dan membuat otaknya berpikir. Apa yang harus di buat sedih, dia harus percaya jika dia bisa. Melihat yang masih bocil aja aman kenapa dia yang sudah dewasa nggak bisa.


"Selamat siang dok..."


"Hey, selamat siang. Pasangan baru ya? masih anget-angetnya donk ya," ledek Bu dokter saat melihat Raihan dan Andini masuk.


"Udah kayak nasi di Magicom dok anget," timpal Andini membuat dokter itu tertawa.


"Bisa saja ibu muda yang satu ini, perkenalkan nama saya dokter Nia. Ada yang di keluhkan?"


"Nggak ada dok, baru mau memastikan kehamilan istri saya. Karena tadi pagi sempat pingsan dan kata dokter Bayu, istri saya hamil."


"Baik, kita coba lakukan pemeriksaan dulu ya. Bu Andini silahkan naik ke ranjang, bisa di bantu istrinya pak."


Dokter di bantu satu orang suster mulai melakukan pemeriksaan. Suster itu menyingkap dress Andin dan menutupi bagian bawah dengan selimut. Setelah memberikan gel di perut Andini, dokter Nia mulai melakukan USG.


Andini sedikit berdebar menjalankan pemeriksaan kehamilan untuk pertama kalinya. Tangannya menggenggam tangan Rai hingga Rai menoleh tersenyum hangat merasakan kegugupan yang Andini rasakan.


Dokter menggeser alat USG tersebut hingga berhenti saat yang ia cari sudah terlihat.


"Selamat ya Bu Pak, atas kehamilan Bu Andini. Dapat di lihat di sini mereka masih sangat kecil."


Raihan dan Andini menatap layar monitor dengan mata mengembun, benar ada nyawa di perut sang istri. Hingga raihan mengecup beberapa kali wajah Andini, bersyukur atas apa yang di titipkan. Kemudian kembali menatap layar tersebut.


"Tapi dok itu masih berbentuk titik-titik ya dok?"


"Iya pak, karena usia kehamilan yang masih 5 Minggu, nanti seiring berjalannya waktu mereka akan membesar," jelas dokter. "Yang penting ibu harus lebih ekstra di jaga pola makannya, jangan kelelahan dan jangan banyak pikiran. Kerena kasian mereka nanti bisa ikut stres jika mommynya banyak pikiran."


"Mereka, emang anak saya ada berapa dok?" tanya Andini polos. Raihan juga baru sadar, dia semakin memperhatikan layar monitor itu yang menunjukkan dua titik nampak begitu jelas."


"Baby twins....selamat ya."


"Yang benar dok? kembar?" tanya Andini seakan tak percaya jika ada dua malaikat kecil yang kini tumbuh di rahimnya.


"Iya Bu Andini."


"Mas ...." Andini menatap Rai yang masih diam menatap monitor kemudian dengan hati yang begitu bahagia Rai memeluk sang istri dengan mata yang basah.


Raihan yang sejak dulu menginginkan, kini bagaikan di kasih bonus hingga dua sekaligus. Dia mengingat sang mamah yang pasti juga akan merasakan hal yang sama.


Setelah dari rumah sakit, kemudian Raihan membawa Andini ke rumah kedua orangtuanya untuk memberitahu kabar baik dan membahas tentang resepsi pernikahan mereka.


"Ke rumah kamu mas?"


"Iya sayang."


"Mampir beli sesuatu dulu lah mas, masak tangan kosong."


"Oleh-olehnya lebih dari itu malah yank, kabar kehamilan kamu itu hal yang sangat di nantikan mamah." Raihan kembali mengusap perut datar Andini membuat hati Andin berdesir.


Sesampainya di sana, bertepatan dengan mamah Sifa yang sedang meletakkan makanan yang ia masak di atas meja makan. Menoleh ke sumber suara kala salam terdengar di telinga.


"Assalamualaikum mah,"


"Wa'allaikumsalam..... anak-anak mamah datang juga akhirnya, ayo sini sayang kita makan siang sama-sama, pas banget kalian datang masakan mamah sudah siap."


