
Hari ini Andini dan Raihan sudah mulai bekerja kembali, badan bugar otak pun segar. Anggap saja kemarin honey moon yang tertunda. Andini memang berbeda, jika wanita lain ingin honey moon ke tempat-tempat bagus yang bisa meninggalkan kenangan indah. Dan pulang dengan berbelanja banyak souvernir. Tapi tidak dengan Andin, cukup suasana berbeda tak mengapa di kamar yang terpenting berdua.
Keduanya masuk ke ruangan masing-masing, sambutan dari Erna membuat mood Andini yang pagi tadi sempat down karena mual muntah, kembali berubah berbinar melihat calon kakak ipar. Pagi ini Andini mandi sendiri membuat ia muntah hingga tubuhnya lemas. Memang si kembar tak ingin sejengkal saja jauh dari Papahnya.
"Pagi Din...."
"Pagi mbak, wah masuk-masuk udah di sambut." Keduanya saling melempar senyum walaupun Andini tak seceria biasanya.
"Aduh bumil yang habis honeymoon pucet banget itu muka. Kurang tidur apa gimana?" ledek Erna.
Andini membuang nafas kasar lalu duduk di kursi kerjanya. Bersandar di sana dengan mata terpejam.
"Hamil tuh berat ya mbak, aku tiap pagi mual muntah nggak kuat rasanya," keluh Andini.
Ucapan Andini sedikit membuat Erna mengingat kembali sulitnya ia dulu saat hamil muda. Sedangkan suami tak mau tau dengan apa yang ia rasakan.
"Iya seperti itu, tapi nanti lambat laun pasti hilang. Apa kamu ada penawarnya?" tanyanya.
"Ada, mereka jika dekat papahnya anteng mbak. Tapi nggak mungkin aku nempel terus kan mbak. Mas Rai kan kerja, masak aku nemplok terus kayak cicak. Mandi pun maunya bersama biar pagi nggak muntah," Andini tak membayangkan andai pagi-pagi suaminya tidak ada, harus siapa yang menenangkan dirinya saat mual.
Erna tertawa mendengar keluh kesah Andin. "Bagaimana kalo mulai kuliah lagi? bakal tambah jauh sama Raihan nantinya."
Andini hanya mengangkat kedua bahunya, ia tak tahu ke depan nya bagaimana.
Tinggal beberapa Minggu lagi Andini magang di sana, beruntung Erna pun sudah masuk sehingga bagian divisi marketing tidak kosong. Andini pun sudah mulai menyusun skripsi, beruntung punya suami pintar. Andini sering di bantu olehnya dan dengan senang hati Raihan membantunya.
Siang ini Andini mengajak Erna ke rumah makan Padang, entah ngidam apa keinginan Andini sendiri. Erna yang paham pun mengiyakan, menuruti calon adik iparnya yang sedang hamil muda.
Hingga jam pulang kerja pun Andini tampak terus menempel dengan Erna. Yang biasanya akan datang ke ruangan Rai ketika pulang kerja kini lebih memilih menunggu di lobby karena Erna pun menunggu Andika yang ingin mengajaknya ke rumah.
"Mbak Erna beneran mau ke rumah mamah?" tanyanya lagi, padahal sudah tiga kali Erna mengiyakan.
"Iya dek."
"Duh senangnya aku mau punya kakak ipar," Andini memeluk Erna dari samping. "Aku mau ikut ya mbak, pasti mamah mau ajak mbak Erna masak. Aku mau makan masakan kalian berdua."
Mata Erna berbinar, sebenarnya tadi ia sedikit gugup karena akan berkunjung ke rumah mamah mertua. Tapi tak terlihat karena sejak tadi terhibur dengan adanya Andini di dekatnya.
"Iya ayo, mbak senang kalo ada yang nemenin. Maklum perdana ke rumah kamu, apa lagi mau ketemu camer. Grogi aku tuh... "
Mendengar itu Andini tertawa, ia paham karena dia pun pernah mengalami hal sama. Apa lagi bertemu setelah melakukan kesalahan. Bukan hanya grogi, tapi juga takut.
"Mbak tenang aja, kedua orang tuaku santai orangnya. Nggak kayak kanebo kering, apa lagi Mamah. Mbak akan nyaman kalo udah ketemu mamah. Dan aku juga senang nanti kalo mbak udah nikah sama kak Andika, ada anak mantu mamah yang menemani di rumah."