"Papah mana mah?"


"Lagi di belakang ngasih makan di Jarot."


"Si Jarot udah besar mah?" tanyanya lagi.


"Sudah bahkan mengalahkan majikannya," ucap Sifa santai dengan menyiapkan makan untuk suaminya.


"Sayang, kamu membicarakanku?" Papah tiba-tiba datang dari halaman belakang.


"Kenyataannya seperti itu By..."


Vino menarik nafas dalam sang istri memang keterlaluan. Membanding-bandingkan miliknya dengan si Jarot yang ia piara setahun terakhir ini.


Andini yang tak mengerti dan tak tau dengan Jarot pun menoleh ke arah Raihan, menatap sang suami dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Nanti kita kenalan dengan Jarot ya," ucap Raihan tersenyum.


"Kamu mau kenalan sama Jarot tapi jangan tertular seperti mamahmu ya nak! suamimu pasti tidak akan terima." Ucapan papah membuat mamah Sifa memutar bola matanya.


"Mamah cuma berpesan, jika Raihan meminta ijin untuk memiliki modelan Jarot jangan di perbolehkan ya sayang, kamu akan kesepian karena setiap saat yang di ajak ngobrol Jarot, kita akan menjadi nomor dua. Percaya sama mamah!"


"Iya mah," jawab Andini polos. Dalam hati dia menjadi tambah penasaran dengan sosok Jarot yang membuat mamah mertuanya galau.


Andini ingin mengambilkan nasi untuk Raihan tetapi segera di hentikan oleh Rai. "Aku bisa sendiri sayang, justru aku yang akan melayani kamu."


Andini merasa tak enak, di depan mertua dia yang di layani oleh suaminya. Tapi melihat tatapan Rai yang tak mau di bantah membuat Andini pasrah. Dan itu semua tidak luput dari perhatian kedua mertuanya.


"Sayurnya banyak ya sayang, biar vitaminnya juga banyak. Untung mamah masak sayur hari ini, istriku harus makan sayur mah setiap harinya."


"Sudah cukup mas, jika kurang aku nambah."


"Yang makan bertiga loh sayang, baby twins juga butuh makan." Raihan meletakkan piring yang berisi nasi dan sayuran serta lauk di atas meja depan Andini.


"Apa Rai, baby twin?"


"Iya mah, cucu mamah."


Sifa reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia tak menyangka akan memiliki cucu kembar, bahagia hingga meneteskan air mata.


"Selamat ya sayang, mamah bahagia sekali mendengarnya. Mamah doakan kalian sehat sehat semua, biar mamah nanti ada temannya saat papah sibuk dengan Jarot!"


"Iya mah, makasih mah."


"Ayo makan yang banyak sayang, nanti kalo lagi pengen mamah masakin sesuatu bilang sama mamah, biar mamah masakin dan mamah antar ke rumah kalian."


"Makasih mah," jawab Andini sopan.


Vino pun tak kalah bahagia, apa lagi melihat sang istri yang begitu antusias. Dia tau Sifa sangat menginginkan cucu, apa lagi di kasih cucu pertama langsung dobel membuatnya merasa sangat-sangat bersyukur.


"Mas mana jarotnya? aku penasaran banget tau mas."


"Sabar sayang, ayo kita ke belakang." Raihan mengajak Andini ke halaman belakang, menggiringnya hingga ke sebuah kandang yang berlapis emas. Silau mata memandang....


Di tambah lagi sambutan yang mereka terima, suara merdu yang membuat para pencintanya langsung jatuh cinta.


"Jadi ini yang namanya Jarot mas?"


"Iya sayang," jawab Raihan menggoda Jarot membuatnya berkicau merdu.


"Besar juga ya mas, warnanya bagus dominan merah."


"Ini Nuri merah sayang, Papah beli saat dinas ke Maluku."


"Benar kata mamah mas, besaran Jarot dari pada punyamu. Lucu lagi, ini mah aku juga suka! piara satu boleh, biar aku yang memeliharanya. Lumayan buat mainan tiap hari."


"Sayang..."