Hati Erna menghangat mendengar ucapan Andini, dia bersyukur di pertemukan oleh orang-orang baik. Dia pun tak menyangka akan ada di fase ini mengingat hubungan Gio dulu. Keduanya saling berpelukan dengan rasa syukur hingga suara pria yang sangat mereka kenal membuat pelukan tersebut renggang dan keduanya menoleh ke belakang.
"Hey.... udah kayak lintah nempel Mulu, calon bini gue tuh! seharian dikekepin terus. Sampe makan siang aja gue nggak bisa ketemu. Ini pulang kerja malah pelukan udah kayak Teletubbies!" sewot Andika, padahal dalam hati ia begitu bahagia melihat dua orang yang ia sayang saling akrab.
Sedangkan Raihan yang berdiri di samping andika hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya dia pun seharian cukup kesal karena menahan rindu pada istrinya. Tapi karena pekerjaan menumpuk bisa mengalihkan rasa rindunya.
Andika membolakan matanya mendengar ocehan sang adik. Malam yang di tunggu-tunggu sampe si Joni ngabisin sabun seenaknya mau di gagalin. Oh tidak bisa Ferguson.....
"Gue nggak bakal honeymoon deket-deket sama loe! gue culik Erna biar loe nggak banyak tingkah mau deketin dia terus. Sono loe balik ke laki loe! nggak tau laki loe gelisah dari tadi!"
Andika menarik pinggul Erna hingga dekat dengannya dan Andini segera mengalihkan pandangannya ke Raihan. Melihat sang suami dengan raut wajah yang berbeda seperti sedang menahan sesuatu yang sejak tadi belum terlepaskan.
"Mas, kamu kenapa?" tanyanya mendekat.
"Ayo pulang sayang!" bisiknya dan mengajak Andini segera pulang.
"Tapi pengen ikut kerumah mamah mas, mbak Erna mau kerumah mamah sekarang."
"Ngintilin Mulu loe udah kayak kutil! pulang sana, nggak ngerti laki loe lagi pengen nyembur. Nggak ada ikut-ikutan ke rumah mamah, gue mau ngenalin si Erna sama kamar pelaminan nanti."
"Mesum gue bilangin mamah loe kak!" sewot Andini.
"Bodo! nggak tahan gue!" Andika segera menarik Erna menuju mobilnya dan segera pergi dari sana.
Andini membuang nafas kasar kemudian mengajak Raihan pulang. Segera melangkah menuju mobil dengan wajah kesal.
"Kamu mau pulang ke rumah mamah?" tanya Raihan ketika keduanya sudah dalam perjalanan.
"Nggak dech mas, mau pulang aja kerumah terus ngelonin Papahnya kembar."
Ucapan Andini menjadi angin segar bagi Raihan, membuatnya begitu semangat hingga menambah kecepatan.
Sedangkan Andika kini menunggu Erna yang sedang bingung memilih buah tangan apa yang akan di bawa pulang ke rumah calon mertua.
"Masih lama?"
"Bingung Dika, gue mau bawa apa kesananya. Hhuuuuhhff...." Mereka mampir ke supermarket, niat hati mau membelikan calon mertua sesuatu karena Erna tak enak jika datang dengan tangan kosong.
"Di rumah udah komplit. Mamah tuh apa aja di beli, daging buat Minggu depan aja dia mah udah di beli dari sekarang. Nggak usah repot-repot mikir nanti kita kemaleman nyampenya."
"Ck, nggak ada pantes-pantesnya gue bawa diri doank datang ke rumah loe. Ayolah bantu mikir, apa beli gula, kopi ya."
"Udah nggak usah, di rumah udah ada stok gula buat dua bulan ke depan." Lagi-lagi ucapan Andika membuat Erna tambah bingung, harus membeli apa jika semua sudah ada.
"Sabun aja lah kalo makanan semua udah ada."
Mendengar ucapan Erna membuat Andika segera menegakkan tubuhnya, menatap Erna dengan tatapan penuh makna.
"Tadi bilang apa? sabun? loe kok kayak mamah sich, ngedukung banget ya biar gue solo terus tiap malem!"
Erna mendelik mendengar keluhan Andika yang membuatnya bergidik.